
Suara Berisik dari ruangan tengah membangunkanku.
Perlahan – lahan aku turun dari
pembaringan, berjingkat – jingkat menuju pintu kamar. Jam telah menunjukkan
pukul 02:30 tepat dini hari. Ada suara rintihan dan jeritan di sela – sela
tawa.
“Tidak... jangan ... lepaskan aku ...”
Suara itu terdengar timbul – tenggelam di ruang tengah.
Dengan hati yang berdebar – debar, kubuka pintu kamarku. Tidak ada siapapun,
hanya cahaya putih keperakan memantul dari jendela ruang tengah. Itu adalah
cahaya TV. Tunggu, bukankah di rumah ini hanya ada aku seorang ? Aku sudah
tertidur sejak pukul 20:30 dan aku yakin, tidak menyalakan TV sama sekali.
Lalu, siapa yang menyalakannya ? Terlebih tepat tengah malam seperti ini ? Akupun
sudah mengunci pintu dan jendela seluruh ruangan.
“Tidak... jangan ... lepaskan aku ...”
Teriakan itu kembali terdengar, arahnya memang dari ruang
tengah. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu ruang tengah perlahan –
lahan. Mengintip siapa sebenarnya pemilik suara itu. Aku terkejut, TV berlayar 24
inchi itu menyala demikian pula mesin pemutar Video VHS. Terpampang adegan
pemerkosaan Fera Budi Utami pada layar TV tersebut. Hah, bukankah Video kotak
itu ada di kamarku, siapa yang membawa dan memutarnya di ruangan ini ?
Sementara, tak ada seorang pun di ruangan ini. Buru – buru aku meraih remote
TV, kutekan tombol power. TV mati seketika berikut mesin pemutar Video VHS
tersebut, tak lupa pula aku mengeluarkan kasetnya dan bermaksud membawa ke
ruanganku .. akan tetapi, mendadak TV menyala lagi, menayangkan adegan yang
sama. Tubuhku gemetar tak keruan, tangan yang memegang video tape itu seakan
tak bertenaga.
Adegan terhenti saat Fera dibiarkan tergeletak lemas tak
berdaya, pakaiannya acak – acakan dan satu persatu para pemerkosa itu
meninggalkannya. Gambar pada TV perlahan – lahan berubah menjadi sekumpulan
semut berwarna putih, hanya sebentar saja dan digantikan oleh sesosok tubuh
berambut hitam, panjang, kusut dan tergerai. Ia duduk membelakangiku, memandangi
TV yang sudah mati.
“Siapa, kau ?” tanyaku dengan suara gemetar.
Tak ada jawaban. Sekali, dua dan tiga kali aku bertanya,
tetap tidak ada tanggapan. Perlahan – lahan aku melangkah mundur, saat hendak
meninggalkan tempat itu, dia berdiri, terdengar suara seperti tulang patah.
“Kkrrkk... kkrrkk... kkkrrrkkk... kkkrrreeekkkhh...”
__ADS_1
Kepala sosok itu berbalik , ia tampak
mengerikan dengan kepala menghada ke belakang. Aku menjerit tertahan, terlebih
saat ia berjalan menghampiriku dengan posisi tubuh bagian depan menghadap ke
atas, semakin lama semakin dekat. Kedua lututku lemas tak bertenaga, akupun
jatuh terduduk saat wajah sosok itu sudah berada di dekat hidungku. Ia membuka
mulutnya lebar – lebar seakan hendak melahapku hidup – hidup.
***
Tubuhku melayang – layang di udara yang gelap gulita. Tak
tahu mana atas, mana bawah. Dunia seakan berputar – putar. Entah sudah berapa
lama aku berada dalam keadaan seperti itu. Tubuhku seperti didorong oleh
kekuatan besar dan dicampakkan ke bawah. Setelah itu, aku tak melihat apa – apa
lagi. Mataku terpejam rapat.
Saat membuka pelupuk mataku, aku berada di sebuah tempat
yang cukup luas. Banyak sekali bangkai mobil, apakah ini adalah tempat
pembuangan besi – besi berkarat dan tua ? Bagaimana aku bisa berada di tempat
ini, tempat yang ... bagiku mengerikan dan telah menggoreskan sebuah kenangan
terburuk dalam hidupku semasa aku masih kanak – kanak. Sudah lama aku ingin
melupakan kenangan itu, namun, kenapa kini muncul kembali ?
Dua titik bening keluar dari sudut mataku manakala
sudah tidak utuh lagi. Dingin dan hampa, itulah yang kurasakan saat
memandangnya. Langkah – langkahku terhenti, lebih kurang 5 meter di depan sana
sesosok bayangan wanita berpakaian kurir Ok Go berdiri membelakangiku. Diam
bagaikan sebongkah arca batu.
“Apakah kau bernama Fera Budi Utami ?”
Aku memberanikan diri untuk bertanya. Tapi, tak ada
jawaban. Ia hanya berjalan tertatih – tatih dan aku mengikutinya dari belakang
tanpa kusadari.
Kakiku terus melangkah dan melangkah, semakin lama
semakin berat. Saat sosok itu berhenti, aku jatuh terduduk, “Kau hendak
mengajakku kemana ?” keluhku.
Sosok itu membisu, ia perlahan – lahan mengangkat tangan
kanan sementara, jari telunjuknya menuding lurus – lurus ke depan. Pandanganku
beralih ke arah yang ditunjuknya, tampak sebuah bangkai mobil VW berwarna
oranye, bagian moncong kendaraan itu ringsek dan terdapat tulisan “Ok Go”,
sebagian cat hurufnya terkelupas. VW itu hanya satu – satunya sementara pada
kolong mobil terdapat bangkai sepeda motor.
“Sepeda motor siapakah itu ?” tanyaku pada sosok aneh
__ADS_1
itu, tapi ia sudah menghilang entah kemana. Aku mencarinya kesana – kemari,
tapi, tak ada siapapun di tempat ini.
“Raisa... Raisa...”
Suara itu terdengar sayup – sayup dari kejauhan, seakan
muncul dari balik awan senja di sebelah Barat. Apakah ini hanya perasaanku saja
? Tidak. Aku mendengarnya dengan jelas sekali, tapi, darimanakah asalnya ?
“Raisa...”
Yah, kali ini suara itu terdengar lirih, berbisik di
telinga kananku. Aku menoleh, tak ada siapapun.
“Siapa itu ?” seruku sambil mencari si pemilik suara dan
...
Sesosok pria mendadak sudah berada di depan hidungku. Aku
menjerit sekeras mungkin melihat kepala pria itu tidak utuh, bagian kanannya
melesak ke dalam dan biji matanya keluar bergelantungan pada pipi. Darah
menyembur keluar, menebarkan aroma busuk menyengat dari kepala yang pecah itu.
Tangannya menggapai – gapai hendak menyentuhku, “Mengapa kau meninggalkanku
sendirian di tempat ini ... temani aku ...” kata sosok itu memelas. Ia
mengingatkanku pada Dahlan, teman semasa aku masih kecil. Ia tewas dengan
kepala tergencet badan mobil yang menindihnya. Tubuhku bergetar hebat, gigi –
gigiku saling beradu, bibirku bergetar, “Ma... ma... maafkan aku, Dahlan...”
“Kau harus ikut aku... kau harus ikut aku...” kata sosok
itu berulang – ulang sambil mendekati dan hendak mencekik leherku. Aku
melangkah mundur menghindari jari – jemarinya yang tinggal tulang dibungkus
dengan kulit.
“Tidak ! Jangan ganggu aku ! Pergi !!” teriakku. Tubuhku
seperti ditarik ke belakang, kencang sekali. Aku tak bisa mengendalikannya,
hingga jatuh terbanting, namun, tanah bagai dibelah dan kembali aku melayang –
layang di udara.
“Raisa... Raisa... bangun !” Suara itu terdengar dekat
sekali, aku meringis kesakitan manakala pipiku ditampar keras sekali. Aku
membuka pelupuk mataku dan tampak wajah Ella dan ibu cemas sekali.
“Kau ini kenapa, nak ?” tanya ibu, “Saat ibu masuk ke kamarmu,
tubuhmu tergolek lemas dan dingin di lantai,” sambungnya.
“Hah ? Benarkah demikian ?” tanyaku. Ella mengangguk.
“Aku tahu dimana Fera Budi Utami berada, La ...” kataku,
sementara dua orang itu tampak kebingungan.
***
__ADS_1