
pagi hari Brayn sedang merapikan bukunya, karena hari ini adalah hari Senin maka ia berangkat sangat pagi untuk menyiapkan kegiatan upacara.
Brayn turun untuk sarapan.
"pagi yah Bun" sapa Brayn sambil duduk.
"Pagi" jawab kedua orang tuanya, ya walaupun sering terjadi konflik antara dua orang paruh baya itu, namun rasa sayang dan harmonis selalu mereka tunjukan pada putra satu satunya.
"mau sarapan apa sayang?" tanya bunda Dian.
"aku mau roti tawar aja Bun" jawab Brayn.
"kalo aku mau ini ini dan ini" sambar ayah Ali sambil tersenyum sumringah.
"aku tanya sama Brayn ,kenapa ayah jadi ikutan?" tanya bunda Dian sambil menuangkan susu di gelas.
"ayolah bunda sayang , tadi kan bunda juman tanya mau apa sayang berarti bukan juman buat Rey" jawab ayah Ali santai sambil mengedipkan mata genitnya.
"idih" jawab anak dan istrinya.
suasana sarapan sangat tenang yang terdengar hanya suara sendok dan seruputan minuman.
"assalamualaikum'' terdengar suara salam dari pintu depan , suara yang halus dan lembut.
"siapa ya pagi pagi udah dateng" ucap bunda Dian dan dijawab gelengan oleh anak dan suaminya.
__ADS_1
"waalaikum salam" jawab bunda Dian sambil membuka pintu rumahnya.
"loh Andin apa kabar?" tanya bunda Dian pada seorang gadis cantik yang sedang tersenyum didepan pintu.
"baik tante , tante apa kabar" jawab Andin sambil memeluk bunda Dian .
"baik, ayo sayang masuk" ucap bunda Dian sambil menggandeng tangan Andin.
"siapa Bun? loh Sisil ya?" tanya ayah Ali sambil mengingat wajah di depannya.
"ia om aku Andin , om apa kabar?" jawab dan tanya Andin sembari mengecup pundak tangan ayah Ali.
"baik ayo duduk" sambut ayah Ali.
bunda Dian dan ayah Ali yang melihat tatap Andin pun menyadari, padahal dulu kalau mereka bertemu Ray lah yang selalu mengejar ngejar Andin. Namu sekarang jangankan bertanya menatap saja tidak.
"Hem" gumam Brayn yang merasa kakinya diinjak , dan terlihat bundanya sedang menatapnya . Bryan yang tadinya tak mengerti, ahirnya paham apa yang dimaksud bundanya.
"kamu apa kabar?" tanya Brayn pada Andin dengan nada dinginnya.
"ah aku baik ko , kakak apa kabar , oh ya besok aku akan pindah ke sekolah ka Ray loh" jawab Andin yang merasa sangat senang dengan satu pertanyaan dari Brayn.
"Hem" dehem Brayn.
"aku berangkat dulu ya" lanjutnya sambil menggendong tasnya dan langsung pergi.
__ADS_1
Andin merasa sakit hati dengan tingkah Brayn , padahal sikapnya yang dulu sangat memuji dirinya dan itu yang membuatnya merindukan Brayn , namun sekarang berbeda seratus delapan puluh derajat.
*******"
suasana sekolah begitu sangat tenang terdengar alunan lagu Indonesia raya yang sangat merdu, namun berbeda dengan hati Bella yang merasa gelisah , bagaimana tidak ia sedang bertatap muka dengan Brayn yang berdiri didepannya menjadi seorang komandan upacara.
"aduh ngapain coba tadi milih didepan" batin Bella yang sangat gugup dan salah tingkah, entah mengapa sejak kejadian di RS itu, dirinya sangat malu untuk menatap Brayn, karena mungkin Brayn berfikir bahwa Bella menginginkan perjodohan itu.
Brayn yang menyadari tingkah Bella hanya tersenyum miring.
ahirnya upacara pun selesai , kegiatan yang menurut Bella sangat menguras energi dan keringatnya . Bella langsung ke kantin dan minum sangat banyak membuat kedua sahabatnya mengerutkan dahinya.
"Napa sih lu pelan pelan" ucap Vivi yang melihat saudaranya seperti orang kesurupan ratu haus.
"ahhh segeeer" ucap Bella sambil mengelus lehernya.
"kenapa sih lu ha eh ha" tanya Amel dengan latahnya.
"salting" jawab Bella tanpa sadar dan langsung menutup mulutnya yang jujur itu."UPS"
"hah salting" kaget kedua sahabatnya yang mendengar kata salting.
"eh ngga , ia ia salting gue salting, eh ngga gue ngga salting. ah budu yaudah yuk masuk" ucap Bella yang gelagaban membuatnya latah sepeti Amel.
like and komen ya😘
__ADS_1