Kurir

Kurir
BAB 5 : PETUNJUK DARI KEMATIAN ( bag. pertama )


__ADS_3

Suara Berisik dari ruangan tengah membangunkanku.


Perlahan – lahan  aku turun dari


pembaringan, berjingkat – jingkat menuju pintu kamar. Jam telah menunjukkan


pukul 02:30 tepat dini hari. Ada suara rintihan dan jeritan di sela – sela


tawa.


“Tidak... jangan ... lepaskan aku ...”


Suara itu terdengar timbul – tenggelam di ruang tengah.


Dengan hati yang berdebar – debar, kubuka pintu kamarku. Tidak ada siapapun,


hanya cahaya putih keperakan memantul dari jendela ruang tengah. Itu adalah


cahaya TV. Tunggu, bukankah di rumah ini hanya ada aku seorang ? Aku sudah


tertidur sejak pukul 20:30 dan aku yakin, tidak menyalakan TV sama sekali.


Lalu, siapa yang menyalakannya ? Terlebih tepat tengah malam seperti ini ? Akupun


sudah mengunci pintu dan jendela seluruh ruangan.


“Tidak... jangan ... lepaskan aku ...”


Teriakan itu kembali terdengar, arahnya memang dari ruang


tengah. Aku memberanikan diri untuk membuka pintu ruang tengah perlahan –


lahan. Mengintip siapa sebenarnya pemilik suara itu. Aku terkejut, TV berlayar 24


inchi itu menyala demikian pula mesin pemutar Video VHS. Terpampang adegan


pemerkosaan Fera Budi Utami pada layar TV tersebut. Hah, bukankah Video kotak


itu ada di kamarku, siapa yang membawa dan memutarnya di ruangan ini ?


Sementara, tak ada seorang pun di ruangan ini. Buru – buru aku meraih remote


TV, kutekan tombol power. TV mati seketika berikut mesin pemutar Video VHS


tersebut, tak lupa pula aku mengeluarkan kasetnya dan bermaksud membawa ke


ruanganku .. akan tetapi, mendadak TV menyala lagi, menayangkan adegan yang


sama. Tubuhku gemetar tak keruan, tangan yang memegang video tape itu seakan


tak bertenaga.


Adegan terhenti saat Fera dibiarkan tergeletak lemas tak


berdaya, pakaiannya acak – acakan dan satu persatu para pemerkosa itu


meninggalkannya. Gambar pada TV perlahan – lahan berubah menjadi sekumpulan


semut berwarna putih, hanya sebentar saja dan digantikan oleh sesosok tubuh


berambut hitam, panjang, kusut dan tergerai. Ia duduk membelakangiku, memandangi


TV yang sudah mati.


“Siapa, kau ?” tanyaku dengan suara gemetar.


Tak ada jawaban. Sekali, dua dan tiga kali aku bertanya,


tetap tidak ada tanggapan. Perlahan – lahan aku melangkah mundur, saat hendak


meninggalkan tempat itu, dia berdiri, terdengar suara seperti tulang patah.


“Kkrrkk... kkrrkk... kkkrrrkkk... kkkrrreeekkkhh...”

__ADS_1


Kepala sosok itu berbalik , ia tampak


mengerikan dengan kepala menghada ke belakang. Aku menjerit tertahan, terlebih


saat ia berjalan menghampiriku dengan posisi tubuh bagian depan menghadap ke


atas, semakin lama semakin dekat. Kedua lututku lemas tak bertenaga, akupun


jatuh terduduk saat wajah sosok itu sudah berada di dekat hidungku. Ia membuka


mulutnya lebar – lebar seakan hendak melahapku hidup – hidup.


***


Tubuhku melayang – layang di udara yang gelap gulita. Tak


tahu mana atas, mana bawah. Dunia seakan berputar – putar. Entah sudah berapa


lama aku berada dalam keadaan seperti itu. Tubuhku seperti didorong oleh


kekuatan besar dan dicampakkan ke bawah. Setelah itu, aku tak melihat apa – apa


lagi. Mataku terpejam rapat.


Saat membuka pelupuk mataku, aku berada di sebuah tempat


yang cukup luas. Banyak sekali bangkai mobil, apakah ini adalah tempat


pembuangan besi – besi berkarat dan tua ? Bagaimana aku bisa berada di tempat


ini, tempat yang ... bagiku mengerikan dan telah menggoreskan sebuah kenangan


terburuk dalam hidupku semasa aku masih kanak – kanak. Sudah lama aku ingin


melupakan kenangan itu, namun, kenapa kini muncul kembali ?


Dua titik bening keluar dari sudut mataku manakala


sudah tidak utuh lagi. Dingin dan hampa, itulah yang kurasakan saat


memandangnya. Langkah – langkahku terhenti, lebih kurang 5 meter di depan sana


sesosok bayangan wanita berpakaian kurir Ok Go berdiri membelakangiku. Diam


bagaikan sebongkah arca batu.


“Apakah kau bernama Fera Budi Utami ?”


Aku memberanikan diri untuk bertanya. Tapi, tak ada


jawaban. Ia hanya berjalan tertatih – tatih dan aku mengikutinya dari belakang


tanpa kusadari.


Kakiku terus melangkah dan melangkah, semakin lama


semakin berat. Saat sosok itu berhenti, aku jatuh terduduk, “Kau hendak


mengajakku kemana ?” keluhku.


Sosok itu membisu, ia perlahan – lahan mengangkat tangan


kanan sementara, jari telunjuknya menuding lurus – lurus ke depan. Pandanganku


beralih ke arah yang ditunjuknya, tampak sebuah bangkai mobil VW berwarna


oranye, bagian moncong kendaraan itu ringsek dan terdapat tulisan “Ok Go”,


sebagian cat hurufnya terkelupas. VW itu hanya satu – satunya sementara pada


kolong mobil terdapat bangkai sepeda motor.


“Sepeda motor siapakah itu ?” tanyaku pada sosok aneh

__ADS_1


itu, tapi ia sudah menghilang entah kemana. Aku mencarinya kesana – kemari,


tapi, tak ada siapapun di tempat ini.


“Raisa... Raisa...”


Suara itu terdengar sayup – sayup dari kejauhan, seakan


muncul dari balik awan senja di sebelah Barat. Apakah ini hanya perasaanku saja


? Tidak. Aku mendengarnya dengan jelas sekali, tapi, darimanakah asalnya ?


“Raisa...”


Yah, kali ini suara itu terdengar lirih, berbisik di


telinga kananku. Aku menoleh, tak ada siapapun.


“Siapa itu ?” seruku sambil mencari si pemilik suara dan


...


Sesosok pria mendadak sudah berada di depan hidungku. Aku


menjerit sekeras mungkin melihat kepala pria itu tidak utuh, bagian kanannya


melesak ke dalam dan biji matanya keluar bergelantungan pada pipi. Darah


menyembur keluar, menebarkan aroma busuk menyengat dari kepala yang pecah itu.


Tangannya menggapai – gapai hendak menyentuhku, “Mengapa kau meninggalkanku


sendirian di tempat ini ... temani aku ...” kata sosok itu memelas. Ia


mengingatkanku pada Dahlan, teman semasa aku masih kecil. Ia tewas dengan


kepala tergencet badan mobil yang menindihnya. Tubuhku bergetar hebat, gigi –


gigiku saling beradu, bibirku bergetar, “Ma... ma... maafkan aku, Dahlan...”


“Kau harus ikut aku... kau harus ikut aku...” kata sosok


itu berulang – ulang sambil mendekati dan hendak mencekik leherku. Aku


melangkah mundur menghindari jari – jemarinya yang tinggal tulang dibungkus


dengan kulit.


“Tidak ! Jangan ganggu aku ! Pergi !!” teriakku. Tubuhku


seperti ditarik ke belakang, kencang sekali. Aku tak bisa mengendalikannya,


hingga jatuh terbanting, namun, tanah bagai dibelah dan kembali aku melayang –


layang di udara.


“Raisa... Raisa... bangun !” Suara itu terdengar dekat


sekali, aku meringis kesakitan manakala pipiku ditampar keras sekali. Aku


membuka pelupuk mataku dan tampak wajah Ella dan ibu cemas sekali.


“Kau ini kenapa, nak ?” tanya ibu, “Saat ibu masuk ke kamarmu,


tubuhmu tergolek lemas dan dingin di lantai,” sambungnya.


“Hah ? Benarkah demikian ?” tanyaku. Ella mengangguk.


“Aku tahu dimana Fera Budi Utami berada, La ...” kataku,


sementara dua orang itu tampak kebingungan.


***

__ADS_1


__ADS_2