
“Sebenarnya, kita ini mau kemana, Raisa ?” tanya Ella.
Dia berjalan di belakangku, beriringan dengan Pak Soepomo. Langkah – langkahnya
sudah tak selincah tadi. Semenjak turun dari mobil, tepatnya, di pintu masuk
area tempat ini, kami berjalan tanpa henti.
Matahari sudah berada tepat diatas kepala, memanggang apa
saja yang ada di sekitar kami. Panas menyengat. Tak heran Ella yang setiap
harinya terbiasa naik kendaraan mudah merasa letih. Tetapi, bukan itu
permasalahan yang sesungguhnya ... melainkan, kami berangkat menuju area ini
dalam keadaan perut kosong. Aku heran, tidak merasa lapar atau haus sama
sekali, tidak seperti biasanya.
Semenjak kejadian TV menyala sendiri, pertemuanku dengan
Fera di alam bawah sadar, aku seperti orang kesetanan. Hampir setiap hari aku
menghubungi Ella dan Pak Pomo hanya untuk meminta bantuan mereka mengantarku ke
tempat ini. Aku tidak ingin terus – menerus dihantui oleh hantu kurir wanita
itu. Setahuku, kami tidak ada hubungan apa – apa, kenalpun, tidak. Mengapa ia
datang kepadaku, seolah – olah aku dianggap bersalah dan bertanggung jawab atas
kejadian yang menimpanya.
Begitu Pak Pomo menghubungiku dan bersedia membantu, aku
langsung mengajaknya ke area pembuangan mobil bekas dan besi tua. Sedangkan,
jarak antara rumah dengan tempat ini lumayang jauh. Ella kuajak sekalian. Saat
tiba di tempat ini, aku langsung memeriksa dan mencari mobil VW yang sudah
digambarkan oleh Fera ke segala penjuru, ke setiap sudut. Jika jalanan itu
memungkinkan untuk dilewati mobil, maka, tak perlu kami berjalan menyusuri
tempat yang luasnya 2 kali lipat dari lapangan bola ini. Semula aku berpikir
pekerjaan ini mudah, tidak membutuhkan waktu lama, tapi, salah.
Kami seperti berputar – putar di tempat yang sama.
Keputus asaan mulai merayapi sekujur tubuh kami, lemas sekali rasanya, seakan
tak ada lagi tenaga yang tersisa untuk melanjutkan pencarian. Hingga akhirnya,
kami jatuh terduduk, bersandar pada sebuah bada mobil yang ditumbuhi oleh
tanaman – tanaman liar, merambat dan ilalang setinggi orang dewasa.
“VW yang kita cari, sepertinya tidak ada di tempat ini,
nak Raisa,” kata Pak Pomo sambil menyeka keringat yang mengalir membasahi dahi
dan lehernya.
“Aku lapar, Sa... sejak tadi pagi kita tidak makan apa –
apa, minumpun juga tidak sempat,” keluh Ella.
“Sebelum kita menemukan Fera, aku tidak bisa santai
barang sedetikpun,” kataku.
“Tapi, kita harus makan untuk memulihkan tenaga dan
pikiran kita, Sa...” sahut Ella.
“Nak Ella benar, kita harus menjaga agar tubuh kita
stabil. Sebaiknya, kita cari makan dulu, nak... setelah itu kembali ke tempat
ini,” usul Pak Pomo.
“Apakah paman tahu, warung atau rumah makan terdekat ?”
tanyaku.
“Paman tahu, nak... ayo,” ajak Soepomo. Kami pun segera
bergegas menuju pintu keluar. Aku membalikkan badan, pandanganku menyapu ke
area yang baru saja kami telusuri, berharap salah satu dari sekian banyak mobil
yang mangkrak itu ada VW Oranye milik Ok Go. Tapi, nihil ... padahal area ini
adalah satu dari sekian banyak area pembuangan mobil dan besi – besi tua
terluas di kota ini. Mungkinkah petunjuk yang diberikan oleh Fera .... Salah ?”
( UNTUK PARA PEMBACA YANG BERBAHAGIA, DALAM EPISODE INI
RAISA AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN ARIMBI, MARIBETH DAN CINDY PERMATASARI. BAGI
ANDA YANG PENASARAN DENGAN ASAL-USUL ARIMBI, CS... SILAHKAN DISIMAK, “MASKER”, NOVEL SAYA YANG PERTAMA DAN SUDAH
DITERBITKAN OLEH PIHAK NOVELTOON. SELAMAT MEMBACA ).
Warung itu ...
__ADS_1
Sekalipun kecil, akan tetapi, ramai akan pengunjung.
Mulai dari orang yang berseragam putih biru hingga coklat dan doreng. Sebagian
besar dari mereka memilih untuk membawa pulang makanan dan minuman pesanannya.
Dari sekian banyak tamu yang berdatangan, ada 3 orang wanita yang duduk di
sudut ruangan menarik perhatianku. Salah satu dari mereka mengenakan masker.
Mereka juga balas menatapku, dan salah seorang dari mereka berjalan
menghampiriku.
“Apakah mbak yang bernama Raisa ?” tanya wanita berkaos
hitam berkerah dan celana jeans ketat itu.
Aku terkejut. Bagaimana mungkin ia tahu namaku padahal
baru kali ini bertemu.
“Perkenalkan, Mbak ... nama saya Maribeth. Jika berkenan,
bergabunglah dengan kami disana ...” katanya lagi. Sopan dan menarik. Itulah
kesanku padanya, maka, aku tidak ragu untuk menolak ajakannya.
“Paman, saya hendak menemui teman – teman wanita ini sebentar,
disana,” ujarku pada Pak Pomo yang sudah menyantap makanan pesanannya dengan
lahap.
“Kau, berhati – hatilah pada orang asing, nak...” Pak
Pomo menasihatkan, aku mengangguk dan berjalan mengikuti wanita bernama
Maribeth itu.
“Iya. Apalagi wanita aneh macam mereka,” celetuk Ella.
Maribeth tersenyum, “Tenanglah, Mbak Ella... kami ada
perlu sebentar dengan Mbak Raisa,” ujarnya ramah sambil menarik tanganku ke
meja mereka sementara Ella tampak kebingungan,”Lo, apakah aku mengenalmu ?”
tanyanya tapi kami sudah menjauh.
Wanita yang mengenakan masker itu bernama Arimbi. Di
sebelah kanannya bernama Cindy Permatasari dan Maribeth duduk di samping
kirinya. Wanita bernama Cindy itu tersenyum, gerak – geriknya lincah dan
kulit berwarna merah dan disodorkan ke udara kosong. Wortel itu seperti ada
yang menyambar dan menggigitnya.
“Dia bernama Timmy. Karena cerewet, Cindy beri dia wortel
kesukaannya. Apa kabar Mbak Raisa,” kata Cindy.
“Tunggu, apakah aku pernah bertemu dengan kalian ? Kok
kalian mengenal namaku ?”
“Kami memang tidak mengenal Anda, mbak... tapi, teman –
teman kami mengenal Anda. Juga wanita berbaju kurir yang berdiri di belakang
Mbak Raisa, kelihatannya dia sudah lama mengikuti Anda,” sahut Maribeth.
“Hah, teman – teman kalian ?! Dimana mereka ?” seruku
sambil menoleh kesana –kemari.
“Mbak Raisa tidak bisa melihat mereka... karena, mereka
beda alam dengan kita,” imbuh Cindy.
Aku terkejut sekali mendengar perkataan itu, “Sepertinya,
aku berkenalan denganorang yang salah,” kataku.
“Tidak,” sahut wanita yang mengenakan masker itu. Nadanya
sangat tegas dan berwibawa, menghentikan langkah – langkahku yang hendak
bergerak kembali ke tempat dimana aku duduk.
“Tenanglah, mbak...” kata Cindy, “Kami sama sekali tidak
berniat menakuti ataupun berbuat yang bukan – bukan pada Anda. Kami hanya
kasihan pada sosok yang berdiri di belakang Anda. Fera Budi Utami. Dia butuh
bantuan, tapi sepertinya Anda tidak menyadarinya,”
“Kami bisa melihat ... apa yang tidak bisa dilihat oleh
manusia pada umumnya,” sahut Arimbi, “Semula kami tidak ingin ikut campur
dengan hal yang beginian, tapi, mereka mendesakku untuk turun tangan,”
“Mereka siapa ?” tanyaku.
“Teman – teman Cindy Permatasari,” jawab Arimbi singkat,
__ADS_1
sementara jari – jemarinya bergerak melepas maskernya lalu menaruh telunjuk
kanan ke bibirnya yang merah merona. Isyarat bagiku untuk diam. Aku menurut
sambil mata ini tidak lepas memandangnya. Dia cantik sekali, tapi, mengapa
menutup hidung dan mulutnya dengan masker.
Lagi. Aku kembali berada di area pembuangan besi – besi
tua, tempat sama yang seperti diperlihatkan Fera. Tapi, kali ini aku didampingi
oleh Arimbi, Maribeth, Cindy dan lima orang asing ... dua orang wanita berwajah
buruk dan mengerikan, tiga orang anak kecil, salah satunya tengah memakan
wortel pemberian Cindy tadi dengan lahap. Siapa mereka ? Apakah mereka yang
tadi disebut – sebut sebagai teman – teman Cindy. Yang membuatku terkejut lagi adalah, wanita
berpakaian kurir ada diantara mereka.
“Hei, sejak kapan aku berada disini ? Bukankah tadi
berada di sebuah warung ?” tanyaku.
“Akulah yang mengajakmu kemari, mbak,” sahut Arimbi,
“Wanita yang bernama Fera itulah yang memberi petunjuk dan menjelaskan apa yang
telah terjadi. Semuanya,”
“Aku sudah mendatangi tempat ini, tapi, tak kutemukan apa
– apa,” tukasku.
“Kami mengerti, Mbak. Anda tidak bisa menemukannya karena
ada beberapa hal yang menghalangi usaha Anda,” jelas Cindy.
“Kami berusaha membantu Anda untuk menemukan dimana
sebenarnya jasad Fera berada,” imbuh Maribeth.
“Mbak Raisa,” sapa Arimbi, “Apakah Anda bisa melihat semak
belukar itu ?”
Aku mengalihkan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh
Arimbi. Tepat di sebelah utara tempat kami berdiri, tampak rimbunan semak
belukar, tumbuh lebat dan merayap juga ilalang setinggi orang dewasa. Tumbuhan
liar itu bentuknya aneh, tumbuh diatas permukaan besi, pemandangan yang tak
masuk akal menurutku. Biasanya tanamanatau tumbuh – tumbuhan itu tumbuh diatas
permukaan tanah tapi, ini ...
“Fera berkata... masih ada sebuah tugas ysang belum
diselesaikan. Itulah sebabnya, Anda tidak bisa menemukan jasadnya,” kata
Arimbi.
Pada saat itulah, entah tiba – tiba kami sudah kembali
berada di warung, hanya kami berempat sementara yang lain lenyap entah kemana.
Arimbi sudah mengenakan maskernya.
“Terima kasih atas bantuanmu, mbak,” kataku, “Aku tak
mengerti, wajah Anda begitu cantik, mengapa Anda menyembunyikannya di balik
masker ?”
“Wajahku biasa – biasa saja, mbak. Aku mengenakan ini,
karena tidak ingin melihat ... apa yang seharusnya tidak boleh dilihat orang
pada umumnya. Dan, Fera akan membantu Anda, jika waktunya sudah tiba dan itu
tidak lama lagi,” jelas Arimbi.
Pertemuanku dengan Arimbi singkat sekali, tetapi
menimbulkan kesan tersendiri. Terlebih pada Cindy Permatasari, seorang wanita
yang memiliki sahabat – sahabat hantu. Sayang sekali mereka tidak bisa tinggal
atau setidaknya, menemaniku hingga Fera ditemukan. Mereka masih ada urusan
lain.
“Pergunakan indera penciuman Anda jika kelak ia datang
lagi. Itulah satu – satunya cara untuk menemukan jenazahnya ...” Itulah nasihat
terakhir dari Arimbi sebelum mohon diri. Ia hanya memberiku kartu nama, berjaga
– jaga jikalau membutuhkan pertolongannya. Yah, pencarian jenazah Fera
kuhentikan sementara waktu. Selesai makan, aku mengambil keputusan untuk pulang
hari itu juga.
***
__ADS_1