Kurir

Kurir
BAB 8 : KEADILAN TUNGGAL ( bag. kedua )


__ADS_3

Zainal Abidin Al-Kathiri, membuka kelopak matanya.


Mendapati dirinya tengah terikat kuat pada sebuah ruangan kecil yang lembab.


Butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan ruangan tersebut. Ia pusing,


pandangannya berkunang – kunang dan pelipis kanannya sakit sekali, darah merah


kehitaman masih mengucur deras pada luka tersebut. Ia mengalami gegar otak yang


cukup parah.


Dalam jarak lebih kurang 3 meter, Zain bisa melihat


seorang wanita bertubuh sintal berdiri membelakanginya. Wanita itu mengamati


mata sebilah pisau tajam berkilat – kilat tertimpa cahaya lampu.


“Yes... Yessy, apa yang kau lakukan ?” tanya Zain menahan


sakit, suaranya gemetar dan tubuhnya bergetar hebat.


“Kau telah membunuh kakakku, Fera... Polisi malah


membiarkanmu bebas berkeliaran. Kalau hukum tidak mampu menjamahmu, maka ...


akulah yang meminta keadilan untuk kakakku,” kata wanita itu sambil membalikkan


badan, berjalan ke arah pemuda keturunan Arab itu. Seringai mengerikan


tergambar jelas pada wajahnya. Di mata pemuda itu, Yessy dulu adalah wanita


cantik dan lembut yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi, tapi, sekarang


dia bagaikan seorang bidadari yang siap untuk mencabut nyawanya sewaktu –


waktu.


“Sreth !”


Suara itu terdengar sekejab saja, tahu – tahu mata pisau


dapur telah basah oleh darah segar yang muncrat membasahi lantai sebagian


memercik ke wajah Yessy, kulit pada dada Zain terbuka. Pemuda itu berteriak


kesakitan, matanya melotot. Wanita itu seakan tidak peduli, sepasang matanya


tajam dan dingin ke arah Zain yang berteriak – teriak sambil meronta – ronta


hendak melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya.


"allaenati! laenat amra'atin!


sa'adfae lak eidat maraat muqabil sikik hadha. 'ant eahirat allaena !! " umpatnya dalam


bahasa Arab.


( “Keparat ! Wanita sialan ! Aku akan membalasnya berkali


– kali lipat atas perbuatanmu ini. Dasar pelacur sialan !!” )


“Lihat saja keadaanmu sekarang ! Nyawamu berada di ujung


tanduk tapi lidahmu masih tajam ! Mari kita lihat, lebih tajam mana ... Lidahmu


atau pisauku ini !” kata Yessy sambil membuka paksa mulut pemuda itu. Begitu


mulut terbuka, ia menarik lidahnya dengan tang bergerigi, dan ...


“Crash ...”


Mata pisau bergerak cepat, memotong lidah Zain yang kini


meringis kesakitan. Selain sepasang mata yang melotot menahan sakit, urat –


uratnya bertonjolan keluar. Sakit dan marah, dia tidak terima atas perlakuan


Yessy. Itulah yang bisa digambarkan lewat airmukanya.


Yessy melempar tang yang masih menjepit potongan lidah


Zain ke lantai. Mengambil sekantong plastik berisi serbuk putih mengkilap, lalu


berkata, “Kau mencekoki kakakku dengan serbuk ini, bukan ? Bagaimana jika kau


sendiri yang dijejali serbuk ini ? Ehm... coba setengah kilo dulu, ya !”


katanya sambil memasukkan kantong itu ke mulut Zain, “Telan !” bentaknya sambil


terus memasukkan serbuk itu berikut plastiknya. Ia tidak peduli betapa wajah


pemuda itu membiru, batuk – batuk ataupun tersedak, tujuannya sudah jelas


memasukkan seluruh kokain itu ke dalam kerongkongan Zain.


Yessy beringas, bagaikan kesetanan sekalipun sepasang


matanya basah oleh airmata. Dendam telah membakar seluruh jiwa dan raganya.


Masih terbayang dengan jelas di benaknya segala kejadian pahit yang telah


merubah hidupnya juga kakaknya. Kenangan-kenangan itu bagaikan sebuah slide


adegan film yang diputar berulang – ulang.


***


Waktu itu Covid 19, merebak ke seantero negeri. Banyak


perusahaan besar melakukan PHK pada karyawannya. Yessy dan Fera adalah dua


orang dari banyak karyawan yang jadi korban PHK tersebut. Mereka tidak lagi


mampu memenuhi kebutuhan hidupnya yang kian melejit. Fera harus menghidupi 3


orang anaknya setelah bercerai dengan suami.


Adalah Eric Yeung, salah satu CEO muda gigih, pantang


mundur menghadapi situasi yang tidak pasti itu. Akhirnya, dibukalah kantor jasa


angkutan Ok Go, bergerak di bidang pengiriman barang. Pemuda brilian itu dalam


waktu singkat berhasil membuat perusahaannya berada di puncak saat banyak


perusahaan – perusahaan lain berada diambang kehancuran.


Eric Yeung tidak berhenti sampai disini. Ia mengembangkan

__ADS_1


sayap perusahaannya ke berbagai daerah dalam dan luar negeri. Karena sibuk


dengan bisnisnya, CEO muda itu mengangkat Zainal Abidin Al-Kathiri sahabat


karibnya untuk menangani salah satu anak cabang perusahaan. Sayangnya, Eric


Yeung salah memilih orang. Pada bab – bab sebelumnya telah diceritakan


bagaimana Ok Go yang semula bergerak di bidang jasa pengiriman barang beralih


fungsinya menjadi kantor penjual barang haram.


Sebelum Zainal memimpin perusahaan milik Eric Yeung, Fera


sudah menjadi salah satu kurir Ok Go. Dia nyaman sekali bekerja di kantor


tersebut dan berniat memasukkan Yessy, adiknya menjadi kurir juga. Tapi, nasib


berkata lain, suatu hari Yessy bertemu dengan Zain. Keduanya saling jatuh hati,


hingga mereka menjadi sepasang kekasih. Zain tidak tahu – menahu bahwa Yessy


adalah adik Fera. Membuat hubungan mereka merenggang.


Selama menjadi kekasih Zain, Yessy menurut saja apa yang


dikatakan oleh pemuda itu. Hingga suatu hari, terjadi peristiwa yang membuat


hatinya serasa disayat – sayat sembilu. Ia diajak ke sebuah tempat terpencil


dan melihat kakaknya dicekoki kokain, diperkosa secara bergantian oleh beberapa


anak buah Zain, sementara, ia diminta untuk merekam adegan tersebut. Jika tidak


ada Zain di sampingnya, mungkin ia akan menolak keras permintaan mereka. Akan


tetapi, ia tahu siapa pemuda bernama Zain itu. Pemuda yang manja, kejam,


ambisius dan brutal. Demi memenuhi ambisinya, tega berbuat apa saja menyiksa


bahkan membunuh siapapun yang menghalanginya.


Dengan sangat terpaksa Yessy merekam adegan itu,


sementara, di dalam hatinya, ia menangis pilu dan bertekad membalas perlakuan


Zain pada kakaknya. Demi membalas dendam, ia rela menjadi budak pemuas nafsu


pemuda keturunan Arab itu, namun, tidak ada lagi kata cinta dan sayang di


hatinya.


“Kak, maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya, tapi,


jangan khawatir aku akan membalas sakit hati ini kelak, bila saatnya tiba,”


kata Yessy kepada kakaknya sebelum Zain mengajaknya pergi dari tempat itu.


Selanjutnya, ia tak tahu apa yang terjadi pada kakaknya, yang ia tahu setelah


mengalami kejadian itu Fera menghilang entah kemana. Entah hidup atau sudah


mati.


Yessy berusaha mencari tahu keberadaan kakaknya lewat Pak


Pomo yang malam jahanam itu juga mengalami kekerasan fisik hingga menderita


menyeret Zain ke meja hijau atau setidaknya berita ini sampai ke telinga Eric


Yeung.


Tapi, entah bagaimana caranya, setelah berhasil menyeret


Zain ke pihak berwajib, pemuda keturunan Arab itu tidak terjamah oleh hukum.


Kemarahan Yessy meledak, ia memilih untuk meninggalkan


semua pekerjaan gelap dan haramnya, terlebih Zain walau sebenarnya, ada rasa


takut menghantuinya setiap hari. Takut untuk bertemu dengan Zain dan orang –


orangnya sambil menunggu. Dan, saat itu telah tiba.


Zain masuk ke dalam perangkapnya, tangan dan kaki pemuda


itu terikat kuat. Yessy yang sudah terlanjur dibakar oleh api dendam dan


kebencian menyiksanya habis – habisan.


***


[ MOHON PERHATIAN !! PADA


BAGIAN INI TERDAPAT UNSUR KEKERASAN FISIK, PEMUTILASIAN DAN SEJENISNYA. PENULIS


BERHARAP PARA PEMBACA MENYIKAPINYA DENGAN BIJAK ]


Setelah mencekoki Zain dengan kokain, sekujur tubuh


pemuda itu membiru pucat, matanya terbelalak lebar, kosong. Tubuhnya sudah


tidak bergerak – gerak lagi, tak terhitung berapa mili gram atau bahkan kilo


kokain yang sudah terserap dalam tubuhnya. Jelas, tubuhnya tak mampu mencerna


serbuk – serbuk kokain itu, pada mulutnya penuh dengan busa.


Yessy menatap tajam dan dingin ke arah Zain yang sudah


terbujur menjadi mayat itu.


“Kau tadi bertanya, apa yang hendak aku lakukan, bukan ?


Aku akan menjawabnya sekarang sekalipun telingamu sudah tak bisa mendengar apa


– apa lagi. Kubelah tubuhmu, kukeluarkan seluruh isinya, kuganti dengan barang


– barang haram ini agar tak ada lagi orang yang menderita karenanya,” kata


Yessy sambil menyambar sebuah pisau pemotong daging yang sudah disiapkan di


sebuah meja tempat Zain terikat.


Tubuh Yessy bergetar hebat, sepasang matanya berkilat –


kilat mengerikan dan...


“Sreth... sreth... sreth...”

__ADS_1


Mata pisau sudah menusuk lambung Zain, darah menyembur


keluar, sebagian membasahi tubuh Yessy. Wanita cantik bertubuh sintal itu mulai


memberi sayatan panjang pada perut dan berhenti pada dada. Ia mengeluarkan


seluruh organ dalam Zain dan memasukkannya ke dalam kuali berisi air mendidih.


Setelah bagian tubuh yang terbuka dirasa bersih, ia memasukkan kokain, sabu –


sabu, ganja dan sejenisnya ke dalam tubuh itu dan menjahitnya dengan rapi.


Di sisi lain, hati Yessy hancur berkeping – keping, tak


terhitung berapa kali kenangan pahit terlintas di benaknya. Ia dan kakaknya


berusaha memperbaiki nasib dengan bekerja : kakaknya sebagai kurir dan ia rela


menjadi PSK. Namun, siapa sangka harus mengalami nasib yang lebih buruk. Ia


mengambil jirigen berisi bensin dan membasahi semua ruangan dengan bensin itu.


Terakhir, ia menyiram tubuh Zain dengan bensin.


“Bu Lasmi, mungkin mau membeli seluruh organ dalammu yang


beratnya lebih dari satu kilo ini. Selamat tinggal, Zain... aku berharap, tidak


akan bertemu manusia sepertimu lagi di dunia ini,” sambil berkata demikian, ia


mengambil pemantik, menyalakannya dan saat api masih menyala, pemantik itu dilemparkan


sembarangan.


Saat Yessy keluar, rumah yang telah meninggalkan kenangan


pahit maupun manis itu sudah dilalap si jago merah. Membakar segala – galanya.


***


Pagi itu ...


Aku, Pak Pomo dan Ella kembali menuju ke tempat


pembuangan besi – besi tua yang sempat kami kunjungi beberapa waktu yang lalu.


Setelah berjalan cukup lama, tibalah aku pada sebuah tempat. Tempat itu


terpencil, banyak tanaman liar, merambat dan ilalang tumbuh lebat. Tampaknya,


tempat itu satu – satunya yang jarang sekali dijamah oleh tangan – tangan


manusia. Besi – besi tua diletakkan berserakan tumpuk – menumpuk tak keruan.


Sebagian permukaan besi – besi itu diselimuti oleh tanaman merambat. Mendadak


bulu kudukku merinding melihat keadaan sekitar. Bukan hanya aku, tapi, perasaan


yang sama juga dirasakan oleh Ella dan Pak Pomo.


Aku teringat ucapan Arimbi. Menarik nafas dan


menghembuskannya perlahan... satu kali, dua kali dan pada saat yang ketiga


kalinya tampak olehku sesosok bayangan wanita berpakaian kurir dengan topi


eiger menutupi kepala dan wajahnya yang setengah menunduk. Ia berdiri di dekat


rimbunan semak – semak liar itu, 1 meter di depanku. Perlahan – lahan, ia


mengangkat tangan kanan, telunjuknya menuding lurus – lurus ke arah semak –


semak itu.


“El... apakah kau membawa ponsel ?” tanyaku.


“Iya, saya membawanya, Raisa... kenapa ?”


“Saya bisa minta tolong untuk memanggil petugas pemadam


kebakaran, kepolisian atau apapun. Tampaknya, kita menemukan sesuatu,” ujarku.


Sekalipun heran Ella dan Pak Pomo heran, Ella mengangguk


dan jari – jemarinya menekan keypad. Dan...


Tidak kurang dari 20 menit, mobil damkar muncul dan aku


menjelaskan semua pada salah seorang petugas.


Setelah melalui perundingan yang cukup alot, akhirnya


beberapa petugas damkar mulai bekerja membabat, memotong dan menyingkirkan


tanaman – tanaman liar. Setelah bekerja lebih kurang satu jam, tampak mobil VW


berwarna oranye, berkarat dan ringsek pada bagian depan. Aroma busuk segera


tercium, beberapa petugas Damkar muntah – muntah, sebagian lagi memeriksa


setiap inci tempat tersebut, mencari sumber bau itu dengan mengenakan masker.


Mereka menemukan sesosok mayat mengenakan pakaian kurir


Ok Go, berjenis kelamin wanita dan pada bagian dada sebelah kiri tercantum


label nama. Sekalipun sudah usang namun, aku bisa melihat dengan jelas 4 huruf


balok yang tertera disana “FERA”. Keadaan mayatnya tampak sebagian sudah


membusuk dan dirayapi belatung, cacing, kelabang dan lalat. Semua orang yang


melihat luka – lukanya sama – sama bisa menarik kesimpulan bahwa wanita ini


telah mengalami kekerasan seksual.


Maka, demikianlah ....


Fera berhasil ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa


dan mengenaskan. Hari itu juga jenazahnya dibawa ke RS terdekat untuk keperluan


otopsi. Beberapa hari kemudian, pihak keluarga membawanya pulang untuk


dimakamkan dengan layak.


Yessy menghilang entah kemana, pembunuhan dan pembakaran


yang dilakukannya tetap menjadi misteri bagi pihak kepolisian.

__ADS_1


***


__ADS_2