
Zainal Abidin Al-Kathiri, membuka kelopak matanya.
Mendapati dirinya tengah terikat kuat pada sebuah ruangan kecil yang lembab.
Butuh waktu lama untuk beradaptasi dengan ruangan tersebut. Ia pusing,
pandangannya berkunang – kunang dan pelipis kanannya sakit sekali, darah merah
kehitaman masih mengucur deras pada luka tersebut. Ia mengalami gegar otak yang
cukup parah.
Dalam jarak lebih kurang 3 meter, Zain bisa melihat
seorang wanita bertubuh sintal berdiri membelakanginya. Wanita itu mengamati
mata sebilah pisau tajam berkilat – kilat tertimpa cahaya lampu.
“Yes... Yessy, apa yang kau lakukan ?” tanya Zain menahan
sakit, suaranya gemetar dan tubuhnya bergetar hebat.
“Kau telah membunuh kakakku, Fera... Polisi malah
membiarkanmu bebas berkeliaran. Kalau hukum tidak mampu menjamahmu, maka ...
akulah yang meminta keadilan untuk kakakku,” kata wanita itu sambil membalikkan
badan, berjalan ke arah pemuda keturunan Arab itu. Seringai mengerikan
tergambar jelas pada wajahnya. Di mata pemuda itu, Yessy dulu adalah wanita
cantik dan lembut yang selalu menemaninya kemanapun ia pergi, tapi, sekarang
dia bagaikan seorang bidadari yang siap untuk mencabut nyawanya sewaktu –
waktu.
“Sreth !”
Suara itu terdengar sekejab saja, tahu – tahu mata pisau
dapur telah basah oleh darah segar yang muncrat membasahi lantai sebagian
memercik ke wajah Yessy, kulit pada dada Zain terbuka. Pemuda itu berteriak
kesakitan, matanya melotot. Wanita itu seakan tidak peduli, sepasang matanya
tajam dan dingin ke arah Zain yang berteriak – teriak sambil meronta – ronta
hendak melepaskan diri dari belenggu yang mengikatnya.
"allaenati! laenat amra'atin!
sa'adfae lak eidat maraat muqabil sikik hadha. 'ant eahirat allaena !! " umpatnya dalam
bahasa Arab.
( “Keparat ! Wanita sialan ! Aku akan membalasnya berkali
– kali lipat atas perbuatanmu ini. Dasar pelacur sialan !!” )
“Lihat saja keadaanmu sekarang ! Nyawamu berada di ujung
tanduk tapi lidahmu masih tajam ! Mari kita lihat, lebih tajam mana ... Lidahmu
atau pisauku ini !” kata Yessy sambil membuka paksa mulut pemuda itu. Begitu
mulut terbuka, ia menarik lidahnya dengan tang bergerigi, dan ...
“Crash ...”
Mata pisau bergerak cepat, memotong lidah Zain yang kini
meringis kesakitan. Selain sepasang mata yang melotot menahan sakit, urat –
uratnya bertonjolan keluar. Sakit dan marah, dia tidak terima atas perlakuan
Yessy. Itulah yang bisa digambarkan lewat airmukanya.
Yessy melempar tang yang masih menjepit potongan lidah
Zain ke lantai. Mengambil sekantong plastik berisi serbuk putih mengkilap, lalu
berkata, “Kau mencekoki kakakku dengan serbuk ini, bukan ? Bagaimana jika kau
sendiri yang dijejali serbuk ini ? Ehm... coba setengah kilo dulu, ya !”
katanya sambil memasukkan kantong itu ke mulut Zain, “Telan !” bentaknya sambil
terus memasukkan serbuk itu berikut plastiknya. Ia tidak peduli betapa wajah
pemuda itu membiru, batuk – batuk ataupun tersedak, tujuannya sudah jelas
memasukkan seluruh kokain itu ke dalam kerongkongan Zain.
Yessy beringas, bagaikan kesetanan sekalipun sepasang
matanya basah oleh airmata. Dendam telah membakar seluruh jiwa dan raganya.
Masih terbayang dengan jelas di benaknya segala kejadian pahit yang telah
merubah hidupnya juga kakaknya. Kenangan-kenangan itu bagaikan sebuah slide
adegan film yang diputar berulang – ulang.
***
Waktu itu Covid 19, merebak ke seantero negeri. Banyak
perusahaan besar melakukan PHK pada karyawannya. Yessy dan Fera adalah dua
orang dari banyak karyawan yang jadi korban PHK tersebut. Mereka tidak lagi
mampu memenuhi kebutuhan hidupnya yang kian melejit. Fera harus menghidupi 3
orang anaknya setelah bercerai dengan suami.
Adalah Eric Yeung, salah satu CEO muda gigih, pantang
mundur menghadapi situasi yang tidak pasti itu. Akhirnya, dibukalah kantor jasa
angkutan Ok Go, bergerak di bidang pengiriman barang. Pemuda brilian itu dalam
waktu singkat berhasil membuat perusahaannya berada di puncak saat banyak
perusahaan – perusahaan lain berada diambang kehancuran.
Eric Yeung tidak berhenti sampai disini. Ia mengembangkan
__ADS_1
sayap perusahaannya ke berbagai daerah dalam dan luar negeri. Karena sibuk
dengan bisnisnya, CEO muda itu mengangkat Zainal Abidin Al-Kathiri sahabat
karibnya untuk menangani salah satu anak cabang perusahaan. Sayangnya, Eric
Yeung salah memilih orang. Pada bab – bab sebelumnya telah diceritakan
bagaimana Ok Go yang semula bergerak di bidang jasa pengiriman barang beralih
fungsinya menjadi kantor penjual barang haram.
Sebelum Zainal memimpin perusahaan milik Eric Yeung, Fera
sudah menjadi salah satu kurir Ok Go. Dia nyaman sekali bekerja di kantor
tersebut dan berniat memasukkan Yessy, adiknya menjadi kurir juga. Tapi, nasib
berkata lain, suatu hari Yessy bertemu dengan Zain. Keduanya saling jatuh hati,
hingga mereka menjadi sepasang kekasih. Zain tidak tahu – menahu bahwa Yessy
adalah adik Fera. Membuat hubungan mereka merenggang.
Selama menjadi kekasih Zain, Yessy menurut saja apa yang
dikatakan oleh pemuda itu. Hingga suatu hari, terjadi peristiwa yang membuat
hatinya serasa disayat – sayat sembilu. Ia diajak ke sebuah tempat terpencil
dan melihat kakaknya dicekoki kokain, diperkosa secara bergantian oleh beberapa
anak buah Zain, sementara, ia diminta untuk merekam adegan tersebut. Jika tidak
ada Zain di sampingnya, mungkin ia akan menolak keras permintaan mereka. Akan
tetapi, ia tahu siapa pemuda bernama Zain itu. Pemuda yang manja, kejam,
ambisius dan brutal. Demi memenuhi ambisinya, tega berbuat apa saja menyiksa
bahkan membunuh siapapun yang menghalanginya.
Dengan sangat terpaksa Yessy merekam adegan itu,
sementara, di dalam hatinya, ia menangis pilu dan bertekad membalas perlakuan
Zain pada kakaknya. Demi membalas dendam, ia rela menjadi budak pemuas nafsu
pemuda keturunan Arab itu, namun, tidak ada lagi kata cinta dan sayang di
hatinya.
“Kak, maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya, tapi,
jangan khawatir aku akan membalas sakit hati ini kelak, bila saatnya tiba,”
kata Yessy kepada kakaknya sebelum Zain mengajaknya pergi dari tempat itu.
Selanjutnya, ia tak tahu apa yang terjadi pada kakaknya, yang ia tahu setelah
mengalami kejadian itu Fera menghilang entah kemana. Entah hidup atau sudah
mati.
Yessy berusaha mencari tahu keberadaan kakaknya lewat Pak
Pomo yang malam jahanam itu juga mengalami kekerasan fisik hingga menderita
menyeret Zain ke meja hijau atau setidaknya berita ini sampai ke telinga Eric
Yeung.
Tapi, entah bagaimana caranya, setelah berhasil menyeret
Zain ke pihak berwajib, pemuda keturunan Arab itu tidak terjamah oleh hukum.
Kemarahan Yessy meledak, ia memilih untuk meninggalkan
semua pekerjaan gelap dan haramnya, terlebih Zain walau sebenarnya, ada rasa
takut menghantuinya setiap hari. Takut untuk bertemu dengan Zain dan orang –
orangnya sambil menunggu. Dan, saat itu telah tiba.
Zain masuk ke dalam perangkapnya, tangan dan kaki pemuda
itu terikat kuat. Yessy yang sudah terlanjur dibakar oleh api dendam dan
kebencian menyiksanya habis – habisan.
***
[ MOHON PERHATIAN !! PADA
BAGIAN INI TERDAPAT UNSUR KEKERASAN FISIK, PEMUTILASIAN DAN SEJENISNYA. PENULIS
BERHARAP PARA PEMBACA MENYIKAPINYA DENGAN BIJAK ]
Setelah mencekoki Zain dengan kokain, sekujur tubuh
pemuda itu membiru pucat, matanya terbelalak lebar, kosong. Tubuhnya sudah
tidak bergerak – gerak lagi, tak terhitung berapa mili gram atau bahkan kilo
kokain yang sudah terserap dalam tubuhnya. Jelas, tubuhnya tak mampu mencerna
serbuk – serbuk kokain itu, pada mulutnya penuh dengan busa.
Yessy menatap tajam dan dingin ke arah Zain yang sudah
terbujur menjadi mayat itu.
“Kau tadi bertanya, apa yang hendak aku lakukan, bukan ?
Aku akan menjawabnya sekarang sekalipun telingamu sudah tak bisa mendengar apa
– apa lagi. Kubelah tubuhmu, kukeluarkan seluruh isinya, kuganti dengan barang
– barang haram ini agar tak ada lagi orang yang menderita karenanya,” kata
Yessy sambil menyambar sebuah pisau pemotong daging yang sudah disiapkan di
sebuah meja tempat Zain terikat.
Tubuh Yessy bergetar hebat, sepasang matanya berkilat –
kilat mengerikan dan...
“Sreth... sreth... sreth...”
__ADS_1
Mata pisau sudah menusuk lambung Zain, darah menyembur
keluar, sebagian membasahi tubuh Yessy. Wanita cantik bertubuh sintal itu mulai
memberi sayatan panjang pada perut dan berhenti pada dada. Ia mengeluarkan
seluruh organ dalam Zain dan memasukkannya ke dalam kuali berisi air mendidih.
Setelah bagian tubuh yang terbuka dirasa bersih, ia memasukkan kokain, sabu –
sabu, ganja dan sejenisnya ke dalam tubuh itu dan menjahitnya dengan rapi.
Di sisi lain, hati Yessy hancur berkeping – keping, tak
terhitung berapa kali kenangan pahit terlintas di benaknya. Ia dan kakaknya
berusaha memperbaiki nasib dengan bekerja : kakaknya sebagai kurir dan ia rela
menjadi PSK. Namun, siapa sangka harus mengalami nasib yang lebih buruk. Ia
mengambil jirigen berisi bensin dan membasahi semua ruangan dengan bensin itu.
Terakhir, ia menyiram tubuh Zain dengan bensin.
“Bu Lasmi, mungkin mau membeli seluruh organ dalammu yang
beratnya lebih dari satu kilo ini. Selamat tinggal, Zain... aku berharap, tidak
akan bertemu manusia sepertimu lagi di dunia ini,” sambil berkata demikian, ia
mengambil pemantik, menyalakannya dan saat api masih menyala, pemantik itu dilemparkan
sembarangan.
Saat Yessy keluar, rumah yang telah meninggalkan kenangan
pahit maupun manis itu sudah dilalap si jago merah. Membakar segala – galanya.
***
Pagi itu ...
Aku, Pak Pomo dan Ella kembali menuju ke tempat
pembuangan besi – besi tua yang sempat kami kunjungi beberapa waktu yang lalu.
Setelah berjalan cukup lama, tibalah aku pada sebuah tempat. Tempat itu
terpencil, banyak tanaman liar, merambat dan ilalang tumbuh lebat. Tampaknya,
tempat itu satu – satunya yang jarang sekali dijamah oleh tangan – tangan
manusia. Besi – besi tua diletakkan berserakan tumpuk – menumpuk tak keruan.
Sebagian permukaan besi – besi itu diselimuti oleh tanaman merambat. Mendadak
bulu kudukku merinding melihat keadaan sekitar. Bukan hanya aku, tapi, perasaan
yang sama juga dirasakan oleh Ella dan Pak Pomo.
Aku teringat ucapan Arimbi. Menarik nafas dan
menghembuskannya perlahan... satu kali, dua kali dan pada saat yang ketiga
kalinya tampak olehku sesosok bayangan wanita berpakaian kurir dengan topi
eiger menutupi kepala dan wajahnya yang setengah menunduk. Ia berdiri di dekat
rimbunan semak – semak liar itu, 1 meter di depanku. Perlahan – lahan, ia
mengangkat tangan kanan, telunjuknya menuding lurus – lurus ke arah semak –
semak itu.
“El... apakah kau membawa ponsel ?” tanyaku.
“Iya, saya membawanya, Raisa... kenapa ?”
“Saya bisa minta tolong untuk memanggil petugas pemadam
kebakaran, kepolisian atau apapun. Tampaknya, kita menemukan sesuatu,” ujarku.
Sekalipun heran Ella dan Pak Pomo heran, Ella mengangguk
dan jari – jemarinya menekan keypad. Dan...
Tidak kurang dari 20 menit, mobil damkar muncul dan aku
menjelaskan semua pada salah seorang petugas.
Setelah melalui perundingan yang cukup alot, akhirnya
beberapa petugas damkar mulai bekerja membabat, memotong dan menyingkirkan
tanaman – tanaman liar. Setelah bekerja lebih kurang satu jam, tampak mobil VW
berwarna oranye, berkarat dan ringsek pada bagian depan. Aroma busuk segera
tercium, beberapa petugas Damkar muntah – muntah, sebagian lagi memeriksa
setiap inci tempat tersebut, mencari sumber bau itu dengan mengenakan masker.
Mereka menemukan sesosok mayat mengenakan pakaian kurir
Ok Go, berjenis kelamin wanita dan pada bagian dada sebelah kiri tercantum
label nama. Sekalipun sudah usang namun, aku bisa melihat dengan jelas 4 huruf
balok yang tertera disana “FERA”. Keadaan mayatnya tampak sebagian sudah
membusuk dan dirayapi belatung, cacing, kelabang dan lalat. Semua orang yang
melihat luka – lukanya sama – sama bisa menarik kesimpulan bahwa wanita ini
telah mengalami kekerasan seksual.
Maka, demikianlah ....
Fera berhasil ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa
dan mengenaskan. Hari itu juga jenazahnya dibawa ke RS terdekat untuk keperluan
otopsi. Beberapa hari kemudian, pihak keluarga membawanya pulang untuk
dimakamkan dengan layak.
Yessy menghilang entah kemana, pembunuhan dan pembakaran
yang dilakukannya tetap menjadi misteri bagi pihak kepolisian.
__ADS_1
***