
Aku terbangun, saat terdengar pintu kamar diketuk-ketuk
"Ada apa, Bu ?" tanyaku.
"Ada seorang laki-laki setengah tua ingin bertemu
dengan mu, nak,"
"Laki-laki? Siapa dia ?"
"Entahlah, ibu pikir dia adalah salah satu teman
misterius mu,"
"Siapa namanya, Bu ?"
"Dia tak ingin menyebutkan namanya, dia hanya bilang
ingin bertemu denganmu karena ada hal yang ingin disampaikan. Tapi, karena kau
tak mengenalnya, ibu akan menyuruh nya pergi,"
"Jangan, Bu... Baiklah, akan kutemui dia,"
"Berhati-hatilah, nak... Ibu khawatir dia akan
berbuat buruk padamu,"
"Bu, saya sudah berumur 28 tahun, nyaris 30 jadi
saya bisa menjaga diri. Tapi, baiklah saya akan berhati-hati," tawaku.
***
Seorang pria paruh baya, berdiri di ruang depan, seandainya
tanpa tongkat besi berwarna hitam setinggi pinggang, laki-laki itu tak mungkin
bisa berdiri dengan tegak, karena pada tulang lutut kanannya seakan tak mampu
menjadi penyangga tubuhnya yang agak gemuk itu. Melihat kedatanganku, laki-laki
itu tersenyum ramah.
"Aku rasanya pernah bertemu dengan laki-laki itu,
tapi, dimana, ya ?" tanyaku seorang diri, "Maaf, pak... Kalau boleh
tahu siapa bapak, seingat saya kita tidak pernah bertemu," kataku sambil
mempersilahkan orang itu duduk.
Laki-laki paruh baya itu tersenyum ramah, "Iya, nak
tidak apa-apa... Kita memang tidak pernah bertemu satu sama lain, tapi, Fera
anak angkatku mengenalmu sebelum kau mengenalnya,"
"Maaf, pak... Saya tidak mengerti dengan perkataan
Anda,"
"Baiklah... Bisakah kau ikut aku keluar barang
sebentar saja ? Ada yang ingin kusampaikan padamu. Ini berkaitan dengan
paket-paket misterius yang kau terima tapi, paket itu kosong,"
***
Gazebo berukuran 3x5 M² itu berdiri di bawah sebuah pohon
yang rindang, letaknya tak jauh dari rumah utama. Disitulah laki-laki paruh
baya itu duduk sambil meluruskan kaki kanannya pada dipan, melihat
kedatanganku, ia tersenyum dan menurunkan kakinya. Raisa membalas senyumannya
dengan ramah untuk kemudian duduk di hadapan pria yang ternyata bernama Soepomo
itu.
"Terima kasih atas kesediaan Mbak Raisa menemui
saya," kata Soepomo.
"Bapak berkata, bahwa kurir wanita itu mengenal
saya, padahal saya tidak mengenalnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?"
tanyaku.
"Iya, memang tidak masuk akal, tidak bisa diterima
dengan nalar. Ketahuilah, setiap orang yang meninggal tidak wajar, dia hanya
bisa mengingat hal terakhir kali sebelum ia meninggal," jelas Pak Pomo.
"Saya tidak mengerti, pak..."
"Logikanya seperti ini... Otak manusia menggerakkan
semua yang ada di dalam raga, jika kau ingin minum, maka, kau pasti mencari air
untuk menghilangkan dahaga. Jika kita lapar, maka, kita mencari sesuatu untuk
kita makan demi menghilangkan lapar di perut. Nah, seorang kurir memiliki
tanggung jawab untuk mengirim barang milik orang yang bersangkutan, jika
tugasnya belum selesai, maka, ia takkan berhenti bekerja; apapun yang terjadi,
paket itu harus sampai ke tempat tujuan," jelas Soepomo.
Setelah berkata demikian, laki-laki itu menatap lurus ke
depan. Tatapannya tampak sayu, jelas ada perasaan duka yang mendalam berkecamuk
di dalam dirinya.
Soepomo mulai bercerita tentang asal-usul kurir wanita
yang bernama Fera itu.
***
__ADS_1
Semenjak covid 19 merebak di berbagai negara, dunia
serasa lumpuh. Sosial, politik, ekonomi dan budaya pun terkena imbasnya.
Semuanya seakan mati. Indonesia pun tak luput dari bencana yang mematikan itu.
Orang yang biasanya kerja, harus berdiam di rumah selama
berhari-hari, sementara kebutuhan perut hampir tidak pernah bisa berhenti. Maka
mau tidak mau mereka harus dituntut untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan
hidup.
Pada masa-masa sulit itu, bisnis online mulai naik daun
hingga sekarang. Semua serba instan, salah satunya adalah perusahaan jasa
ekspedisi. Tanpa kurir, perusahaan tersebut tidak akan berjalan, demikian pula
sebaliknya, tanpa adanya perusahaan ekspedisi, seorang kurir bagaikan bunga di
tepi jalan yang sewaktu - waktu bisa berubah menjadi sampah, sementara,
kebutuhan hidup makin meningkat.
Pernyataan di atas adalah realita kehidupan yang hampir
terjadi setiap detik. Mungkin bagi orang-orang tertentu, menganggap bekerja
sebagai kurir, adalah hal yang membosankan, ada pula yang berpendapat kurir
adalah pekerjaan yang hina atau memalukan, tapi tidak bagi yang menjalankannya.
Kurir adalah salah satu pekerjaan paling mulia, memperlakukan paket barang
orang lain bak berlian.
Diantara sekian banyak kantor ekspedisi Ok Go adalah
sebuah perusahaan yang benar-benar memperlakukan barang orang lain bagai
berlian demikian pula para kurirnya. Itulah sebabnya, banyak orang mempercayakan
barang untuk dititipkan dan dikelola dengan baik pada kantor ini.
Namun dibalik nama besar dan harum kantor ini,
tersembunyi beberapa kisah kelam yang orang jarang tahu. Tersembunyi diantara
sekian banyak berkas atau dokumen perusahaan yang tersimpan dalam lemari besi
dan dikunci dengan kode rahasia, tidak
sembarang orang mengetahuinya.
***
Siang itu, panas begitu menyengat, jalanan begitu lengang
dan sepi. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah jalanan beraspal yang
seakan terbakar oleh terik matahari. Angin berhembus perlahan, menerbangkan
Sebuah sepeda motor melesat kencang membelah
butiran-butiran debu tersebut. Sosok bertubuh ramping, tertutup oleh jaket
parasit berwarna oranye dengan emblem Ok Go pada bagian dada kanan dan label
nama bertuliskan "FERA UTAMI" pada dada kiri. Helm teropong menutup
seluruh kepalanya. Diantara helm dan masker tampak sepasang mata bulat, menatap
lurus ke depan. Box delivery yang tergantung pada bahu kiri dan kanan seakan
menahan punggungnya agar tetap duduk dengan tegak.
Kurir wanita itu bernama Fera Utami, ia bergabung dengan
kantor Ok Go sebagai kurir baru 5 bulan. Semula ia bekerja sebagai agen
pemasaran di sebuah dealer sepeda motor, karena merebaknya virus covid 19, ia
adalah salah satu pegawai korban PHK, sementara ia harus menanggung beban hidup
5 orang anggota keluarga : ayah - ibu yang sudah lanjut usia, seorang suami
pengangguran dan 2 orang anak yang baru berusia 7 dan 9 tahun, putus sekolah.
Panas yang menyengat, tak mematahkan semangatnya untuk
mengantar barang sampai tujuan dengan selamat. Ia terus memacu sepeda motornya
sambil menoleh kesana kemari mencari-cari rumah di kawasan perumahan elite di
kota P yang biasanya ramai oleh kendaraan bermotor berlalu lalang. Ia berhenti
sejenak sambil membuka berkas-berkas pengiriman, rumah berlantai dua di
hadapannya itu tujuannya.
Setelah diperiksa dengan teliti, barulah ia mengeluarkan
sebuah bungkusan kecil dari delivery boxnya.
"Mas, ada paket... tolong diterima," katanya
sambil mengetuk pintu gerbang besi berwarna kuning.
Dari dalam rumah muncul seorang wanita berumur sekitar 50
tahunan.
"Permisi, bu... apa benar ini rumah Mas Toni ?"
tanya Fera.
"Benar, mbak... ini rumahnya tapi beliau sedang
keluar," jawab wanita itu.
"Oh, begitu... kebetulan ini ada paket buat
beliau," kata Fera sambil menyodorkan bungkusan di tangan kanannya.
__ADS_1
"Terima kasih, mbak... mari masuk dulu untuk sekedar
minum," ujar wanita itu sambil menanda tangani berkas yang juga disodorkan
Fera.
"Terima kasih, bu. Tapi, masih banyak paket yang
harus saya antar... terima kasih pula atas kesediaannya menyisihkan waktu untuk
bekerja sama dengan Ok Go. Saya mohon diri dulu," kata Fera ramah untuk
kemudian kembali melangkah ke sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan.
Itu adalah sebagian dari pelayanan yang diberikan oleh
Fera sebagai kurir Ok Go. Semua orang suka dengan pelayanan yang diberikan
olehnya. Akan tetapi, tidak semua orang memperlakukannya secara manusiawi.
***
Kemelut terjadi saat perusahaan yang dipimpin oleh Eric
Yeung itu menempatkan Zainal Al Kathiri sebagai manajer. Tanpa sepengetahuan
Pemilik utama perusahaan, Zainal atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan
Muda Zain, menyelipkan paket berbungkus plastik coklat kehitaman dengan
kode-kode rahasia, diantara paket-paket lain yang berwarna agak terang. Plastik
coklat kehitaman berisikan narkoba, ekstasi dan obat-obat terlarang lainnya;
sementara paket yang berwarna lebih cerah berisikan barang-barang legal.
Fera mengetahui hal itu secara tidak sengaja dan berniat
hendak melaporkannya pada pihak berwajib. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka
yang menanggapinya karena memang berlaku sebagai benteng atau bahkan sebagai
pemakai. Tidak jarang Fera mendapat peringatan agar tidak terlalu ikut campur
urusan perusahaan, intimidasi sudah menjadi makanan sehari-hari. Tuan muda
Zain, berniat untuk menyingkirkan Fera dengan berbagai cara.
Hampir semua orang di kantor Ok Go berada dalam kekuasaan
bandar narkoba itu, oleh sebab itu tak seorangpun berpihak pada Fera.
"Jika kau dan keluargamu selamat, lebih baik jangan
berbuat macam-macam. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu,"
Perkataan itu hampir setiap hari didengar olehnya.
Fera adalah seorang wanita yang tangguh, nyalinya tidak
menciut meski diintimidasi dan akhirnya bertemu dengan Soepomo, tangan kanan
Eric Yeung. Saat hendak melaporkan kejadian itu pada Eric Yeung, malah tertimpa
sial, Zain membunuh keluarganya, ia sendiri dibuat sekarat dan untungnya ia
masih bisa bertahan hidup meski menderita lumpuh pada bagian kaki kirinya.
Setelah sembuh, Soepomo kembali ke kantor Ok Go tapi
sudah mengganti namanya menjadi Zulkan.
Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan Zain. Nasib
mempertemukannya dengan Fera, wanita itu mengingatkan pada anaknya dan tanpa
ragu ia mengangkat Fera sebagai anaknya. Mereka bekerja bahu membahu untuk
membongkar kedok kantor Ok Go dan menyeret Zain ke meja hijau.
Tapi, rencana tidak selalu berjalan dengan mulus. Tanpa
sengaja, Soepomo mendengar dan mengorek pembicaraan salah satu anak buah Zain
bahwa Manajer muda itu berniat untuk menyingkirkan Fera secara licik seperti
yang telah dilakukannya kepada Keluarga Soepomo.
Beberapa anak buah Zain menyamar sebagai kostumer. Rumah
berlantai dua jalan x no x itu adalah saksi bisu dimana Fera harus menerima
nasib naas, dicekoki obat bius dan diperkosa bergantian oleh mereka. Dua
diantaranya adalah Gunawan dan Irul.
Sementara, Soepomo tidak bisa bertindak apa-apa manakala
Fera diperlakukan tidak manusiawi. Saat hendak menghembuskan nafas terakhirnya,
Fera menggenggam paket yang hendak dikirimkan ke Raisanudin dengan Alamat....
jalan X no X. Fera berniat melaksanakan tugasnya dengan baik namun justru
menerima celaka dan perusahaan tidak mau mengakuinya.
Itulah sebabnya Arwah Seorang Kurir Wanita bernama Fera
bergentayangan dan kemunculannya disertai dengan kata-kata hampa, datar dan
dingin :
"Mas...
ada paket....
tolong diterima...."
Ia akan terus bergentayangan meminta keadilan pada siapa
saja yang membunuhnya. Sementara, cincin emas bermata merah delima adalah
barang pribadinya sebagai pesan Kematian darinya.
***
__ADS_1