
Pandawa Arasta Walanda POV
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku tidak akan pernah terima milikku di usik orang lain. Apalagi Kitty kucing kesayangan ku. Kucing ini unik, Aku beruntung menemukannya. Aku berjanji aku gak akan pernah memberikan kucing ini pada siapapun seumur hidupku. Kecuali kalo ada yang mau bayar mahal.
"Kitty pasti kamu sakit hati sama om om tadi kan?" Dawa.
"Kamu sabar ya.. Tenang aja abis ini gak akan ada yang berani nyakitin kamu lagi..My love Kitty" Dawa.
Ah tengoklah ekspresi kucingku ini, Seakan dia salah tingkah dengan gombalanku. Ngegombalin Kitty kaya gini, Aku jadi ingat sama anak pak RT yang aku gombalin waktu beli makanan Kitty.
Kira kira anak pa RT Uda punya pacar blom ya? Ehmm sudah la. Eh Kitty masih salting aja nih kucing. Gemesnya.
Aku angkat dah si Kitty ke pangkuanku, perlahan kucingku ini menutup mata, Aku jadi tambah gemesh dan..
Cup..
Author POV
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Manusia dan hewan itu saling menutup mata menikmati ciuman yang hanya berdurasi 1 second itu.
Kitty si kucing sangat menikmati kecupan sekilas itu. Si kucing yang mengalami masa pubertas itu asik menutup mata membayangkan hal yang dilebih lebihkan oleh dirinya sendiri.
Dawa membuka mata
"Aaaaa!" Dawa.
Bruk!
"Aaaa!" Ava.
Ava tersengkur ke lantai, Matanya sudah terbuka lebar. Ava mengelus bokongnya yang terbentur lantai dengan keras. Lalu menatap dawa yang juga tengah menatapnya dengan horror.
"Aneh! Kenapa dia? Setelah nyium langsung nendang. Aishh harusnya kupatahkan saja bibirnya. selalu seperti ini, Setelah dicium aku pasti di tendang.." Batin Ava.
"Kau! Harley Quinn?! Kenapa kau kemari!" Dawa.
"Eh?" Ava " Hah? Apa kau bilang tadi? Harley Quinn? Berati..." Ava.
Ava menepuk nepuk wajahnya, Menatap tangannya kaki nya dan tubuhnya. Ava lompat lompat kegirangan lalu dengan cepat Ava berlari ke lantai dua meninggalkan dawa yang tengah mematung.
Satu menit...
Dua menit...
__ADS_1
Dawa asik dengan dirinya yang mematung, Entah kemana sudah pikirannya berjalan tapi tidak dengan kaki nya. Si empu nya kaku masih stay di tempat.
Pikiran nya masih bergelayut memikirkan dirinya yang telah mencium Kitty nya. Namun bukan itu masalahnya, Perubahan sosok lah yang telah menghantuinya.
"Bagaimana bisa Kitty berubah jadi Harley? Ini bukan yang pertama kalinya. Sebelumnya ini juga pernah terjadi padaku kan?" Batin Dawa.
Dawa membulatkan matanya, dia teringat Ava pernah mengatakan hal ini padanya tapi dia tak percaya. Dawa melepas lamunannya, Ditatapnya tangga yang beberapa menit lalu dinaiki oleh Ava si gadis kucing.
Dengan perasaan takut dan langkah gontainya. Dawa mulai menaiki tangga secara perlahan. Dawa mengira bahaya apa yang akan menimpanya karena telah bertemu orang aneh.
"Dia benar, Dia bukan psikopat tapi.. Siluman" Batin Dawa.
Dawa menatap pintu kamar nya yang terbuka lebar. Menampakkan sosok gadis berambut panjang tengah celingak celinguk di depan kaca. Dengan langkah pasti dawa mulai memasuki kamar.
Bup!
Dawa menutup pintu, Sontak saja Ava yang tengah bercermin menoleh ke belakang. Ava menatap dawa santai. Tapi tidak dengan dawa, Pria jangkung yang suka menebar paras itu menatap Ava dengan pandangan datar.
"Heh! Kau kenapa? Liat nya b aja dong" Ava.
Dawa enggan menjawab pertanyaan Ava. dirinya masih setia berdiri di tempatnya yang persisi berada di depan pintu kamar yang telah tertutup.
"Wa.. dawa..? Eh kau jangan nakut nakuti Napa?! Eh jawab dong.. Kau kerusupan ya?" Ava.
"Kesurupan bodoh" Dawa.
"Eh iya itu maksud nya" Ava.
"Kau.. Kenapa?" Ava.
"Siapa kau?" Dawa.
"Hah?" Ava " A aku_" Ava.
"Kitty?" Dawa.
"iya" Ava.
Dawa melepas kan tangannya dari bahu Ava dan menghela nafas kasar. Dafa menjauh dari Ava dan duduk di pinggir ranjang miliknya.
"Kau sudah percaya?" Ava.
"Emm kayaknya memang harus percaya" Dawa.
"Kau tau darimana?" Ava.
"Kemarilah!" Dawa menepuk ranjang disampingnya.
__ADS_1
"Hah?" Ava.
Dawa mengangguk kan kepalanya, Dan entah keyakinan dari mana, Ava menurut pada dawa. Ava duduk di ranjang samping dawa.
Dawa duduk mengahadap Ava, Dia kembali menghela nafas dan dengan segenap jiwa diraihnya dagu Ava dan mulai mengecupnya.
Ava membulatkan matanya, Sungguh dia mengidam idamkan moment ini tapi dengan orang yang dicintai nya. Bukan dengan orang yang baru dikenalnya. Bahkan dawa tidak memberi alasan kenapa dia mencium Ava.
Setau Ava mereka baru bertemu dan tidak mungkin dawa menyukai nya kan? Lantas mengapa dawa menciumnya.
Selang beberapa detik bibir mereka saling menempel, Ava mendorong tubuh dawa.
"Kau? Apa yang kau lakukan?" Ava.
"Kenapa kau gak berubah lagi?" Dawa.
"Hah? Maksudmu apa sih?" Ava.
"Kalo kau benar Kitty pasti kau kembali berubah jadi manusia karena aku menciummu kan?" Dawa.
"Maksud mu apa sih?" Ava.
"Kau Kitty?" Dawa.
"Iya" Ava.
"Berapa kali aku pernah menciummu?" Dawa
"Dua! Tambah yang ini jadi Tiga!" Ava.
"Bukannya aku menciummu dua kali? Yang kedua kali lalu yang hari ini" Dawa.
"Tiga kali!" Ava.
"Heh! Yang satu lagi itu kau yang mencium ku bodoh!" Dawa.
"Oo iya" Ava.
"Ck, Tapi kenapa kau tak berubah lagi. Biasanya setelah salah satu dari kita mengecup kau akan berubah jadi manusia kan? Bukannya sebenarnya kau itu manusia? Iya kan?" Dawa.
"Kau benar, Tapi kenapa aku gak berubah lagi ya?" Ava.
"Mana ku tahu" Dawa.
Mereka berdua merenungi situasi. Jam masih menunjukkan pukul 5 Sore. Ava berniat akan pulang setelah mengobrol sedikit dengan dawa.
**Hii weee terus baca ya.. Maap kalo menurut kalian ceritanya gaje.
__ADS_1
Okey jgn lupa like, dan komennya.
Kalo bisa sih vote jugak**