Kemungkinan

Kemungkinan
Episode 7


__ADS_3

Nina malu sendiri dengan pertanyaannya. Dia buru-buru memberikan tisu kepada Rey. Baju Rey bagian atas agak basah karena tertumpah minuman.


"Siapa bilang kalau aku suka Lia? Lia itu temanmu yang sering nempel denganmu kan?" tanya Rey sambil melap dagunya.


"Ya, siapa tau aja."


"Siapa tau apa?"


"Ah, sudahlah, jangan dilanjutin." ucap Nina sudah kepalang malu dengan dugaannya yang terlanjur dia ucapkan.


Rey melihat Nina dan tersenyum.


"Emang kenapa kalau kita belajar bareng, kamu kok curigaan gitu sama aku?" ucap Rey. Pandangannya mengarah ke tempat sampah, kemudian dia berkonsentrasi melemparkan tisu. Ternyata tidak masuk, Rey dengan agak malas memungut tisu itu dan memasukkannya ke tempat sampah. Nina mengerutkan kening melihat kelakukan absurd Rey.


"Ya, ngapain kamu repot-repot ngajak belajar bareng, mana ini sepengetahuan mamaku lagi. Mamaku paling semangat kalau mendengar kata belajar."


"Bosan aja belajar sendiri, yang satu sekolah sama aku di kompleks ini ya cuma kamu." ucap Rey. "Ya udah aku pamit dulu, nanti sore aku datang kesini ya. Mau belajar apa? Kamu ada PR apa? Matematika, Fisika, Bahasa Inggris?"


"Duh, ga usahlah. Belajar sendiri aja."


"Sebutin cepat, Matematika, Fisika, atau PPKN? Biar aku pulang nih."


"Ya udah, Matematika."


"Okay, see you later."


Rey mengambil tasnya dan beranjak pergi. Nina masih tidak percaya kalau mereka bakalan belajar bareng nantinya.


***

__ADS_1


Rey memberi pesan kalau dia akan datang jam 4 dan mereka akan belajar selama satu jam. Mama Nina sangat semangat mendengar kabar itu dan dia segera sibuk membuat kudapan di dapur. Nina sudah menyiapkan bukunya di atas meja ruang tamu. Apa benar Rey tidak suka dengan Lia ya? Kalau tidak, apa alasan dia mendekatiku, pikir Nina.


Nina teringat kalau selama ini ada beberapa cowok yang mendekati Lia. Dan Lia berulang kali konsultasi padanya untuk menyusun kalimat penolakan melalui pesan whatsapp. Belum lagi ada beberapa siswa lelaki yang sering bertanya nomor ponsel Lia kepada Nina. Itu sungguh tidak mengenakkan bagi Nina.


Nina teringat pengalaman yang membuatnya sangat kesal di hari valentine. Pagi hari itu, di tanggal 14 Februari dengan semangat Nina berangkat ke sekolah. Nina senang karena teringat malam nanti mereka sekeluarga akan makan di restoran sea-food kesukaannya. Saat duduk dia melihat melihat  bucket bunga diatas kursinya. Terbersit rasa senang di hati Nina, tapi kemudian dia merasa curiga dengan siapa yang memberikan benda tersebut.


"Wah, Nina dapat bunga valentine ya?" tanya teman sekelasnya begitu masuk ke dalam kelas.


"Ga tau nih, kayaknya salah kasih deh."


"Kok gitu, positif thinking aja. Coba cek siapa tau ada nama pengirimnya."


Nina mencari nama pengirim di bunga kiriman tersebut namun nihil. Saat Lia masuk, dia juga menanyakan hal yang sama. Namun kemudian dari belakang, dengan tergopoh-gopoh seorang murid lelaki masuk.


"Sori-sori, Nina." Lelaki itu mengambil bunga dari tangan Nina. "Ini harusnya untuk Lia." ucapnya sambil mengarahkan bunga itu kepada Lia. Wajahnya merah pada. Nina hanya bisa terbengong. Siapapun yang ada di kelas itu mulai tersenyum geli.


Lia yang baru saja meletakkan tas terkaget. Dia menyadari dirinya sekarang sedang ditodong sebuah bunga.


"Aduh, sori Lia, Kirain meja kamu disitu." Ucap lelaki sambil menunjuk meja Nina. "Tolong diterima Lia."


Lia tidak tau harus berbuat apa apa. Bunyi bel terdengar dari luar.


"Sori, aku ga bisa terima."


"Please.."


Siswa lain sudah mulai gerah. Sebagian khawatir guru masuk dan melihat kejadian ini. Bisa-bisa mood guru jadi jelek dan mereka jadi bahan ceramah. "Udah terima aja." ucap salah satu murid."Keburu guru masuk."


Terdengar suara tapak sepatu guru. Wajah murid lelaki itu semakin pucat. Dia kemudian meletakkan bunga itu di atas meja Lia dan segera berlari keluar.

__ADS_1


"Huh, ga sopan banget sih anak itu." ucap Lia. "Trus ini diapain coba?" tanyanya pada Nina.


"Taruh di meja guru aja." ucap Nina.


"Maksudnya?"


Nina maju ke meja guru. Di atas meja tersebut terdapat vas bunga dengan bunga hiasnya yang sudah memudar warnanya. Nina membuang bunga hias tersebut dan menggantikannya dengan bunga valentine. Lia tepuk tangan, bangga dengan sahabatnya.


Huh, apa Rey akan menjadi penyumbang kisah aneh lagi dalam hidupnya? Murid lelaki mengajaknya bicara pasti ada hubungannya dengan sahabat cantiknya, Lia. Pokoknya aku akan tetap waspada terhadap Rey.


"Ni-na!" panggil seseorang dari luar rumah.


Nina segera beranjak dan membukakan pintu. Tampak Rey dengan tas hitamnya di depan rumahnya.


"Ayo masuk."ucap Nina.


"Senyum dikit dong sama tamu." ucap Rey.


Nina sadar mukanya sedang ditekuk.


"Nina, Rey sudah datang?" teriak mama dari dapur.


"Sudah tante."  Malah Rey yang menjawab.


"Ok, masuk Rey."


Mama dengan semangat datang dari dapur dengan nampan berisi minuman dan makanan.


"Yang semangat ya belajar."

__ADS_1


"Iya Tante aja semangat gitu, kok kamu wajahnya cemberut gitu." ucap Rey.


Apa-apaan sih ini anak, sok akrab, pikir Nina. Semoga waktu berjalan cepat, harap  Nina.


__ADS_2