KESUCIAN CAHAYA

KESUCIAN CAHAYA
MEMANTAPKAN HATI


__ADS_3

Nata menyandarkan punggungnya di kursinya. Permintaan Om Aditya sangat membebani pikirannya. Dirinya sebenarnya sudah cukup umur untuk menikah, tapi selama ini belum ada yang sesuai di hati. Berbagai tipe wanita disodorkan di hadapannya, tapi satupun tidak ada yang bisa menggugah hatinya.


Sebuah album foto berisikan foto-foto Cahya Dewi Pamukir tergeletak di mejanya. Om Aditya tadinya akan mengirimkan foto-foto anak gadisnya melalui email atau disimpan dalam flashdisk, tapi dirinya menolak.


Nata mengetuk-ngetukkan jari-jari tangan kanannya di meja. Album foto Cahya memanggil-manggil meminta dibuka. Dengan membaca bismillah akhirnya dibukanya album foto itu. Dan benar saja, anak gadis Om Aditya memang cantik luar biasa, tapi sayang bajunya kekurangan bahan. Baru melihat halaman pertama, Nata pun menutup kembali album foto itu.


Setelah berbulan-bulan mempertimbangkan, dan dirinya juga tidak lepas dari istikharah dan doanya. Waktu terus berjalan, bahkan waktu yang ia janjikan kepada Om Aditya sudah hampir habis. Dan akhirnya Nata mengambil keputusan untuk menemui Pak Kyai Abdullah Suyudi. Kali ini asisten kepercayaannya ditinggal, urusan pekerjaan diserahkannya kepada asisten Danu.


"Assalamualaikum?" Nata mengucap salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab Pak Kyai Abdullah Suyudi.


Nata pun mencium tangan Kyai Abdullah Suyudi. Gurunya ini sudah semakin sepuh. Tanpa disadarinya Nata mencium tangan gurunya itu dengan disertai air mata yang menetes deras.


"Kenapa, Nak Nata? Kenapa menangis?" tanya Pak Kyai Abdullah Suyudi lembut. Pak Kyai memegang pundak santrinya itu. Siapapun yang pernah nyantri di pondok pesantren beliau sampai kapanpun tetaplah santrinya.


"Pak Kyai sudah semakin bertambah sepuh," jawab Nata dengan terus meneteskan air matanya di telapak tangan Kyai Abdullah Suyudi. Teringat masa-masa Nata kecil mondok. Dengan sabar Kyai Abdullah Suyudi membimbingnya.


"Namanya juga hidup, umur terus berjalan. Yang muda jadi tua, yang tua akhirnya meninggalkan dunia, dan yang meninggal diganti dengan bayi-bayi yang lahir," ucap Kyai Abdullah Suyudi menyejukkan hati.


Nata akhirnya melepaskan jabat tangannya. Nata selalu takut jika ditinggal untuk selama-lamanya oleh guru-gurunya. Ulama merupakan cahaya di semesta ini, merupakan pewaris ilmu para nabi. Jika satu ulama meninggal maka padamlah satu cahaya. Dan saat guru-gurunya di pesantren satu-persatu meninggal, hati Nata merasakan sedih luar biasa.

__ADS_1


"Ada apa sampai jauh-jauh datang menemui gurumu yang sudah tua ini?" tanya Kyai Abdullah Suyudi.


"Pak Kyai, ada yang meminta tolong ke saya, memohon ke saya agar bersedia menikahi anak gadisnya, melindungi kehormatan anak gadisnya. Tapi saya bingung tidak bisa memutuskan," cerita Nata singkat ke Kyai Abdullah Suyudi.


Kyai Abdullah Suyudi mendengarkan dengan seksama. Diambilnya album foto yang Nata letakkan di hadapannya. Dilihatnya sekilas lalu ditutup kembali.


"Nak Nata semua manusia itu dilahirkan dengan kebaikan. Hanya saja tiap manusia memiliki jalan hidupnya masing-masing. Ada yang seperti Nak Nata, dari kecil sudah di pesantren, belajar jadi anak sholeh. Tapi ada juga yang harus belok-belok dulu baru berjumpa dengan yang namanya jalan menuju kebaikan. Ada kalanya seorang manusia menjadi perantara untuk manusia lain yang sedang berada di jalan yang salah untuk kembali ke jalan yang benar." Kyai Abdullah Suyudi tersenyum menatap Nata.


Nata menundukkan wajahnya. Diresapinya ucapan Kyai Abdullah yang tidak melarang atau menyetujui.


"Pak Kyai, kalau begitu saya memantapkan hati, saya ijin untuk menikahi gadis yang ada di foto ini. Meskipun saya belum pernah berjumpa dengannya tapi hati saya mengatakan bahwa gadis ini seorang wanita baik-baik, dan dialah jodoh saya. Mungkin memang saya yang jadi perantara bagi Cahya Dewi Pamukir untuk kembali ke jalan yang lurus," ucap Nata penuh kepastian.


Kyai Abdullah Suyudi pun memberikan restunya.


Nata kembali terenyuh melihat Kyai Imam Ghozali yang semakin sepuh. Gurunya ini selalu menanyakan kabar santri-santrinya. Selalu mendoakan kebaikan untuk semua santri-santrinya.


Di hadapan Kyai Imam Ghozali, Nata pun menyampaikan seperti apa yang disampaikan di hadapan Kyai Abdullah Suyudi. Dan jawaban beliau ternyata sama, hanya saja dengan cara penyampaian yang berbeda. Nata pun kembali memohon restu untuk menikah kepada Kyai Imam Ghozali.


Nata tinggal selama beberapa hari di kota ini. Bernostalgia dengan masa lalu. Diinjakkannya kakinya ke masjid-masjid dan musholla-musholla tempat dulu ia pernah menghabiskan waktu.


"Rasanya baru kemarin aku nyantri di kota ini. Saling berebut sarung, berebut peci, berebut sandal. Kota yang penuh berkah," ucap Nata dalam hati. Kota yang setiap hari dipenuhi dengan anak-anak sekolah yang mengendarai sepeda onthel. Sudah menjadi budaya di daerah ini untuk pergi sekolah dengan menggunakan sepeda onthel. Dari dahulu hingga sekarang.

__ADS_1


Setelah melepaskan rindunya pada kota masa kecilnya. Nata pun melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur, menuju salah satu pondok pesantren yang pernah menjadi tempat bagi dirinya menuntut ilmu.


Ditemuinya Kyai Ahmad Azzam. Diutarakannya maksudnya untuk menikahi seorang gadis yang ada di album foto. Kyai Ahmad Azzam pun memberikan restunya dan menasehatinya dengan nasehat kebaikan.


Hati Nata menjadi mantap tidak ada keraguan lagi. Wejangan dari guru-gurunya di pondok pesantren telah memenangkan hatinya. Guru-gurunya yang semakin lama semakin bertambah sepuh. Guru-gurunya yang senantiasa mendoakan kebaikan bagi murid-muridnya. Guru-gurunya ini tidak lelah mendoakan murid-muridnya, meskipun sang murid sudah lupa dengan adanya beliau-beliau ini.


🔸🔸🔸🔸🔸


"Dad, Om Aditya, Nata bersedia menikahi Cahya Dewi Pamukir," ucap Nata mantap.


"Alhamdulillah," Bramansyah mengucap syukur. Dirinya yakin putranya tidak sembarangan mengambil keputusan. Semuanya pasti sudah dipertimbangkan baik-baik.


Magdalena begitu bahagia mendengar kabar yang dibawa suaminya. Tidak disangkanya Nata bersedia menikah dengan putrinya yang dalam berpakaian selalu kekurangan bahan. Putrinya yang menyukai gempita malam.


"Pa, mama sangat bahagia," Magdalena menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Cahya yang mendapat berita akan dijodohkan marah bukan kepalang. Diamuknya Papa Aditya yang sudah menjodohkannya tanpa sepengetahuannya. Ditolaknya mentah-mentah perjodohan ini. Tapi saat dilihatnya binar bahagia di mata mamanya, hati Cahya pun luluh. Apalagi saat wanita yang sudah melahirkannya ini menangis sedih dengan penolakannya. Akhirnya Cahya mengiyakan perjodohan ini.


"Mungkin sudah saatnya aku kembali," ucap Cahya dalam hati.


🔸🔸🔸🔸🔸

__ADS_1


Dua insan yang tidak pernah berjumpa satu sama lain itu akhirnya dipertemukan. Pada pandangan pertama Cahya sudah bersikap acuh. Nata menanggapi sikap acuh calon istrinya itu dengan santai, tidak marah atau emosi. Jika Cahya Dewi Pamukir benar-benar yang terbaik untuknya, Nata yakin pasti akan ada jalan untuk membawa Cahya ke jalan kebaikan. Dirinya akan berusaha bersabar, meskipun hal itu tidak akan mudah untuk dilakukan.


__ADS_2