
“Mbak ...
Ada paket ...
Tolong diterima ... “
Suara itu terdengar mengambang dan hampa diiringi dengan
ketukan pintu rumahku. Aroma harum membuatku yang tengah tertidur tergugah dan
asalnya dari ruang tamu.
Saat aku membuka pintu depan, tampak sosok wanita
bertubuh kecil ditutupi baju kurir berwarna merah compang – camping berdiri
sambil menyerahkan sebuah bungkusan berwarna hitam. Aku menatap wajahnya yang tertunduk, tapi,
eiger abu – abu menutup sebagian wajahnya.
“Terima kasih, mbak... kalau boleh tahu siapa nama Anda ?” tanyaku.
“Fera. Terima kasih sudah menerimanya. Masih banyak
barang yang harus diantar, saya mohon diri dulu,” kembali dia berkata dengan
suara mengambang, tubuhnya menghilang di kelokan.
“Kring,”
Suara telepon mengejutkanku, buru – buru aku menyambar
telepon dan terdengar suara dari seberang sana.
“Hallo, mbak Raisa, ya ?”
“Benar. Kalau boleh tahu ini dari siapa ?”
“Maaf, mbak... ini Ella dari kantor Ok Go, paketnya baru bisa diantar besok,
soalnya ban sepeda motor saya pecah,”
“Lho, paketnya sudah saya terima, mas. Ini baru saja
diantar oleh Mbak Fera,”
"Fera ? Seingat saya di perusahaan kami tak ada kurir wanita bernama
Fera, mbak. Mungkin salah alamat,"
"Tidak, mas. Paket sudah saya terima dan saya sudah menanda tangani
berkasnya. Dan, belum saya buka," ujarku.
"Maaf, mbak Raisa ... kalau boleh tahu, bagaimana ciri-ciri wanita
itu?"
"Pakaian yang dikenakan persis seperti pakaian kurir dari ekspedisi Ok
Go, hanya saja agak Kumal dan compang-camping. Saya tidak bisa melihat wajah
wanita itu karena tertutup oleh topi Eigernya dan kulitnya tampak pucat, El.
Kalau memang tak ada kurir wanita yang bernama Fera itu, lantas dia siapa, El ?"
***
Aku terbangun, mendapati diriku tengah berada di sebuah tanah lapang yang
cukup luas. Sebuah tempat yang cukup asing, kering kerontang, sejauh mata
memandang yang tampak hanyalah tanah-tanah tandus, banyak rekahan disana-sini
bak sawah kering di musim kemarau.
Pakaian yang ia kenakan terdapat bercak-bercak darah yang mengering. Bau
amis, apek dan busuk membuat perutku mual. Buru-buru pakaian tersebut dilepas
dan baru sadar bahwa pakaian tersebut berwarna oranye dengan emblem Ok Go di
dada sebelah kiri. Bau kurang sedap itu makin menggelitik hidung, refleks
kubuang baju itu jauh-jauh.
"Mengapa aku ada di
tempat ini sambil mengenakan pakaian kurir ?"
Tanyaku sambil melangkah menyusuri tempat itu berharap segera pergi dari
tempat asing ini, namun pemandangan yang tersaji selalu sama, tanah gersang dan
tandus. Setelah sekian lama berjalan, aku bagaikan seekor tupai yang berlari
dalam kandangnya, tak bisa kemana-mana. Baju kurir itu adalah tanda
satu-satunya.
“Sial, apa sebenarnya yang terjadi,” umpatku. Baru saja menutup mulut,
sepasang mataku terbelalak, baju kurir yang kubuang mendadak bergerak.
Dari dalam baju bagian leher perlahan-lahan menyembul keluar sebuah benda
hitam. Astaga, itu adalah kepala manusia, berambut hitam panjang dan kusut.
Menyusul kemudian sepasang tangan berkulit putih pucat keluar dari baju bagian
lengan. Yah, kini baju itu dikenakan oleh sesosok tubuh wanita yang berlumuran
darah. Tubuh itu diam tak bergerak, jantungku berdegup kencang, bau busuk
menguar dari tubuh tersebut.
Aku tak lepas memandangnya, terlebih saat tubuh tersebut mendadak bergerak
perlahan, kedua lututku lemas manakala sosok wanita berpakaian kurir itu
__ADS_1
berjalan merangkak menghampirinya. Aku mundur beberapa tindak, tubuhku bergetar
hebat sekali, "Si... siapa, kau.... ?" tanyaku.
Sosok itu tidak menjawab, dari sela-sela rambutnya yang hitam, kusut,
panjang, dan tergerai, muncul sepasang cahaya merah, tajam menusuk, ia membuka
mulutnya dan memuntahkan cairan berwarna putih bercampur belatung, cacing,
kelabang, kalajengking, kecoak dan hewan-hewan melata lain ke wajahku. Aku
histeris, paling jijik dengan hewan-hewan seperti itu. Sosok itu perlahan –
lahan menghilang, manakala mendapati diriku sudah berada di kamar tidurku. Bau aneh
itu masih kurasakan, mengaduk-aduk seisi perutku terlebih mengingat saat
hewan-hewan menjijikkan itu merayapi permukaan kulit wajah dan sekujur tubuhku.
Ingin aku muntah tapi seakan terhenti di ulu hati dan kerongkongan.
Mimpi Buruk itu hadir saat aku baru saja memejamkan mata, sepanjang malam,
menghantui dan mengganggu tidurku atau bahkan saat hendak memejamkan mata walau
hanya sebentar saja.
***
Malam itu, cahaya purnama tampak bagaikan emas, langit
begitu cerah. Kabut tipis yang turun dari Gunung penanggungan, menyebar ke
kaki-kaki gunung, menyelimuti barisan pohon randu yang berdiri berjejer laksana
barisan prajurit raksasa menjaga pintu masuk perbatasan 2 kota besar di Jawa
Timur ( Mojokerto dan Pasuruan )
Di sebuah warung makan, 2 orang laki-laki duduk santai
dengan ditemani 2 cangkir kopi dan satu piring berisi beberapa makanan ringan
plus 1 pak rokok kretek. Mereka bercakap-cakap sambil sesekali menyesap
kopinya. Seorang bertubuh gempal berambut gondrong dan yang seorang lagi
bertubuh pendek, berambut keriting. Dialah Choirul atau sering disebut Irul.
Saat hari menjelang tengah malam, mereka meninggalkan
warung itu dan berpisah di tikungan jalan.
Suara knalpot Bronx dari sepeda motor Irul terdengar
memekakkan telinga menerobos jalanan yang sepi dan lengang. Mendadak ia
menghentikan sepeda motornya manakala sebuah ada sebuah sepeda motor lain
menghadang jalannya. Sepeda motor itu diparkir melintang di badan jalan yang
sempit, wajah Irul merah padam... si empunya sepeda tersebut tak kelihatan
"Tin, tin, tin, ttttiiiinnnn,"
Bunyi klakson berkumandang, bergema begitu kerasnya
sehingga seakan terdengar di segala penjuru. Tapi, sekeras apapun klakson
dibunyikan, tak menunjukkan adanya kehidupan di sekitar tempat itu.
"Brengsek ! Akan kutabrak saja sepeda motor
itu," umpat Irul sambil menginjak pedal gas keras-keras. Sepeda motornya
meluncur bak anak panah dan ia terkejut sepeda motor yang melintang di jalan
mendadak lenyap. Irul tidak dapat mengendalikan sepeda motornya dan
"Bbrruuaakk..."
Terdengar suara 2 benda keras beradu, moncong sepeda
motor Irul melesak ke dalam sebuah badan pohon randu yang cukup besar, tubuh
Irul terlempar dan dadanya membentur sebuah batu darah segar menyembur keluar
dari mulutnya. Ia tidak sempat mengaduh, berteriak, tulang dadanya hancur.
Tampak sesosok bayangan berjalan mendekati Irul. Sepasang
mata Irul terbelalak melihat pemilik bayangan itu.
Ia adalah seorang kurir wanita, sebagian wajahnya
tertutup oleh topi Eiger berwarna coklat bercampur dengan bercak-bercak merah
kehitaman.
"Mas ....
Ada kiriman paket....
tolong diterima....."
Suara itu seakan menggema; datar, hampa dan dingin di
telinga Irul, sepersekian detik kemudian, ia merasakan mulutnya dibuka secara
paksa. Sebuah plastik berisi serbuk-serbuk putih bak kristal dijejalkan ke
dalam, setelah itu pandangannya gelap, tubuhnya terkulai lemas dan tidak
bergerak-gerak lagi ....
Bayangan wanita berpakaian kurir itu seakan hilang
ditelan bumi, keadaan kembali sunyi dan lengang.
__ADS_1
***
Gunawan, laki – laki plotos, jangkung dan tinggi itu
berjalan memasuki rumahnya. Ia menghela nafas panjang sejenak. Ia mengambil
sebatang rokok, api mulai membakar bagian ujung saat ia menghisap rokok
tersebut dan menghembuskannya ke udara. Asap rokok segera merebak, menyebar
memenuhi ruangan depan untuk kemudian bercampur baur dengan kabut tipis dan
angin malam yang dingin. Sesaat lamanya ia menatap langit – langit, ada banyak
hal melintas di benaknya. Hingga akhirnya sebuah ketukan pada pintu depan
diiringi suara mengambang, hampa dan dingin.
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Suara itu membuat Gunawan terkejut, ia bangkit berdiri
dan berjalan ke arah pintu depan.
“Kkrriieetthh ...”
Pintu terbuka, Gun tidak mendapati siapa – siapa di luar.
Ia menggeleng – gelengkan kepala, “Dasar iseng,” gumamnya sambil menutup pintu
dan kembali melangkah masuk. Sepasang matanya terbelalak saat melihat sebuah
bungkusan plastik berisikan bubuk putih, “Siapa yang menaruh barang ini
sembarangan,” katanya sambil meraih bungkusan itu untuk disimpan ke dalam
locker, “Lho, locker ini tetap terkunci rapat, lalu ini kepunyaan siapa ?
Seingatku aku tak mengeluarkannya sembarangan. Jika Tuan Muda Zein mengetahuinya, dia pasti membunuhku,”
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Ini yang kedua kalinya, suara itu sepertinya berada di
dekat Gunawan, dari arah belakang. Tapi, kembali ia tidak mendapati siapapun,
“Siapa itu ?” tanyanya. Tak ada jawaban dan dari ujung lorong sebuah benda
kecil berwarna kuning menggelinding dan terhenti tepat di kakinya. Sebuah
cincin emas bermata merah delima, persis cincin miliknya. Bersamaan dengan itu
tercium bau harum, bau yang berasal dari kamarnya.
Pintu kamar terbuka, bau itu makin menyengat, seperti bau
bunga melati dan Gun tersentak seorang wanita duduk di tepi pembaringan. Ia
mengenakan pakaian coklat tua, pakaian khas kurir Ok Go dan mengenakan topi
Eiger berwarna coklat kemerahan.
Gun menggosok-gosok kedua belah matanya, seakan tak
mempercayai pandangan matanya.
"Siapa, kau ?" tanyanya kemudian.
Tak ada jawaban, wanita itu diam. Tubuhnya bagaikan
sebuah patung, mendadak saja bau harum itu semakin menyengat, sepersekian detik
kemudian bau itu berangsur-angsur berubah menjadi busuk, perut pria itu serasa
diaduk-aduk.
Jari jemari Gun bergerak hendak menyentuh badan wanita
itu. Tapi, telinganya mendengar suara aneh seperti gemerantak tulang dan kepala
wanita yang menunduk itu perlahan-lahan terangkat, bergerak ke kiri dan terus
bergerak ke belakang.
"Krak,"
Kepala wanita itu berputar 180 derajat ke belakang. Gun
berteriak histeris manakala sepasang cahaya merah menyorot tajam diantara
bayangan topi yang sebagian menutup wajahnya.
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Kali ketiga suara itu bergema sementara wanita itu
berdiri dan berjalan menghampiri sementara tangannya menggapai-gapai hendak
memegang Gun yang masih histeris. Pria itu bergerak menjauh namun kedua kakinya
serasa lemas, iapun jatuh terduduk.
Teriakannya seakan terhenti di kerongkongan manakala,
bubuk-bubuk putih masuk ke dalam mulutnya. Sepasang matanya terbelalak, bola
matanya bergerak ke atas saat busa putih keluar dari mulutnya dan wajahnya
__ADS_1
membiru. Saat itu juga, rohnya terlepas dari raganya.
***