Kurir

Kurir
BAB 1 : TEROR HANTU KURIR WANITA


__ADS_3

“Mbak ...


Ada paket ...


Tolong diterima ... “


Suara itu terdengar mengambang dan hampa diiringi dengan


ketukan pintu rumahku. Aroma harum membuatku yang tengah tertidur tergugah dan


asalnya dari ruang tamu.


Saat aku membuka pintu depan, tampak sosok wanita


bertubuh kecil ditutupi baju kurir berwarna merah compang – camping berdiri


sambil menyerahkan sebuah bungkusan berwarna hitam.  Aku menatap wajahnya yang tertunduk, tapi,


eiger abu – abu menutup sebagian wajahnya.


“Terima kasih, mbak... kalau boleh tahu siapa nama Anda ?”  tanyaku.


“Fera. Terima kasih sudah menerimanya. Masih banyak


barang yang harus diantar, saya mohon diri dulu,” kembali dia berkata dengan


suara mengambang, tubuhnya menghilang di kelokan.


“Kring,”


Suara telepon mengejutkanku, buru – buru aku menyambar


telepon dan terdengar suara dari seberang sana.


“Hallo, mbak Raisa, ya ?”


“Benar. Kalau boleh tahu ini dari siapa ?”


“Maaf, mbak... ini Ella dari kantor  Ok Go, paketnya baru bisa diantar besok,


soalnya ban sepeda motor saya pecah,”


“Lho, paketnya sudah saya terima, mas. Ini baru saja


diantar oleh Mbak Fera,”


"Fera ? Seingat saya di perusahaan kami tak ada kurir wanita bernama


Fera, mbak. Mungkin salah alamat,"


"Tidak, mas. Paket sudah saya terima dan saya sudah menanda tangani


berkasnya. Dan, belum saya buka," ujarku.


"Maaf, mbak Raisa ... kalau boleh tahu, bagaimana ciri-ciri wanita


itu?"


"Pakaian yang dikenakan persis seperti pakaian kurir dari ekspedisi Ok


Go, hanya saja agak Kumal dan compang-camping. Saya tidak bisa melihat wajah


wanita itu karena tertutup oleh topi Eigernya dan kulitnya tampak pucat, El.


Kalau memang tak ada kurir wanita yang bernama Fera itu, lantas dia siapa, El ?"


***


Aku terbangun, mendapati diriku tengah berada di sebuah tanah lapang yang


cukup luas. Sebuah tempat yang cukup asing, kering kerontang, sejauh mata


memandang yang tampak hanyalah tanah-tanah tandus, banyak rekahan disana-sini


bak sawah kering di musim kemarau.


Pakaian yang ia kenakan terdapat bercak-bercak darah yang mengering. Bau


amis, apek dan busuk membuat perutku mual. Buru-buru pakaian tersebut dilepas


dan baru sadar bahwa pakaian tersebut berwarna oranye dengan emblem Ok Go di


dada sebelah kiri. Bau kurang sedap itu makin menggelitik hidung, refleks


kubuang baju itu jauh-jauh.


"Mengapa aku ada di


tempat ini sambil mengenakan pakaian kurir ?"


Tanyaku sambil melangkah menyusuri tempat itu berharap segera pergi dari


tempat asing ini, namun pemandangan yang tersaji selalu sama, tanah gersang dan


tandus. Setelah sekian lama berjalan, aku bagaikan seekor tupai yang berlari


dalam kandangnya, tak bisa kemana-mana. Baju kurir itu adalah tanda


satu-satunya.


“Sial, apa sebenarnya yang terjadi,” umpatku. Baru saja menutup mulut,


sepasang mataku terbelalak, baju kurir yang kubuang mendadak bergerak.


Dari dalam baju bagian leher perlahan-lahan menyembul keluar sebuah benda


hitam. Astaga, itu adalah kepala manusia, berambut hitam panjang dan kusut.


Menyusul kemudian sepasang tangan berkulit putih pucat keluar dari baju bagian


lengan. Yah, kini baju itu dikenakan oleh sesosok tubuh wanita yang berlumuran


darah. Tubuh itu diam tak bergerak, jantungku berdegup kencang, bau busuk


menguar dari tubuh tersebut.


Aku tak lepas memandangnya, terlebih saat tubuh tersebut mendadak bergerak


perlahan, kedua lututku lemas manakala sosok wanita berpakaian kurir itu

__ADS_1


berjalan merangkak menghampirinya. Aku mundur beberapa tindak, tubuhku bergetar


hebat sekali, "Si... siapa, kau.... ?" tanyaku.


Sosok itu tidak menjawab, dari sela-sela rambutnya yang hitam, kusut,


panjang, dan tergerai, muncul sepasang cahaya merah, tajam menusuk, ia membuka


mulutnya dan memuntahkan cairan berwarna putih bercampur belatung, cacing,


kelabang, kalajengking, kecoak dan hewan-hewan melata lain ke wajahku. Aku


histeris, paling jijik dengan hewan-hewan seperti itu. Sosok itu perlahan –


lahan menghilang, manakala mendapati diriku sudah berada di kamar tidurku. Bau aneh


itu masih kurasakan, mengaduk-aduk seisi perutku terlebih mengingat saat


hewan-hewan menjijikkan itu merayapi permukaan kulit wajah dan sekujur tubuhku.


Ingin aku muntah tapi seakan terhenti di ulu hati dan kerongkongan.


Mimpi Buruk itu hadir saat aku baru saja memejamkan mata, sepanjang malam,


menghantui dan mengganggu tidurku atau bahkan saat hendak memejamkan mata walau


hanya sebentar saja.


***


Malam itu, cahaya purnama tampak bagaikan emas, langit


begitu cerah. Kabut tipis yang turun dari Gunung penanggungan, menyebar ke


kaki-kaki gunung, menyelimuti barisan pohon randu yang berdiri berjejer laksana


barisan prajurit raksasa menjaga pintu masuk perbatasan 2 kota besar di Jawa


Timur ( Mojokerto dan Pasuruan )


Di sebuah warung makan, 2 orang laki-laki duduk santai


dengan ditemani 2 cangkir kopi dan satu piring berisi beberapa makanan ringan


plus 1 pak rokok kretek. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali menyesap


kopinya. Seorang bertubuh gempal berambut gondrong dan yang seorang lagi


bertubuh pendek, berambut keriting. Dialah Choirul atau sering disebut Irul.


Saat hari menjelang tengah malam, mereka meninggalkan


warung itu dan berpisah di tikungan jalan.


Suara knalpot Bronx dari sepeda motor Irul terdengar


memekakkan telinga menerobos jalanan yang sepi dan lengang. Mendadak ia


menghentikan sepeda motornya manakala sebuah ada sebuah sepeda motor lain


menghadang jalannya. Sepeda motor itu diparkir melintang di badan jalan yang


sempit, wajah Irul merah padam... si empunya sepeda tersebut tak kelihatan


"Tin, tin, tin, ttttiiiinnnn,"


Bunyi klakson berkumandang, bergema begitu kerasnya


sehingga seakan terdengar di segala penjuru. Tapi, sekeras apapun klakson


dibunyikan, tak menunjukkan adanya kehidupan di sekitar tempat itu.


"Brengsek ! Akan kutabrak saja sepeda motor


itu," umpat Irul sambil menginjak pedal gas keras-keras. Sepeda motornya


meluncur bak anak panah dan ia terkejut sepeda motor yang melintang di jalan


mendadak lenyap. Irul tidak dapat mengendalikan sepeda motornya dan


"Bbrruuaakk..."


Terdengar suara 2 benda keras beradu, moncong sepeda


motor Irul melesak ke dalam sebuah badan pohon randu yang cukup besar, tubuh


Irul terlempar dan dadanya membentur sebuah batu darah segar menyembur keluar


dari mulutnya. Ia tidak sempat mengaduh, berteriak, tulang dadanya hancur.


Tampak sesosok bayangan berjalan mendekati Irul. Sepasang


mata Irul terbelalak melihat pemilik bayangan itu.


Ia adalah seorang kurir wanita, sebagian wajahnya


tertutup oleh topi Eiger berwarna coklat bercampur dengan bercak-bercak merah


kehitaman.


"Mas ....


Ada kiriman paket....


tolong diterima....."


Suara itu seakan menggema; datar, hampa dan dingin di


telinga Irul, sepersekian detik kemudian, ia merasakan mulutnya dibuka secara


paksa. Sebuah plastik berisi serbuk-serbuk putih bak kristal dijejalkan ke


dalam, setelah itu pandangannya gelap, tubuhnya terkulai lemas dan tidak


bergerak-gerak lagi ....


Bayangan wanita berpakaian kurir itu seakan hilang


ditelan bumi, keadaan kembali sunyi dan lengang.

__ADS_1


***


Gunawan, laki – laki plotos, jangkung dan tinggi itu


berjalan memasuki rumahnya. Ia menghela nafas panjang sejenak. Ia mengambil


sebatang rokok, api mulai membakar bagian ujung saat ia menghisap rokok


tersebut dan menghembuskannya ke udara. Asap rokok segera merebak, menyebar


memenuhi ruangan depan untuk kemudian bercampur baur dengan kabut tipis dan


angin malam yang dingin. Sesaat lamanya ia menatap langit – langit, ada banyak


hal melintas di benaknya. Hingga akhirnya sebuah ketukan pada pintu depan


diiringi suara mengambang, hampa dan dingin.


“Mas....


ada paket ....


tolong diterima ....”


Suara itu membuat Gunawan terkejut, ia bangkit berdiri


dan berjalan ke arah pintu depan.


“Kkrriieetthh ...”


Pintu terbuka, Gun tidak mendapati siapa – siapa di luar.


Ia menggeleng – gelengkan kepala, “Dasar iseng,” gumamnya sambil menutup pintu


dan kembali melangkah masuk. Sepasang matanya terbelalak saat melihat sebuah


bungkusan plastik berisikan bubuk putih, “Siapa yang menaruh barang ini


sembarangan,” katanya sambil meraih bungkusan itu untuk disimpan ke dalam


locker, “Lho, locker ini tetap terkunci rapat, lalu ini kepunyaan siapa ?


Seingatku aku tak mengeluarkannya sembarangan.  Jika Tuan Muda Zein mengetahuinya, dia pasti membunuhku,”


“Mas....


ada paket ....


tolong diterima ....”


Ini yang kedua kalinya, suara itu sepertinya berada di


dekat Gunawan, dari arah belakang. Tapi, kembali ia tidak mendapati siapapun,


“Siapa itu ?” tanyanya. Tak ada jawaban dan dari ujung lorong sebuah benda


kecil berwarna kuning menggelinding dan terhenti tepat di kakinya. Sebuah


cincin emas bermata merah delima, persis cincin miliknya. Bersamaan dengan itu


tercium bau harum, bau yang berasal dari kamarnya.


Pintu kamar terbuka, bau itu makin menyengat, seperti bau


bunga melati dan Gun tersentak seorang wanita duduk di tepi pembaringan. Ia


mengenakan pakaian coklat tua, pakaian khas kurir Ok Go dan mengenakan topi


Eiger berwarna coklat kemerahan.


Gun menggosok-gosok kedua belah matanya, seakan tak


mempercayai pandangan matanya.


"Siapa, kau ?" tanyanya kemudian.


Tak ada jawaban, wanita itu diam. Tubuhnya bagaikan


sebuah patung, mendadak saja bau harum itu semakin menyengat, sepersekian detik


kemudian bau itu berangsur-angsur berubah menjadi busuk, perut pria itu serasa


diaduk-aduk.


Jari jemari Gun bergerak hendak menyentuh badan wanita


itu. Tapi, telinganya mendengar suara aneh seperti gemerantak tulang dan kepala


wanita yang menunduk itu perlahan-lahan terangkat, bergerak ke kiri dan terus


bergerak ke belakang.


"Krak,"


Kepala wanita itu berputar 180 derajat ke belakang. Gun


berteriak histeris manakala sepasang cahaya merah menyorot tajam diantara


bayangan topi yang sebagian menutup wajahnya.


“Mas....


ada paket ....


tolong diterima ....”


Kali ketiga suara itu bergema sementara wanita itu


berdiri dan berjalan menghampiri sementara tangannya menggapai-gapai hendak


memegang Gun yang masih histeris. Pria itu bergerak menjauh namun kedua kakinya


serasa lemas, iapun jatuh terduduk.


Teriakannya seakan terhenti di kerongkongan manakala,


bubuk-bubuk putih masuk ke dalam mulutnya. Sepasang matanya terbelalak, bola


matanya bergerak ke atas saat busa putih keluar dari mulutnya dan wajahnya

__ADS_1


membiru. Saat itu juga, rohnya terlepas dari raganya.


***


__ADS_2