Kurir

Kurir
BAB 7 : PETUNJUK DARI KEMATIAN ( babak kedua )


__ADS_3

“Sebenarnya, kita ini mau kemana, Raisa ?” tanya Ella.


Dia berjalan di belakangku, beriringan dengan Pak Soepomo. Langkah – langkahnya


sudah tak selincah tadi. Semenjak turun dari mobil, tepatnya, di pintu masuk


area tempat ini, kami berjalan tanpa henti.


Matahari sudah berada tepat diatas kepala, memanggang apa


saja yang ada di sekitar kami. Panas menyengat. Tak heran Ella yang setiap


harinya terbiasa naik kendaraan mudah merasa letih. Tetapi, bukan itu


permasalahan yang sesungguhnya ... melainkan, kami berangkat menuju area ini


dalam keadaan perut kosong. Aku heran, tidak merasa lapar atau haus sama


sekali, tidak seperti biasanya.


Semenjak kejadian TV menyala sendiri, pertemuanku dengan


Fera di alam bawah sadar, aku seperti orang kesetanan. Hampir setiap hari aku


menghubungi Ella dan Pak Pomo hanya untuk meminta bantuan mereka mengantarku ke


tempat ini. Aku tidak ingin terus – menerus dihantui oleh hantu kurir wanita


itu. Setahuku, kami tidak ada hubungan apa – apa, kenalpun, tidak. Mengapa ia


datang kepadaku, seolah – olah aku dianggap bersalah dan bertanggung jawab atas


kejadian yang menimpanya.


Begitu Pak Pomo menghubungiku dan bersedia membantu, aku


langsung mengajaknya ke area pembuangan mobil bekas dan besi tua. Sedangkan,


jarak antara rumah dengan tempat ini lumayang jauh. Ella kuajak sekalian. Saat


tiba di tempat ini, aku langsung memeriksa dan mencari mobil VW yang sudah


digambarkan oleh Fera ke segala penjuru, ke setiap sudut. Jika jalanan itu


memungkinkan untuk dilewati mobil, maka, tak perlu kami berjalan menyusuri


tempat yang luasnya 2 kali lipat dari lapangan bola ini. Semula aku berpikir


pekerjaan ini mudah, tidak membutuhkan waktu lama, tapi, salah.


Kami seperti berputar – putar di tempat yang sama.


Keputus asaan mulai merayapi sekujur tubuh kami, lemas sekali rasanya, seakan


tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk melanjutkan pencarian. Hingga akhirnya,


kami jatuh terduduk, bersandar pada sebuah bada mobil yang ditumbuhi oleh


tanaman – tanaman liar, merambat dan ilalang setinggi orang dewasa.


“VW yang kita cari, sepertinya tidak ada di tempat ini,


nak Raisa,” kata Pak Pomo sambil menyeka keringat yang mengalir membasahi dahi


dan lehernya.


“Aku lapar, Sa... sejak tadi pagi kita tidak makan apa –


apa, minumpun juga tidak sempat,” keluh Ella.


“Sebelum kita menemukan Fera, aku tidak bisa santai


barang sedetikpun,” kataku.


“Tapi, kita harus makan untuk memulihkan tenaga dan


pikiran kita, Sa...” sahut Ella.


“Nak Ella benar, kita harus menjaga agar tubuh kita


stabil. Sebaiknya, kita cari makan dulu, nak... setelah itu kembali ke tempat


ini,” usul Pak Pomo.


“Apakah paman tahu, warung atau rumah makan terdekat ?”


tanyaku.


“Paman tahu, nak... ayo,” ajak Soepomo. Kami pun segera


bergegas menuju pintu keluar. Aku membalikkan badan, pandanganku menyapu ke


area yang baru saja kami telusuri, berharap salah satu dari sekian banyak mobil


yang mangkrak itu ada VW Oranye milik Ok Go. Tapi, nihil ... padahal area ini


adalah satu dari sekian banyak area pembuangan mobil dan besi – besi tua


terluas di kota ini. Mungkinkah petunjuk yang diberikan oleh Fera .... Salah ?”


( UNTUK PARA PEMBACA YANG BERBAHAGIA, DALAM EPISODE INI


RAISA AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN ARIMBI, MARIBETH DAN CINDY PERMATASARI. BAGI


ANDA YANG PENASARAN DENGAN ASAL-USUL ARIMBI, CS... SILAHKAN DISIMAK, “MASKER”, NOVEL SAYA YANG PERTAMA DAN SUDAH


DITERBITKAN OLEH PIHAK NOVELTOON. SELAMAT MEMBACA ).


Warung itu ...

__ADS_1


Sekalipun kecil, akan tetapi, ramai akan pengunjung.


Mulai dari orang yang berseragam putih biru hingga coklat dan doreng. Sebagian


besar dari mereka memilih untuk membawa pulang makanan dan minuman pesanannya.


Dari sekian banyak tamu yang berdatangan, ada 3 orang wanita yang duduk di


sudut ruangan menarik perhatianku. Salah satu dari mereka mengenakan masker.


Mereka juga balas menatapku, dan salah seorang dari mereka berjalan


menghampiriku.


“Apakah mbak yang bernama Raisa ?” tanya wanita berkaos


hitam berkerah dan celana jeans ketat itu.


Aku terkejut. Bagaimana mungkin ia tahu namaku padahal


baru kali ini bertemu.


“Perkenalkan, Mbak ... nama saya Maribeth. Jika berkenan,


bergabunglah dengan kami disana ...” katanya lagi. Sopan dan menarik. Itulah


kesanku padanya, maka, aku tidak ragu untuk menolak ajakannya.


“Paman, saya hendak menemui teman – teman wanita ini sebentar,


disana,” ujarku pada Pak Pomo yang sudah menyantap makanan pesanannya dengan


lahap.


“Kau, berhati – hatilah pada orang asing, nak...” Pak


Pomo menasihatkan, aku mengangguk dan berjalan mengikuti wanita bernama


Maribeth itu.


“Iya. Apalagi wanita aneh macam mereka,” celetuk Ella.


Maribeth tersenyum, “Tenanglah, Mbak Ella... kami ada


perlu sebentar dengan Mbak Raisa,” ujarnya ramah sambil menarik tanganku ke


meja mereka sementara Ella tampak kebingungan,”Lo, apakah aku mengenalmu ?”


tanyanya tapi kami sudah menjauh.


Wanita yang mengenakan masker itu bernama Arimbi. Di


sebelah kanannya bernama Cindy Permatasari dan Maribeth duduk di samping


kirinya. Wanita bernama Cindy itu tersenyum, gerak – geriknya lincah dan


kulit berwarna merah dan disodorkan ke udara kosong. Wortel itu seperti ada


yang menyambar dan menggigitnya.


“Dia bernama Timmy. Karena cerewet, Cindy beri dia wortel


kesukaannya. Apa kabar Mbak Raisa,” kata Cindy.


“Tunggu, apakah aku pernah bertemu dengan kalian ? Kok


kalian mengenal namaku ?”


“Kami memang tidak mengenal Anda, mbak... tapi, teman –


teman kami mengenal Anda. Juga wanita berbaju kurir yang berdiri di belakang


Mbak Raisa, kelihatannya dia sudah lama mengikuti Anda,” sahut Maribeth.


“Hah, teman – teman kalian ?! Dimana mereka ?” seruku


sambil menoleh kesana –kemari.


“Mbak Raisa tidak bisa melihat mereka... karena, mereka


beda alam dengan kita,” imbuh Cindy.


Aku terkejut sekali mendengar perkataan itu, “Sepertinya,


aku berkenalan denganorang yang salah,” kataku.


“Tidak,” sahut wanita yang mengenakan masker itu. Nadanya


sangat tegas dan berwibawa, menghentikan langkah – langkahku yang hendak


bergerak kembali ke tempat dimana aku duduk.


“Tenanglah, mbak...” kata Cindy, “Kami sama sekali tidak


berniat menakuti ataupun berbuat yang bukan – bukan pada Anda. Kami hanya


kasihan pada sosok yang berdiri di belakang Anda. Fera Budi Utami. Dia butuh


bantuan, tapi sepertinya Anda tidak menyadarinya,”


“Kami bisa melihat ... apa yang tidak bisa dilihat oleh


manusia pada umumnya,” sahut Arimbi, “Semula kami tidak ingin ikut campur


dengan hal yang beginian, tapi, mereka mendesakku untuk turun tangan,”


“Mereka siapa ?” tanyaku.


“Teman – teman Cindy Permatasari,” jawab Arimbi singkat,

__ADS_1


sementara jari – jemarinya bergerak melepas maskernya lalu menaruh telunjuk


kanan ke bibirnya yang merah merona. Isyarat bagiku untuk diam. Aku menurut


sambil mata ini tidak lepas memandangnya. Dia cantik sekali, tapi, mengapa


menutup hidung dan mulutnya dengan masker.


Lagi. Aku kembali berada di area pembuangan besi – besi


tua, tempat sama yang seperti diperlihatkan Fera. Tapi, kali ini aku didampingi


oleh Arimbi, Maribeth, Cindy dan lima orang asing ... dua orang wanita berwajah


buruk dan mengerikan, tiga orang anak kecil, salah satunya tengah memakan


wortel pemberian Cindy tadi dengan lahap. Siapa mereka ? Apakah mereka yang


tadi disebut – sebut sebagai teman – teman Cindy.  Yang membuatku terkejut lagi adalah, wanita


berpakaian kurir ada diantara mereka.


“Hei, sejak kapan aku berada disini ? Bukankah tadi


berada di sebuah warung ?” tanyaku.


“Akulah yang mengajakmu kemari, mbak,” sahut Arimbi,


“Wanita yang bernama Fera itulah yang memberi petunjuk dan menjelaskan apa yang


telah terjadi. Semuanya,”


“Aku sudah mendatangi tempat ini, tapi, tak kutemukan apa


– apa,” tukasku.


“Kami mengerti, Mbak. Anda tidak bisa menemukannya karena


ada beberapa hal yang menghalangi usaha Anda,” jelas Cindy.


“Kami berusaha membantu Anda untuk menemukan dimana


sebenarnya jasad Fera berada,” imbuh Maribeth.


“Mbak Raisa,” sapa Arimbi, “Apakah Anda bisa melihat semak


belukar itu ?”


Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh


Arimbi. Tepat di sebelah utara tempat kami berdiri, tampak rimbunan semak


belukar, tumbuh lebat dan merayap juga ilalang setinggi orang dewasa. Tumbuhan


liar itu bentuknya aneh, tumbuh diatas permukaan besi, pemandangan yang tak


masuk akal menurutku. Biasanya tanamanatau tumbuh – tumbuhan itu tumbuh diatas


permukaan tanah tapi, ini ...


“Fera berkata... masih ada sebuah tugas ysang belum


diselesaikan. Itulah sebabnya, Anda tidak bisa menemukan jasadnya,” kata


Arimbi.


Pada saat itulah, entah tiba – tiba kami sudah kembali


berada di warung, hanya kami berempat sementara yang lain lenyap entah kemana.


Arimbi sudah mengenakan maskernya.


“Terima kasih atas bantuanmu, mbak,” kataku, “Aku tak


mengerti, wajah Anda begitu cantik, mengapa Anda menyembunyikannya di balik


masker ?”


“Wajahku biasa – biasa saja, mbak. Aku mengenakan ini,


karena tidak ingin melihat ... apa yang seharusnya tidak boleh dilihat orang


pada umumnya. Dan, Fera akan membantu Anda, jika waktunya sudah tiba dan itu


tidak lama lagi,” jelas Arimbi.


Pertemuanku dengan Arimbi singkat sekali, tetapi


menimbulkan kesan tersendiri. Terlebih pada Cindy Permatasari, seorang wanita


yang memiliki sahabat – sahabat hantu. Sayang sekali mereka tidak bisa tinggal


atau setidaknya, menemaniku hingga Fera ditemukan. Mereka masih ada urusan


lain.


“Pergunakan indera penciuman Anda jika kelak ia datang


lagi. Itulah satu – satunya cara untuk menemukan jenazahnya ...” Itulah nasihat


terakhir dari Arimbi sebelum mohon diri. Ia hanya memberiku kartu nama, berjaga


– jaga jikalau membutuhkan pertolongannya. Yah, pencarian jenazah Fera


kuhentikan sementara waktu. Selesai makan, aku mengambil keputusan untuk pulang


hari itu juga.


***

__ADS_1


__ADS_2