Kurir

Kurir
BAB 6 : KEADILAN TUNGGAL ( bag. pertama )


__ADS_3

Rumah itu tampak sederhana, jauh dari keramaian, berada


di tengah halaman yang cukup luas dengan berbagai tanaman perdu, dikelilingi


oleh pagar coklat. Dari kejauhan tampak sebuah taxi mendekat, berhenti tepat


pada pintu pagar besi tersebut. Pintu bagian belakang terbuka, seorang wanita


bertubuh sintal keluar, turun dan setelah menoleh kesana – kemari memastikan


tak ada orang lain mengikuti, ia membuka pintu gerbang dan buru – buru


menutupnya kembali.


Ia bergegas masuk ke dalam rumah, mengunci pintu depan


dan menghempaskan tubuhnya ke sofa sambil menghela nafas panjang.


“Rumah yang cukup nyaman ditinggali, bukan ?”


Suara itu mengejutkannya, buru – buru ia melompat bangun


dan mengalihkan pandangannya ke suara itu berasal. Seorang laki – laki muda


berkulit sawo matang duduk pada salah satu sofa tak jauh dari tempat wanita itu


berada. Ia meletakkan kaki kanan pada paha kirinya.


“Zainal Abidin Al Khatiri,” ujar wanita itu, wajahnya


pucat pasi.


“Yessy kecilku. Sudah lama tak bertemu, kau tampak


semakin cantik saja,” kata pemuda itu.


“Mau apa kau kemari, Zain ?!” tanya wanita itu, ada


ketakutan terpancar di wajahnya.


“Mengapa airmukamu berubah saat melihatku, sayang ?


Jangan kaku seperti itu, biasa sajalah,”


“Mau apa kau kemari, Zain ? Membunuhku ?” tanya wanita


yang dipanggil dengan nama Yessy itu.


“Membunuh orang yang kucintai dan kusayangi ? Kejam

__ADS_1


sekali prasangkamu itu. Tenanglah. Aku sangat merindukanmu, sayang... kau


jarang sekali berkunjung ke Villaku,” kata pemuda itu sementara jari –


jemarinya bergerak memainkan setiap helai rambut ikal Yessy dan sesekali


mendekatkan hidungnya yang mancung, “Hm, harum sekali,”


Yessy bergidik ngeri melihat sikap pemuda itu.


“Kau masih membilas rambutmu dengan shampo pemberianku,


ya ?” tanya Zain.


“Aku memang menyukainya. Itu selalu kupakai untuk membilas


rambutku,” ujar Yessy.


“Oh, bagus... bagus sekali sayang...” Zain mulai


melontarkan kata – kata manis sambil sesekali memberi kecupan – kecupan kecil


yang mesra sentuhan – sentuhan lembut yang membuat Yessy terbakar oleh gelora


api asmara, tapi, rasa takut membuat gelora itu sesegera mungkin padam,


terlebih saat jari – jemari Zain mencengkeram kuat batang lehernya, “Katakan


kutanggung. Semuanya,” katanya.


Yessy berontak hendak melepaskan cekikan Zain. Sepasang


matanya terbelalak lebar wajahnya membiru, ia mulai batuk – batuk kesulitan


untuk bernafas, ia tak bisa berbuat apa – apa selain pasrah.


Mendadak, Zain melepaskan cengkeramannya. Wajah Yessy


berubah pucat, otot – ototnya bertonjolan dan urat – uratnya keluar bagai


sekumpulan cacing, pupil matanya menghitam. Seringai mengerikan membuat pemuda


keturunan Arab itu melompat menjauh. Tapi ...


“IA TELAH DATANG,


MEMINTA KEADILAN ATAS PERBUATAN BUSUKMU,”


Entah darimana suara itu berasal, jauh tapi dekat, dekat

__ADS_1


tapi jauh. Zain tampak kebingungan. Saat mencari darimana asal suara itu,


tangannya dicengkeram kuat ... kuat sekali seakan hendak meremukkan tulang –


tulang pada pergelangan tangannya.


“Grap... “


Pergelangan tangan Zain dicengkeram kuat oleh jari –


jemari Yessy yang berkuku tajam, runcing dan hitam. Ia meringis kesakitan


hendak melepaskan cengkeraman itu, semakin kuat berontak, semakin kuat pula


genggaman tangan Yessy.


"abtaead


eaniy 'ayuha aleahirat allaeina !!"


( “Lepaskan aku, pelacur sialan !!” ) seru Zain.


“KKRRRKK ... KKKRRRKKK...”


Zain berteriak kesakitan, tubuhnya didorong ke belakang


sementara sosok Yessy yang berubah aneh itu menatapnya dengan tatapan tajam dan


dingin tapi sama sekali tidak ada tanda – tanda kehidupan di dalam sana.


“Siapa kau ?” tanya Zain dengan suara serak. Tubuhnya


bergetar hebat manakala sosok Yessy yang berdiri bagai patung itu perlahan –


lahan berubah menjadi seorang wanita berbaju kurir.


“Mas ...


Ada paket ...


Tolong diterima  ...”


Itulah kata – kata pertama kali yang terlontar dari


bibirnya yang hitam, suara mengambang dan dingin.


“Bbuukk...”


Zain merasakan kepalanya dihantam oleh sebuah benda yang

__ADS_1


keras, seketika itu pula pandangannya kabur, kepalanya pusing, iapun roboh tak


sadarkan diri.


__ADS_2