
★ Masih di Hari Minggu
Tak beberapa lama kemudian datanglah Saya,Alisa,Mai dan Alice Hime.
Aska dengan wajah yang datar Saya memanggilku.
Ada apa Saya. (Aska)
Itu... bisakah kau ikut kami bermain.
(Saya)
Maaf Saya Tidak bisa saat ini aku sedang bekerja. (Aska)
Mm baiklah tidak apa apa. (Saya)
Dia sepertinya sedih sekali walaupun tidak terlihat di wajahnya(pikirku)
Ba.. (Aska)
(Disela)
Kak Saya lebih baik cari orang lain saja lagi pula orang ini sejak awal memang tidak berguna. (Alisa)
Hoi sialan siapa yang kau bilang tidak berguna. (Aska)
Tentu saja kau. (Alisa)
Baik lah kalau begitu aku akan ikut dengan kalian dan kupastikan kubalas kau. (Aska)
Cobalah jika kau bisa. (Alisa)
Beberapa saat kemudian di lapangan voli pantai.
__ADS_1
Jadi kenapa aku malah jadi wasit (pikirku). (Aska)
Lalu aku menjadi wasit dan berpikir untuk membuat Alisa bermain dengan kesulitan.
Sampai sampai dia jadi marah.
Dasar kau sialan itu sudah pasti masuk dan kau membuatnya tidak masuk. (Alisa)
Eh kau bilang itu masuk. (Aska)
Tentu itu masuk semua orang juga telah memastikannya. (Alisa)
Lalu apa kau pikir aku salah. (Aska)
Iya (serempak semua berkata bersama sama).
Hanya satu kata yang dapat ku katakan aku wasitnya bukan kalian jadi terserah aku. (Aska)
Dengan bangga aku langsung duduk seperti raja yang telah memenangkan peperangan.
Klapangg,,,buak buk buk (bunyi bola voli yang terjatuh setelah menghantam wajahku).
Aku yang terjatuh hanya bisa menatap ke arah semuah orang yang menyaksikan diriku yang terjatuh dengan tertawa seperti orang gila.
Lalu aku langsung menatap ke arah sumber bola yang menghantam wajahku dan di situ Alisa langsung berlari ke arahku.
Aska kau tidak apa apa. (Alisa)
Aku hanya bisa tertawa dengan di penuhi kemarahan.
Kartu merah kau sialan dan permainan ini dimenangkan oleh Saya. (Aska)
Prittt.........
__ADS_1
Suara peluit yang tiba tiba di bunyikan oleh salah seorang penonton yang ternyata adalah Bu Guru Anna yang melihat pertandingan dan langsung menujuh kearahku.
Aska .... (Teriak bu guru)
Dalam permainan bola voli kau tidak boleh memberikan kartu merah pada pemain yang tidak melakukan pelanggaran. (Bu Anna)
Dia sudah merubah wajahku jadi merah kayak pantat begini, sudah sewajarnya di beri kartu merah. (Aska)
Itu karena kau sama sekali tidak memperhatikan pertandingannya sama sekali. (Bu Anna)
Tapi aku wasitnya di sini bukan Bu Anna. (Dengan wajah membentak). (Aska)
Glbuk...... Buak.
Dasar anak tidak tahu sopan santun berani sekali kau membentakku. (Bu Anna)
Eh sepertinya aku telah membuka jalur keneraka.(pikirku)
Setelah itu semua aku di pukul dan dihajar tanpa ampun oleh Bu Anna.
Bagai mana Aska apa kau menyesal. (Bu Anna)
Hai aku menyesal. (Aska)
Kalau begitu kau harus minta maaf ke pada mereka karna telah berlaku tidak adil. (Bu Anna)
Aku langsung berjalan dengan menundukan kepalalu karena malu atas kekalahanku dan ingin meminta maaf pada mereka tapi.
Plak......
Seketika aku langsung terdiam karena mukaku baru saja menghantam gunung milik Alisa dan membuat mukaku langsung terbenam di cela kedua gunung itu.
Pada saat aku ingin mengangkat kepalaku aku sudah kehilangan kesadaran bukan karena Bu Anna yang langsung memukulku tapi karena rangsangan yang telah menghantam jiwaku hingga membuatku pergi ke surga.
__ADS_1