Kisah-Kisah Teladan Islami

Kisah-Kisah Teladan Islami
Kejujuran Seorang Santri & Abu Hanifah dan tetangga nya.


__ADS_3

KEJUJURAN SEORANG SANTRI


Dikisahkan para santri sedang memperbincangkan perilaku kyainya yang selalu menganak-emaskan santri nya. Mendengar perbincangan santrinya, sang kyai pun memanggil mereka. Kepada para santrinya, sang kyai berkata:


"Ambillah burung burung ini, lalu sembelihlah di tempat yang tidak ada satu orang pun mengetahui nya."


Para santri pun bergegas membawa burung yang diberikan sang kyai dengan pemotongnya sekaligus. Mereka menyebar ke seluruh tempat yang dianggap sepi. Ada yang pergi ke belakang rumah, pekarangan, bawah jembatan, dan sebagainya.


Dengan bangga, Mereka kembali membawa burung yang sudah Dipotong. Sementara satu santri kembali dengan membawa burung yang masih hidup. Semua santri mengejeknya dengan berkata:


"Dasar santri kesayangan, takut yaa tidak berani memotong burung?" Si santri ini diam saja sambil menuju rumah sang kyai.


Sesampainya di rumah sang kyai, para santri berkata,


"Kyai kami sudah melaksanakan apa yang kyai perintahkan, kecuali satu santri ini. Ternyata, santri yang selama ini kyai sayang adalah seorang penakut."


Kemudian sang kyai bertanya kepada si santri yang tidak memenuhi perintah itu,


"kenapa kamu tidak memenuhi perintah ku?"

__ADS_1


Si santri ini menjawab,


"Kyai, bagaimana saya bisa memenuhi permintaan kyai, sementara saya tidak menemukan tempat yang tidak ada sesuatu pun yang dapat melihat."


Sang kyai meminta penegasan lagi,


"Tolong jelaskan mengapa kamu tidak memenuhi perintah ku?"


"Di dunia ini tidak ada tempat yang sepi dari penglihatan Allah dan Malaikat malaikat nya. Malaikat Rakib dan Atid selalu mengawasi apa yang dilakukan manusia. Atas dasar itulah saya tidak bisa memenuhi perintah kyai."


Sang Kyai dengan bangganya mengatakan pada santri lain,


Semua tertegun mendengar pernyataan kyai.


ABU HANIFAH DAN TETANGGA NYA


Di Kufah, Abu Hanifah mempunyai tetangga seorang tukang sepatu. Menjelang malam berulah ia pulang ke rumah. Biasanya, ia membawa oleh-oleh berupa daging untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar.


Selesai makan, ia terus minum tiada henti hentinya sambil bernyanyi dan baru berhenti jauh malam setelah ia merasa mengantuk sekali, kemudian tertidur pulas. Abu Hanifah yang sudah terbiasa melaksanakan shalat sepanjang malam, tentu saja merasa terganggu oleh suara nyanyian si tukang sepatu tersebut.

__ADS_1


Tetapi, ia diamkan saja. Pada suatu malam, Abu Hanifah tidak lagi mendengar tetangganya itu bernyanyi nyanyi seperti biasa nya. Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya, ternyata menurut keterangan tetangga lain, ia baru saja ditangkap polisi dan ditahan.


Selesai salat subuh, ketika hari masih pagi, Abu Hanifah naik bigal nya ke istana. Ia ingin menemui Amir Kufah. Ia disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri berkenan menemuinya.


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya sang Amir.


"Tetangga ku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan, Amir," Jawab Abu Hanifah.


"Baiklah," kata Amir yang segera menyuruh polisi penjara untuk melepaskan tetangga yang baru ditangkap kemarin petang.


Abu Hanifah pulang dengan bigal nya pelan pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan di belakang nya. Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada tetangga nya itu seraya berkata,


"Bagaimana aku tidak mengecewakanmu bukan?"


"Tidak m, bahkan sebaliknya,"Ia menambahkan.


"Terima kasih. semoga Allah memberi mu balasan kebajikan."


Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya, Sehingga Abu Hanifah dapat merasa lebih khusuk dalam ibadah nya setiap malam.

__ADS_1


__ADS_2