KESUCIAN CAHAYA

KESUCIAN CAHAYA
NATA ALIM SURYA


__ADS_3

Seorang laki-laki tampan dan bersikap dingin keluar dari sebuah pintu rumah. Dialah Nata Alim Surya. Tampan, tegas, berwibawa, dan yang pasti bersikap dingin. Lengkap dengan jas dan dasi, dan mobil hitam keluaran terbaru. Mobilnya merk apa? Tidak tahulah, yang penting itu mobil keluaran terbaru.


🔸🔸🔸🔸🔸


Beberapa tahun yang lalu


Dari sekolah dasar tepatnya saat kelas empat, kedua orang tua Nata sudah memasukkan Nata di sebuah pondok pesantren kecil di wilayah pesisir di bagian selatan dari Jawa Tengah, tepatnya di Kebumen. Jangan dilihat kecilnya pondok pesantrennya, tapi lihatlah kualitas para santri yang menjadi lulusannya. Pondok pesantren tersebut dipimpin seorang Kyai bernama Bapak Kyai Abdullah Suyudi, seorang Kyai yang alim dan sederhana.


Di pondok pesantren tersebut Nata belajar ilmu nahwu dan shorof. Karena di pondok pesantren tersebut memang fokus mempelajari ilmu itu.


"Daddy, aku tidak mau masuk pondok pesantren? Aku tidak mau, kenapa Daddy membuang ku?" Nata yang baru berumur sepuluh tahun menangis tersedu-sedu, tangannya diletakkan menutupi kedua matanya. Daddy dan mommy nya dengan tega membuangnya ke pesantren terpencil di dekat sebuah pesisir. Daddy dan Mommy nya tidak mau mengurusnya lagi.


"Anak ganteng Daddy, yang nurut ya. Mommy mu sakit keras, Daddy tidak sampai hati meninggalkan mu di rumah sendirian, dan Daddy tidak mau merepotkan nenek-nenekmu, kasihan nenekmu sudah sepuh, biar lebih banyak ibadah."


"Tapi tidak harus di pesantren, Dad? Apalagi pesantrennya kecil seperti itu, kampungan lagi."


"Percaya sama Daddy, Nata pasti betah tinggal di sana. Kalau Nata tidak betah, Daddy janji jemput Nata pulang. Guru ngaji Daddy banyak yang mondok di sana, dulu Daddy juga mondok di sana."


Nata menatap ayahnya. Tidak percaya bahwa ayahnya yang seorang pengusaha sukses, dulunya merupakan lulusan pondok pesantren.

__ADS_1


Dengan segudang drama, akhirnya Nata bersedia untuk nyantri.


Sebuah mobil hitam metalik terparkir di halaman rumah Bapak Kyai Abdullah Suyudi. Dengan sangat sopan Bramansyah Alim Surya menjabat tangan Kyai Abdullah dan mencium tangan beliau, memohon berkah dari seorang guru.


"Nata sini!" panggil Bram.


"Daddy? Nata takut."


"Tidak usah takut. Dulu Daddy juga nyantri di sini, belajar kepada Pak Kyai Abdullah. Sini, harus sopan ke Pak Kyai!" perintah Bram dengan lembut kepada anaknya.


Nata dengan terus bersembunyi di belakang Daddy nya, mengulurkan tangan menyalami Bapak Kyai Abdullah Suyudi.


"Ayo salaman yang betul, cium tangan Pak Kyai Abdullah, biar nanti ilmu yang didapat barokah," ajar Bram kepada putranya.


Nata kembali menyalami Pak Kyai Abdullah. Tatapan Pak Kyai yang lembut menghilangkan ketakutan anak itu. Diciumnya tangan Pak Kyai.


Pak Kyai Abdullah Suyudi mengelus kepala bocah berusia sepuluh tahun itu. "Jadi anak yang sholeh ya, nanti di sini banyak temannya. Kalau bingung bilang ke Pak Kyai ya!" ucap Pak Kyai Abdullah Suyudi.


Nata menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Jangan hanya mengangguk, harus dijawab," ajar Bramansyah kembali. "Jawab, nggih Pak Kyai.


Nata mengulangi yang diucapkan Daddy nya. "Nggih Pak Kyai."


Setelah bersilaturahim ke Pak Kyai Abdullah Suyudi dan keluarganya. Bramansyah pun kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat Bram berpamitan ke Pak Kyai dan Nata.


"Nata jadi anak sholeh ya Nak. Doakan mommy mu agar cepat sembuh, bisa berkumpul kembali dengan kita, bisa menemani Nata jalan-jalan," ucap Bram pada putra semata wayangnya.


Nata menangis di pelukan Daddy nya. "Iya Dad, Nata akan selalu mendoakan Mommy dan Daddy. Nata akan jadi anak sholeh."


"Yang baik dalam berteman, jangan suka memusuhi teman. Minta tolong juga ke semua guru yang nanti mengajar Nata, ke semua teman-teman Nata di pondok, ke orang tua teman-teman Nata, minta doa dari mereka semua untuk mendoakan Mommy agar Mommy cepat sembuh." Bramansyah mengusap air matanya yang menetes, cintanya kepada anak dan istrinya begitu besar, merekalah surganya, surga yang dititipkan Alloh padanya. Nata dan Halimah istrinya adalah pelita di hatinya.


"Pak Kyai, saya titip anak saya. Anak laki-laki saya. Apapun yang Pak Kyai perintahkan kepada anak saya, saya sebagai orang tua sami'na waato'na. Nurut saja Pak Kyai."


Pak Kyai Abdullah Suyudi tersenyum dengan senyuman yang menyejukkan.


"Insya Allah, nak Bram. Pak Kyai akan mendidik putramu Nata seperti Pak Kyai dulu mendidik mu."


Bramansyah kembali mencium tangan Pak Kyai Abdullah Suyudi. Setelah itu mobil hitam metalik nya kembali meluncur di jalanan. Membawanya ke Jakarta. Istrinya Halimah sudah sakit selama setahun ini. Pengeringan sumsum tulang belakang karena virus, membuat istrinya menjadi lumpuh saraf bagian kakinya. Mati rasa. Dengan setia Bramansyah selalu menemani istrinya untuk berobat. Dan bulan depan, Bramansyah akan membawa istrinya untuk berobat di sebuah rumah sakit ternama di Singapura.

__ADS_1


__ADS_2