
Sudah satu bulan Dirga melewati hari hari didesa itu, tapi tidak sedikit pun mendapatkan kesempatan untuk bisa mendekati Karin...
Sementara hati sudah tidak bisa lagi berpaling dari sosok Karin membuat Dirga bagai pengintai setiap waktu.
"Aku, tidak bisa seperti ini terus. aku harus cari cara agar Bisa memiliki gadis itu!"gumam Dirga menatap ke arah sekolahan Karin...
Sial hari mulai hujan Karin sudah pulang apa belum ya?"pikir Dirga yang langsung melajukan motornya menuju pulang..
"Aduh,, hujan nya deras banget, lebih baik mampir di pos itu aja"! gumam Dirga yang langsung melarikan motornya di pos satpam..
"Dingin,,rintih Karin yang terduduk didalam pos memeluk lutut nya.
"Wah,, kesempatan ini!" gumam Dirga yang langsung menghubungi anak buah nya agar menangkap dirinya bersama Karin didalam pos...dengan mengirim pesan singkat.
Hujan semakin deras Dirga yang bajunya sudah basah kuyup sengaja membuka bajunya dan duduk tidak jauh dari Karin.
Setelah hujan sedikit reda tiba tiba datang serombongan hansip ke arah pos.
"Kalian, berbuat mesum di sini. kalian harus di adili"ucap kepala hansip dengan menarik tangan Karin juga Dirga.
__ADS_1
Karin berusaha memberontak tapi tidak bisa hingga mereka di bawa ke balai desa untuk di adili.Penduduk yang sudah di suap pakai duit oleh anak buah Dirga memaksa mereka agar segera di nikahkan membuat Karin menangis sejadi jadi nya.
"Aku,, tidak mau menikah, aku masih mau sekolah"! teriak Karin yang berusaha kabur dari lokasi itu.
"Karin,,cucuku kenapa bisa begini? tanya nek Ijah.
"Karin"tidak tau nek!"jawab Karin yang langsung memeluk nek Ijah.
"Nek,, maaf' mereka harus segera dinikahkan. Tolong jangan persulit urusan kami!"ucap kepala desa menatap tajam ke arah nek Ijah.
Pak Karim dan nek Ijah hanya terdiam melihat Cucu nya di nikahkan paksa dengan pemuda kota yang tidak begitu mereka kenali wataknya.
Sementara di dalam kamar nek Ijah menatap kearah Karin dengan tatapan kalut. mengingat jika Karin memiliki kekuatan naga emas yang bisa berubah ujud kapan pun jika batu mustika di kalung Karin terlepas.
Masih terbayang dalam ingatan nek Ijah kejadian tujuh belas tahun yang lalu yang membuat nek Ijah ketakutan.
Kembali ke masa lalu.
Nek Ijah dan pak Karim yang bertugas merawat taman bunga bangkai ajaib milik Bu Amel yang bermekaran di bukit tengkorak yang menimbulkan bau bangkai setiap waktu memaksa pak Karim dan bu Ijah mengunakan daun kayu putih untuk menghilangkan bau nya..terlebih lagi setiap hari di bukit tengkorak selalu didatangi berbagai macam jenis ular yang memakan bunga bangkai itu.semakin membuat pak Karim dan Bu Ijah diterpa ketakutan setiap waktu. hingga tiba saat dimana Bu Amel membawa seorang perempuan cantik bernama laknara yang dalam kondisi hamil dan siap melahirkan.
__ADS_1
Laknara di cekoki rendaman bunga bangkai yang berumur dua ratus tahun oleh Bu Amel membuat laknara langsung melahirkan tiga orang anak kembar, dua perempuan satu laki laki..sayang anak terakhir di anggap cacat karena tidak bisa menerima kekuatan apa pun..hingga Bu Amel membuang nya kedalam sumur ular sebelum mencekokinya dengan telur telur ular terlebih dahulu.
Selama seminggu bayi itu berada didalam sumur ular dengan tangisan menyayat hati. tanpa diketahui seperti apa kondisinya. hingga suatu hari Seekor naga berukuran sangat besar berwarna merah memberikan bayi tak berdosa itu pada Bu Ijah dan berpesan agar bu Ijah merawatnya dengan memberikan sebuah batu sebagai penangkal agar bayi itu tidak berubah ujud menjadi ular naga.
" Ijah,,ku titipkan bayi ini pada mu. sesungguhnya di tubuh bayi ini terdapat darah seorang laki laki keturunan raja naga dari negri sebrang, tolong rawat bayi ini sampai ia bisa menemukan kedua orang tuanya"!pinta sang naga sebelum menghilang dari hadapan nek Ijah.
Dengan menahan rasa takut nek Ijah mengambil bayi itu dan membawanya ke pondoknya.
"Pak, apa yang harus kita lakukan sekarang? Ibu takut bayi ini diketahui nyonya Amel" ucap nek Ijah yang berusaha menidurkan Karin bayi.
"Kita, harus pergi dari sini Bu" agar nyonya Amel tidak mengetahui keberadaan bayi ini lagi!" bisik pak Karim yang langsung beberes beres dan malam itu pula pak Karim dan istrinya pergi meningalkan kediaman itu bertepatan dengan kepergian Bu Amel ketempat anak anaknya.
"Pak" rasanya kita sudah cukup jauh dari kediaman nyonya Amel, lebih baik kita menetap didesa ini saja ya pak"! pinta Bu Ijah yang terlihat kelelahan.
"Iya Bu" itu ada rumah yang dijual sebaiknya kita beli saja meski kecil yang penting kita bisa berteduh dari hujan dan panas"! ucap pak Karim dengan wajah berbinar cerah.
"Iya pak,, ibu setuju"! jawab Bu Ijah yang langsung mengikuti langkah suaminya.
Setelah membeli rumah kecil itu pak Karim menjalani kehidupan dengan wajar menjadi petani dengan menanam berbagai macam palawija serta padi di sawah yang dibelinya dari penduduk sekitar hingga Karin beranjak remaja.
__ADS_1