
"Papah, aku tidak mau mengikuti keinginan Papah. Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Cahya, sejak kamu kuliah dan tinggal di Amerika, kamu sudah banyak berubah? Apa kehidupan seperti ini yang kamu inginkan?" Aditya Salman Wiguna mengeraskan suaranya.
"Papah selama ini aku sudah mengikuti keinginan papah dan mamah, keinginan semua keluarga. Sekarang, aku mohon, ijinkan Cahya hidup sesuai ingin hati Cahya."
"Tapi anakku. Papah dan mamah hanya tidak ingin kamu menjadi rusak. Jangan kebablasan, Nak."
"Papah, pernahkah papah memikirkan isi hatiku. Selama ini papah sudah secara sepihak mengatur Cahya. Menyuruh ku untuk terus patuh dan tunduk. Mengikuti mau semua keluarga. Aku bukan patung. Aku bukan robot." Cahya diam sejenak mengatur emosinya.
"Di setiap waktu di setiap saat, pernahkah aku melawan keinginan keluarga. Pernahkah? Bahkan saat sakit, aku harus diam, sekedar mengeluh aku sakit, aku pun tidak bisa. Saat aku kebingungan, pernahkah papah bertanya masalah ku. Tidak pernah, Pah. Papah selalu menuntut ku menjadi dia yang sempurna. Waktu itu aku masih kecil, Pah. Aku hanya seorang anak kecil yang butuh didengar dan diperhatikan. Bukan anak kecil yang harus menjadi robot, yang harus mengiyakan semua perintah dan ingin papah, semua ingin keluarga." Cahya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Air mata yang selama ini ditahannya tumpah ruah.
"Cahya semua itu semata-mata Papah lakukan demi kebaikanmu, demi masa depanmu. Kamu itu pewaris utama Papah. Kepada siapa lagi Papah harus bergantung kalau bukan kepada kamu."
"Papah, lihat aku!" pinta Cahya.
Aditya memandang putrinya. Memandang kedua mata Cahya.
"Aku hanya seorang anak. Punya hati, punya ingin, punya harap. Aku bukan robot yang bisa Papah bentuk seenak hati. Papah itu yang tidak tahu diri. Papah yang sudah egois. Papah itu diktator. Papah itu kejam. Papah itu perwujudan monster manusia. Papah itu sangat menakutkan."
Plak!!! Tamparan keras melayang di pipi Cahya. Rambut Cahya berhamburan menutupi wajahnya. Pipinya pun memar menerima tamparan keras Papah Aditya.
"Papah. Papah jangan terlalu keras pada Cahya. Kendalikan emosi! Bagaimanapun Cahya satu-satunya anak kita." Magdalena menengahi pertengkaran antara suami dan anaknya.
"Anak ini kurang ajar. Sudah di sekolahkan, dididik, diajari, masih tetap kurang ajar kepada orang tua." Aditya murka. Anaknya yang sudah di didiknya dengan sepenuh hati menjadi tidak terkendali. Dirinya merasa sudah benar dalam mendidik dan membesarkan anak, tapi kenapa hasilnya harus seperti ini. Kenapa anaknya merasa tersiksa dengan didikannya.
"Papah biarkan mamah yang bicara dengan Cahya." Magdalena menatap putrinya dengan iba. Sebagai seorang ibu, Magdalena lebih memahami isi hati anaknya.
Magdalena menarik tangan putrinya. Diajaknya putrinya untuk bicara di kamar.
"Nak ceritakan ke mamah, ceritakan semua masalahmu! Mamah akan mendengarkan. Mamah tidak akan marah. Sini anakku!" Dengan lembut Magdalena meraih tubuh Cahya. Direngkuhnya anak gadisnya yang sedang menangis nelangsa.
__ADS_1
"Mamah, aku tidak menuntut banyak hal. Untuk sekarang ijinkan aku menjadi diriku sendiri. Jika Cahya sudah selesai dengan kebebasan yang Cahya inginkan, Cahya pasti kembali ke papah dan mamah. Aku lelah terus-terusan menjadi robot, menjadi patung hidup."
"Betul, setelah selesai dengan kebebasan yang kamu inginkan, kamu akan kembali lagi ke mamah dan papah?" tanya Magdalena.
Cahya mengangguk pasti. "Hanya sebentar Mah. Hanya beberapa tahun."
"Jangan lama-lama ya, Nak!" rayu Magdalena.
"Nak, mamah dan papah akan memenuhi keinginanmu. Tapi ijinkan mamah dan papah menjalankan kewajiban kami sebagai orang tua. Ijinkan mamah menjaga putri mamah yang berharga ini. Bagaimana, Nak?"
Cahya terdiam lama. Merenung.
"Baiklah. Cahya terima. Tapi sebelumnya bisakah Mamah menceritakan apa yang akan papah dan mamah lakukan."
"Nak, yakinlah ini yang terbaik untuk putri mamah yang sangat mamah sayangi."
Ibu dan anak itu saling berpelukan. Meluapkan rasa kasih dan sayang.
Cahya mengangguk pelan.
Aditya masuk ke kamar putrinya. Diusapnya pipi putrinya pelan. "Maafkan Papah?"
Cahya tidak menjawab, hanya kembali mengangguk pelan.
🔸🔸🔸🔸🔸
Kesepakatan antara ayah dan anaknya pun disetujui. Cahya diijinkan menjalani kehidupan yang dia inginkan. Dan Aditya menyediakan beberapa pengawal yang akan selalu mengawasi dan membantu putrinya jika ada masalah. Khusus Pak Toto dan Ibu Asih, sepasang suami istri itu akan menemani kemanapun Cahya pergi, tanpa mengganggu kebebasan yang Cahya inginkan. Saat di Amerika, Pak Toto dan Ibu Asih ikut-ikutan ke Amerika. Mereka berdua pun pamer foto ke semua anggota keluarga di kampung. 'Turis Amerika.'
"Ijinkan Papah dan mamah menjaga kehormatan mu. Agar suatu saat kami sebagai orang tua tidak menyesal, dan kehormatan Cahya tetap terjaga."
Sejak saat itu jadilah Cahya menjalani kehidupan yang dia inginkan tanpa harus menutup-nutupi dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Saat dirinya mabuk dengan sabarnya ibu Asih memapah Cahya ke dalam mobil dan membawanya kembali ke kamar apartemennya. Dan Pak Toto bekerja sebagai sopir pribadi Cahya.
Pengawal pribadi Cahya bertugas untuk memastikan keselamatan dan kebaikannya.
Bug. Sebuah pukulan keras menimpa rahang seorang laki-laki bule yang dengan kurang ajarnya berusaha menguasai tubuh Cahya yang tersandar di dinding apartemennya.
Sebuah pergumulan baku hantam terjadi diantara pengawal Cahya dan pengawal si bule yang bernama William, kekasih Cahya.
Sebuah percakapan tiga bulan yang lalu
"Cahya, my lady. Pacaran seperti ini saja mana asyik. Bolehkan cium-cium sedikit dan peluk-peluk sedikit?" ucap William dengan suara parau. Sudah dua bulan lamanya mereka berpacaran, tapi jangankan memeluk, mencium pipi Cahya saja susahnya setengah mati. Menikmati bibir kekasihnya yang sensual susahnya minta ampun. Hasratnya sudah diambang batas, tapi pengawal-pengawal Cahya kelewat batas.
"Pesan papah dan mamah, aku diijinkan hidup sesuai mau ku tapi harus menjaga kehormatan sebagai seorang wanita."
"Ya ampun, Cahya. Zaman sudah berubah. Sekedar peluk dan cium apa susahnya."
"William zaman memang sudah berubah tapi yang namanya kehormatan seorang wanita tidak berubah. Aku memang brengsek, tapi minimal di balik diriku yang brengsek, ada yang bisa aku banggakan kelak di hadapan anak-anakku. Yang bisa aku persembahkan dengan penuh kebaikan di hadapan laki-laki yang menjadi suamiku."
"Maksudmu kamu tidak ingin menikahi ku. I love you my lady. And I want to marry with you."
"Hello William, hello! Kamu penyembah hubungan bebas, dan kamu kira aku percaya dengan rayuan palsu mu. Sudahlah William, jalani saja yang ada."
Otak William terus berpikir. Cahya terlalu berharga, tapi senjatanya juga butuh penghargaan, ibarat pedang membutuhkan sebuah sarung supaya tentram. Hari gini, di zaman modern ini, di saat hubungan bebas sudah menjadi sebuah hal yang wajar, dengan wanita modern sekelas Cahya, masih memegang erat prinsip kehormatan dan kesucian, keperawanan. Hanya kepada sang suami keperawanan akan dipersembahkan. Prinsip kuno.
"Kamu dan kedua orang tuamu terlalu banyak membaca cerita-cerita spiritual."
"Suka-suka. Itulah aku. Mau lanjut, tidak mau good bye. Selesai."
"Ok. Aku setuju. Tapi jika aku khilaf itu di luar kendaliku."
"Good choice."
__ADS_1