Kitty Girl

Kitty Girl
My Love Kitty


__ADS_3

Ramava Saquina Izora POV


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lihatlah si bodoh ini, Dia belum percaya dengan kata kataku. Kemarin aku sudah bilang bahwa akulah Kitty. Tapi dia malah keliling komplek mencari aku.


Aku diam saja didalam gendongannya. Kubiarkan lah si bodoh ini mencari orang yang bahkan sekarang ada didekapannya. Betul kata pepatah 'Gajah didepan mata tak nampak, Sedangkan semut di ujung pulau jelas terlihat' Yah kira kira seperti itulah pepatahnya, Aku gak tau pasti tapi yang jelas arti dan maknanya sama.


"Kitty, Kira kita dimana perempuan itu ya?" Dawa.


"Aku curiga dia benar benar psikpat, Dia misterius datang dan pergi tiba tiba" Dawa.


"Ngeong...Ongeong...oeng..ung..eung.." Kitty.


Translate:


"Terserah! Terserah.. Terserahmu mau bilang apa! Malas aku ngeladeni kau" Ava.


"Kau benar Kitty! Dia itu penjahat, Psikopat! Pasti kau waktu itu disembunyikan nya iya kan?" Dawa.


"Eh? Si bodoh ini! Memangnya kau ngerti aku bilang apa? Nyesal aku pernah muji muji kau!" Batin Ava.


Aku dan dia Si bodoh ini, Kami menulusuri jalanan komplek. Aku didalam dekapannya lompat. Aku melihat banyak sekali orang di taman. Yah sebenarnya ini hal yang biasa tapi.. Banyaknya orang disana bukan sembarang orang. Para pria dewasa berpakaian hitam bertebaran di taman, Entah sedang apa mereka aku pun tak tau.


"Ngeong... Ueng eong.. Ueng!" Kitty.


Translate:


"Eh! itu bang Rahmat.. kok disitu... Ada Tante Anan jugak!" Ava.


"Kenapa Kitty? Apa kau kenal mereka? Apa Mereka tuan mu dulu?" Dawa.


"Ngeong.... ueng... oeng eu Ngeong...!" Kitty


Translate:


"Diamlah... Kau membuatku stress bodoh!" Ava.


Aku tinggalkan dawa disana, Aku lari ke arah bang Rahmat dan Tante Anan.


"Ngeong.. ueng.. Eong... ueng eong.." Kitty


Translate:


"Bang Rahmat.. Tante.. Ngapain disini.." Ava.

__ADS_1


Tante dan bang Rahmat nengok ke arah ku. Ini saatnya aku harus lepas dari Dawa dan kembali kerumah. Pasti Tante dan bang Rahmat lagi nyarik aku.


"Aaaaa Caty! Ngapain lagi kau disni! Pergi.. Wushhh Wishh sana ah!" Anan.


Tanpa sadar Anan memeluk Rahmat yang ada disampingnya.


"Tolong... Tolonglah! Usir tuh kucingnya... Aku Takut Aaaa!!!" Anan.


"Hushh husshh udah ya.. Kucingnya Uda pergi jangan takut lagi ya...." Rahmat sambil mengelus punggung Anan layaknya anak kecil.


"Heh kau pikir aku bodoh! Itu.. Kucing nya masih ada disitu!" Anan.


"Hushh kucing.. Sana ya.. Istri saya takut" Rahmat.


"Heh jangan cari kesempatan! Atau kau mau gak ku gaji ha?!" Anan


"Eh... Ja jangan dong buk..." Rahmat.


"Udah sana usir kucingnya jauh jauh dari saya" Anan.


"Baik, Siap, Laksanakan!" Rahmat.


Om Rahmat ngusir ngusir aku, Huh Kurang ajar bat dia sama anak sultan. Diangkatnya aku lalu dijatuhkannya ke bawah. Untung ini badannya kucing yang punya sembilan nyawa.


"Ngeong...Eong..Ueng.... Oeng...Eong.."


Translate:


Aku gigit kaki om Rahmat sekuat tenaga. Biarin aja dia kesakitan, Dasar gak menghormati sesama makhluk hidup! Kudengar dia meringis kesakitan. Ditendangnya aku dari kakinya hingga aku terpental dan melayang di udara. Sudahlah kuterima saja nasibku kalau sampai aku jatuh.


Tapi...


Huwaaa pangeran tampan menangkap ku...


"Heh om! Pakek perasaan dong! Kucing saya nih!" Dawa.


"Heh bocah! Kucing mu itu yang keluyuran. Mending di kandangin aja deh, Gak Usah bawa bawa ke taman!" Anan.


"Eh Tante.. B aja dong! Ini kan tempat umum bebas dong mau Bawak peliharaan! Emang nih taman punya Tante?" Dawa.


"Ishh ishh Masih kecil Uda lantam ya bund" Anan.


"Maap ya dek, Kamu gak tau masalahnya kan? Kucing tercintamu itu menggigit kaki saya" Rahmat.


"Eh om! jangan pikir saya gak tau permasalahan awalnya ya... Saya tau tadi om Luan yang lempar kucing saya, Makanya kucing saya gigit kaki om!" Rahmat.

__ADS_1


"Ah terserahmu lah! Sudah bawa pulang kucing mu itu!" Anan.


"Dasar om sama Tante sama aja! Sama sama julid wuh! Moga moga aja nanti anaknya gak kayak mereka" Gumam dawa yang masih didengar Anan dan rahmat.


Dawa membawaku pergi dengan posisiku yang masih berada di dekapannya.


"Bu.. Kok banyak banget yang ngehina sikap kita ya.." Rahmat.


"Ahh gak penting" Anan.


"Pasti ibuk sering dikatain kaya gini kan?" Rahmat.


"Sok tau!" Anan.


Author POV


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Dawa membawa Kitty kembali kerumah, Dawa mendudukkan Kitty dikursi.


"Kitty.. Pasti kamu sakit hati sama om om tadi kan?" Dawa.


"Kamu sabar ya.. Tenang aja abis ini gak akan ada yang berani nyakitin kamu lagi..My love Kitty" Dawa.


Blushh.


Seketika Ava yang berwujud kucing itu salah tingkah paripurna. Untung dalam wujudnya kucing rona merah tidak akan kelihatan di pipinya nya yang berbulu.


Eh tunggu.. Kucing punya pipi ya?


Perlahan tapi pasti dawa mengangkat tubuh kucing Ava ke atas pangkuannya. Lalu hendak mencium wajah Ava yang tengah berwujud kucing.


Itu hal yang biasa dilakukan seseorang pada peliharaannya tapi tidak dengan Ava. Dia kucing jadi jadian oleh karena itu akan terasa aneh.


"A apa yang akan dilakukan si bodoh ini? " Batin Ava.


Ava menutup matanya seakan siap dengan ciuman gemas yang akan diberikan dawa padanya.


"Hey ayolah bodoh.. Sedikit lagi.. Ayo lebih dekat lagi.. Oh tuhann aku siap aku siap. aku siap" Batin Ava.


Okey Wee ikuti terus yaa ceritaku yg apalah apalah ini.


jgn lupa komen dan like nya yeee


Biar aku lebih rajin up.

__ADS_1


"Makin banyak like dan komen makin sering jugak aku up"


__ADS_2