
Rumah itu tampak sederhana, jauh dari keramaian, berada
di tengah halaman yang cukup luas dengan berbagai tanaman perdu, dikelilingi
oleh pagar coklat. Dari kejauhan tampak sebuah taxi mendekat, berhenti tepat
pada pintu pagar besi tersebut. Pintu bagian belakang terbuka, seorang wanita
bertubuh sintal keluar, turun dan setelah menoleh kesana – kemari memastikan
tak ada orang lain mengikuti, ia membuka pintu gerbang dan buru – buru
menutupnya kembali.
Ia bergegas masuk ke dalam rumah, mengunci pintu depan
dan menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil menghela nafas panjang.
“Rumah yang cukup nyaman ditinggali, bukan ?”
Suara itu mengejutkannya, buru – buru ia melompat bangun
dan mengalihkan pandangannya ke suara itu berasal. Seorang laki – laki muda
berkulit sawo matang duduk pada salah satu sofa tak jauh dari tempat wanita itu
berada. Ia meletakkan kaki kanan pada paha kirinya.
“Zainal Abidin Al Khatiri,” ujar wanita itu, wajahnya
pucat pasi.
“Yessy kecilku. Sudah lama tak bertemu, kau tampak
semakin cantik saja,” kata pemuda itu.
“Mau apa kau kemari, Zain ?!” tanya wanita itu, ada
ketakutan terpancar di wajahnya.
“Mengapa airmukamu berubah saat melihatku, sayang ?
Jangan kaku seperti itu, biasa sajalah,”
“Mau apa kau kemari, Zain ? Membunuhku ?” tanya wanita
yang dipanggil dengan nama Yessy itu.
“Membunuh orang yang kucintai dan kusayangi ? Kejam
__ADS_1
sekali prasangkamu itu. Tenanglah. Aku sangat merindukanmu, sayang... kau
jarang sekali berkunjung ke Villaku,” kata pemuda itu sementara jari –
jemarinya bergerak memainkan setiap helai rambut ikal Yessy dan sesekali
mendekatkan hidungnya yang mancung, “Hm, harum sekali,”
Yessy bergidik ngeri melihat sikap pemuda itu.
“Kau masih membilas rambutmu dengan shampo pemberianku,
ya ?” tanya Zain.
“Aku memang menyukainya. Itu selalu kupakai untuk membilas
rambutku,” ujar Yessy.
“Oh, bagus... bagus sekali sayang...” Zain mulai
melontarkan kata – kata manis sambil sesekali memberi kecupan – kecupan kecil
yang mesra sentuhan – sentuhan lembut yang membuat Yessy terbakar oleh gelora
api asmara, tapi, rasa takut membuat gelora itu sesegera mungkin padam,
terlebih saat jari – jemari Zain mencengkeram kuat batang lehernya, “Katakan
kutanggung. Semuanya,” katanya.
Yessy berontak hendak melepaskan cekikan Zain. Sepasang
matanya terbelalak lebar wajahnya membiru, ia mulai batuk – batuk kesulitan
untuk bernafas, ia tak bisa berbuat apa – apa selain pasrah.
Mendadak, Zain melepaskan cengkeramannya. Wajah Yessy
berubah pucat, otot – ototnya bertonjolan dan urat – uratnya keluar bagai
sekumpulan cacing, pupil matanya menghitam. Seringai mengerikan membuat pemuda
keturunan Arab itu melompat menjauh. Tapi ...
“IA TELAH DATANG,
MEMINTA KEADILAN ATAS PERBUATAN BUSUKMU,”
Entah darimana suara itu berasal, jauh tapi dekat, dekat
__ADS_1
tapi jauh. Zain tampak kebingungan. Saat mencari darimana asal suara itu,
tangannya dicengkeram kuat ... kuat sekali seakan hendak meremukkan tulang –
tulang pada pergelangan tangannya.
“Grap... “
Pergelangan tangan Zain dicengkeram kuat oleh jari –
jemari Yessy yang berkuku tajam, runcing dan hitam. Ia meringis kesakitan
hendak melepaskan cengkeraman itu, semakin kuat berontak, semakin kuat pula
genggaman tangan Yessy.
"abtaead
eaniy 'ayuha aleahirat allaeina !!"
( “Lepaskan aku, pelacur sialan !!” ) seru Zain.
“KKRRRKK ... KKKRRRKKK...”
Zain berteriak kesakitan, tubuhnya didorong ke belakang
sementara sosok Yessy yang berubah aneh itu menatapnya dengan tatapan tajam dan
dingin tapi sama sekali tidak ada tanda – tanda kehidupan di dalam sana.
“Siapa kau ?” tanya Zain dengan suara serak. Tubuhnya
bergetar hebat manakala sosok Yessy yang berdiri bagai patung itu perlahan –
lahan berubah menjadi seorang wanita berbaju kurir.
“Mas ...
Ada paket ...
Tolong diterima ...”
Itulah kata – kata pertama kali yang terlontar dari
bibirnya yang hitam, suara mengambang dan dingin.
“Bbuukk...”
Zain merasakan kepalanya dihantam oleh sebuah benda yang
__ADS_1
keras, seketika itu pula pandangannya kabur, kepalanya pusing, iapun roboh tak
sadarkan diri.