
Hari demi hari, bulan demi bulan telah berlalu. Sebentar lagi Dea dan kawan-kawan akan mengikuti ujian akhir nasional atau UN. Dea maupun yang lainnya tengah sibuk mempersiapkan segalanya.
"Fiuuhhh, belajar gak belajar otak gua kagak nyampe di mana-mana." keluh Andra yang saat ini sedang belajar kelompok dengan Dea, Dam-dam, Ero, Chopin, dan Wida.
Sedangkan Bayu sudah tamat terlebih dahulu secara Bayu kakak kelas mereka.
"Dra, lu itu pinter ngeluh kek gini apa lu kaga nyindir gue?" sindir Dam-dam yang memang kalau dalam akademis agak sedikit kurang.
"Udah jangan ribut yok kita mulai lagi?!" suruh Ero yang notabene murid terpandai di sekolah itu.
Andra sibuk memperhatikan Dea yang nampak kebingungan.
"De, lu kenapa bingung?" tanya Andra penasaran.
"Aku takut ga lulus." jawab Dea dengan wajah memelas.
"Udah tenang aja, ada gua kok. Pokoknya lu bakalan lulus percaya deh sama gue." ucap Andra yakin.
"Serius ya Dra, bantu gue pokoknya." ujar Dea bahagia.
"Btw, kenapa ada dua curut nih disini?" tanya Dam-dam heran karena ada Chopin dan Wida disana.
"Tahu tuh mereka malah ngikut aja kek setan." jawab Andra asal.
"Sia*lan lu Dra, gue kan juga mau bantu Dea biar besok bisa ngerjain ujiannya." jawab Chopin kesal sambil melirik ke arah Ero.
Niat hati ingin memanasi tapi Ero cuek aja.
"Kalo lu ngapain ulet keket?" gantian Ero yang bertanya pada Wida.
"Kan aku pengen deket-deket sama Aa Andra." jawab Wida genit sekali.
"Anjaaaayyyyy ogah gue." teriak Andra tak terima.
__ADS_1
"Jangan deket-deket lu ye. Kalau mau ikut belajar okay kalau gak hush hush pergi lu sana!" kata Andra jengah dengan tingkah Wida.
Mereka yang ada disana tertawa terbahak melihat adegan tersebut. Menurut mereka drama tadi adalah intermezzo supaya tidak tegang.
Sore itu mereka sibuk belajar karena dua hari lagi mereka akan menghadapi ujian akhir.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Akhirnya hari yang di tunggu datang juga. Ujian nasional merupakan momok menakutkan bagi sebagian siswa-siswi di berbagai sekolah yang ada di dunia ini.
Andra sudah datang dengan Dea. Dea deg-degan begitu juga dengan Andra.
"Dra, aku jadi mules nih saking tegangnya." ucap Dea yang berkeringat menahan mules.
"Yaelah De, lagi 20 menit kita masuk ke ruangan. Kira-kira cepet selesai kaga boker lu?" tanya Andra yang ikutan panik.
"Kagak tahu lah ini kurang kerjaan banget ni perut pakek mules segala." kesal dia karena di saat-saat seperti ini malah mules.
"Iyaa." jawab Dea cepat.
Andra dan Dea lantas menuju toilet terdekat. Andra begitu setia menunggu Dea menyelesaikan urusannya di dalam sana.
Ternyata tak sampai 15 menit Dea telah menampakkan dirinya.
"Loh udah De?" tanya Andra yang kaget tiba-tiba pundak nya di tepuk.
"Udah kok yuk Dra!" ajak Dea sambil menarik tangan Andra.
Hati Andra berdesir tatkala tangan Dea menarik tangannya.
"Gue mau, sampai kita tua nanti kek gini De adem rasanya hati gue." ucap Andra dalam hatinya.
****************
__ADS_1
Semua siswa telah menempati tempat mereka masing-masing.
Ketegangan akan berlangsung selama sejam kedepan bagi siswa-siswi yang ada di sekolah di seluruh Indonesia.
Akhirnya sejam telah berlalu dan semua murid juga sudah menyerahkan lembar ujian mereka. Andra dan Dea kebetulan satu ruangan, dan saat ini mereka sedang duduk di kantin untuk membeli makanan dan minuman. Setelah ketegangan tadi perut mereka menjadi lapar.
"Gimana tadi Dea? Gak susah kan?" tanya Andra sambil menyeruput es teh milik Dea.
"Andra iih kok es teh aku di minum?" Dea protes esnya di minum oleh Andra.
"Haus gue De." ucap Andra asal...
Padahal dalam hatinya Andra bahagia banget bisa satu sedotan dengan Dea.
Tiba-tiba datanglah Dam-dam dan Ero dari kejauhan sudah berlarian dan ikut bergabung di meja Dea dan Andra.
"Gimana tadi gaess gampang kan?" tanya Ero tanpa dosa.
"Ya bagi lu gampang bagi gue kek mau mati rasanya." ucap Dam-dam sambil mengatupkan kepalanya di atas meja.
"Alhamdulillah aku bisa jawab semua soalnya." jawab Dea sumringah.
"Berkat kalian semua ini." ucap Dea lagi.
"Semoga kita semua lulus ya De, dan kita bisa ke Perguruan tinggi sama-sama." ucap Dam-dam menimpali.
"Hmm kalau ke Perguruan tinggi aku pikir-pikir dulu deh karena kendala biaya." kata Dea tiba-tiba yang tentu saja mengagetkan.
"Maaf De, ga sengaja aku." ucap Ero merasa bersalah.
"Ga apa-apa kok kamu ini ish." jawab Dea dengan lembut.
Andra yang mendengar itu semakin bertekad untuk membantu Dea bagaimanapun caranya. Dalam hatinya dia ingin Dea sang pujaan hati berbahagia. Tapi Andra sendiri tak tahu akan ada badai besar yang menghampiri dan membuat dirinya akan jauh dari Dea.
__ADS_1