
Di suatu hari
"Nata, Daddy mau bicara?" Bramansyah sengaja mengajak putranya bicara serius di kantor. Sebelum mendapat kepastian keputusan dari putra semata wayangnya, dirinya tidak berani membawa pembicaraan ke rumah.
"Iya, Dad. Tentu. Apa yang mau Daddy bicarakan, sepertinya sangat serius?" jawab Nata penasaran.
"Kamu ingat Om Aditya Salman Wiguna?" tanya Bramansyah.
"Ehhmmm.... apa Om Aditya yang tempo hari ngobrol dengan Daddy di kantor?"
"Syukur kalau kamu masih ingat. Om Aditya punya seorang anak gadis," Bramansyah menjeda pembicaraannya. Dilihatnya ekspresi wajah anaknya. Seperti biasa selalu biasa saja.
"Lalu?" tanya Nata santai.
"Daddy sudah ngobrol banyak dengan Om Aditya. Sepertinya Om Aditya tertarik untuk menjadikan mu menantu," jelas Bramansyah sembari meraba-raba jawaban putranya.
Nata terdiam. Kedua telapak tangannya diletakkan menyatu untuk menopang dagunya. Dipejamkannya matanya. "Dad, kenapa harus aku? Nata berjumpa Om Aditya hanya sekali, secepat itu Om Aditya langsung mau menjadikan ku menantu. Om Aditya tidak sedang bangkrut kan, Dad?"
"Apa-apaan kamu. Lucu. Memangnya setiap pernikahan mendadak terjadi karena bangkrut," ucap Bramansyah sembari tertawa geli mendapat pertanyaan seperti itu dari putranya. "Begini saja, kamu coba ngobrol-ngobrol santai dengan Om Aditya. Kalau Daddy yang menjelaskan sebab musababnya kan jadinya aneh, tapi kalau Om Aditya yang langsung cerita ke kamu, pasti penilaian mu akan berbeda. Bagaimana?" tawar Bramansyah.
Nata menimbang-nimbang permintaan Daddy-nya. "Siap Daddy ku yang terhormat," jawab Nata dengan meletakkan salah satu tangannya di atas alisnya. Setelah itu dirinya pun keluar dari ruangan Bramansyah.
__ADS_1
🔸🔸🔸🔸🔸
"Jadi begitu ceritanya. Om mohon Nata bersedia membantu Om!" pinta Aditya dengan wajah memelas.
"Saya minta waktu enam bulan. Setelah enam bulan, saya akan memberikan jawaban mengenai bersedia atau tidak untuk menikahi putri Om," jawab Nata pasti.
"Nata jangan bercanda. Enam bulan lama sekali. Kenapa tidak satu bulan saja?" tawar Aditya.
Nata tersenyum. Dari awal dirinya sudah yakin pasti akan mendapat jawaban seperti itu.
"Ayolah Nata, Om butuh kepastian?" pinta Aditya tidak sabar.
"Silahkan. Tentu boleh," jawab Aditya.
"Saya punya seorang guru ngaji namanya Ustadz Teguh, kebetulan beliau mengajar ilmu tauhid. Waktu itu beliau masih muda dan masih lajang, dan kata jamaah wanita, beliau sangat tampan. Ustad muda, tampan, dan baik, sudah pasti jadi incaran para gadis muda. Saat itu beliau ingin menikah beliau sholat istikharah selama enam bulan lamanya, memohon petunjuk mengenai gadis yang akan menjadi istrinya." Nata terdiam, memberi waktu kepada Om Aditya untuk bisa mencerna ceritanya.
"Lalu?" Tanya Aditya penasaran. Untuk menikah saja harus sholat istikharah selama enam bulan.
"Ada banyak gadis jamaah Ustadz Teguh yang sering SMS Ustadz Teguh. Waktu itu WA belum ada ya Om," ucap Nata sambil tersenyum. "Ada salah satu jamaah wanita yang setiap hari SMS beliau, isi SMS nya hanya mengingatkan waktu sholat, dari sholat wajib sampai sholat sunah. Dan jamaah wanita ini tidak pernah memberitahukan namanya, alamatnya, atau apapun mengenai diri pribadi jamaah wanita ini. Bahkan Ustadz Teguh tidak tahu wajah jamaah wanita yang setiap hari SMS untuk mengingatkan jadwal sholat," Nata kembali terdiam.
"Lalu, lalu?" Aditya mulai tidak sabaran.
__ADS_1
"Tenang, Om. Lalu Ustadz Teguh ingin menikah. Karena banyaknya yang mendaftar untuk menjadi istri beliau, Ustadz Teguh pun bingung siapa yang harus dipilih. Dan akhirnya beliau memutuskan untuk melakukan sholat istikharah. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, sholat istikharah Ustadz Teguh belum membuahkan hasil. Sampai akhirnya muncul keyakinan yang akan menjadi istrinya adalah jamaah wanita yang setiap hari SMS mengingatkan waktu sholat. Tapi meskipun demikian Ustadz Teguh belum yakin juga, untuk memantapkan keputusannya akhirnya beliau melanjutkan sholat istikharah selama enam bulan, dan hasil istikharah tidak pernah berubah, jamaah wanita yang setiap hari SMS untuk mengingatkan waktu sholat itulah yang jadi jodohnya. Setelah konsultasi dengan guru-guru beliau, akhirnya diputuskannya untuk meminang jamaah wanita yang setiap hari SMS untuk mengingatkan waktu sholat itu. Perlu dicatat ya Om, ustadz Teguh hendak meminang wanita itu tanpa tahu wajah, tanpa tahu namanya, tanpa pernah mendengar suaranya, tanpa tahu alamatnya," Nata kembali menjeda perkataannya.
"Nata jangan bohong kamu. Masa tidak tahu apa-apa sudah mau langsung meminang," ucap Aditya tidak percaya.
"Om ini bisa aja. Buat apa saya berbohong, tidak ada gunanya. Tenang saja saya tidak bohong. Ustadz Teguh sampai sekarang juga masih ada. Nata lanjutkan ya Om ceritanya. Akhirnya ditelpon lah jamaah wanita itu, menanyakan apakah bersedia untuk menjadi istri ustadz Teguh. Dan tentu saja jamaah wanita itu menjawab pasti bersedia. Jamaah wanitanya ini masih muda dan masih gadis ya Om. Akhirnya ringkas cerita Ustadz Teguh menikahi gadis ini, dan sekarang sudah dikaruniai dua orang anak," Nata mengakhiri kisahnya.
"Kejadian itu benar-benar ada? Kamu tidak sedang membohongi Om kan?" Aditya mencoba mencari kebohongan dari cerita Nata.
"Buat apa saya berbohong. Ustadz Teguh masih ada. Kalau Om mau ketemu beliau juga silahkan," jawab Nata pasti.
Aditya Salman Wiguna tampak berpikir keras. Hari gini masih ada orang yang mencari jodoh dengan cara seperti itu. Tidak tahu bentuk wajah, nama, tidak pernah mendengar suaranya, tapi tetap dinikahi.
"Om masih ragu dengan cerita saya? Saya bahkan punya satu cerita nyata lagi tentang pencarian jodoh yang benar-benar terjaga kesuciannya. Kali ini bukan enam bulan tapi bertahun-tahun. Ini dialami teman saya sendiri. Tapi lain kali saja saya ceritakan," ucap Nata. Membuat Aditya tambah kebingungan.
"Bagaimana Om, beri saya waktu enam bulan, dan saya akan memberi keputusan," pinta Nata kembali.
Aditya menimbang-nimbang permintaan Nata Alim Surya. "Baiklah, Om setuju. Om percaya kamu akan memberikan jawaban yang terbaik. Demi masa depan putri semata wayang Om, Om bersedia menunggu jawaban mu selama enam bulan. Dan tidak boleh ditambah."
Nata tertawa dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Om Aditya.
Setelah berbasa-basi sedikit, akhirnya Nata pamit pulang.
__ADS_1