KESUCIAN CAHAYA

KESUCIAN CAHAYA
PEPERANGAN DI MALAM MINGGU


__ADS_3

Malam ini malam Minggu. Malam yang mendebarkan dan penuh cobaan. Cobaan yang sangat berat.


Nata sudah mulai akrab dengan teman-teman di pondok pesantren. Meskipun anak seorang pengusaha kaya raya, tapi saat di pondok pesantren yang terletak di pesisir pantai ini, semuanya sama, sarungan, sandalnya jepit, makan dengan makanan yang sama, dan banyak hal lain yang akan membuat anak konglomerat tulen alergi. Tapi tidak dengan Nata, seperti kata Daddy nya tinggal di pondok pesantren sangat seru.


Baiklah. Peperangan di malam Minggu ini segera dimulai. Semua santri laki-laki duduk dengan posisi memutar. Sarung sudah dipakai dengan gagah, peci-peci sudah terpasang dengan posisi keren, semua sudah duduk rapi bersila di tikar pandan masjid.


Salah seorang santri mengucapkan kata dalam bahasa Arab. Diserangnya seorang santri junior lain untuk bisa menjelaskan kandungan ilmu Nahwu dan ilmu Shorof yang terkandung dalamnya. Saat santri junior tersebut bisa menjawab, maka dia sementara selamat dari peperangan malam ini. Setiap santri saling melempar kata dalam bahasa Arab, siapapun yang terkena lemparan harus bisa menjelaskan kandungan ilmu Nahwu dan ilmu Shorofnya.


Setiap santri diberi urutan untuk menyerang kata-kata dalam bahasa Arab kepada santri lainnya.


"Nata jelaskan kandungan ilmu Nahwu dan Shorof dalam kalimat tadi!" perintah seorang santri senior.


"Panjangnya. Matilah aku!" jawab Nata kecil. "Mas Nyarno panjang banget kalimatnya. Nata mana bisa menjelaskan. Tobat...tobat...tobat.".


"Tobatmu diterima. Hukumannya mengisi bak mandi selama seminggu penuh bersama dengan...sebentar lihat kamus hukuman dulu. Bersama dengan Agus, Teguh, Slamet, Yanto dan siapa lagi ya...nah ini dia, Yadi."


"Kita mati bersama dan tobat bersama," ucap para santri yang mendapat hukuman.


Peperangan untuk menjelaskan kandungan ilmu Nahwu dan ilmu Shorof dalam kandungan kata bahasa Arab berakhir di tengah malam.


Setiap yang tidak bisa menjawab pertanyaan dalam perang ilmu Nahwu dan ilmu Shorof yang diadakan di tiap malam Minggu, mendapat hukuman. Ada yang harus seminggu penuh membersihkan halaman, mengepel lantai masjid, menata kitab-kitab. Tapi semua itu dilakukan secara bersama-sama.


Nata dan teman-temannya saling basah-basahan menimba air dari sumur dan mengisi ke bak-bak mandi yang cukup besar atau disebut kulah di daerah setempat. Pagi mereka sekolah di sekolah umum, dan sorenya barulah menjalankan hukuman. Pondok pesantren di daerah ini sebagian besar tidak menyediakan sekolah umum, jadi untuk sekolah umum masing-masing sekolah di sekolah-sekolah umum yang ada di daerah tersebut.


Di sinilah sekarang Nata dan teman-temannya berada. Di warung Mbok Sumi, satu-satunya warung makan yang ada di pondok pesantren. Harganya murah meriah dan tidak perlu marah-marah. Bagaimana tidak murah, sayurnya isinya kuah sop semua dan potongan tempe goreng yang sangat kecil, yang penting nasinya banyak, kenyang, urusan sayur cukup seadanya. Santri pondok pesantren sebagian besar tidak mendapat uang sangu ( uang saku ) yang banyak. Pun Nata hanya mendapat uang saku untuk bekal hidup sebulan dengan jumlah yang sama dengan teman-temannya. Waktu sebulan belum habis, tapi di pertengahan bulan uang saku sudah kosong. Alamak malangnya nasib. Tapi tenang saja, pun uang saku sudah habis tapi proses mengeksekusi makanan tetap berlanjut. Bagaimana caranya? Seribu satu cara untuk mendapatkan harta karun yang bernama sepiring nasi.


"Nata?"

__ADS_1


"Nggih, Bu Nyai ( sebutan sebagai bentuk hormat untuk istri Pak Kyai )," jawab Nata kecil.


"Kayu di dapur sudah habis. Ibu belum sempat mencari kayu. Tolong bantu cari dan ambil kayu!"


"Nggih, Bu Nyai." Nata segera mengelus perutnya, "bakal dapat jatah makan siang dari Bu Nyai, Alhamdulillah." Kata Daddy kalau makan di rumah Pak Kyai merupakan berkah, berkah dari seorang guru. Kata Daddy seorang santri yang takdim kepada gurunya maka kwalitas ilmu yang didapat lebih mantap.


Kayu-kayu sudah diletakkan dan disusun di dapur dengan rapi.


"Sudah selesai?" tanya Bu Nyai.


"Sudah, Bu Nyai," jawab Nata kecil.


"Ya sudah, sini makan dulu."


Nata mengambil piring dan mengambil nasi hingga memenuhi semua badan piring, di sendoknya sayur bening bayam, tidak lupa dicomotnya tempe dan tahu. Nata pun makan dengan lahap.


"Sudah Bu Nyai. Matur nuwun."


"Nata kenapa kamu tidak mau diberi uang saku lebih sama Daddy mu?"


"Nata malu Bu Nyai. Teman-teman Nata semuanya hidup sederhana. Bahkan teman-teman Nata yang ikut mondok di sini ada beberapa diantaranya anak dari kyai-kyai besar, mereka pun hidup sederhana. Jika Nata hidup berlebihan di sini, nanti ilmu apa yang Nata dapat." Nata terdiam sejenak.


"Kata Daddy, Nata harus belajar. Harus mendoakan mommy supaya diberi kesembuhan. Jadi Nata juga harus hidup sederhana supaya Nata bisa minta bantuan teman-teman Nata untuk mendoakan mommy. Kalau Nata di sini bergaya menjadi anak orang kaya, nanti teman-teman Nata benci Nata."


"Pintar kamu, Nak. Jadi anak yang sholeh ya Nak. Jadi pengusaha yang sholeh ya, rajin sholat, rajin ngaji, rajin sedekah, rajin menolong orang."


"Matur nuwun kalih pandonganipun ( terima kasih untuk doanya). Bu Nyai ngapunten (mohon maaf) minta doanya untuk mommy Nata supaya cepat sembuh," pinta Nata kecil.

__ADS_1


"Tentu, Nak. Jika tidak lupa, Bu Nyai pasti akan selalu mendoakan mommy kamu supaya cepat sembuh. Kamu seperti Daddy mu. Ketika mondok Daddy mu selalu takdim kepada guru-gurunya, makanya punya anak yang soleh kayak kamu," puji Bu Nyai.


Pujian Bu Nyai Suyudi membuat Nata kecil tersenyum sumringah. Diciumnya tangan Bu Nyai Suyudi, kemudian Nata kecil pun kembali ke pondok pesantren. Berebut mandi dengan teman-teman pondok yang pecinya pada miring.


🔸🔸🔸🔸🔸


Di sini Nata kecil kini berada. Sedang menerima telepon dari mommy nya.


"Assalamualaikum, bagaimana keadaan Mommy?"


"Wa'alaikumsalam. Mommy baik-baik saja, Nak. Bagaimana di pondok pesantren, Mata betah?" tanya mommy Halimah.


"Nata betah Mommy. Teman-teman di pondok pesantren baik-baik semua."


"Syukurlah, Nak. Nata baik-baik di sana. Tolong bantu doanya supaya mommy cepat sembuh."


"Iya, Mom."


"Mommy janji nanti kalau sudah sembuh, Mommy dan Daddy pasti datang jenguk anak kesayangan mommy di pondok pesantren."


"Iya, Mom. Nata tunggu Mommy dan Daddy jenguk Nata di pondok pesantren." Nata kecil terisak-isak.


"Jangan menangis. Katanya betah tapi nangis," tanya mommy Halimah khawatir.


"Mommy cepat sembuh ya. Nata rindu Mommy. Rindu masakan Mommy."


Hari terus berganti. Waktu tidak pernah berhenti berputar. Manusia terus disibukkan dengan kehidupan. Berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan akhirnya kembali ke tempat semula.

__ADS_1


__ADS_2