KUGAPAI CINTAMU DALAM DOA

KUGAPAI CINTAMU DALAM DOA
Menenangkan diri


__ADS_3

Jauh diujung lorong sana masih terdengar isak tangis. Sekali-kali terdengar umpat rasa marah dan kesal dari sana.


"sudahlah zahira jangan menangis lagi...." bujuk fera mencoba menenangkan zahira.


Zahira masih saja menangis. Air matanya seakan tidak mau berhenti.


"Tapi aku terlanjur sakit hati fer... tak kusangka kak putra bisa berkata seperti itu... lelaki yang kuanggap sebagai panutan ternyata memiliki sikap kasar seperti itu..." tutur zahira.


"iya... aku juga gak nyangka... kok bisa selama ini dia berkedok ustad... padahal hatinya bagaikan bangsat... buaya.. buaya" jawab rahmi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Rahmi kalau ngomong gak pernah disaring.


"apaan sih rahmi..(zahira ketawa melihat tingkah lucu rahmi) orang lagi sedih dia malah ajak bercanda...." sahut zahira sambil menyeka air matanya.


"memang gak tau tempat ne anak... tapi kata rahmi ada benarnya juga za... kok bisa kak putra bersikap kasar seperti tadi..." ujar fera. Dia masih bingung dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Aku juga ngak nyangka... dibalik sifat lembutnya itu... dia bisa sangat kasar pada wanita..." zahira ikut merasa bingung dengan tingkah putra.


"itulah kalian bisa dikadalin...aku juga sih... hehehe.. jadi serem kalau sampai zahira jadian sama putra..." ujar rahmi sambil membayangkan kejadian yang aneh-aneh.


"ehhh... jangan bengong... gak usaha bayangin yang macam-macam" sahut fera sambil menggoyangkan tubuh rahmi.


"kek mana gak bayangin... coba fikir... dia kata...aku sangat mencintai kamu zahira (meniru gaya putra tadi tapi dengan mimik mengejek) tapi dia berbuat kasar sama zahira.... hello buaya... kalau cinta... gak akan nyakiti... dasar buaya bego.." ujar rahmi. Dia sangat kesal sama putra karena menyakiti fisik sahabatnya itu.


"ya udahlah... jangan dibahas lagi.... pusing aku bilang ingat kejadian tadi... pulang aja yuk..." pita zahira.


"ya.. gak serulah kalau pulang terus... bagaimana kalau kita main ke mall dulu... lumayan cuci mata sama otak yang lagi ngeblank.." ujar rahmi.


"ayok... tumben otaknya encer... biasanya lambat loadingnya..." sahut fera.


"yeee.... memang otak aku encer cuma kemaren-kemaren males aja pakai nya..." balas rahmi. Dia tidak terima kalau dibilang bodoh.


Terdengar suara tawa dari zahira dan fera. Mereka meranjak pergi dari sana. sekali-sekali terdengar kelak tawa sahabat itu.


Di mall sangat ramai. Terlihat sekali banyak keluarga lagi bersantai disana. Ada keluarga senang main game dan ada juga yang sedang berbelanja.


Hampir 2 jam lebih mereka berkeliling di mall. Namun tidak satu baju pun yang menarik perhatian mereka hingga mereka kelelahan sendiri.


"udah ah... capek kita keliling-keliling terus... istirahat dulu yuk... kaki aku dah mau patah rasanya..." pita zahira sambil mencari tempat duduk.


"ya udah... kita masuk restaurant itu aja yuk.. sekalian makan siang... tenang aja aku traktir deh..." ujar fera.


"asyik.... (menggandeng tangan zahira) ayok... kita makan-makan... dari tadi kek ajaknya... kan enak.." ujar rahmi dengan nada kesenangan karena ditraktir makan.

__ADS_1


"huhuuu ratu makanan.... dengar makanan aja dah bahagia banget hidupnya..." ejek zahira sambil memainkan dagu rahmi.


"ya iyalah... makan aja udah bahagia... apa lagi ditraktir... ngak akan pernah nolak lah.... " sahut rahmi.


Rahmi tidak peduli dengan ejekkan mereka. Asalkan makan apapun boleh dikatakan buat dia.


"aku duduk sini ya...." rahmi mengambil kursi paling pojok.


"ya udah... kalian mau pesan apa..." tanya fera.


mereka melihat- lihat menu makanan. Dan akhirnya memesan makanan yang mereka suka.


"mbak.... kami pesan ini...ini sama ini ya..." ujar fera sama pelayan disana sambil menunjukkan menu makanan pilihan mereka.


"baik mbak... kalau minumnya apa mbak..." tanya pelayan tersebut.


" Orenga jus tiga ya..." jawab rahmi.


"baik mbak... tunggu sebentar ya..." pelayan itu pun berlalu meninggalkan mereka.


"zahira... kamu ada lihat laila tadi...." tanya rahmi dengan keponya.


"laila... gak tuh... emangnya dia ada sini sekarang..." tanya zahira sambil celingukan mencari laila.


"ya ampun.... mati aku... berarti laila melihat semua kejadian tadi... padahal aku udah sebisa mungkin menghindar..." jawab zahira yang udah mulai panik. Dia takut nanti laila akan berbuat nekat lagi seperti tempo dulu.


"iya.. dari pas kak putra menarik kamu sampai semuanya lah....." ujar rahmi lagi.


"rahmi jangan bikin panik zahira dong... kalau cerita yang lengkap.. jangan setengah-setengah..." ujar fera merasa geram sama cerita rahmi.


"betul kata fera.... kalau memang kamu ada lihat laila tadi... kenapa gak kasih tahu aku... setidaknya kode kek... ataupun kamu bisa narik aku berjauh dari kak putra... tapi kamu malah diam aja.. kenapa..." kata zahira kesal.


"sengaja..." sahut rahmi santai sambil meminum jus dengan santainya.


"ne anak minta dihajar kayaknya... orang lagi serius dia malah ajak bercanda..." zahira udah semakin geram sama tingkah rahmi.


"rahmi.... jangan bercanda lah...." ujar fera yang sedari tadi juga geram melihat kelakuan rahmi. Dia mrnarik minuman rahmi.


"Huahahaha... santai aja kali... kenapa panik begitu..." ujar rahmi sambil ketawa melihat muka kedua sahabatnya yang lagi panik.


"Rahmi... serius ne... kamu mau kalau aku pulang dari sini dah tuh besoknya lagi aku tinggal nama... mau kamu begitu..." teriak zaharia dengan kesalnya.

__ADS_1


"sebenarnya kamu ada lihat laila apa enggak sih... jangan bikin bingunglah..." ujar fera.


"baiklah...baiklah... jadi kek gini ceritanya... laila ikuti kita sampai kesudut lorong.... awalnya mau kasih tahu kamu tapi melihat laila tidak bertindak seperti biasanya makanya aku biarin..." kata rahmi.


"Terus... kenapa dia gak nyamperin kita..." ujar laila bingung.


"aku juga gak tahu... aku tahu zahira akan menolak kak putra makanya aku biarin aja si laila tu mendengar semuanya biar gak salah paham terus sama zahira..." ujar rahmi lagi.


"tumben ne anak pintar... terus..." sahut fera.


"terus...terus... nanti malah nabrak kalau keterusan..." balas rahmi mengolok fera


"serius rahmi... udah tu bagaimana ekpresi laila... kesal atau marah...." tanya zahira penasaran.


"awalnya nampak kesel sih... tapi pas kamu nolak kak putra mentah-mentah nampaknya dia sedikit lega... tadi aku lihat di tersenyum lega begitu..." ujar rahmi.


"mudah-mudahan dia gak marah sama aku... kalau sampai dia marah habislah aku... masak baru sebentar aku merasa tenang masak harus huru hara lagi..." kata zahira sambil memanyunkan bibirnya.


"kayaknya gak bakalan marah dia sama kamu... toh kamu udah tepati janji kamu sama dia. Jadi masalahnya dimanalagi..." sahut fera mencoba menenangkan zahira.


"iya.. aku tahu... tapi bagaimana aku menjelaskan pada laila nanti soal kejadian tadi..." tanya zahira. Dia bingung kalau harus berurusan dengan laila.


"zahira sayang.... jangan katakan apapun... kamu bersikap biasa aja. seolah-olah kamu tidak tahu kalau laila mengikuti mu tadi..." ujar rahmi.


"betul tuh kata rahmi... kamu diam aja..." sambung fera.


"diam aja kalau dia gak nanya... kalau laila bikin ulah bagaimana..." ujar zahira lagi.


"ya jelasin aja apa adanya... itu aja di bikin repot... dan tekankan sama dia kalau kamu udah menepati janji... soal putra itu bukan urusan kamu..." kata rahmi geram.


" tumben ne anak otaknya encer... biasanya gak pernah ada solusi..." balas fera.


"hehehe.... aku juga heran.... ini kemajuan yang luar biasa...." ujar rahmi sambil cengengesan.


"Betul juga kata rahmi... yang penting aku udah nepati janji aku... soal kak putra suka sama aku... itu bukan salah aku kan... aku gak bisa paksain hati orang untuk berpaling begitu saja...." tutur zahira mencoba mencari pembenaran.


"iyalah za... kalau memang laila ngamuk... berarti dia itu yang salah... harus diingati..." sambung fera lagi.


iya... kamu benar fer... ya udah... kita pulang aja yok... udah sore ni.... aku udah capek juga..." jawab zahira


"iya... yok pulang..." jawab mereka serentak.

__ADS_1


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang setelah melalui semua kejadian yang melelahkan tadi.


Terutama zahira yang masih panim karena laila melihat kejadian tadi. Dia hanya bisa berharap agar sepupunya itu dapat berpikir secara logis. Jangan sampai laila dibutakan cinta sehingga melampiaskan semuanya kepada zahira.


__ADS_2