KESUCIAN CAHAYA

KESUCIAN CAHAYA
AKU SUAMIMU


__ADS_3

Ray menatap foto Cahya di galeri handphone nya. Di selusurinya wajah gadis itu. Dirinya sudah lama memendam rasa kepada gadis ini, tapi Cahya memang sulit didekati. Perempuan-perempuan lain mengantri untuk bisa menjadi kekasihnya, untuk bisa tidur satu ranjang dengannya. Bahkan foto model dan artis ternama ikut-ikutan mengambil nomor antrian untuk bisa menjadi pacarnya, tapi Cahya melirik pun tidak. Gadis ini sedari dulu selalu menjaga jarak dengan laki-laki.


Setelah mendengar kabar pernikahan Cahya dengan seorang CEO bernama Nata Alim Surya, Ray makin yakin Cahya itu memang berharga. Ray kenal betul siapa itu Nata Alim Surya. Sama seperti namanya seorang pengusaha muda sukses yang alim, jebolan beberapa pondok pesantren. Nata tidak mungkin asal saja mau menikahi Cahya yang jauh dari kesan wanita yang agamis. Ray semakin yakin Cahya itu memang berharga layak diperjuangkan.


"Cahya apa kabar?" tanya Ray.


"Eh hai Ray. Kabarku baik. Bagaimana kabarmu?" Cahya balik bertanya.


"Seperti yang terlihat selalu tampan, keren, dan kaya," jawab Ray sembari berkelakar.


"Waduh penyakit narsismu belum hilang juga ya!"


"Tapi betul kan aku tampan dan keren?"


"Oke deh. Yang waras ngalah." Cahya pun tertawa sambil menutup mulutnya.


"Ngapain Ya ditutupi mulutnya, harus lepas tertawanya tidak perlu ditutup tangan juga," ujar Ray bingung dengan sikap Cahya.


"Maaf. Maaf Ray. Suamiku melarang ku tertawa sambil buka mulut. Katanya saat tertawa mulut harus ditutup, jadi aku ikuti sarannya."


"Oh...maksudmu Tuan Nata pengusaha muda itu?" tanya Ray merasa cemburu.


"Iya betul dia suamiku. Kamu kapan nikah Ray? Lira nganggur nih kayaknya siap kalau dilamar sama kamu?" Cahya melirik Lira yang asyik menikmati es krim.


Lira seketika tersedak mendengar perkataan Cahya. " Ray jangan dengerin omongan Cahya, ini bocah kalau lagi kumat ngelanturnya ya kayak gini. Harap maklum aja sekarang sudah jadi istrinya tuan 'primus' alias pria musholla. Ya jadi gini ni!" Ucap Lira sedikit jengkel dengan sahabatnya yang asal aja ceplas-ceplos.


Mata Ray tidak lepas dari wajah Cahya. Debaran hatinya tidak bisa berbohong lagi, dirinya mau Cahya bukan gadis lain. Debaran hatinya hanya untuk gadis muda cantik yang duduk manis di hadapannya.


Lira masih tetap berkicau tidak terima dengan perjodohan dadakan yang diatur Cahya. "Kamu kira aku perempuan nggak laku apa, Ya?" dengus Lira masih dengan suara kesalnya.

__ADS_1


"Ray lihat! Lira kalau lagi ngambek nambah cantik, kan?"


Ketiga orang itupun tertawa bersama. Lira yang jadi topik pembicaraan berkali-kali memonyongkan bibirnya.


Tiba-tiba dari sisi samping Cahya datang seseorang menyapa.


"Eehhh...ada Tuan Nata. Silahkan Pak." Lira pun mau tidak mau beralih tempat duduk ke sisi Ray.


"Ray kenalkan ini suamiku Nata." Cahya pun saling mengenalkan mereka berdua.


Nata dan Ray saling bersalaman.


"Tuan Nata."


"Tuan Ray, sudah lama kenal Cahya?" tanya Nata antusias. Masalahnya dirinya merasakan pandangan Ray berbeda saat memandang Cahya.


"Lumayan lama. Aku kenal Cahya sejak Cahya kuliah di luar negeri," jawab Ray dengan tatapan yang terus lekat ke arah Cahya.


"Ya temani aku ke toko sebelah?" ajak Nata. "Lir, kamu temani Tuan Ray. Cahya mau aku ajak belanja," lanjut Nata.


"Eh...haiiii....Ya jangan tinggalkan aku. Ya....Ya.....Ya........!!!!!!!????" Lira pun mendengus kesal.


Ray menatap punggung Nata dan Cahya dengan tanpa berkedip. Matanya terus mengawasi sepasang suami istri itu hingga hilang dari pandangan.


🔸🔸🔸🔸🔸


Sikap Cahya ke Nata secara perlahan mulai berubah. Bukan tanpa alasan Cahya mulai bisa berbicara layaknya manusia normal dengan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.


Saat Cahya mabuk di Paradise bukan sekali dua kali Nata menolongnya.

__ADS_1


"Singkirkan tangan busuk mu dari tubuh istriku?" hardik Nata ke Benny.


"Siapa anda, apa urusannya dengan anda?" tanya Benny dengan tatap mata tidak suka.


"Terbalik anda bertanya. Aku suaminya Cahya. Paham. Singkirkan tangan kotor mu dari tubuh istriku," perintah Nata. Nata tidak suka dengan laki-laki yang bernama Benny. Berkali-kali dirinya melihat Benny selalu menguntit dan mengikuti Cahya. Akal sehatnya mengatakan jika Benny memiliki niat buruk.


"Suami Cahya," ucap Benny sinis. "Tuan Nata apa anda tahu Cahya itu cahaya di 'Paradise'? Istri anda ini lambang keindahan di 'Paradise'. Jangan khawatir saya akan menjaga istri anda yang berharga ini." Benny pun tertawa samar.


Nata berusaha sabar mendengar ocehan laki-laki brengsek yang ia yakini punya niat busuk kepada istrinya.


Cahya sedikit tersadar dari mabuknya. Meskipun samar tapi dilihatnya Nata mengangkat tubuhnya dan membawanya ke dalam mobil.


Sesampainya di rumah direbahkannya tubuh Cahya di ranjang. Diambilnya air hangat dan kain yang sudah disiapkan oleh Bibi Asih. Dilucutinya semua baju istrinya lalu ditutupinya dengan sehelai selimut, tidak membiarkan tubuh Cahya tergeletak dalam keadaan telanjang bulat.


Nata tidak bisa membiarkan Bibi Asih yang membersihkan tubuh istrinya. Bagaimana pun tubuh istrinya miliknya. Dirinya yang paling halal untuk memiliki dan melihat keseluruhan tubuh istrinya. Dengan pelan dilap nya seluruh tubuh Cahya. Mulai dari atas hingga bawah. Setelah itu dipakaikannya baju tidur yang longgar untuk menutupi tubuh istrinya.


"Gadis cantik sampai kapan kamu akan seperti ini. Terus-terusan menguji kesabaran ku." Nata menatap wajah istrinya sendu. Diciumnya kening Cahya. Lalu dirinya pun berlalu meninggalkan kamar Cahya.


Diambilnya air wudhu. Dibasuhnya anggota badannya yang masuk ke hukum wajib terkena air wudhu. Karena sibuk mengurus Cahya, dirinya agak sedikit terlambat melakukan sholat isya.


Di pertengahan malam Nata terbangun seperti biasanya. Waktu menunjukkan pukul dua pagi. Nata membersihkan diri dan mengambil air wudhu. Setelah selesai dirinya menyempatkan diri melihat keadaan istrinya.


"Istri cantikku suatu saat kamu harus menemani ku sholat malam di sepertiga malam terakhir. Kita sama-sama bersujud di hadapan Alloh, di saat banyak manusia tertidur dengan lelap," ajak Nata kepada Cahya yang masih terlelap.


Nata pun kembali ke kamarnya dan menunaikan sholat malam sendiri. Selesai sholat dilanjutkan dengan membaca wirid dan doa. Tidak lupa dirinya bermunajat di hadapan Alloh, mencurahkan semua keluh kesahnya kepada Maha Pencipta. Memohon kebaikan untuk rumah tangganya.


"Ya Alloh...jika Cahya Dewi Pamukir adalah jodoh terbaik bagi hamba, hamba-Mu yang hina ini memohon bukalah pintu hatinya. Jadikanlah dia menjadi salah satu bidadari surga-Mu."


Langit di sepertiga malam begitu ramai, diisi dengan munajat mereka yang bersujud di hadapan Alloh. Membasahi bibir dengan berdzikir mengagungkan asma-Nya. Angin bertiup pelan menggapai wajah-wajah mereka yang menghabiskan sepertiga malam dalam sujud dan munajat.

__ADS_1


Saat Nata masuk ke kamarnya, sebenarnya Cahya sudah terbangun. Tapi dirinya pura-pura tidur. Semua ucapan Nata pun didengarnya. Setelah Nata pergi beberapa tetes air mata membasahi pipinya. Sudah berkali-kali Nata membawanya pulang dirinya yang sedang dalam keadaan mabuk. Tanpa malu dan jijik, suaminya itu selalu membawanya pulang lalu membersihkan tubuhnya.


__ADS_2