
Author POV
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Anan dan Rahmat mendatangi sekelompok bocah yang sedang bercerita panjang lebar. Bukannya bermain mereka malah rebahan di pondok sambil berceloteh sana sini. Sikap pemalas memang sudah melekat di jiwa milenial 2020.
"Dek.. Tadi siapa yang bilang lihat kak Ava terakhir kali?" Rahmat.
"Aku om! Kenapa? Masalah?" Bocil A.
"Ihih masih kecil Uda kreak, Gimana besarnya?" Batin rahmat.
"Udahla dek, Jawab aja..Lagi genting nih!" Anan.
"Tante bahenol..Ngomong lembut sikit Dong.." Bocil B.
"Heh! Masih kecil Uda genit!" Anan.
"Duh..Si Tante kalo marah kok tambah manis..., Iya kan om?" Bocil B.
"Eh..i iya hehe" Rahmat.
"Ini jugak! udah tua.. Masik aja genit..Malah didepan bocil lagi!" Anan.
"Tan....Yang namanya laki laki tetap laki laki..Gak pandang umur.." Bocil C.
"Kalian anak siapa sih? Masih kecil kok ngomongnya ngelantur! Sekali lagi saya dengar kalian ngomong kaya gitu..Saya rehab kalian di kandang ****! Mau?" Anan.
"Apapun untuk Tante lah...Asal Tante mau jalan sama aku" Bocil A.
"Buahhahha buahhaha Ahahhaha hiiii xixixiix"
Tawa para bocil menggelegar di penjuru taman. Para bocah yang masih memiliki umur sekitaran 9-10 Tahun itu sungguh meresahkan dibandingkan dengan preman pasar. Kegenitan memang mengalir indah di setiap nadi para pria bahkan tak kenal umur..Mau yang muda, Dewasa, Tua bahkan bocil sekalipun.
"Itu mamah kalian!" Rahmat.
"Ehh mampusss"
"Ngumpet woy ngumpet!"
"Aduhh aku keliatan, Geser sikit lah!"
Itulah rusak rusuk para bocil ketika mendengar satu kata yang paling horror dalam hidup mereka 'Emak'. Rahmat lelaki dan dia juga pernah kecil, Jadi dia tau apa yang paling ditakuti para pria kecil itu.
Si bocil A mengintip dari tempatnya, Tapi tidak mendapati sosok horor baginya.
"Eh..kok emak ku gak ada woy?" Bocil A.
"Ah..yg bener kamu..Emak ku ada gak?" Bocil C.
"Iyo...Emak ku Ndak ada juga!, Wah wah mas mas nya nipu to?" Bocil D.
Dengan perasaan dongkol para bocil tweny-twenty itu menghampiri Rahmat dan Anan.
"Eh om! Dah tua jangan suka nipu dong! Makin numpuk tuh dosa!" Bocil C.
"Iyo... Ndak baik Lo mas..." Bocil D.
"Istighfar om" Bocil A.
Rahmat hanya diam dan menatap Anan yang berada disampingnya, Sedangkan Anan hanya mendelikkan bahunya.
__ADS_1
"Iya..iya..Maap saya memang bohong, Tapi itu karna kalian jugak! Mknya cepat kasih tau siapa diantara kalian yang lihat kak Ava" Rahmat.
"Eitsss tak ada yang gratis di dunia ini om" Bocil B.
"Heh heh! bocah! Cepat kasi tau atau kulaporkan kalian sama emak kalian!" Anan.
"Wah..wah..si Tante pakek ancaman segala. Bisa dituntut loh ini" Bocil B.
"Udah cepetan!" Anan.
"Bagi duit dulu Tan.. Baru kita kasi tau..Iya gak gaess" Bocil C.
"Betul tuh" Ucap bocil serempak.
"Kalian mau duit untuk apa?" Rahmat.
"Beli kinderjoy Mas" Bocil D.
"Heh bodoh! Jangan bilang bilang... Malu Tauk!" Bocil A.
"Lah kenopo? Emang kita pengen kinderjoy to?" Bocil D.
"Oh...oh... Jadi kalian masih makan kinderjoy hmm?" Anan dengan seringai di bibirnya.
"IYA! Emang kenapa Tante masalah?" Bocil A.
"Eh..Enggk kok, Justru kalian yang kena masalah kalo gak kasi tau dimana kak Ava" Anan.
"Oo Tante ngancam nih?" Bocil C.
"Kalo iya kenapa?" Anan.
"Kalo saya gak mau gimana?" Anan sambil melirik ke kanan dan kirinya lalu tersenyum miring.
"Yah kami jugak gak mau kasih tau" Bocil B.
"Oo gitu..Ehmm kalo saya kasi tau sama mereka" Anan menunjuk sekelompok anak perempuan "kalian masih makan kinderjoy gimana?" Anan dengan senyum nakalnya.
Sontak para bocil itu menengok ke arah samping mereka dan mendapati sekelompok anak perempuan disana yang juga sedang memandang mereka. Para bocil itu memutus pandangannya lalu saling memandang ke arah teman temannya.
Para pria kecil itu berkumpul membentuk lingkaran dan mulai berdiskusi.
"Eh..Gimana nih, Disana ada Melisa" Bocil B.
"Iyo.. ada Tuti juga lho.." Bocil D.
"Ada my baby Tiwik juga disana" Bocil A.
"Eh? Maksud kau apa manggil tiwik 'My baby'? Kita kan sepakat tiwik itu milik bersama" Bocil C.
"Terserah ku lah bweek" Bocil A.
Anan dan Rahmat tersenyum melihat tingkah bocil 2020 yang pemikirannya sudah menjalar tentang cinta bahkan lebih dari itu.
"Dasar bocah.." Gumam Anan.
"Lucu ya.." Rahmat.
"B aja" Anan.
Rahmat menatap lekat Anan dari samping dan tersenyum, Walau terkesan garang dan agak kikir, Tapi tingkah Anan manis menurut Rahmat.
__ADS_1
Para bocil bubar dari lingkarannya dan maju mendekati Anan dan Rahmat.
"Okey Tante! kita kasih tau" Bocil A.
"Dimana?" Anan.
"Disana Tante..Aku yang liat kak Ava disana kemaren siang. Kak Anan ngomong sama kucing Tan.." Bocil A.
"Kamu yakin? Gak bohong kan?" Anan.
"Aku gak akan bohong Tante..Aku yakin itu kak Ava. Aku kenal betul sama kak Ava, Kak Ava yang selalu malak kinderjoy ku.. Jadi aku tau betul itu kak Ava" Bocil A.
"Ava malak? Apa uang jajannya kurang? kok malak bocil sih?" Batin Anan.
"Terus terus..Kak Anan habis itu kemana?" Rahmat.
"Aku liat waktu itu kak Ava jatuh karna dilompati kucing... Abis itu aku gak tau" Bocil A.
"Kok bisa gak tau?" Rahmat.
"Iya.. Karna waktu itu aku disuruh emak nyolong bunga dari taman, Terus aku di panggil karena kelamaan, Emak marah jadi aku buru buru pergi tan" Bocil A.
"Kami yakin kak Anan jatuh disini?" Tunjuk Anan.
"Iya Tan" Bocil A.
"Okey.. Kalo gitu makasih" Anan.
"Kok kalian masih disini?" Rahmat.
"bagi duit dong Om.. Tan.." Bocil A.
"Enak aja! Udah sana pergi.. Kalian minta uang sama bapak kalian" Anan.
"Wuu Tante pelit.. " Bocil C.
"Biarin mbwekk" Anan menjulurkan lidahnya.
"Sudah ini yang untuk kalian" Rahmat.
"Lah kok cuma sepuluh ribu Om?" Bocil C.
"Kalo gak mau sini balikin" Rahmat.
"Yaudah deh.. Dasar gak Tante.. gak Om.. Sama sama pelit! Semoga aja anaknya nanti gak pelit aminn" Bocil C.
"Eh enak aja!" Anan.
"Yasudah la Om... Kami pergi dulu! Ingat om kalo om punya anak cewek.. Kabari aku" Bocil B.
"Ehh Ingat Melisa" Bocil D memukul lengan bocil B.
Para bocil 2020 itu berlenggang pergi menjauh dari Anan dan Rahmat.
**Hii Wee nikmati ceritanya.. Jgn lupa like dan komennya.
Aku gak tau ada berapa orang yg baca novelku jadi.. Moga aja kalian senang bacanya.. Amin.
Ogheee
(Ω↑Ω)👌**
__ADS_1