Kurir

Kurir
BAB 3 : FERA BUDI UTAMI


__ADS_3

Aku terbangun, saat terdengar pintu kamar diketuk-ketuk


"Ada apa, Bu ?" tanyaku.


"Ada seorang laki-laki setengah tua ingin bertemu


dengan mu, nak,"


"Laki-laki? Siapa dia ?"


"Entahlah, ibu pikir dia adalah salah satu teman


misterius mu,"


"Siapa namanya, Bu ?"


"Dia tak ingin menyebutkan namanya, dia hanya bilang


ingin bertemu denganmu karena ada hal yang ingin disampaikan. Tapi, karena kau


tak mengenalnya, ibu akan menyuruh nya pergi,"


"Jangan, Bu... Baiklah, akan kutemui dia,"


"Berhati-hatilah, nak... Ibu khawatir dia akan


berbuat buruk padamu,"


"Bu, saya sudah berumur 28 tahun, nyaris 30 jadi


saya bisa menjaga diri. Tapi, baiklah saya akan berhati-hati," tawaku.


***


Seorang pria paruh baya, berdiri di ruang depan, seandainya


tanpa tongkat besi berwarna hitam setinggi pinggang, laki-laki itu tak mungkin


bisa berdiri dengan tegak, karena pada tulang lutut kanannya seakan tak mampu


menjadi penyangga tubuhnya yang agak gemuk itu. Melihat kedatanganku, laki-laki


itu tersenyum ramah.


"Aku rasanya pernah bertemu dengan laki-laki itu,


tapi, dimana, ya ?" tanyaku seorang diri, "Maaf, pak... Kalau boleh


tahu siapa bapak, seingat saya kita tidak pernah bertemu," kataku sambil


mempersilahkan orang itu duduk.


Laki-laki paruh baya itu tersenyum ramah, "Iya, nak


tidak apa-apa... Kita memang tidak pernah bertemu satu sama lain, tapi, Fera


anak angkatku mengenalmu sebelum kau mengenalnya,"


"Maaf, pak... Saya tidak mengerti dengan perkataan


Anda,"


"Baiklah... Bisakah kau ikut aku keluar barang


sebentar saja ? Ada yang ingin kusampaikan padamu. Ini berkaitan dengan


paket-paket misterius yang kau terima tapi, paket itu kosong,"


***


Gazebo berukuran 3x5 M² itu berdiri di bawah sebuah pohon


yang rindang, letaknya tak jauh dari rumah utama. Disitulah laki-laki paruh


baya itu duduk sambil meluruskan kaki kanannya pada dipan, melihat


kedatanganku, ia tersenyum dan menurunkan kakinya. Raisa membalas senyumannya


dengan ramah untuk kemudian duduk di hadapan pria yang ternyata bernama Soepomo


itu.


"Terima kasih atas kesediaan Mbak Raisa menemui


saya," kata Soepomo.


"Bapak berkata, bahwa kurir wanita itu mengenal


saya, padahal saya tidak mengenalnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?"


tanyaku.


"Iya, memang tidak masuk akal, tidak bisa diterima


dengan nalar. Ketahuilah, setiap orang yang meninggal tidak wajar, dia hanya


bisa mengingat hal terakhir kali sebelum ia meninggal," jelas Pak Pomo.


"Saya tidak mengerti, pak..."


"Logikanya seperti ini... Otak manusia menggerakkan


semua yang ada di dalam raga, jika kau ingin minum, maka, kau pasti mencari air


untuk menghilangkan dahaga. Jika kita lapar, maka, kita mencari sesuatu untuk


kita makan demi menghilangkan lapar di perut. Nah, seorang kurir memiliki


tanggung jawab untuk mengirim barang milik orang yang bersangkutan, jika


tugasnya belum selesai, maka, ia takkan berhenti bekerja; apapun yang terjadi,


paket itu harus sampai ke tempat tujuan," jelas Soepomo.


Setelah berkata demikian, laki-laki itu menatap lurus ke


depan. Tatapannya tampak sayu, jelas ada perasaan duka yang mendalam berkecamuk


di dalam dirinya.


Soepomo mulai bercerita tentang asal-usul kurir wanita


yang bernama Fera itu.


***

__ADS_1


Semenjak covid 19 merebak di berbagai negara, dunia


serasa lumpuh. Sosial, politik, ekonomi dan budaya pun terkena imbasnya.


Semuanya seakan mati. Indonesia pun tak luput dari bencana yang mematikan itu.


Orang yang biasanya kerja, harus berdiam di rumah selama


berhari-hari, sementara kebutuhan perut hampir tidak pernah bisa berhenti. Maka


mau tidak mau mereka harus dituntut untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan


hidup.


Pada masa-masa sulit itu, bisnis online mulai naik daun


hingga sekarang. Semua serba instan, salah satunya adalah perusahaan jasa


ekspedisi. Tanpa kurir, perusahaan tersebut tidak akan berjalan, demikian pula


sebaliknya, tanpa adanya perusahaan ekspedisi, seorang kurir bagaikan bunga di


tepi jalan yang sewaktu - waktu bisa berubah menjadi sampah, sementara,


kebutuhan hidup makin meningkat.


Pernyataan di atas adalah realita kehidupan yang hampir


terjadi setiap detik. Mungkin bagi orang-orang tertentu, menganggap bekerja


sebagai kurir, adalah hal yang membosankan, ada pula yang berpendapat kurir


adalah pekerjaan yang hina atau memalukan, tapi tidak bagi yang menjalankannya.


Kurir adalah salah satu pekerjaan paling mulia, memperlakukan paket barang


orang lain bak berlian.


Diantara sekian banyak kantor ekspedisi Ok Go adalah


sebuah perusahaan yang benar-benar memperlakukan barang orang lain bagai


berlian demikian pula para kurirnya. Itulah sebabnya, banyak orang mempercayakan


barang untuk dititipkan dan dikelola dengan baik pada kantor ini.


Namun dibalik nama besar dan harum kantor ini,


tersembunyi beberapa kisah kelam yang orang jarang tahu. Tersembunyi diantara


sekian banyak berkas atau dokumen perusahaan yang tersimpan dalam lemari besi


dan dikunci  dengan kode rahasia, tidak


sembarang orang mengetahuinya.


***


Siang itu, panas begitu menyengat, jalanan begitu lengang


dan sepi. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah jalanan beraspal yang


seakan terbakar oleh terik matahari. Angin berhembus perlahan, menerbangkan


Sebuah sepeda motor melesat kencang membelah


butiran-butiran debu tersebut. Sosok bertubuh ramping, tertutup oleh jaket


parasit berwarna oranye dengan emblem Ok Go pada bagian dada kanan dan label


nama bertuliskan "FERA UTAMI" pada dada kiri. Helm teropong menutup


seluruh kepalanya. Diantara helm dan masker tampak sepasang mata bulat, menatap


lurus ke depan. Box delivery yang tergantung pada bahu kiri dan kanan seakan


menahan punggungnya agar tetap duduk dengan tegak.


Kurir wanita itu bernama Fera Utami, ia bergabung dengan


kantor Ok Go sebagai kurir baru 5 bulan. Semula ia bekerja sebagai agen


pemasaran di sebuah dealer sepeda motor, karena merebaknya virus covid 19, ia


adalah salah satu pegawai korban PHK, sementara ia harus menanggung beban hidup


5 orang anggota keluarga : ayah - ibu yang sudah lanjut usia, seorang suami


pengangguran dan 2 orang anak yang baru berusia 7 dan 9 tahun, putus sekolah.


Panas yang menyengat, tak mematahkan semangatnya untuk


mengantar barang sampai tujuan dengan selamat. Ia terus memacu sepeda motornya


sambil menoleh kesana kemari mencari-cari rumah di kawasan perumahan elite di


kota P yang biasanya ramai oleh kendaraan bermotor berlalu lalang. Ia berhenti


sejenak sambil membuka berkas-berkas pengiriman, rumah berlantai dua di


hadapannya itu tujuannya.


Setelah diperiksa dengan teliti, barulah ia mengeluarkan


sebuah bungkusan kecil dari delivery boxnya.


"Mas, ada paket... tolong diterima," katanya


sambil mengetuk pintu gerbang besi berwarna kuning.


Dari dalam rumah muncul seorang wanita berumur sekitar 50


tahunan.


"Permisi, bu... apa benar ini rumah Mas Toni ?"


tanya Fera.


"Benar, mbak... ini rumahnya tapi beliau sedang


keluar," jawab wanita itu.


"Oh, begitu... kebetulan ini ada paket buat


beliau," kata Fera sambil menyodorkan bungkusan di tangan kanannya.

__ADS_1


"Terima kasih, mbak... mari masuk dulu untuk sekedar


minum," ujar wanita itu sambil menanda tangani berkas yang juga disodorkan


Fera.


"Terima kasih, bu. Tapi, masih banyak paket yang


harus saya antar... terima kasih pula atas kesediaannya menyisihkan waktu untuk


bekerja sama dengan Ok Go. Saya mohon diri dulu," kata Fera ramah untuk


kemudian kembali melangkah ke sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan.


Itu adalah sebagian dari pelayanan yang diberikan oleh


Fera sebagai kurir Ok Go. Semua orang suka dengan pelayanan yang diberikan


olehnya. Akan tetapi, tidak semua orang memperlakukannya secara manusiawi.


***


Kemelut terjadi saat perusahaan yang dipimpin oleh Eric


Yeung itu menempatkan Zainal Al Kathiri sebagai manajer. Tanpa sepengetahuan


Pemilik utama perusahaan, Zainal atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan


Muda Zain, menyelipkan paket berbungkus plastik coklat kehitaman dengan


kode-kode rahasia, diantara paket-paket lain yang berwarna agak terang. Plastik


coklat kehitaman berisikan narkoba, ekstasi dan obat-obat terlarang lainnya;


sementara paket yang berwarna lebih cerah berisikan barang-barang legal.


Fera mengetahui hal itu secara tidak sengaja dan berniat


hendak melaporkannya pada pihak berwajib. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka


yang menanggapinya karena memang berlaku sebagai benteng atau bahkan sebagai


pemakai. Tidak jarang Fera mendapat peringatan agar tidak terlalu ikut campur


urusan perusahaan, intimidasi sudah menjadi makanan sehari-hari. Tuan muda


Zain, berniat untuk menyingkirkan Fera dengan berbagai cara.


Hampir semua orang di kantor Ok Go berada dalam kekuasaan


bandar narkoba itu, oleh sebab itu tak seorangpun berpihak pada Fera.


"Jika kau dan keluargamu selamat, lebih baik jangan


berbuat macam-macam. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu,"


Perkataan itu hampir setiap hari didengar olehnya.


Fera adalah seorang wanita yang tangguh, nyalinya tidak


menciut meski diintimidasi dan akhirnya bertemu dengan Soepomo, tangan kanan


Eric Yeung. Saat hendak melaporkan kejadian itu pada Eric Yeung, malah tertimpa


sial, Zain membunuh keluarganya, ia sendiri dibuat sekarat dan untungnya ia


masih bisa bertahan hidup meski menderita lumpuh pada bagian kaki kirinya.


Setelah sembuh, Soepomo kembali ke kantor Ok Go tapi


sudah mengganti namanya menjadi Zulkan.


Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan Zain. Nasib


mempertemukannya dengan Fera, wanita itu mengingatkan pada anaknya dan tanpa


ragu ia mengangkat Fera sebagai anaknya. Mereka bekerja bahu membahu untuk


membongkar kedok kantor Ok Go dan menyeret Zain ke meja hijau.


Tapi, rencana tidak selalu berjalan dengan mulus. Tanpa


sengaja, Soepomo mendengar dan mengorek pembicaraan salah satu anak buah Zain


bahwa Manajer muda itu berniat untuk menyingkirkan Fera secara licik seperti


yang telah dilakukannya kepada Keluarga Soepomo.


Beberapa anak buah Zain menyamar sebagai kostumer. Rumah


berlantai dua jalan x no x itu adalah saksi bisu dimana Fera harus menerima


nasib naas, dicekoki obat bius dan diperkosa bergantian oleh mereka. Dua


diantaranya adalah Gunawan dan Irul.


Sementara, Soepomo tidak bisa bertindak apa-apa manakala


Fera diperlakukan tidak manusiawi. Saat hendak menghembuskan nafas terakhirnya,


Fera menggenggam paket yang hendak dikirimkan ke Raisanudin dengan Alamat....


jalan X no X. Fera berniat melaksanakan tugasnya dengan baik namun justru


menerima celaka dan perusahaan tidak mau mengakuinya.


Itulah sebabnya Arwah Seorang Kurir Wanita bernama Fera


bergentayangan dan kemunculannya disertai dengan kata-kata hampa, datar dan


dingin :


"Mas...


ada paket....


tolong diterima...."


Ia akan terus bergentayangan meminta keadilan pada siapa


saja yang membunuhnya. Sementara, cincin emas bermata merah delima adalah


barang pribadinya sebagai pesan Kematian darinya.


***

__ADS_1


__ADS_2