
"Saya terima nikahnya Cahya Dewi Pamukir binti Aditya Salman Wiguna dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Sah....sah...sah...
Cahya Dewi Pamukir menekuk hatinya. Sekarang dirinya telah memiliki jabatan baru yaitu sebagai seorang istri. Jabatan yang membuatnya tersenyum nyinyir. Harus melayani suami, mengurus rumah, melahirkan, semua itu selama ini tidak pernah terpikirkan di dalam pikirannya. Wanita itu harus diberi kebebasan, tidak melulu dikekang, itulah yang menjadi prinsipnya. Susah-susah dirinya terlepas dari sangkar emas yang dibuat oleh orang tuanya, dan sekarang harus masuk lagi ke dalam sangkar emas yang lain. Tapi dirinya sudah memiliki siasat agar tidak terjebak oleh sangkar emas dari yang namanya seorang suami.
Pernikahan antara Nata dan Cahya hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan beberapa pegawai perusahaan dari masing-masing perusahaan dari kedua belah pihak.
Cahya mengenakan gamis panjang yang longgar, dengan kerudung yang terpasang asal di rambutnya. Rambutnya yang sebahu dibiarkan tergerai dengan indah. Kalau bukan karena permintaan mamanya dirinya tidak sudi mengenakan baju longgar yang menutupi keindahan dan kemulusan tubuhnya. Bentuk tubuhnya indah dan banyak membuat laki-laki ngiler, bukankah yang namanya keindahan itu harus ditunjukkan bukannya ditutupi dengan kain longgar yang panjang dan tidak jelas bentuknya. Cahya menarik nafas kasar, lebih baik baginya memakai baju-bajunya yang harganya mahal-mahal itu, tidak panas dan modis. Lihatlah yang dipakainya sekarang, baju para nenek-nenek yang sebentar lagi masuk liang lahat.
🔸🔸🔸🔸🔸
"Tuan Nata yang terhormat sepertinya kita harus membahas peraturan dari hubungan suami istri yang sama sekali tidak saya inginkan ini. Saya harap anda mengerti dengan maksud saya." Cahya menatap si dia yang sudah jadi suaminya dengan pandangan mata arogan.
Nata dengan santai menanggapi sikap gadis muda yang baru saja menjadi istrinya itu. "Lalu apa yang kamu inginkan?"
"Kita buat kontrak pernikahan. Aku ingin hubungan suami istri ini hanya berlangsung selama setahun saja. Setelah itu kita bercerai."
"Cahya Dewi Pamukir apa kamu kira ikrar pernikahan yang aku ucapkan adalah sebuah permainan. Apa kamu kira aku sedang bermain-main dengan Tuhan. Sebelum mengucapkan ijab qabul, hati dan lidah ku ini mengucap bismillah, menyebut nama-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Apa kamu kira makna bismillah sependek itu? Tidak ada kontrak pernikahan, aku tidak setuju." Jelas Nata dengan suara tenang.
Cahya mendengus kasar. Begini kalau menikah dengan anak lulusan pesantren, kebanyakan ceramah tidak jelas. "Tapi aku tidak mau menjadi istrimu, aku tidak mencintaimu. Banyak perempuan lain yang bisa kamu nikahi, untuk apa mempertahankan ku," lanjut Cahya dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Mungkin karena kamu cantik makanya aku menikahimu. Lagian pernikahan kita baru sehari, kita jalani dulu. Aku akan hormati permintaan mu tapi jangan mempermainkan yang namanya pernikahan. Pernikahan itu suci dan mulia." Nata menyentuh pundak Cahya dan membimbingnya untuk duduk.
"Jangan sentuh-sentuh aku. Aku tidak sudi disentuh oleh laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai." Tangan Cahya menampik tangan Nata dengan kasar.
"Oke oke aku tidak akan menyentuh mu. Silahkan kamu buat membuat kesepakatan, tapi aku juga memiliki kesepakatan yang harus kamu patuhi."
"Sebutkan dulu kesepakatan mu?" timpal Cahya.
"Pertama tidak ada pernikahan kontrak. Kedua harus manjaga kehormatan suami mu di hadapan keluarga dan dimana pun berada. Dan yang terakhir biarkan aku menjalankan tugas ku sebagai seorang suami. Cukup itu saja."
"Betul hanya tiga itu saja?" tanya Cahya tidak percaya.
"Betul apa mau aku tambahkan kesepakatan yang lain, seperti memasak, mengurus rumah, melayani ku di ranjang."
"Lalu apa kesepakatan mu?" tanya Nata.
"Aku tidak mau tidur satu kamar apalagi satu ranjang. Aku tidak akan melakukan tugas ku sebagai seorang istri. Beri aku kebebasan, jangan kekang aku. Meskipun kita suami istri dan satu rumah, tapi kita memiliki kehidupan masing-masing. Untuk ketiga persyaratan mu aku terima, tapi saat aku tidak sanggup lagi bertahan dalam pernikahan ini, aku harap anda bersedia menceraikan saya."
"Oke. Deal. Good choice." Nata mengulurkan tangannya sebagai tanda kesepakatan. Cahya membuang muka saat melihat uluran tangan itu. Meskipun enggan tapi akhirnya dijabatnya juga tangan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu. 'Suami sah' Cahya merasa geli dan alergi dengan dua kata itu.
🔸🔸🔸🔸🔸
__ADS_1
Nata dan Cahya memutuskan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tua mereka. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk yang namanya kebebasan. Awalnya mertuanya memintanya untuk tinggal bersama, tapi berkat bantuan laki-laki yang menjabat sebagai suaminya itu dirinya pun bisa terlepas dari keinginan mertuanya.
Mama Magdalena dan papa Aditya pun memberikan penawaran yang sama, meminta anak dan menantunya untuk tinggal seatap. Tapi Cahya dengan keras menolaknya. Dengan berapi-api dirinya melawan keinginan kedua orang tuanya, membuat Nata geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya. Mama Magdalena tidak mau kalah.
"Cahya, mama ijinkan kamu tidak tinggal seatap dengan orang tua ataupun mertuamu, tapi mama minta biarkan Bibi Asih dan Pak Toto tinggal bersama dengan kalian," tawar mama Magdalena.
"Ma Cahya sudah gede kali, sudah bisa mengurus diri sendiri. Tidak perlu ada Bi Asih dan Pak Toto."
"Cahya jangan jadi anak durhaka kamu. Mama cuma minta satu dari semua alasan mu yang banyak itu. Sudah segitunya kamu melawan mama. Kamu sudah tidak mengakui mama sebagai mam mu lagi?" Sudah habis kesabaran Magdalena menghadapi mau putrinya yang menurutnya sudah kelewat batas itu.
Alhasil Cahya mematuhi keinginan mamanya, demi menghormati wanita yang sudah membuatnya ada di dunia ini.
Tidak ada yang berubah dengan kehidupan Cahya. Dunia malam tetap menjadi dunianya. Menjadi markas utamanya dalam meraih sesuatu yang menurutnya bernama kesenangan.
"Cahya kabarnya kamu sudah kawin?" Tanya Benny, laki-laki yang pernah menerima bogeman mentah dari pengawal Cahya.
"Kawin, kamu kira aku ini kambing," jawab Cahya sewot.
"Kalem, Ya. Tidak perlu marah juga kali." Benny masih merasakan sakit di hatinya mengingat pukulan yang sudah mendarat tragis di wajah dan tubuhnya.
Cahya melenggang ke tengah arena, bergerak mengikuti irama musik, mengendorkan urat-urat syaraf yang sudah seharian digunakan untuk bekerja. Benny selalu kagum dengan tubuh itu, begitu juga dengan teman laki-laki Cahya yang lain yang duduk bersama di 'Paradise'. Mereka ingin mencicipi meskipun hanya sekali tubuh mulus Cahya. Siapapun tidak bisa mendekati gadis itu, ayahnya yang gila, setengah mati menjaganya.
__ADS_1
Sesekali Nata mengawasi tingkah kelakuan istrinya. Sesekali dirinya ikut masuk ke Paradise, rasa penasaran menggelitik hatinya, sebenarnya kebebasan seperti apa yang begitu diidamkan oleh seorang Cahya Dewi Pamukir. Semua tingkah Cahya di Paradise menjadikan Nata pusing tujuh keliling. Dirinya selalu berpesan kepada Pak Toto dan Bibi Asih untuk jangan meninggalkan Cahya.