Kemungkinan

Kemungkinan
Episode 6


__ADS_3

Rey menghentikan motornya di depan rumah Nina. Nina turun dengan sangat hati-hati sekali. Dia kemudian berharap dia bisa segera berlari ke dalam rumah sebelum mamanya keluar dan melihat dia dibonceng sama Rey. Tapi terlambat.


"Wah, Nina udah pulang? Sama Rey lagi." ucap Mama.


Duh, Nina sangat tidak mau membayangkan apa yang akan dikatanya mamanya lagi. Mamanya sangat antusias melihat Rey. Ya perempuan manapun pasti senang melihat lelaki ganteng.


"Nak Rey masuk dulu lah. Udah capek boncengin si Nina. Mana badannya subur gini dibonceng. "


"Mama!" Nina mendelik pada mamanya, merasa malu. Apa-apaan sih mamanya bikin malu anak perempuanya di depan orang lain.


"Oh, boleh tante." ucap Rey sambil tersenyum.


Nina kaget, lha si Rey malah mau lagi disuruh masuk ke rumah.


Rey mengikuti mamanya ke dalam rumah. Nina merasa sangat lelah karena pulang sekolah, tapi harus merasakan khawatir berlebih lagi karena Rey masuk ke dalam rumahnya.


Dia segera masuk ke kamarnya dan meletakkan tasnya. Kemudian diam-diam keluar menuju ruang tamu dimana mamanya dan Rey sedang mengobrol.


"Nina, ambilin air minum buat Rey, nak."

__ADS_1


"Iya Ma."


 


Nina masuk ke dapur. Enaknya kasih apa ya sama Rey? Nina mencari minuman botol di kulkas, ternyata sudah habis. Nina tidak tau apakah Rey suka sirup atau sesuatu yang dingin. Ah, sudahlah air putih saja. Pusing juga mikirin anak itu. Sambil menampung air putih dari dispenser, Nina memikirkan alasan-alasan kenapa Rey akhir-akhir ini mendekatinya. Tidak mungkin karena Rey ada rasa kepadanya. Pasti ada maksud lain. Atau apa mungkin... Tiba-tiba terdengar air tumpah, Nina segera terburu-buru menutup dispenser dan melap lantai dengan kain pel. Kok bisa sih teledor begini, pikir Nina. Kalau mama lihat ini, pasti dia sudah mengoceh lama.


Sambil hati-hati, Nina membawa minuman ke ruang tamu. Mamanya sedang mengobrol dengan Rey tentang sesuatu yang dibencinya, membicarakan nilai Nina. Uh, kenapa sih mama membicarakan aib Nina dengan orang lain.


"Nina ini, padahal sudah ikut bimbel tapi nilainya tidak naik-naik juga. Tante jadi pusing dan prihatin setiap ngelihat nilai ulangannya."


"Nina boleh belajar bareng sama saya kalau gitu tante, rumah saya dekat kok. Di dekat bundaran ujung sana." ucap Rey mengagetkan Nina.


"Wah, ide bagus itu.  Nina .." ucap mama, sekarang dia melihat Nina yang sedang diam seribu bahasa."Nina berenti bimbel saja, belajar sama Rey aja, biar lebih nyaman. Mama juga ga capek-capek lagi antar kamu ke sana kemari."


Nina mulai merasa ga tenang. Sebenarnya Rey ada maksud apa lagi sih. Hari ini antar jemput aku, dan sekarang nawarin belajar bareng.


"Oh ya, mama mau ke rumah tetangga dulu, ada yang mau dibicarain tentang acara hari minggu besok. Mama tinggal dulu ya kalian."


"Ya ma."

__ADS_1


Nina memandang kepergian mamanya kemudian segera duduk di depan Rey.


"Kamu kenapa nawarin hal yang aneh pada mamaku."


"Hal aneh apa, aku kan cuma ngajak kamu belajar bareng."


"Jangan-jangan, kenapa kamu kayak gini, karena ..."


"Karena apa? betewe terimakasih yang minumannya." ucap Rey sambil mengambil minuman.


"Karena kamu menyukai Lia dan mau aku jadi mak comblang kalian."


"Ukh!"


Rey terbatuk dan minumannya tumpah dan membasahi sebagian dari bajunya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2