KUGAPAI CINTAMU DALAM DOA

KUGAPAI CINTAMU DALAM DOA
perubahan sikap zahira pada putra


__ADS_3

Keesokan harinya zahira bangun pagi seperti biasanya dan melakukan aktivitasnya. Mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah, kekampus dan bekerja di kafe. Namun kini membersihkan rumah tidak terlalu melelahkan karena di bantu sama bibi.


" zahira lagi ngapain" tanya bibi eva


"ini bi... lagi nyapu, banyak kali debu" jawab zahira sekenaknya.


"sini.. bibi bantuin" sambil mengambil sapu yang ada di tangan zahira.


"gak usah bi.. biar zahira saja. Nanti bibi kecapean" jawab zahira sambil mencoba mengambil kembali sapu yang ada di tangan bibinya namun gagal karena duluan di tepis oleh bibi eva.


"udah gak apa-apa, biar bibi saja. kamu siap-siap kekampus aja. katanya mau susun skripsi." ujar bibi eva dan terus menyapu.


"ya udah bi... zahira siap-siap dulu ya.." ujar zahira. zahira masih heran dengan perlakuan bibinya. Namun dia bersyukur karena bibinya mulai menyayanginya.


Zahira berlalu meninggalkan bibi eva sendirian. dia masuk kekamar untuk mengganti pakaian.


Paman abdul yang ingin berangkat kerja nampak bingung dengan sikap istrinya yang mulai membantu zahira membersihkan rumah.


"bapak berangkat bu ya.." pamit paman abdul pada istrinya.


"oh iya pak... udah siap berangkat ea.." jawab bibi eva ketika melihat suaminya sudah rapi ingin ke kantor.


"iya bu. Tapi kenapa hari ini ibu yang beres-beres rumah seharusnya zahira. kemana sih anak itu. bisa-bisanya pekerjaannya disuruh bibinya yang lakuin" ujar paman abdul mulai geram melihat tingkah zahira. padahal paman abdul tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"bukan zahira yang nyuruh pak. tapi ibu sendiri yang ingin bantu. kasian pak... sudah capek beres-beres rumah, dia juga harus ke kampus dan kerja juga." jawab bibi eva mencoba memberi pengertian pada suaminya.


Paman abdul memang cepat emosi namun dia juga mudah tersentuh sama halnya dengan istrinya. Mungkin karena faktor ekonomi yang membuatnya selalu marah-marah. Sehingga zahiralah yang selalu jadi sasarannya.


" ya sudah kalau begitu. Tapi ibu jangan terlalu capek juga. Kalau memang gak sanggup suruh saja zahira" ujar paman abdul sambil meraih tas kerjanya.


"iya pak... bentar lagi. Siap ini langsung istirahat" jawab bibi eva


" bapak berangkat dulu ya bu.." pamit paman abdul pada istrinya.


"ya.... hati- hati pak ya.." sahut bibi eva sambil mengantar kepergian suaminya.


Zahira dan laila sudah rapi dengan gaya busana masing-masing. Laila dengan gaya modisnya menampilkan aura cantik dan seksi.


Sedangkan zahira dengan gaya baju yang sopan dan make up yang natural menampilkan aura yang anggun.


"bu.. laila berangkat ea... udah dijemput sama teman..." pamit laila pada ibunya. laila buru-buru lari menuju ke mobil temannya hingga dia lupa salam sama ibunya.


"iya... hati-hati dijalan nak. bila sama beby jangan ngebut ea...." sedikit berteriak karena laila udah jauh darinya.


"iya bu..." teriak laila dari dalam mobil. Dan mereka langsung berangkat kekampus.


Hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adiknya itu. Tapi semua itu wajar karena laila amat dimanja sedari kecil sehingga besarnya dia seperti itu, tidak terlalu memperhatikan keadaan.


"bi... zahira berangkat ke kampus dulu ea.." pamit zahira pada bibinya.


"ya hati-hati nak ya..." jawab bibi.

__ADS_1


"ya... assalamualaikum" sambil menyalami bibinya.


"waalaikumsalam" jawab bibi eva.


Zahira berangkat ke kampus seperti biasanya dijemput oleh abang ojek online. Bibi eva mengantar kepergian zahira. Zahira melambaikan tangan pada bibinya dan dibalas kembali olehnya.


Sesampainya dikampus zahira sudah ditunggu oleh fera dan rahmi. mereka sudah janjian untuk menyusun skripsi bersama.


Mereka sedang asyik berbincang-bincang tiba-tiba putra memanggil zahira dari jauh. Pemandang itu tak lepas dari pandangan laila karena mulai sekarang laila mengawasi zahira dari setiap sudut.


Laila masih tidak percaya dengan janji zahira. Dia takut nanti zahira tergoda dengan perkataan putra dan melupakan janjinya pada laila karena dia tahu betul kalau putra menyukai zahira karena dia memperlakukan zahira sangat istimewa.


"awas saja kau zahira. katanya kamu mau menjauhi kak putra tapi nyatanya apa." gumam laila di dalam hati.


"hy zahira... " panggil putra dari jauh.


Sementara zahira hanya tersenyum manis padanya. Melihat perubahan zahira membuatnya bingung. padahal kemaren mereka masih baik-baik saja.


"hy kak putra... kesini kak" panggil rahmi dengan polosnya.Tanpa tahu apa-apa tentang kejadian kemaren. karena zahira belum menceritakan kejadian kemaren kepada kedua sahabatnya itu.


" jangan dipanggil kesini... rahmi ini buat orang dalam masalah aja" cetus zahira pada rahmi dengan kesalnya.


Kedua sahabatnya hanya tercengang mendengar perkataan zahira. Karena selama ini yang mereka tahu zahira sangat menyukai pribadi lelaki yang ada di depan mereka itu.


"udah ke buru datang orangnya. kek mana tu.." ujar fera pada zahira sambil memberi kode.


"aku gak mau tahu.... kalian harus cari alasan agar kak putra jangan mengikuti kita" kata zahira pada kedua sahabatnya itu dengan kesal. dia takut laila melihat mereka kayak kemaren dan laila akan berbuat nekat lagi.


"tapi kenapa.... kamu ada masalah sama kak putra.." tanya rahmi penasaran.


"oke.... nanti kami coba cari alasannya ya... jangan gugup kek gitu.... nanti kak putra malah curiga." ujar fera lagi menenangkan zahira.


" hy kalian... mau kemana..." tanya putra menghampiri mereka.


"mau ke perpustakaan kak" jawab rahmi seperti biasa tanpa mengundang curiga putra.


"ohhh mau nyusun skripsi ya.." tanyanya lagi.


"iya kak.." jawab fera singkat.


"ya udah, sini aku bantuin buat skripsinya..." menawarkan diri untuk membantu mereka.


"hahaha... gak usahlah kak... biar kami coba sendiri dulu. kalau sering di bantu malah makin bodoh kaminya.." jawab rahmi sekenaknya untuk mengalihkan perhatian putra.


"betul gak mau dibantuin..." tanya putra lagi


"betul kak putra.." jawab rahmi dan fera kompak.


"ya elah kompaknya twin ini...." ujar putra. Namun dia nampak bingung dengan sikap zahira padanya. zahira sedikit pun tidak menjawab perkataannya tadi.


"zahira... kenapa kamu. Dari tadi hanya diam saja" tanya putra penasaran.

__ADS_1


"biasa kak... wanita lagi pms moodnya sering gak bagus." timpal rahmi menutupi kecurigaan putra.


"gak kenapa-kenapa kak" sambung zahira.


"ohhhh pikir kenapa tadi.." balas putra.


"ya sudah kak, kami duluan ya.... bye" ujar rahmi sambil menarik tangan zahira dan buru-buru pergi meninggalkan putra yang sedang bengong melihat tingkah mereka.


laila yang sedari tadi melihat dari jauh pun ikut pergi dari sana. Dia pun sedikit lega karena zahira menepati janjinya untuk menjauhi putra. Dia pun harus bergegas keruangan karena pagi ini dia ada mata kuliah.


sesampainya di perpustakaan mereka bisa bernafas lega. karena putra tidak mengikuti mereka sampai kesini. Akhirnya mereka duduk disudut perpustakaan, dimana tidak ramai mahasiswa disana.


"untung kak putra tidak ngekorin kita..." kata rahmi sambil mengelus dadanya.


"iya mi... kupikir dia pandai.Ternyata bodoh juga ya. Bisa-bisanya dia dibodohi sama kamu" ujar fera sambil mengacukan jempol pada rahmi.


"rahmi gitu loh... muka dewi... jadi semua orang percaya walaupun...." belum habis perkataannya udah ditimpal oleh zahira dan fera.


"boong....hahahaha" ujar mereka sambil ketawa sepuasnya.


"iya sih... kalau rahmi yang bohong gak akan ketahuan. kita aja yang sahabatnya gak tau kapan dia serius" ujar zahira kembali meledeki rahmi.


"betul zahira... ini anak gak pernah serius sedikit pun kalau lagi santai.." sahut fera membenarkan perkataan zahira.


Rahmi hanya dapat memanyunkan mulutnya mendengar ledekan sahabatnya itu. Tiba-tiba rahmi teringat perkataan zahira untuk menjauhi dirinya dengan putra. Tanpa menunggu lama rahmi langsung menanyakan perihal tersebut.


"ya udah... kali ini aku serius... kenapa kamu menghindar dari kak putra..." tanya rahmi penasaran.


" ya elah.. kambuh lagi mis kepo ini.... tapi ada benarnya juga sih... aku juga penasaran" ujar fera sambil memandangi zahira.


"ne anak katain orang kepo. padahal dia kepo juga.. hehehehe.." sahut rahmi cengegesan.


"biarin... zahira coba jelasin sama kami. kenapa kamu gak pernah cerita sama kami." ujar fera yang sedang mencoba mendengar penjelasan sahabatnya itu.


"jadi gini ceritanya. kalian ingatkan waktu kita pulang sama kak putra. Dan aku diantar sampai rumah." tanya zahira.


"ohh ya kemaren. jadi, apa hubungannya...." tanya fera semakin penasaran.


"jadi gini ceritanya" zahira mulai menceritakan kejadian kemaren.


Mulai dari putra mengantarnya kerumah dan disambut hangat oleh bibinya hingga putra pulang. Dan kemudian laila marah besar hingga menganiaya zahira dan mengancam ingin bunuh diri. Sampai pada poin terakhir dimana dirinya harus berjanji untuk menjauhi putra.


Kedua sahabatnya itu tidak bisa menahan air mata mereka. Hati mereka begitu pilu mendengar penderitaan sahabatnya itu.


"zahira.... mengapa nasib mu begitu malang. seandainya aku ada disana pasti akan kuajar perempuan bodoh itu" kata fera dengan isak tangis yang masih terdengar.


" Tapi ada hikmahnya juga kok, sekarang bibi lebih perhatian sama aku" kata zahira sambil membuang nafasnya secara kasar.


"maksudnya gimana ni... bukannya selama ini bibimu gak peduli sama kamu" tanya fera lagi seakan dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"itulah... aku sendiri bingung. sekaligus takut jika nanti perhatiannya ini hanya perhatian semu. Dan aku terlanjurnya nyaman dengan ini semua. aku harus bagaimana fer...." ujar zahira dan mulai meneteskan air matanya lagi. Dia tak sanggup membayangkan jika perlakuan bibinya berubah lagi padanya.

__ADS_1


"ya sudahlah... jangan dipikirkan lagi. seperti yang kamu katakan dulu. Nikmati aja prosesnya kalau dia memberi kita terima kalau tidak yang sudah..." ujar rahmi mencoba menyemangati sahabatnya itu.


" sepertinya aku memang harus seperti itu. aku harus bisa menghadapi semua kemungkinan. bahkan kebencian laila. laila yang udah aku anggap seperti adikku sendiri." sambung zahira lagi yang mencoba menenangkan dirinya lagi.


__ADS_2