
Matahari mengintip kecil dari balik gunung di sebelah timur, dan tumpukan salju sudah menutupi sebagian besar area di istana.
Seperti hari-hari sebelumnya, kesibukan di dalam istana tak bisa dihilangkan, apalagi hari ini adalah hari ulang tahun Ace yang ke 11 tahun. Yap, mari kita kembali sebentar ke hari dimana Ace dilahirkan, yaitu hari dimana GloryStone benar-benar berada di situasi yang menegangkan. Kondisi Ratu Cordellia yang melemah saat proses persalinan, dan sihir pertahanan GloryStone yang juga ikut melemah hari ke hari serta badai salju yang menghambat komunikasi antarprajurit. Tapi untungnya ketegangan itu berakhir dengan baik, dengan kelahiran seorang pangeran penerus kerajaan yang tampan dan mungkin... bertanggung jawab.
Di ulang tahunnya yang ke 11 ini, Ace mendapat beberapa hadiah dari teman-teman serta para pelayannya. Dan tentu saja, tak lupa Lizzarde sebagai sahabat Ace memberikan hadiah terbaiknya pula.
Lizzarde memberikan sebuah kalung yang bergantungkan sebuah ukiran merpati dari perak. Dan kalung itu Ace terima dengan senang hati, "Darimana kamu dapatkan kalung ini? Kamu nyuri ya?!" ujar Ace. Yah meski dalam hati Ace sangat senang, namun Ace bersikap seperti itu agar rasa senangnya tidak terlihat secara terang-terangan.
"Hah?! Apa maksudmu? Aku sudah susah payah cari pengrajin buat bikinkan kamu kalung ini loh!" Lizzarde membalas perkataan Ace dengan nada yang tinggi.
"Bohong kamu! Anak seperti kamu bisanya cuma mencuri!"
"Enak saja kamu! Kalau gak mau yasudah aku ambil lagi hadiahnya!"
Yah.. begitulah seterusnya, hanya dengan melihat percakapan mereka saja, kalian sudah bisa berkesimpulan bahwa hubungan mereka semakin membaik bukan? Ya iyalah.
Hari semakin siang, matahari yang mengintip itu, kini tak terlihat lagi karena tertutup oleh awan-awan murung yang siap menurunkan rombongan salju. Situasi di luar istana cukup sibuk, banyaknya prajurit-prajurit istana menyingkirkan salju dari halaman istana.
Sebenarnya tidak hanya wilayah istana saja yang sibuk, pedesaan di luar istanapun juga ikut sibuk, tapi untungnya badai salju sudah usai. Jadi setiap warga bisa membersihkan halaman tempat tinggal mereka di siang hari yang berawan ini.
Kembali ke Ace. Kini Ace sedang sibuk memilih baju dinginnya, sambil mengenakan jaket hitam, Ace membongkar lemari pakaiannya. Ace menarik bajunya satu persatu dari lemarinya, kemudian melemparkannya ke belakang jika itu tak sesuai keinginannya.
Setelah beberapa lama membongkar lemari pakaiannya, Ace tetap tak menemukan baju yang ia inginkan, sampai-sampai baju yang ia lemparkan tadi telah menumpuk seperti salju di luar istana.
Ace terus melemparkan satu persatu pakaiannya sampai tidak ada lagi yang tersisa di lemarinya. Ace lantas murung dan kemudian pergi dari kamar untuk mencari ibunya.
Di tengah perjalanan mencari ibunya, Ace bertemu dengan Lizzarde yang sudah memakai jaket tebal berwarna coklat dan syal beserta sarung tangannya.
__ADS_1
"Ace! Kamu mau kemana?!" sahut Lizzarde yang kemudian membuat langkah Ace terhenti.
Ace menatap Lizzarde sebentar kemudian kembali memalingkan wajahnya dan berkata, "Bukan urusan kamu!"
"Hah? Buruan pakai baju sana! Aku tunggu di luar ya!"
Ace mengabaikan Lizzarde dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.
Setelah pergi ke berbagai ruangan untuk mencari ibunya, Ace tetap tak menemukan tanda-tanda kehadiran ibunya. Sampai Ace bertanya kepada seorang pelayan yang membawa hadiah-hadiah milik Ace tentang keberadaan ibunya.
"Tante! Ibu ada dimana?"
"Ratu?! Eh anu, Ratu sedang memasak di dapur, tapi jangan diganggu ya, nanti Ratu marah, hahaha.." wajah pelayan itu sedikit ketakutan. Ace setelah mendengar jawaban dari pelayan itu, langsung berlari menuju dapur. "Eh! Tuan jangan lari-lari!" teriak si pelayan.
Sesampainya di dapur, Ace melihat ke kanan dan ke kiri, kemudian tak melihat ibunya sama sekali.
Setelah banyaknya langkah yang Ace lalui, Ace akhirnya tiba di halaman istana. Dan melihat Lizzarde bermain lempar salju dengan seorang bocah laki-laki yang sepertinya seumuran dengan mereka. Lizzarde terlihat senang dan mereka saling tertawa.
Ace merasa kesal karena cemburu, eh bukan, Ace kesal karena tidak diajak bermain. Dengan cepat Ace kembali ke kamarnya dan memakai salah satu baju yang sempat ia lemparkan tadi.
Ace mengalungkan syal berwarna merah dan memakai sarung tangan lembut yang terbuat dari rajutan wol.
Ace berlari kembali ke halaman istana. "Kalo main ajak-ajak dong! Dasar cewek nakal!" teriak Ace dari depan pintu istana.
Lizzarde dan bocah laki-laki yang mendengar suara Ace langsung menolehkan kepala ke arah Ace. "Eh Ace! Ayo sini, kita udah nunggu daritadi loh!!" jawab Lizzarde.
"Kita? Huh.. emang siapa sih dia?" bisik Ace kesal sambil berjalan menuruni anak tangga yang sudah bersih dari salju berkat jasa para prajurit istana.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian, Ace sampai di halaman istana dan berkumpul dengan Lizzarde serta kawan laki-laki yang belum ia kenal itu.
"Ace, aku perkenalkan nih. Dia sama sepertimu, dia pangeran juga loh!" Lizzarde merangkul teman laki-lakinya itu. "Oh," reaksi Ace sangat datar dan kesal karena Ace merasa tersaingi.
"Kok oh aja sih! Gak sopan tahu!! Dia ini pangeran loh pa-nge-ran!" Lizzarde berbisik di telinga Ace. "Aku gak peduli, aku kan juga seorang pangeran!" Ace ngegas.
Bocah laki-laki yang melihat Ace dan Lizzarde yang sepertinya tak bisa akur, ia hanya bisa tertawa sambil menyaksikannya.
"Ace," sahut bocah laki-laki itu. "Hm?" .
"Perkenalkan, saya dari negara tetangga. Saya Pangeran ThousandFlowers, nama saya Gladiol Wisteria," Pangeran Gladiol menundukkan badannya dengan lembut dan sopan.
"Negara tetangga? Berarti ibu.." Ace mulai memahami situasinya. "Ratu Cordellia lagi rapat sama ibunya Gladiol di pinggir danau Glory," jawab Lizzarde membantu Ace.
"Oooh.. pantas saja ibu tidak terlihat dimana-mana. Ngomong-ngomong Gladiol? Berapa umur mu? Sepertinya kita seumuran,"
"Umur saya 10 tahun lebih 5 bulan yang mulia," jawab Gladiol dengan sopan. "Bulannya gak usah disebutin dong, gak guna banget," jawab Ace sinis.
"Mohon maaf yang mulia, bukannya tidak sopan, tetapi segala sesuatunya pasti berguna, meski terlihat remeh," jawab Gladiol sambil tersenyum.
"Duh iya deh iya! Dasar sopan banget sih kamu! Aku ngalah deh!" Ace membuang muka.
"Halah! Bilang saja kamu malu kan?!" ejek Lizzarde yang berdiri di samping Ace.
"Hah?! Ya gak lah!"
Akhirnya mereka akur dan Ace mau bermain bersama, meski Ace suka marah-marah ke Gladiol. Tapi tidak apalah, dari pada tidak sama sekali.
__ADS_1