
Soepomo mengakhiri ceritanya sementara aku menghela nafas
panjang, "Jadi, begitu. Lalu, bagaimana cara bapak mengumpulkan
bukti-bukti bahwa Ok Go telah melakukan bisnis ilegal ?"
"Nak Raisa, Tuan Muda Zain itu mengumpulkan
berkas-berkas pengiriman di sebuah locker. Mungkin semuanya sudah dimusnahkan
olehnya.
Tapi, bapak memiliki salinan lengkap. Perlu nak Raisa
ketahui, tidak semua pegawai Ok Go setuju dengan perbuatan Zain, beberapa
diantaranya adalah orang-orang pilihan dari Saudara Eric Yeung yang menyamar.
Jadi, sekalipun berkas-berkas itu dimusnahkan, takkan hilang begitu saja. Neng
Yessy, adik Fera rela menjadi gundiknya demi ingin membalas dendam kematian
kakaknya. Dialah yang meminjamkan berkas-berkas tersebut kepada bapak. Bapak
yakin tak lama lagi, Zain akan kehilangan kekuasaannya dan bisnisnya pun akan
bangkrut. Yah, tak lama lagi," jelas Pak Soepomo.
"Benar-benar tindakan yang nekat, pak," ujarku,
"Lalu, bagaimana dengan jasad Fera ?"
“Jasad Fera.... sampai saat ini belum ditemukan, nak...
Neng Yessy juga mencarinya,” ujar Soepomo.
"Apakah bapak sering bertemu dengan Yessy itu
?"
"Bapak bertemu dengan neng Yessy, 1 Minggu yang
lalu, dia memberikan berkas pengiriman barang setahun yang lalu, setelah itu
Bapak tidak pernah bertemu dengannya lagi, khawatir terjadi sesuatu
padanya,"
***
Pria bertubuh tegap, tinggi, gempal berambut gondrong itu
tampak sibuk mengawasi 2 orang yang sedang menata bungkusan berwarna coklat
kehitaman di sebuah bagasi. Barang tersebut esok harus segera dibawa ke 5 kota
besar di sekitar Jawa Barat dan sekitarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Begitu semua
barang selesai ditata, bagasi mobil ditutup dan dikunci. Setelah memberikan 2
lembar uang kertas senilai 100.000 pada masing-masing orang, ia ditinggal
sendiri. Sebatang rokok disulut, ia bersandar pada badan mobil sementara
sepasang matanya menerawang jauh ke langit yang diterangi bulan purnama plus
pernak-pernik nya.
"Mas....
__ADS_1
ada paket....
tolong diterima..."
Suara itu menggema, mengambang, datar dan dingin. Pria
gondrong itu menoleh kesana-kemari, tidak ada siapapun di sekitar tempat itu.
Angin dingin berhembus perlahan menerpa tengkuknya. Menusuk ke setiap nadi dan
pembuluh darahnya. Pada saat itulah tercium aroma harum bunga melati, namun
aroma itu makin menyengat sekalipun harum tapi bercampur dengan bau aneh yang
tak tahu darimana asalnya.
Perlahan-lahan aroma wangi digantikan dengan bau aneh.
Pria itu mengusap-usap hidungnya... sekian lama ia bergerak di bidang penjualan
obat-obat terlarang, ia paham betul bahwa aroma yang diciumnya saat ini
bukanlah aroma obat-obatan tapi, aroma mayat busuk.
"Mas....
ada paket....
tolong diterima..."
Suara itu terdengar dua kali, kali ini terdengar dekat
sekali, tapi si pemilik suara tidak nampak. Jantungnya berdegup dengan kencang,
nafasnya memburu dan hawa dingin merayapi sekujur tubuhnya.
"Siapa itu ?" tanyanya dengan suara
sepasang matanya tertuju pada sebuah bayangan sekitar 5 meter dari tempat ia
berdiri. Bayangan wanita berpakaian coklat bercampur merah kehitaman khas
pakaian kurir Ok Go namun compang-camping, topi Eiger dikepala, menutupi
wajahnya yang setengah tertunduk.
Cahaya lampu yang remang-remang, membuat ia harus
memfokuskan pandangannya lurus ke arah depan tempat wanita itu berdiri. Tidak
ada siapa-siapa disana, mungkin ia sedang berhalusinasi. Ia tersenyum-senyum
kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala melangkah memasuki mobil. Akan tetapi,
baru saja melangkah beberapa tindak, tepat di dekat hidung muncullah wajah
lain.
Laki-laki itu menjerit kaget terlebih setelah melihat
salah satu mata di wajah itu berlobang, sementara yang satunya lagi tampak
dikerumuni belatung, cacing, kelabang dan hewan-hewan melata lain
bergerak-gerak merayapi bagian dalam kulit pipi dan keluar melalui bola matanya
yang putih.
Belum habis rasa kagetnya, mulutnya telah dijejali
serbuk-serbuk putih mengkilap bak kristal. Ia berontak tapi, sekujur tubuhnya
__ADS_1
serasa tak bertenaga. Serbuk-serbuk putih itu seakan tidak ada habisnya, masuk
dan memenuhi kerongkongannya.
***
Pemuda itu menggerakkan jari-jemarinya pada keypad,
keringat dingin bercucuran, mulutnya gemetaran saat ia mengucapkan kata,
“Hallo, Tuan Muda Zein. Si Naga meninggal,”
"Apa ? Si naga mati ? Siapa yang membunuhnya ?"
teriak Tuan Muda Zain di seberang sana.
"Over dosis, tuan,"
"Bagus sekali... itu adalah kesalahannya, biarkan
saja ia terbakar di neraka. Lalu bagaimana rencana pengiriman hari ini ?"
"Bagian pengiriman juga meninggal, tuan tadi
menjelang subuh,"
"Apakah kematian sekarang sudah jadi tradisi. Semua
orang pada mati, artinya, aku lebih bisa berhemat. Namamu, Deviant, kan?
Sekarang aku akan menaikkan gajimu jika kau bisa mengatasi pengiriman
barang-barang kita ke tempat tujuan tepat waktu.... bagaimana?"
"Siap... saya akan berusaha,"
"Bagus... kutunggu kabar baik darimu... jika masih
ada barang yang pengirimannya tersendat-sendat, maka, aku akan memecatmu,"
Telepon ditutup orang yang bernama Deviant itu termenung
beberapa saat, "Sial, malah aku yang kena getahnya," gumamnya seorang
diri.
Baru saja ia menutup mulutnya, sebuah cincin emas bermata
merah delima menggelinding ke arahnya dan berhenti tepat diantara kedua telapak
kakinya. Ia terkejut lalu memungutnya, “Cincin emas bermata merah delima, milik
siapa ini,”
Deviant membelalakkan mata, seorang wanita berpakaian
kurir Ok Go compang-camping kurus dan kulitnya pucat sudah berdiri di
hadapannya. Jantung pria berusia 39 tahun itu seakan berhenti berdetak. Aroma
busuk menguar menusuk-nusuk lubang hidung, perutnya seakan diaduk-aduk. Ia
hendak membuka mulut seakan hendak bertanya siapa wanita itu namun suara
seperti terhenti di kerongkongan.
Pada mulut yang terbuka, Kurir Wanita itu menjejalkan
sebuah bungkusan kecil berisi serbuk-serbuk putih. Satu, dua, tiga hingga lima
sampai akhirnya, wajah Deviant membiru dan tubuhnya tak bergerak-gerak lagi.
__ADS_1
***