
"Apa ?" seru pemuda tampan itu pada ponselnya,
"Gunawan dan Irul meninggal ? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?"
"Entahlah,
tuan muda... hasil otopsi yang keluar menyatakan ia overdosis?"
suara bergetar dari seberang sana membuat wajah pemuda
itu merah padam, "Bagus ! Itulah akibatnya kalau serakah," katanya,
"Berapa banyak lagi yang kalian ambil dariku ?"
"Kami
tidak berani, tuan... semuanya, sudah kami kirimkan sesuai dengan
permintaan,"
"Jangan bohong... jikalau aku tahu masih ada barang
yang kalian simpan, aku tidak akan tinggal diam,"
"Sungguh,
tuan... kami tak berani mengutak-atik barang yang bukan milik kami,"
"Baiklah. Kita bertemu di tempat seperti biasa. Kita
selesaikan urusan ini secepatnya," ujar si pemuda sambil menutup
ponselnya.
"Ada apa sebenarnya? Semua orang-orang ku mendadak
mati semua, kalau terus menerus begini, bisa bangkrut aku," gumamnya
seorang diri.
“Mas....
ada paket ....
tolong diterima ....”
Mendadak terdengar suara mengambang, datar dan hampa.
Pemuda itu tersentak, ia menoleh kesana-kemari untuk mencari tahu asal suara
tersebut, tapi, tidak ada siapa-siapa. Dan sepasang matanya tertuju pada sebuah
kotak kecil dibungkus dengan plastik merah.
"Hmmm, siapa yang bisa menembus ruangan pribadiku,
padahal sistem keamanannya sudah canggih," katanya sambil meraih bungkusan
itu dan membukanya. Sebuah cincin emas bermata merah delima, itulah isi
bungkusan kecil tersebut.
"Aku tidak merasa memiliki cincin ini, cincin ini
sama dengan kepunyaan mereka, tapi, siapa yang memberikan ini padaku,"
sepasang mata pemuda itu tiba-tiba beralih ke arah pintu masuk dan melihat
sesosok bayangan, "Hei, siapa itu ?" tanyanya sambil bergegas
melangkah ke arah pintu, saat pintu itu dibuka, bayangan itu menghilang.
Si pemuda mengeluarkan ponselnya dan setelah menekan
tombol pada keypad ia berkata, "Periksa seluruh pintu masuk ada
penyusup,"
Dalam waktu yang tidak lama, beberapa orang petugas
keamanan datang dan salah satunya menghampiri, "Tidak ada siapa-siapa,
Tuan Muda Zein," katanya.
"Kau pikir aku berbohong, ha ?! Jelas-jelas baru
saja aku melihat ada seseorang di sekitar sini, mengapa kalian bilang tidak ada
seorang pun ?" bentaknya membuat semua orang terdiam sementara wajahnya
tertunduk dalam-dalam.
"Baiklah kalau begitu," ujar pemuda itu,
"Perketat penjagaan dan jangan biarkan seorangpun masuk kemari. Aku akan
pergi menemui seseorang,"
"Siap. Tuan muda,"
Tak jauh dari tempat itu, seorang pria separuh baya
berdiri sambil menatap tajam ke arah pemuda itu.
"Giliranmu akan segera tiba, Zein. Kau harus
merasakan apa yang dirasakan Nak Fera,"
***
Malam itu, Zein sedang bercumbu mesra dengan salah
seorang gundiknya, mereka terbawa dalam lautan asmara. Hanya desah nafas
berpacu dengan degub jantung yang terdengar di dalam ruangan berukuran 4x5 M²
itu. Mereka tak menyadari bahwa di tengah cahaya lampu yang remang-remang,
sesosok bayangan berjalan mengendap-endap.
Tak lama kemudian, wanita yang menjadi lawan main pemuda
__ADS_1
keturunan Arab itu melangkah keluar sementara, Zein sudah terlelap setelah
mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara. Tubuh wanita itu hanya dibungkus
dengan kain putih tipis bercampur dengan keringat, siapapun yang melihatnya,
khususnya kaum Adam, akan terpesona dengan kemolekan tubuh dan
lenggak-lenggoknya itu.
Bayangan itu berjalan menghampiri, "Bagaimana sudah
kau dapatkan berkas-berkas pengiriman paket 3 tahun lalu?"
"Sudah, pak... ini," kata wanita itu sambil
menyodorkan sebuah buku setebal 5 cm.
"Baiklah. Terima kasih, nak,"
"Mudah-mudahan dengan berkas ini bisa menyeret Zein
ke meja hijau dan arwah kak Fera bisa tenang di alam sana. Hati-hati,
pak,"
"Kaulah yang harus berhati-hati, nak... sebab,
harimau itu licin dan licik, sewaktu-waktu bisa mencabik-cabik tanpa
ampun,"
"Pengorbananku, layak untuk Kak Fera. Bapak tak
perlu khawatir, saya tidak sendirian disini,"
"Baiklah, nak... bapak pergi dulu," kata
bayangan itu sambil membalikkan badan dan melangkah dengan hati-hati
meninggalkan tempat itu.
Wanita itu berdiri sambil menatapnya, hingga lenyap di
kerumunan semak belukar. Setelah menghela nafas panjang ia kemudian melangkah masuk,
"Kak Fera... semoga kau menjaga dan melindungiku selalu dari kawanan
serigala lapar ini,"
"Mbak....
Ada paket ....
tolong diterima...."
Suara mengambang, dingin dan datar, terdengar seakan
menggema terbawa angin dingin yang berhembus perlahan. Aroma harum dan tajam
menusuk rongga hidung, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. Ia menoleh
kesana-kemari hingga sepasang matanya tertuju pada sebuah bayangan yang berdiri
coklat tua bercampur dengan bercak-bercak darah merah kehitaman. Topi Eiger,
menutupi sebagian wajahnya.
Wanita itu mundur beberapa tindak, sementara sepasang
matanya tak berkedip, bibirnya gemetar, gigi-giginya saling beradu. Jantungnya
serasa berhenti berdetak manakala bayangan itu sudah berada di hadapannya.
***
Video pita VHS. Itulah paket yang kutemukan beberapa hari
yang lalu. Sebuah barang yang cukup langka di jaman millenial seperti sekarang.
Beruntung aku masih memiliki mesin pemutar video pita berbentuk kotak tersebut.
“Paket yang aneh
dan unik menurutku. Tak ada nama dan alamat pengirimnya,” kataku pada Ella.
“Kalau boleh tahu, apa isi video itu ?” tanya Ella.
“Sebuah video aneh, mengerikan dan sadis menurutku,” ujarku
sambil memasukkan video itu ke playernya dan menekan tombol pada mesin. Lama
sekali aku dan Ella menatap layar TV yang hanya menayangkan kumpulan semut dan
suara berisik.
“Kok aneh,” kataku
“Apanya yang aneh ?”
“Kita sudah menunggu 15 menit, namun, film yang ada dalam
video tape itu tidak muncul. Padahal kemarin aku sempat memutarnya. Dalam waktu
tak kurang dari 10 menit, sudah muncul gambarnya. Durasi film hanya 45 menit
saja. Tapi, mengapa sekarang malah yang muncul hanyalan sekumpulan semut saja,”
jelasku.
“Ah, sudahlah, mungkin video pita tersebut rusak.
Sekarang jamannya DVD player, mengapa harus dibingungkan dengan video tape kuno
itu. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku, non...,” ujar Ella sambil melangkah
meninggalkan tempat itu. Aku hanya mengangkat tangan kanan saja. Setelah Ella
tidak ada, mendadak di layar TV sudah terpampang sebuah adegan brutal. Membuatku
tak berkedip melihatnya.
__ADS_1
“Hentikan, jangan kalian sakiti dia. Dia hanyalah kurir
dan tidak tahu menahu soal paket tersebut,” teriak seorang laki – laki paruh
baya kepada 5 orang laki – laki yang berdiri mengelilingi seorang wanita yang
terbaring di lantai. Laki – laki itu berusaha melepaskan diri dari cengkeraman
seorang pria bertubuh gempal dan berambut gondrong.
“Tutup mulutmu, pak tua. Ini adalah perintah Tuan Muda.
Siapa saja yang berani macam – macam dengan paket tersebut, tak peduli
pria-wanita, tua-muda bahkan anak – anak, harus disingkirkan. Rasa penasaran
telah menghantarkannya ke ambang maut. Kami tak ingin mencari masalah, membiarkannya
hidup,” ujar laki – laki plotos jangkung dan tinggi sementara tangannya meraih
bungkusan plastik berisi serbuk putih tak jauh dari delivery box di dekat
wanita itu.
“Aku tidak akan membiarkan kalian berbuat seenaknya.
Apalagi pada seorang wanita,” ujar laki – laki paruh baya itu sambil bergerak
cepat dan mendadak saja ia dapat melepaskan diri dari pegangan tangan pria
bertubuh gempal dan gondrong itu. Ia berlari dan menyerang ke arah Gunawan,
namun, dihadang oleh 2 orang.
Pertarungan tidak seimbang terjadi dan hanya dalam waktu
singkat laki – laki paruh baya itu kembali diringkus dan seseorang menendang
tempurung lututnya, ia berteriak diiringi jeritan menyayat dan iapun roboh
sambil menggeliat – geliat kesakitan.
“Orang tua tak tahu diri,” ujar laki – laki berambut
keriting, berkulit hitam, dia adalah Irul, “Gun sekalian saja bunuh laki – laki
ini biar tidak merepotkan,”
“Tenanglah, kita akan membereskannya setelah bersenang –
senang dengan kurir wanita ini,” kata Gun sambil menyambar kepala wanita itu,
topi eigernya terlepas dan ia menjerit tertahan manakala Gun menjambak
rambutnya. Sepasang mata wanita itu tampak menyala-nyala, seakan ingin membakar
wajah laki – laki plotos yang kini menyodorkan bungkusan plastik di tangan
tepat pada hidungnya.
Wanita itu berusaha membuang wajahnya, bermaksud
menghindari bau harum menyengat yang menusuk hidungnya, tapi jambakan Gunawan
terlalu kuat, belum lagi kedua tangannya ditelikung ke belakang oleh seorang
pria bertubuh tinggi besar dengan tato naga di dadanya. Sekeras apapun usahanya
untuk melepaskan diri, gagal malah luka di kepala kanannya yang mengering
terbuka lagi. Laki – laki plotos itu menyeringai, “Kau benar, nona.... paket
itu tidak kosong dan inilah isinya. Kurasa kau perlu mencobanya,” sambil berkata
demikian, ia membuka paksa mulut wanita itu dan menjejalkan serbuk putih
mengkilap bak kristal ke dalam mulutnya.
Begitu serbuk itu habis, Gunawan kembali menyambar
plastik lain dan kembali melakukan hal yang sama hingga akhirnya wanita itu
roboh lemas tak berdaya. Laki – laki paruh baya itu menggeram – geram, tapi,
rasa sakit pada lututnya membuatnya tak mampu berbuat apa – apa.
5 orang laki – laki itu tertawa terbahak – bahak, mereka
berdiri mengelilingi wanita yang kini sudah kehilangan seluruh kesadarannya.
Wajah, rambut dan pakaiannya kusut masai, tubuhnya menggigil bak orang
kedinginan, namun, pemandangan ini mengundang birahi 5 laki – laki tersebut.
“Breth
.... Breth ... Breth ...”
Pria bertato naga di dadanya itulah yang pertama kali
merobek – robek pakaian wanita itu dan segera memperkosanya bergantian. Seorang
dari mereka mendokumentasikan kejadian tersebut. Sementara, laki – laki paruh
baya itu tampak menangis, membuang muka mendengar tawa di sela – sela rintihan
perlahan. Tak seorangpun tahu bahwa laki – laki paruh baya itu merangkak
meninggalkan tempat itu.
Adegan terakhir dalam video pita tersebut adalah box
delivery milik wanita itu dibongkar dan paket – paket di dalamnya berhamburan
keluar. Diantara ceceran bungkusan paket tertera nama Raisa lengkap beserta
alamat rumahnya. Sekalipun gambar itu diambil dalam durasi singkat, mungkin
sepersekian detik, Raisa dapat melihatnya dengan jelas. Setelah itu, layar TV
kembali menyajikan tayangan ribuan ekor semut. Film dalam video pita itu sudah
__ADS_1
habis.
***