
Alunan musik menghentak-hentak memekakkan telinga. Pengunjung tempat itu berjingkrak-jingkrak mengikuti panasnya suasana. Lampu-lampu sorot aneka warna berputar-putar, menambah hidup hingar bingar malam. Club Paradise.
Cahya dengan lihainya mengikuti irama musik, tubuhnya yang seksi bergerak sempurna. Kepalanya bergeleng ke kanan dan kiri. Dugem di club malam, berjoged ria menjadi rutinitas Cahya Dewi Pamukir. Seorang gadis anak pengusaha kaya, cerdas, dan cantik. Dari segi fisik dan harta benda, Cahya seorang gadis yang sempurna.
Hingar-bingar lampu-lampu "Paradise" menambah semangat orang-orang yang sedang bersantai ria, melepaskan kepenatan pekerjaan dan tuntutan hidup yang berat, tertawa-tawa lepas membuat rileks pikiran. "Hai girls, nikmati hidupmu!". Dentingan gelas beradu dengan bunyi minuman keras yang dituangkan dari botol. Para pelayan berseliweran membawa baki berisi botol-botol alkohol, lengkap dengan gelasnya.
Cahya berjalan sempoyongan menimpa Lira teman baiknya. Mabuk dan club malam adalah dunia Cahya di malam hari. Bergabung dengan banyak orang, melepaskan semua penat dan masalah.
Cahya dan Lira menenggak alkohol bersama-sama, memasukkan minuman yang katanya "bisa menghilangkan semua masalah itu" ke mulutnya yang terus melaju hingga ke perut.
"Hai, my friend, Cahya. Apa kabar?"
"Hallo Benny. Sejak kapan ada di Indonesia?"
"Seminggu yang lalu. Cahya, kamu makin hari makin cantik. Paradise jadi tambah seru kalau ada kamu."
Cahya tertawa mengejek. "Ben sejak kapan kamu jadi tukang gombal? Ngga pantes tahu."
"Bukan tukang gombal, cuma bicara fakta."
"Halah, mulutmu itu dari dulu sama. Sama-sama tidak ada benarnya."
__ADS_1
Benny bergabung dengan Cahya dan Lira.
"Mana pacar kamu?" tanya Benny dengan mata mencari-cari si dia yang jadi pacar Cahya.
"Pacar, baru putus. Bosan."
"Pacar kamu mana, Lir?"
"Tidak usah ribet tanya-tanya pacar orang. Kamu sendiri, mana pacar kamu?"
"Yeah kena jebakan sendiri dah. Aku sekarang jomblo sejati Lir. Inj mau daftar jadi pacar Cahya, bagaimana Ya, boleh daftar?"
"Waduh, maaf Ben. Belum buka pendaftaran. Nanti kalau sudah buka ada tulisannya "open" kok."
"Lha, sudah aku jawab nunggu ada tulisan "open" , apa perlu aku bikin brosur juga."
Tiga orang penghuni tiga kursi itu pun tertawa. Mengisi waktu sambil berbincang-bincang dan menenggak alkohol ke dalam mulut.
Semakin malam paradise semakin hidup. Semakin penuh. Inilah hidup, hidupku, yang pasti bukan hidupmu. Setuju???
Benny mengajak Cahya ke tengah-tengah diantara mereka yang sedang berjingkrak-jingkrak mengikuti musik. Rambut gadis itu berantakan menghambur ke pipinya, sebuah kecantikan yang sangat mengagumkan. Sebuah wajah cantik yang sempurna.
__ADS_1
Suasana makin panas, Benny pun ikut panas, kepanasan. Dan yang panas butuh pendingin. Benny dengan berani menyentuh pinggang gadis cantik di hadapannya, wanita muda yang sangat muda, sepertinya akan seru untuk menemani malamnya di ranjang. Seksi, putih mulus, dadanya montok ranum, air liur Benny menetes, nafsu dan senjata andalannya minta berperang.
Sebelum sepasang tangan itu sempat berlabuh di pinggang seksi Cahya, sebuah tangan menariknya dan memukul wajahnya dengan bogeman. Siapa lagi kalau bukan pengawal Cahya Dewi Pamukir.
🔸🔸🔸🔸🔸
Aditya Salman Wiguna berkali-kali menyesal, menyalahkan diri. Putri satu-satunya terjerumus ke dunia malam, menjadi susah diatur, meskipun Cahya masih tahu batas untuk tetap menghormati orang tua.
Dulu saat Cahya diterima kuliah di Amerika, dengan bangga Aditya memamerkan kecerdasan putri semata wayangnya di hadapan semua keluarga. Cahya anak yang pintar, cantik, menurut kata orang tua, dan bla bla bla, segudang puja dan puji untuk putri semata wayangnya.
Di Amerika, Cahya seperti mendapat angin segar kebebasan. "Aku bebas," teriak hatinya. Dari hari pertama menginjakkan kaki di Amerika, Cahya sibuk mencari club malam elit, mendaftarkan diri menjadi anggota eksekutif club. Dan sejak saat itu, Cahya sudah berhasil dinobatkan sebagai cahaya club. Cahya tidak peduli, yang penting bebas. Bebas dalam arti tidak harus terus menunduk dan menahan semua keinginannya.
"Pah, bagaimana ini, bagaimana dengan Cahya? Mamah tidak ingin Cahya jadi seperti mama ketika muda."
"Papah menyesal sudah melepas Cahya sendirian kuliah di Amerika. Papah tidak menyangka anak ini bisa jadi lepas kendali seperti ini."
"Pah, Cahya kita." Mamah Magdalena menangis di pelukan suaminya. Menangisi Cahya, anak gadisnya, cahaya hidupnya.
"Mah, mungkin kita sebagai orang tua tidak bisa menjaga Cahya sepenuhnya, tapi papah janji, papah akan menjaga Cahya sepenuh hati."
"Caranya Pah?" Magdalena menatap sendu kepada suaminya.
__ADS_1
"Papah punya cara untuk menjaga Cahya. Papah tidak akan mengekang keinginan Cahya, tapi papah akan menyediakan beberapa body guard yang khusus mengawal anak kita. Papah harus menyelamatkan kehormatan dan kesucian putri kita. Semoga ini bisa melindungi Cahya kita."
"Iya Pah. Mamah ikut pengaturan papah. Mamah yakin, papah akan menjaga kehormatan putri kita seperti dulu papah menjaga kehormatan mamah. Mamah tidak pernah menyesal menikah dengan papah." Magdalena kembali menangis di pelukan suaminya. Kenangan masa lalu berseliweran di matanya.