Kemungkinan

Kemungkinan
Episode 8


__ADS_3

Besoknya Nina bersiap pergi sekolah. Dia sudah sarapan pagi dan sedang mengikat sepatunya. Nina sedang duduk di teras dan memandangi jalan depan rumahnya. Apa hari ini Rey akan jemput aku ya, pikirnya? Ah, ga usah mengharap. Mending aku cepat-cepat berangkat ke sekolah, pikirnya.


"Ma, Nina berangkat ya." Teriak Nina.


Mama keluar dari kamar, "Lho nak, ga bareng Rey?" ucap Mama sambil melihat sekeliling.


"Ga ah, mau jalan kaki aja lebih sehat." ucap Nina.


Namun baru saja dibicarakan, Rey sudah tiba dengan motor listrik roda tiganya.


"Yuk!" ucap Rey. "Pagi Tante." Ucapnya sambil tersenyum.


"Pagi Rey." ucap mama membalas senyuman Rey. Mama kemudian buru-buru ke dalam untuk mengambil helm Nina.


"Nih, Nina." Mama menyodorkan helm kepada Nina.


Nina dengan wajah datar menerima helm tersebut. Sebenarnya dalam hati dia menunggu kedatangan Rey, tapi setelah orangnya datang, Nina bingung harus merasa senang atau kesal melihat keteguhan Rey.


"Berangkat ya ma." ucap Nina sambil menyalam mamanya.


"Jadi anak baik ya di sekolah."


"Iya, ma."


Sesampai di sekolah, seperti biasa Nina segera buru-buru turun dari motor dan ingin cepat-cepat berpisah dari Rey. Dia tidak mau menjadi siswa yang lain memperhatikan kalau dia hari ini bareng Rey lagi.


"Terimakasih Rey, bye-bye"


Rey tertawa melihat Nina yang terburu-buru pergi, sambil bersiul dia menyimpan helmnya dan berjalan santai ke kelasnya.


***


"Sumpah, hari ini kamu berbeda, Nina." ucap Lia sambil memasukkan buku-buku Nina ke dalam tas Nina.


Nina juga memasukkan buku Lia ke dalam tas Lia, kebiasaan mereka kalau lagi bosan banget.


"Berbeda kenapa?" tanya Nina agak acuh.

__ADS_1


"Ya, karena kamu lancar banget matematikanya. Dan tadi kamu bisa duluan selesai daripada aku." ucap Lia berkaca dengan di cermin yang ada di belakang serutan pensil Nina.


"Coba tebak karena apa?" Tanya Nina sambil menutup resleting tas Lia.


"Kamu baru aja daftar di bimbel mahal." tebak Lia.


"Nope!"


"Kamu belajar privat sama kakak-kakak kampus ganteng jurusan matematika."


"Ehm..., No."


"Trus apa dong?"


"Kemarin aku udah ngerjain contoh soal-soal yang hampir mirip sama soal kita sekarang."


"Hah, rajin amat. Siapa yang ngajarin?"


"Rey."


Nina dengan enggan menceritakan hal yang terjadi kemarin. Tidak lama kemudian Celine datang dari belakang dan menepuk meja Nina.


"Hai Ndut, hari ini berangkat sama Rey lagi ya?" Tanya Celine dengan suara agak lantang.


Beberapa siswi menoleh ke arah Nina karena penasaran dengan perkataan Celine barusan.


"Kalau iya, memang kenapa?" tanya Lia kesal.


"Aku ga nanya sama kamu!" Hardik Celine lalu berlalu pergi.


Beberapa murid perempuan datang menghampiri Nina. Mereka membawa kursi dan menyandarkan badannya kepada Nina.


"Eh, memangnya aku bantal kalian?" ucap Nina.


Seorang temannya bernama Ika mulai memberi pertanyaan pertama, "Beneran kamu berangkat sama Rey, Nin?"


Seorang lagi yang bernama Dewi menambah pertanyaan, "Kok bisa? Jangan-jangan kalian sepupuan ya?"

__ADS_1


Ditambah lagi, seorang ketua kelas, Conni berdiri di dekat meja Nina, "Kalian satu kompleks ya? Aku kemarin liat kamu pulang sama dia tapi kayak ga yakin gitu."


Dinda datang ikut nimbrung, tangannnya serta merta mulai mengepang rambut Nina.


"Iya, iya aku juga lihat Nina pulang sama Rey kemarin."


Celina kesal melihat Nina dikelilingi murid-murid perempuan di kelasnya. Dia mengajak teman-teman dekatnya ke kantin. "Ayo, ke kantin. Sesak banget kelas ini." ajaknya. Dia berjalan dengan cepat dan menghantam kursi-kursi yang bertebaran di sekitar meja Nina. BRAK! Celine sempat terhambat sebuah kursi, diapun menjatuhkan kursi itu. Tanpa memperbaiki letak kursi, Celine terus berjalan


"Hey, Celine, perbaiki dulu kursinya." Teriak Ketua kelas Conni.


"Salah sendiri berkerumun disitu, bikin orang ga bisa lewat."


"Ya tapi ga mesti jatuhin kursi."


"Peduli amat." Ucap Celine sambil keluar dari kelas.


Nina bangkit dari kursinya dan memperbaiki kursi yang jatuh. Dinda yang dari tadi memegang rambut Nina ikut-ikutan juga berdiri sambil terus mengepang rambut Nina. Ika dan Lia juga yang sedari tadi bersandar pada Nina ikut-ikutan tegak. Namun saat Nina kembali duduk, Ika dan Lia kembali menyenderkan kepalanya di lengan Nina.


"Duh, anak-anakku ini." Ucap Nina melihat sikap manja Ika dan Lia. Dia mengusap kepala ika.


"Ika, setuju ga kalau Rey jadi ayah kita?" Tanya Lia.


"Ok, setuju. Hot Daddy gitu lho." Ucap Ika.


Merekapun tertawa bersama-sama.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2