Kurir

Kurir
BAB 2 : PAKET MISTERIUS


__ADS_3

"Apa ?" seru pemuda tampan itu pada ponselnya,


"Gunawan dan Irul meninggal ? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?"


"Entahlah,


tuan muda... hasil otopsi yang keluar menyatakan ia overdosis?"


suara bergetar dari seberang sana membuat wajah pemuda


itu merah padam, "Bagus ! Itulah akibatnya kalau serakah," katanya,


"Berapa banyak lagi yang kalian ambil dariku ?"


"Kami


tidak berani, tuan... semuanya, sudah kami kirimkan sesuai dengan


permintaan,"


"Jangan bohong... jikalau aku tahu masih ada barang


yang kalian simpan, aku tidak akan tinggal diam,"


"Sungguh,


tuan... kami tak berani mengutak-atik barang yang bukan milik kami,"


"Baiklah. Kita bertemu di tempat seperti biasa. Kita


selesaikan urusan ini secepatnya," ujar si pemuda sambil menutup


ponselnya.


"Ada apa sebenarnya? Semua orang-orang ku mendadak


mati semua, kalau terus menerus begini, bisa bangkrut aku," gumamnya


seorang diri.


“Mas....


ada paket ....


tolong diterima ....”


Mendadak terdengar suara mengambang, datar dan hampa.


Pemuda itu tersentak, ia menoleh kesana-kemari untuk mencari tahu asal suara


tersebut, tapi, tidak ada siapa-siapa. Dan sepasang matanya tertuju pada sebuah


kotak kecil dibungkus dengan plastik merah.


"Hmmm, siapa yang bisa menembus ruangan pribadiku,


padahal sistem keamanannya sudah canggih," katanya sambil meraih bungkusan


itu dan membukanya. Sebuah cincin emas bermata merah delima, itulah isi


bungkusan kecil tersebut.


"Aku tidak merasa memiliki cincin ini, cincin ini


sama dengan kepunyaan mereka, tapi, siapa yang memberikan ini padaku,"


sepasang mata pemuda itu tiba-tiba beralih ke arah pintu masuk dan melihat


sesosok bayangan, "Hei, siapa itu ?" tanyanya sambil bergegas


melangkah ke arah pintu, saat pintu itu dibuka, bayangan itu menghilang.


Si pemuda mengeluarkan ponselnya dan setelah menekan


tombol pada keypad ia berkata, "Periksa seluruh pintu masuk ada


penyusup,"


Dalam waktu yang tidak lama, beberapa orang petugas


keamanan datang dan salah satunya menghampiri, "Tidak ada siapa-siapa,


Tuan Muda Zein," katanya.


"Kau pikir aku berbohong, ha ?! Jelas-jelas baru


saja aku melihat ada seseorang di sekitar sini, mengapa kalian bilang tidak ada


seorang pun ?" bentaknya membuat semua orang terdiam sementara wajahnya


tertunduk dalam-dalam.


"Baiklah kalau begitu," ujar pemuda itu,


"Perketat penjagaan dan jangan biarkan seorangpun masuk kemari. Aku akan


pergi menemui seseorang,"


"Siap. Tuan muda,"


Tak jauh dari tempat itu, seorang pria separuh baya


berdiri sambil menatap tajam ke arah pemuda itu.


"Giliranmu akan segera tiba, Zein. Kau harus


merasakan apa yang dirasakan Nak Fera,"


***


Malam itu, Zein sedang bercumbu mesra dengan salah


seorang gundiknya, mereka terbawa dalam lautan asmara. Hanya desah nafas


berpacu dengan degub jantung yang terdengar di dalam ruangan berukuran 4x5 M²


itu. Mereka tak menyadari bahwa di tengah cahaya lampu yang remang-remang,


sesosok bayangan berjalan mengendap-endap.


Tak lama kemudian, wanita yang menjadi lawan main pemuda

__ADS_1


keturunan Arab itu melangkah keluar sementara, Zein sudah terlelap setelah


mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Tubuh wanita itu hanya dibungkus


dengan kain putih tipis bercampur dengan keringat, siapapun yang melihatnya,


khususnya kaum Adam, akan terpesona dengan kemolekan tubuh dan


lenggak-lenggoknya itu.


Bayangan itu berjalan menghampiri, "Bagaimana sudah


kau dapatkan berkas-berkas pengiriman paket 3 tahun lalu?"


"Sudah, pak... ini," kata wanita itu sambil


menyodorkan sebuah buku setebal 5 cm.


"Baiklah. Terima kasih, nak,"


"Mudah-mudahan dengan berkas ini bisa menyeret Zein


ke meja hijau dan arwah kak Fera bisa tenang di alam sana. Hati-hati,


pak,"


"Kaulah yang harus berhati-hati, nak... sebab,


harimau itu licin dan licik, sewaktu-waktu bisa mencabik-cabik tanpa


ampun,"


"Pengorbananku, layak untuk Kak Fera. Bapak tak


perlu khawatir, saya tidak sendirian disini,"


"Baiklah, nak... bapak pergi dulu," kata


bayangan itu sambil membalikkan badan dan melangkah dengan hati-hati


meninggalkan tempat itu.


Wanita itu berdiri sambil menatapnya, hingga lenyap di


kerumunan semak belukar. Setelah menghela nafas panjang ia kemudian melangkah masuk,


"Kak Fera... semoga kau menjaga dan melindungiku selalu dari kawanan


serigala lapar ini,"


"Mbak....


Ada paket ....


tolong diterima...."


Suara mengambang, dingin dan datar, terdengar seakan


menggema terbawa angin dingin yang berhembus perlahan. Aroma harum dan tajam


menusuk rongga hidung, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Ia menoleh


kesana-kemari hingga sepasang matanya tertuju pada sebuah bayangan yang berdiri


coklat tua bercampur dengan bercak-bercak darah merah kehitaman. Topi Eiger,


menutupi sebagian wajahnya.


Wanita itu mundur beberapa tindak, sementara sepasang


matanya tak berkedip, bibirnya gemetar, gigi-giginya saling beradu. Jantungnya


serasa berhenti berdetak manakala bayangan itu sudah berada di hadapannya.


***


Video pita VHS. Itulah paket yang kutemukan beberapa hari


yang lalu. Sebuah barang yang cukup langka di jaman millenial seperti sekarang.


Beruntung aku masih memiliki mesin pemutar video pita berbentuk kotak tersebut.


“Paket yang aneh


dan unik menurutku. Tak ada nama dan alamat pengirimnya,” kataku pada Ella.


“Kalau boleh tahu, apa isi video itu ?” tanya Ella.


“Sebuah video aneh, mengerikan dan sadis menurutku,” ujarku


sambil memasukkan video itu ke playernya dan menekan tombol pada mesin. Lama


sekali aku dan Ella menatap layar TV yang hanya menayangkan kumpulan semut dan


suara  berisik.


“Kok aneh,” kataku


“Apanya yang aneh ?”


“Kita sudah menunggu 15 menit, namun, film yang ada dalam


video tape itu tidak muncul. Padahal kemarin aku sempat memutarnya. Dalam waktu


tak kurang dari 10 menit, sudah muncul gambarnya. Durasi film hanya 45 menit


saja. Tapi, mengapa sekarang malah yang muncul hanyalan sekumpulan semut saja,”


jelasku.


“Ah, sudahlah, mungkin video pita tersebut rusak.


Sekarang jamannya DVD player, mengapa harus dibingungkan dengan video tape kuno


itu. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, non...,” ujar Ella sambil melangkah


meninggalkan tempat itu. Aku hanya mengangkat tangan kanan saja. Setelah Ella


tidak ada, mendadak di layar TV sudah terpampang sebuah adegan brutal. Membuatku


tak berkedip melihatnya.

__ADS_1


“Hentikan, jangan kalian sakiti dia. Dia hanyalah kurir


dan tidak tahu menahu soal paket tersebut,” teriak seorang laki – laki paruh


baya kepada 5 orang laki – laki yang berdiri mengelilingi seorang wanita yang


terbaring di lantai. Laki – laki itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman


seorang pria bertubuh gempal dan berambut gondrong.


“Tutup mulutmu, pak tua. Ini adalah perintah Tuan Muda.


Siapa saja yang berani macam – macam dengan paket tersebut, tak peduli


pria-wanita, tua-muda bahkan anak – anak, harus disingkirkan. Rasa penasaran


telah menghantarkannya ke ambang maut. Kami tak ingin mencari masalah, membiarkannya


hidup,” ujar laki – laki plotos jangkung dan tinggi sementara tangannya meraih


bungkusan plastik berisi serbuk putih tak jauh dari delivery box di dekat


wanita itu.


“Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya.


Apalagi pada seorang wanita,” ujar laki – laki paruh baya itu sambil bergerak


cepat dan mendadak saja ia dapat melepaskan diri dari pegangan tangan pria


bertubuh gempal dan gondrong itu. Ia berlari dan menyerang ke arah Gunawan,


namun, dihadang oleh 2 orang.


Pertarungan tidak seimbang terjadi dan hanya dalam waktu


singkat laki – laki paruh baya itu kembali diringkus dan seseorang menendang


tempurung lututnya, ia berteriak diiringi jeritan menyayat dan iapun roboh


sambil menggeliat – geliat kesakitan.


“Orang tua tak tahu diri,” ujar laki – laki berambut


keriting, berkulit hitam, dia adalah Irul, “Gun sekalian saja bunuh laki – laki


ini biar tidak merepotkan,”


“Tenanglah, kita akan membereskannya setelah bersenang –


senang dengan kurir wanita ini,” kata Gun sambil menyambar kepala wanita itu,


topi eigernya terlepas dan ia menjerit tertahan manakala Gun menjambak


rambutnya. Sepasang mata wanita itu tampak menyala-nyala, seakan ingin membakar


wajah laki – laki plotos yang kini menyodorkan bungkusan plastik di tangan


tepat pada hidungnya.


Wanita itu berusaha membuang wajahnya, bermaksud


menghindari bau harum menyengat yang menusuk hidungnya, tapi jambakan Gunawan


terlalu kuat, belum lagi kedua tangannya ditelikung ke belakang oleh seorang


pria bertubuh tinggi besar dengan tato naga di dadanya. Sekeras apapun usahanya


untuk melepaskan diri, gagal malah luka di kepala kanannya yang mengering


terbuka lagi. Laki – laki plotos itu menyeringai, “Kau benar, nona.... paket


itu tidak kosong dan inilah isinya. Kurasa kau perlu mencobanya,” sambil berkata


demikian, ia membuka paksa mulut wanita itu dan menjejalkan serbuk putih


mengkilap bak kristal ke dalam mulutnya.


Begitu serbuk itu habis, Gunawan kembali menyambar


plastik lain dan kembali melakukan hal yang sama hingga akhirnya wanita itu


roboh lemas tak berdaya. Laki – laki paruh baya itu menggeram – geram, tapi,


rasa sakit pada lututnya membuatnya tak mampu berbuat apa – apa.


5 orang laki – laki itu tertawa terbahak – bahak, mereka


berdiri mengelilingi wanita yang kini sudah kehilangan seluruh kesadarannya.


Wajah, rambut dan pakaiannya kusut masai, tubuhnya menggigil bak orang


kedinginan, namun, pemandangan ini mengundang birahi 5 laki – laki tersebut.


“Breth


.... Breth ... Breth ...”


Pria bertato naga di dadanya itulah yang pertama kali


merobek – robek pakaian wanita itu dan segera memperkosanya bergantian. Seorang


dari mereka mendokumentasikan kejadian tersebut. Sementara, laki – laki paruh


baya itu tampak menangis, membuang muka mendengar tawa di sela – sela rintihan


perlahan. Tak seorangpun tahu bahwa laki – laki paruh baya itu merangkak


meninggalkan tempat itu.


Adegan terakhir dalam video pita tersebut adalah box


delivery milik wanita itu dibongkar dan paket – paket di dalamnya berhamburan


keluar. Diantara ceceran bungkusan paket tertera nama Raisa lengkap beserta


alamat rumahnya. Sekalipun gambar itu diambil dalam durasi singkat, mungkin


sepersekian detik, Raisa dapat melihatnya dengan jelas. Setelah itu, layar TV


kembali menyajikan tayangan ribuan ekor semut. Film dalam video pita itu sudah

__ADS_1


habis.


***


__ADS_2