
Laila masing terduduk dilantai. Dia tidak habis pikir kalau cintanya akan di tolak mentah-mentah oleh pria idamannya itu.
Disisi lain zahira dan teman-temannya yang baru siap ajukan judul skripsi keluar dari ruang dosen dengan nafas lega karena judul yang mereka ajukan diterima.
Mereka sekarang hanya perlu fokus mencari bahan dan refensi buku-buku untuk pembuatan proposal mereka.
Mereka begitu bahagia karena impian mereka lulus kuliah berbarengan akan terwujud. zahira memeluk kedua temannya dengan hati bahagia.
"karena usulan kita udah diterima mari kita rayakan dikantin" ujar zahira sambil menggandeng kedua tangan sahabatnya itu.
"ayuk... lagian perutku udah dari tadi berteriak ...hehehe" sambung rahmi sambil kembali menggenggam tangan zahira dengan kuat.
" dasar kamu mi... makan aja yang dipikirin.." ujar fera
"emang kamu gak laper..."tanya rahmi kesel karena fera meledeknya tadi.
"ya lapeer sih... kalau begitu lets go kita ke kantin.." jawab fera sambil cengengesan.
"huhuhu.. sok gak laper... padahal yang paling rakus yang dedek fera ku ini hahhahaha" ujar rahmi meledek balik sambil memegang dagu fera. Fera hanya bisa memanyunkan bibirnya. Sedangkan zahira hanya senyum-senyum melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Sesampainya dikantin mereka langsung memesan makanan. selang beberapa menit makanan yang mereka pesan sudah diletakkan di atas meja. Tak menunggu lama rahmi langsung menyendok nasi dan langsung lolos kedalam mulutnya.
"laperrr buk.... kok lahap gitu makannya" kata zahira sambil mengambil tisu memberikannya kerahmi.
"gak laper cuma doyan..... dah tau laper nanya lagi" jawab rahmi dengan ciri khas nya yang lagi gambek.
"ne untuk apa lagi" sambung rahmi sambil meraih tisu yang di berikan zahira.
"ituuuu... melepotan. kayak anak kecil aja. padahal bentar lagi dah jadi mak-mak" ujar zahira sambil ketawa lepas.
" betol tu zahira... kek mana nanti kalau dah nikah punya anak. masa iya sih, anak sama maknya seimbang belepotannya" sahut fera yang kembali menggoda rahmi.
"apaan sih kalian ne....(memanyunkan bibirnya) itu kan sekarang kalau dah nikah lain lagi urusannya." ujar rahmi sambil melanjutkan makannya.
"ne anak bikin aku kesel ea.... sedikit pun gak ada feminimnya... aduh....haduuuh" ujar fera sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"kamu ni fer kayak gak kenal rahmi. kalau udah makanan didepannya, mertua lewat gak kelihatan" ujar zahira yang membuat tawa ketiganya pecah.
"hahahhaha..... bukan gak kenal. memang gak mau kenal takut makanannya disosor sama mertua" ujar rahmi kembali.
"Hahaha dasar rahmi.... cuma makanan aja dipikirannya" sambung fera.
Ketika mereka sedang asyik bercanda. Tiba-tiba putra datang menghampiri mereka. putra duduk disamping zahira.
"lagi ngapain kalian, kok seru banget kelihatan" ujar putra
"ini kak putra... mereka selalu jahilin aku" ujar rahmi dengan mimik pura-pura sendiri
"jail kenapa... " tanya putra penasaran.
" masa mereka bilang kalau aku lagi makan mertua lewat gak tau... resekkan kak" ujar rahmi mencari pembelaan.
"Tapi benar tuh kata mereka.... kamu kalau lagi makan kayak dunia ini milikmu seorang" jawab putra dengan jahilnya.
rahmi yang mengharapkan pembelaan dari kakak letingnya itu malah manyun karena dia ikut-ikutan menjahilin rahmi.
"hwuhahaha bukannya dibela malah ikut-ikutan.
cayang rahmiku..." ujar zahira sambil memegang dagu rahmi.
"hahaha kasian...." ujar fera
__ADS_1
Mereka asyik bercanda tanpa mereka sadari sepasang mata sedang melihat keakraban mereka. dia sudah mulai panas melihat pemandangan didepan matanya.
Laila nampak tak suka melihat putra duduk bersama zahira seperti itu. Apalagi dia baru saja ditolak oleh putra. Dia begitu marah ketika melihat putra melihat zahira dengan tatapan takjub.
Ada rasa marah, benci dan iri. Ingin rasanya laila menampar zahira. namun niatnya itu diurungkan mengingat dia masih berada di kampus karena dia gak mau bermasalah dengan pihak kampus.
"awas kau zahira, berani-beraninya kamu mendekati pria yang aku suka. akan ku beri kau pelajaran setelah sampai dirumah nanti" ujar laila sambil tersenyum sinis seperti merencanakan sesuatu.
"beby...' aku pulang duluan ya. kayaknya aku gak enak badan" ujar laila mencoba mencari alasan.
"kok tiba-tiba.... perlu aku antar gak" tanya beby khawatir.
" enggak usah. aku bisa balik sendiri.... duluan ya" sambung laila sambil melambaikan tangan.
"ya udah. hati-hati ya" ujar beby.
laila buru-buru melangkah meninggalkan kantin. Didalam hatinya sudah merasa panas karena dia begitu cemburu melihat kedekatan zahira dan putra.
Pikirannya mulai kalut dan dia tidak bisa mengontrol emosinya. Dalam pikirannya hanya zahira yang mencoba merebut pria pujaan hatinya.
Sesampainya dirumah laila langsung masuk kedalam kamarnya. dia lemparkan tubuhnya ke atas kasur. Disitu dia menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa menerima penolakan putra tadi.
Dia menutup mukanya dengan bantah. sesekali dia memukul bantalnya untuk melampiaskan kemarahannya.
Disisi lain zahira dan teman-temannya beranjak ingin pulang. Seketika putra langsung bereaksi ingin mengantarkan mereka pulang. padahal itu cuma modusnya putra agar dia lebih dekat dengan zahira.
"pulang yuk.. " ajak zahira.
"ngapain pulang... duduk aja bentar lagi" sahut rahmi.
" gak bisa. aku kan harus bantu bibiku masak nanti" ujar zahira sambil meraih tas yang ada disampinya.
"ayuk kita pulang. lagian kan udah sore rahmi" sambung fera
"oh oh aku kalau tumpangan gratis gak pernah nolak... lets go kita pulang" wajab rahmi bersemangat.
"gak usah kak.... nanti merepotkan kakak. kami bisa pulang sendiri" tolak zahira secara halus.
"gak kok. malah aku senang direpotin sama kamu" kata putra sambil senyum-senyum.
"cieee ada yang modus ni ya" sahut rahmi
"apaan sih kamu mi. benaran kok kak gak usah diantar" ujar zahira mencoba menghindar karena bibinya kemaren sudah memperingatinya untuk menjauhi putra.
"alah zahira ne. tinggal masuk dan duduk manis aja. lagian kak putra pun suka kalau kita repotin. ya kan kak?" ujar rahmi sambil mengandeng tangan zahira menuju parkiran dimana mobil putra di parkir.
putra yang melihat tingkah ketiga sahabat itu hanya bisa garuk-garuk kepala yang tidak gatal dan senyum-sentum sendiri.
Putra pun menancapkan gas dan mengantar mereka kerumah masing-masing. kali ini zahira tidak bisa mengelak permintaan putra untuk mengantarnya kerumah. Terpaksa zahira menuruti semuanya.
Mobil putra berhenti pas didepan rumah zahira. Bibinya yang lagi duduk diteras depan pura-pura baik didepan putra.
"assalamualaikum bi" zahira dan putra memberi salam dan menyalami bibinya.
"waalaikumsalam. ohh zahira udah pulang. kok bisa sama nak putra" tanya bibi eva penasaran.
"tadi kami ketemu dikampus. zahira sama teman-temannya mau pulang sekalian aku antarin. kita kan searah bi" jawab putra menjelaska perihal dirinya mengantar zahira.
"ohhh begitu... mampir dululah nak putra." ujar bibinya
"gak usah. makasih banyak bi. saya langsung pamit pulang dulu bibi ya. lagian kan udah sore" jawab putra sambil menyalami bibi zahira.
__ADS_1
"ya sudah. hati-hati nyetirnya" sahut bibi seolah-olah dia sangat perhatian pada semua teman zahira.
Putra pun melajukan mobilnya. Ketika mobil putra sudah tidak kelihatan lagi. Tiba-tiba ada seseorang menarik rambut zahira dengan kasar. zahira begitu terkejut dan begitu juga dengan bibinya.
Dia itu laila yang sedari tadi sudah melihat permandangan yang membuat hatinya terbakar. mulai dari mobil putra berhenti didepan rumahnya hingga putra pamit pulang tadi.
"Berani-beraninya kamu mendekati kak putra. bukankah sudah ku peringati kamu berapa kali. jauhi kak putra... jaauhi dia.... dia itu lelakiku." teriak laila dengan keras dan terus menarik rambut zahira sehingga dia terseret kedalam.
"lepasin laila... lepas...." teriak zahira yang lagi merintih kesakitan.
"lepasin katamu... gak akan ini memang pantas untukmu. buat orang yang suka mengambil punya orang." bentak laila lagi
sedangkan bibi hanya berdiri saja disana menyaksikan penyiksaan yang dilakukan laila pada zahira. menurutnya zahira memang pantas mendapatkan perlakuan tersebut karena sudah berani mendekati lelaki yang disukai putrinya.
"laila dengarkan penjelasanku dulu.... jangan seperti ini" ujar zahira sambil memegang rambutnya yang ditarik laila.
"penjelasan apa hah... udah jelas tadi. aku melihat semuanya. kau berduaan bersama kak putra dan kemudia dia mengantarmu pulang" bentak laila. Laila kemudian mendorong zahira hingga membentur tembok.
Namun zahira tidak membalas sedikitpun karena dia tidak ingin bertengkar dengan sepupunya. karena laila sudah dianggap seperti adiknya sendiri.
"laila... apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu lihat. memang aku duduk satu bangku sama kak putra tapi kami disitu berempat bukan aku sendiri..." jelas zahira
"oh ya... lalu tadi kamu berduaan didalam mobil. itu juga salahpaham hah..." teriak laila lagi.
"itu tidak seperti kamu lihat laila" kata zahira mencoba menjelaskan.
plaaak.... tangan laila mendarat diatas pipi zahira. zahira begitu terkejut melihat laila begitu marah padanya.
"salah paham katamu... aku ini bukan anak kecil lagi zahira... aku bisa membedakan antara lelaki suka dan tidak suka sama perempuan" bentak zahira lagi
"tidak seperti itu laila. kak putra tidak mengantar aku sendirian. dia juga mengantar rahmi dan fera. kami berempat tadi didalam mobil." kata zahira sambil menahan sakit ditubuhnya akibat ulah laila.
"benar apa yang kamu katakan" tanya laila yang emosinya mulai menurut setelah mendengar pengakuan zahira.
"benar laila... kalau kamu tidak percaya tanya sama teman dikampus" jawab zahira dengan tegas.
"baiklah zahira, anggap aku percaya padamu. namun kalau kamu mengulanginya lagi akan kubuat kau menyesal." bentak laila lagi
Zahira hanya mengangguk saja. Kemudian laila mendekati zahira dan memegang tangan zahira dan mencengkramnya.
"zahira.... berjanji padaku. jika nanti kak putra menyatakan perasaan padamu kamu harus menolaknya. kalau kau masih menganggap aku adikmu" kata-kata laila sedikit mengancam.
"maksudmu apa laila" tanya zahira bingung. karena dia tidak pernah berpikir kalau putra menyukainya.
"maksudnya kamu harus menolak kak putra. jika kamu bersama kak putra lebih baik aku mati" ujar laila sambil meraih pisau yang ada didekatnya dan meletakkannya ke tangan.
"apa yang kamu lakukan laila. letakkan pisaunya. taruh nak pisaunya. itu bahaya nak.." pinta bibi eva.
"tidak bu. untuk apa aku hidup kalau aku harus melihat lelaki yang kusukai hidup bersama zahira. lebih baik aku mati" teriak laila dengan isak tangis yang semakin kuat.
"tidak nak... apa kamu tidak kasian pada ibu" kata bibi eva dengan suara memelas.
"aku sayang sama ibu... tapi percuma bu.... hidup kalau hatiku mati... yang ibu lihat hanya jasad. lebih baik sekalian jasad ini mati bersama hatiku" teriak laila separti orang putus asa.
"jangan...jangan lakukan itu laila. tolong jangan berbuat nekat seperti itu" pinta zahira.
"kenapa aku gak boleh seperti ini. bukankah ini yang kamu inginkan" teriak laila lagi.
"jangan nak... jangan(sambil merebut pisau dari tangan laila). zahira akan melakukan apapun yang kamu inginkan (sambil berlari kearah zahira dan menggenggam tangannya) tolong zahira... tolong nak... tolong... dia itu adikmu. berjanjilah pada laila, nak. kita ini satu keluarga. berjanjilah zahira bahwa kamu tidak akan pernah menerima perasaan putra..' pinta bibi eva kepada zahira dengan suara gemetar karena takut kehilangan anaknya.
zahira begitu kaget mendengar kata-kata 'nak' keluar dari mulut bibinya. selama ini dia tidak pernah mengganggapnya anak.
__ADS_1
Begitulah hati zahira dengan mudah tersentuh hanya dengan kata keluarga. Dan dia tidak pernah tega melihat seorang ibu menangis apa lagi meminta seperti itu kepadanya.