
"Ayah... Mama mau ngomong serius nih!" Ucap Ani kepada suaminya yang baru merebahkan badannya di ranjang.
"Jangan serius-serius. Nanti bisa tegang..." Jawab Andi sekenanya sambil memperhatikan istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Ihhh ayah nih. Ini beneran tau. Nanti juga ayah yang bakalan tegang." Ani mulai sewot karena suaminya tak serius menanggapinya.
" Oke oke ayah serius." Ucap Andi sembari duduk menghadap istrinya
"Mau ngomong apa sih sayang..." Lanjut Andi dengan tangannya yang mencubit kedua pipi istrinya itu.
"Ihhh ayah... Sakit tau!!!" Ani yang merasakan sakit pada kedua pipinya langsung berusaha melepaskan tangan suaminya pada kedua pipinya.
"Owhhh... Maaf-maaf ayah gak sengaja. Sakit ya" Andi sedikit panik melihat istrinya kesakitan karena ulahnya.
Ani yang melihat suaminya khawatir pada dirinya mulai tersenyum kecil.
"Udah-udah. Mama kan mau ngomong!" Ketus Ani
"Oke-oke mau ngomong apa? Ayah dengerin" jawab Andi dengan senyum merekah di bibirnya
"Tapi selama mama ngomong ayah di larang ngomong. No smoking, okay!" Tegas Ani
Andi yang merasa aneh pada ucapan istrinya mulai mengerutkan dahinya dan berfikir.
"Ma.. No smoking tu bukanya dilarang merokok ya???" Ucap Andi bingung
"Ehhh...e.... Sama aja lah pokoknya" karena takut di tertawaan oleh sang suami, Ani hanya menjawab sekenanya dengan wajah yang dibuat marah.
Andi yang masih sedikit bingung hanya mengangguk saja.
"Ayah diem oke. Cuma boleh dengerin. Ngomongnya nanti kalo mama udah selesai ngomong!" Tegas Ani lagi
__ADS_1
"Iya sayang janji deh... Ayah dengerin nih" jawab Andi sembari memajukan wajahnya
Ani memulai ceritanya namun dengan suara yang lumayan pelan dan lembut agar sang suami bisa mengerti dan tidak terbawa emosi.
"Gini yah.... Ini masih masalahnya Yunna yang mau pergi ke Korea. Mama ga..." Ucapan Ani dipotong oleh suaminya yang tiba-tiba sedikit emosi mendengar kata PERGI.
"APA! Anak itu masih nekat mau pergi???" Potong Andi dengan mata yang sedikit melotot menahan emosi
"Yahh... Dengerin dulu! Tadikan udah janji mau dengerin dulu!" Ucap Ani dengan nada yang lembut.
"Anak itu kenapa sih masih aja mikirin mau pergi. Ayah kan khawatir. Kalo dia pergi sendiri siapa yang bakalan jagain dia. Terus dia makannya gimana. Nanti kalo kedinginan gimana. Kalo dia kena flu gimana. kalo demam gimana. Kan gak ada yang ngurus nanti. Korea tu jauh ma... Ayah kan gak bisa ngawasin dia kalo jauh-jauh. Gak bisa jagain dia juga. Terus kalo dia gak bakalan pulang lagi gimana. Ayah dah nganggep Yunna kayak anak kandung sendiri. Ayah gak ma.....uuuu"
" Diammmm" ucap Ani dengan nada yang sedikit tinggi dengan jari telunjuk yang di tempelkan pada bibir suaminya.
"Ayah bisa tenang sedikit gak sih.... Mama kan jadi gak bisa ngomong." Lanjut Ani sambil melepas telunjuknya.
"Ayah dengerin dulu penjelasannya mama baru komen oke." Ani menenangkan suaminya.
" Mama pernah denger dia tu sebenernya udah punya uang buat beli tiket pesawat. Cuma dia gak punya uang buat hidup dia selama disana. Terus...." Ucapan Ani lagi-lagi di potong oleh Andi.
"Apa!!!? Dia punya uang buat beli tiket??? Uang dari mana ma??? Jangan-jangan dia..."
"Yah! Stop donk. Dengerin mama dulu jangan mikir kemana-mana. Dengerin dulu nanti baru cari solusi bareng-bareng oke" Ani mulai sebal dengan suaminya yang terus-terusan memotong ucapannya.
Andi hanya mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.
"Terus niat mama mau bantuin dia. Soalnya kasian yah... Yunna selama ini tu udah nurut banget sama kita. Dia gak pernah minta yang aneh-aneh sama kita. Ya kan apa salahnya kita kabulin permintaannya dia yang ini. Mama pengen anak-anaknya mama tu bahagia semua. Kalo soal dia kerja besok kita tanyain ke Yunna langsung aja. Gimana ayah mau bantuin mama gak??" Ucap Ani dengan lembut
Ayah Yunna terdiam memikirkan Yunna yang selama ini tak pernah meminta aneh-aneh kepadanya. Bahkan Yunna sering membantu di toko kue bila dia senggang. Yunna juga selalu menurut jika dinasehati. Hati Andi luluh dengan ucapan istrinya.
"Tapi ma...." Ucap Andi yang langsung di sambut oleh telunjuk istrinya.
"Eitttsss.... Jangan nolak lagi pokoknya" tegas Ani.
__ADS_1
"Taphi khan ayah khawhatir sama Yunna" ucap Andi yang belepotan karena telunjuk Ani masih di bibirnya.
"Ya sama mama juga khawatir sama Yunna. Tapi apa salahnya sekali-kali kita lepas anak kita biar dia bisa mandiri." Balas Ani sambil melepas telunjuknya.
Andi pun mulai memikirkan dan mempertimbangkan apa yang di katakan istrinya.
"Okelah. Kita lanjutin besok lagi. Sekarang kita tidur dulu udah malem banget ini." Ucap Andi sambil merebahkan badannya di ranjang.
"Boleh nih yah?" Tanya Ani gembira
" Ayah belom ngomong boleh ya. Ayah pikirin dulu. Dan sini ayah peluk" jawab Andi sambil merentangkan tangannya agar sang istri masuk dalam pelukannya.
"Ayah nih... Kalo gitu mama gak mau di peluk. Nih sama guling aja" jawab Ani ketus sambil melempar guling ke muka suaminya.
"Kok gitu sih ma??" Ucap Andi kesal.
Andi pun berinisiatif memeluk perut istrinya.
"Don't touch me!!" Tegas Ani.
"Mama..." Rengek Andi.
"Bodok" sahut Ani sekenanya.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾
Tinggalkan jejak💜
__ADS_1
Komen dari kalian semua sangat berharga buat author..