
Keesokan paginya, masih sama seperti hari sebelumnya. Salju masih turun dan terus menutupi semua yang berada di bawah. Di pagi hari yang berawan ini, Ace, Lizzarde, dan Gladiol berencana pergi bermain bersama teman-temannya yang berada di desa.
Karena cuaca yang sedikit memburuk, jadi Gladiol bersama ibunya Anne Drime tidak bisa pulang ke Thousand Flowers dengan segera sehingga Ratu Cordellia menyarankan untuk mereka agar menginap di GloryStone sampai cuaca benar-benar membaik.
Sesampainya mereka di desa, ternyata kelompok anak muda itu sedang membantu warga desa membersihkan salju dari jalan utama mereka. Ace melihat seorang nenek tua membawa sekop besar sambil menyingkirkan salju dari jalanan utama.
Ace merasa tidak tega dan menghampiri Lizzarde, "Lizzarde, beritahu pihak istana dan kirimkan bantuan kesini," perintah Ace ke Lizzarde.
Lizzarde merasa tidak keberatan sama sekali, malahan ia merasa senang dengan sikap Ace yang begitu, "Baiklah!" jawabnya, Lizzarde segera kembali ke istana menggunakan sihirnya dan memanggil bantuan.
Gladiol tertegun melihat sikap Ace, Gladiol pikir Ace adalah orang yang tidak bisa mengerti perasaan orang lain. Namun ternyata, Ace adalah orang yang bisa merendah hati juga.
"Kenapa diam saja?" tanya Ace ke Gladiol yang melamun menatapi Ace. "Ayo bantu! Kamu pangeran kan?" sambung Ace dengan tegas dan kemudian ia menggantikan nenek tua itu untuk membersihkan salju dari jalan utama.
Gladiol tersenyum, "Tentu saja,"
Ace dan Gladiol membersihkan jalan utama, seluruh warga yang berada disitu merasa senang dan merasa tidak terabaikan. "Ace akan menjadi Raja yang bijaksana nantinya," begitu kata nenek tua yang digantikan oleh Ace tadi.
Setelah beberapa lama menyingkirkan salju, akhirnya Lizzarde datang bersama lima belas orang prajurit yang membawa beberapa sekop serta baju hangat untuk para warga desa.
"Kami datang Tuan! Apa perintah Tuan berikutnya?!" hormat seorang prajurit kepada Ace.
Ace diam saja dan tak menjawab. "Loh, ini anak buahmu loh! Kok diam saja, nanti mereka gak bakal kerja loh Ace.." sahut Lizzarde sambil melipat tangannya.
"T-tinggal bersihkan saja kok susah! Dasar prajurit aneh! Emangnya kalian bawa sekop kesini untuk menebang pohon?" jawab Ace malu-malu.
Prajurit itu menggaruk kepalanya, dan beberapa warga yang menyaksikan momen itu ikut tertawa karena kelakuan Ace terhadap para prajuritnya.
Namun tetap saja, sebagian prajurit itu membersihkan salju dan sisanya membagikan baju hangat kepada para warga.
Ace merasakan kehangatan dari kebahagiaan setiap warga di sana. Namun Ace tetap tidak begitu puas, karena Ace merasa jika mereka yang berada di dekat wilayah istana saja seperti ini, bagaimana mereka yang jauh berada di dekat perbatasan?
__ADS_1
"Pasti kondisi mereka lebih buruk dari ini," kata Ace dalam hati.
Lizzarde melihat Ace yang sedikit murung, kemudian ia memukul bahu Ace dengan keras, "Bagaimana kalau kita mengunjungi perbatasan?!" ujar Lizzarde dengan gembira.
Ace memegangi bahunya, "Sakit tahu!! Aneh-aneh saja kamu.., emangnya kita bisa kesana?" sambung Ace yang kembali murung.
"Apa-apaan, kamu inikan pangeran! Pangeran GloryStone!! Ya pasti bisalah!"
"Aku pernah pergi ke perbatasan di negaraku saat musim semi, aku pergi berdua bersama seorang panglima, dan mereka disana sangat menyambutku dengan baik, kalau aku yang berumur lebih muda darimu saja sudah bisa ke perbatasan, mengapa kamu tidak?" sambung Gladiol yang akhirnya membuat semangat Ace membara.
"Benarkah? Tapi apakah ibu tidak akan melarangku?"
"Lupakah kamu Ace? Asalkan kamu masih melihat gadis kuat ini bersama mu, maka izin apapun akan selalu berada di tanganmu!" Lizzarde membuat wajah sok imut.
Tanpa mengeluarkan ekspresi jijik, Ace tersenyum kepada Lizzarde dan Gladiol yang sudah berada di sisinya saat ini. "Apalagi kita kehadiran seorang pangeran dari negara tetangga juga loh! Kesempatan kita naik berlipat ganda!" sambung Lizzarde sambil merangkul Gladiol.
"Baiklah, ayo pergi keperbatasan," Ace tersenyum dan melangkah gagah ke arah gerobak dan mengambil baju hangat lalu membagikannya. Lizzarde dan Gladiol saling bertatapan lalu tersenyum secara bersamaan melihat Ace kembali bersemangat dan menjadi Ace seperti yang mereka kenal.
"Ratu Cordellia memang keren, lain kali aku harus mempelajari sihir ini," puji Gladiol yang terkagum-kagum saat tubuhnya tak merasakan dingin sama sekali saat menyentuh salju. "Kamu bisa belajar sihir juga ya?" tanya Ace, "Bisa, tapi hanya beberapa sihir saja, karena keturunan Thousand Flowers memang dilahirkan bukan untuk menyihir tapi untuk mengrajin, haha," jawab Gladiol dengan jelas dan membuat ilmu Ace bertambah pula.
Ace mengangguk, dan perjalanan mereka berlanjut untuk beberapa jam.
Sesampainya di daerah perbatasan, hari sudah memasuki sore. Ace dan rombongannya turun lalu betapa terkejutnya mereka, bahwa daerah perbatasan tidak seburuk yang mereka pikirkan. Justru daerah perbatasan sudah bersih dari salju, dan banyak anak-anak kecil yang bermain disana.
"Bersih sekali.." mata Ace berbinar-binar dan dirinya tertegun.
"Kami kira siapa, rupanya pangeran Ace dan.. rombongan istana," sahut Reddle yang datang menghampiri rombongan Ace. "Kamu.."
"Sepertinya kita lama tak berjumpa Tuan, saya Reddle. Pemuda yang saat itu menyelamatkan Tuan dari anjing-anjing liar," Reddle menundukkan badannya di depan Ace beserta rombongannya.
Gladiol melihat wajah Lizzarde yang sinis menatap Reddle, Gladiol lantas bingung dan mendekati Ace lalu bertanya, "Kenalanmu?"
__ADS_1
Ace mengangguk, "Ya,"
"Anu, paman Reddle, kenapa tempat ini bisa sebersih ini?" tanya Ace.
"Oh! Entahlah, tapi warga disini sangat rajin dan suka bersih-bersih, jadinya tempat ini sudah tidak tertumpuk salju lagi," Reddle mengarahkan pandangannya ke arah desa. "Lalu, apakah Tuan datang kemari untuk mengirim bantuan?"
"Eh, i-iya," jawab Ace.
"Tidak perlu sungkan Tuan, meski tempat ini sudah bersih, tapi setidaknya masih banyak warga yang kedinginan disana," Reddle berbicara sambil melihat baju hangat di kereta yang Ace bawa dari istana.
"Oh! Iya, kami membawa banyak baju hangat untuk warga disini, jadi kami mohon bantuannya untuk membantu membagikan baju hangat ini untuk mereka," jelas Ace kepada Reddle. "Baiklah, saya bantu dengan senang hati," jawab Reddle kemudian ia membantu prajurit istana membagikan baju hangat untuk warga desa.
Ace juga menyumbangkan beberapa buah sekop untuk desa itu sebagai persiapan berikutnya. Warga desa merasa sangat senang dengan kehadiran serta bantuan dari istana. Ace dipuji dan disoraki oleh warga desa, "Hidup GloryStone!" ya begitulah sorakannya.
Ace merasa sangat bahagia, begitu juga dengan Lizzarde dan Gladiol serta para prajurit yang bertugas. Setelah semua urusan selesai, Reddle menunduk dan berterima kasih banyak kepada Ace atas bantuan yang Ace berikan.
"Ini sudah jadi tugasku, jadi jangan terlalu menganggap lebih," Ace menyuruh Reddle mengangkat badannya. "Pangeran Ace!!" panggil sekelompok anak kecil yang membawa kotak kayu. Kemudian sekelompok anak kecil itu mendekati Ace dan menodongkan kotak kayu itu, "Pangeran Ace, ini adalah hadiah dari kami, terima kasih sudah mengirim bantuan ke desa kami! Kami sangat senang dan terbantu, semoga Pangeran Ace tidak keberatan dan mau menerima hadiah ini serta merawatnya dengan sepenuh hati!" jelas salah satu bocah yang memegang kotak itu.
"Merawat sepenuh hati?" tanya Ace lalu melihat isi kotak itu. Betapa terkejutnya Ace saat melihat seekor anak serigala putih tidur di dalamnya. "Anak serigala?".
"Iya! Kakak Reddle menemukannya di hutan, induk anak serigala ini mati karena diburu, jadi kakak Reddle mengambilnya lalu memberikannya kepada kami, dan kami ingin Pangeran Ace merawatnya untuk kami" jelas bocah lainnya.
"Wah benarkah? Keren sekali, terima kasih, aku terima hadiahnya," Ace tersenyum manis ke arah anak-anak itu dan mengambil kotak berisi anak serigala itu. "Mulai sekarang, serigala ini akan kurawat sebisa mungkin sampai ajalnya, terima kasih banyak," Ace menundukkan badannya.
"Wah anak serigala ini beruntung sekali, kalau anak serigala ini sudah dewasa jangan lupa berkunjung kesini ya! Kami menunggu! "
Ace mengangguk-angguk, "Akan kurawat dia demi kalian,"
"Ngomong-ngomong siapa namanya?" sambung Lizzarde tiba-tiba.
Ace sangat terharu dan mengusap air matanya. Dengan tatapan kasih sayang, Ace menatap anak serigala itu.
__ADS_1
"Namanya adalah, Finley yang artinya Prajurit Putih," jawab Ace.