KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 112


__ADS_3

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Farrel. Begitu sampai di apartemen, Sherly langsung mengambil koper besar dan mulai memasukkan baju-baju ke dalamnya.


“Aku mau pulang,” jawab singkat Sherly tanpa menoleh.


“Maksudmu?”


“Aku akan kembali ke apartemenku, Farrel. Karena disanalah, seharusnya aku berada.”


Farrel mendekat dan mencekal tangan Sherly. “Tidak akan kubiarkan itu terjadi.”


“Kita tidak bisa seperti ini terus, Farrel. Sarah sudah mengetahui semuanya,” ucap Sherly dengan menahan tangis.


“Memang kenapa kalau dia tahu semuanya? Dia tidak punya hak apapun untuk mencampuri kehidupanku lagi.”


“Farrel, semua yang dikatakan Sarah itu benar. Kalian masih berstatus sebagai suami istri, kalian belum berpisah!”


“Aku sedang mengurus semuanya!” jawab Farrel mengeraskan suara. Dia mulai terpancing emosi karena rasa takut akan kehilangan Sherly. Pria itu segera memeluk tubuh kekasih hatinya dengan erat dan menarik nafas berat. “Tetaplah disini bersamaku,” pinta Farrel lembut.


“Apa kau ingin menjadikanku sebagai wanita yang merebut suami orang?” cicit Sherly yang nafasnya mulai tersendat karena terlalu eratnya pelukan Farrel.


“Ck! Kata itu tidak cocok untukmu, karena aku bukan milik siapapun. Dan sedihnya, aku juga tidak memiliki siapapun kalau kau sampai pergi.”


“A-apa kau ingin membunuhku? A-aku tidak bisa berna-nafass…”


Farrel hanya melonggarkan pelukan, tanpa mau melepaskan tubuh wanita yang berada di dalam dekapannya. Dia takut kalau sampai dia melepaskan tangannya, maka Sherly akan pergi tanpa kembali. Dia tidak mau kehilangan cintanya lagi. Cukup Serena saja yang lepas dari genggamannya, dan itu adalah penyesalan terperih dalam hidpnya.


”Menikahlah denganku Sherly,” bisik Farrel.


---------------------------------------------


“Nenek…” sapa Sekar, begitu melihat Maya sedang menyiram tanaman di halaman.


Maya segera melepaskan selang dan mematikan kran air. “Cucu nenek darimana? Wah… kamu bawa apa itu?” tanyanya, begitu melihat mainan baru di tangan Sekar.


“Sekar ikut ke pasar mama, sama papa juga. Terus Sekar beli ini,” jelas Sekar.


“Sekar ikut ke pasar? Memang kamu ngga jijik? Pasarkan becek, sayang.”


Maya menggoda sang cucu. Dia tahu kalau ini adalah pertama kalinya Sekar ikut ke pasar tradisional, yang pastinya kurang nyaman jika dibandingkan dengan mall besar yang biasa anak kecil itu kunjungi bersama Zahra.


“Ngga. Sekar ngga jijik. Sekar suka pergi ke pasar,” jawabnya girang.


“Ya sudah, mandi dulu sana! Sekar bau acem,” ucap Maya sembari mencubit pipi bocah lucu itu.


Sekar segera berlari ke dalam rumah, diikuti Serena dibelakangnya. Sementara Joni memilih mencuci mobil, selama menunggu istri dan anaknya membersihkan diri setelah dari pasar.


“Ih kasin ya?” (suara 1)


“Iya kasian. Mau nikah, duit maharnya malah ilang.” (suara 2)


“Terus gimana tuh, jadi ngga nikahannya?” (suara 3)


“Ga tau.” (jawab suara 2)


Tiga orang ibu-ibu terdengar sedang bergosip saat akan melewati depan rumah Maya. Joni tidak sengaja mendengar percakapan itu dan mencoba untuk tidak penasaran. Tapi sayangnya, ibu-ibu itu malah berhenti dan menyapanya.


“Pagi Mas Joni…” sapa ibu-ibu bersamaan.


“Pagi ibu-ibu,” balas Joni sopan.

__ADS_1


“Perasaan Mas Joni kok tambah ganteng aja ya?” goda salah satu ibu-ibu.


Joni tersenyum kikuk, dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi gombalan dari para ibu-ibu yang menjadi tetangganya.


“Ah, biasa aja bu.”


“Hmm Mas Joni mah suka merendah deh. Mbak Serena beruntung banget ya, bisa punya suami kayak Mas Joni ini,” gombalan terlontar untuk yang kedua kalinya.


“Iya bener. Suami idaman pokoknya,” saut yang lain.


“Ck ck ck ck sudah berani menggoda menantu saya ya,” sindir Maya yang tiba-tiba berdiri di depan ibu-ibu dengan memegang gunting. Wanita itu memang sedari tadi masih ada di halaman. Hanya saja, tubuhnya terhalang oleh tanaman yang sedang dia rawat, sehingga para ibu-ibu tidak bisa melihatnya.


“Eh ada Bu Maya… pagi Bu,” sapa ibu-ibu seraya tersenyum malu-malu.


“Pagi juga. Pada darimana atau… mau kemana?” tanya Maya.


“Lah emang Bu Maya belum denger?”


“Denger apa?” tanya balik Maya.


“Itu loh, Bu Indri baru saja kehilangan uang.”


“Innanillahi… kehilangan uang?” ulang Maya memastikan. “Maksudnya, Bu Indri yang mau nikahin anaknya hari ini itu?”


“Iya bener, Bu Indri yang itu. Uang yang sudah disiapkan Bu Indri buat mahar pas nikahan anaknya itu, hilang.”


“Kok bisa?” tanya Maya penasaran.


“Ngga ada yang tahu, gimana uang itu hilang. Tapi denger-denger katanya diambil sama tuyul.”


Ibu-ibu yang baru saja bersuara langsung menutup mulutnya sendiri. Dia takut kalau makhluk yang baru saja dia sebutkan itu datang ke rumah dan mengambil uangnya juga.


Joni menjatuhkan selang air yang dia gunakan untuk membilas sisa sabun pada mobilnya. Dia mendengar semua percakapan ibu-ibu dengan mertuanya. Dan apa yang dikhawatirkan oleh Serena sejak semalam, ternyata terjadi.


“Bener Bu Maya. Sampai sekarang, Bu Indrinya saja masih nangis-nangis. Dan rombongan keluarganya juga belum ada yang berangkat ke tempat calon mempelai perempuan.”


Baru selesai ucapan terakhir, tiba-tiba Pak Andi melewati rombongan ibu-ibu yang ada di depan rumah Maya. Dia hanya menundukkan sedikit kepalanya sebagai tanda menyapa dan melempar lirikan tajam ke arah Joni.


“Ya sudah Bu Maya, silahkan diteruskan ngurus tanamannya. Kami pergi dulu,” pamit ibu-ibu.


“Iya, silahkan.”


Joni mulai mengeringkan mobil dengan lap khusus. Dia tidak mengeluarkan komentar apapun saat Maya menceritakan kembali apa yang baru saja dia bicarakan bersama para ibu-ibu , sebelum masuk ke rumah.


Pak Andi kembali melewati jalan yang ada di depan rumah Maya. Matanya melirik dan seolah mencari-cari sesuatu tapi malah mendapati tatapan Joni yang juga sedang mengawasinya. Saat Joni ingin bertanya tentang keperluan Pak Andi yang sudah dua kali melintas, laki-laki itu malah melengos dan pergi.


“Apa yang dia cari?” tanyanya pada Braja yang berada dalam tubuhnya.


“Dia sedang mengawasi penghuni rumah. Sepertinya nanti malam, kau harus berjaga bersamaku.”


“Tidak masalah,” jawab Joni. “Apa dia berniat mencelakai Serena atau Sekar?”


“Kita hanya perlu bersiap untuk kemungkinan apapun.”


Selesai beres mencuci mobil, Joni langsung menutup pintu gerbang dan segera masuk ke rumah untuk membersihkan diri.


“Sekar dimana, sayang?” tanya Joni pada Serena. Pria itu baru selesai mandi dan masih memakai handuk, ketika istrinya masuk ke dalam kamar.


“Ada di kamar Zahra. Lagi pamer mainan yang baru dia beli di pasar, tadi. Kenapa?”

__ADS_1


“Ngga apa-apa, cuma nanya aja. Hari ini jangan kemana-mana ya, kita di rumah aja.”


“Iya, Mas. Aku memang ngga punya rencana pergi kemana-mana. Soalnya Zahra minta diajarin bikin Raibow Cake. Katanya, dia mau bikin yang spesial buat Adit.”


“Baguslah,” jawab singkat Joni. Dia mengambil baju santai yang telah Serena siapkan di atas kasur.


“Apanya yang bagus, mas?”


“Emm, ya bagus aja. Mas jadi bisa ikutan makan cake hari ini,” jawab Joni. Dia tidak mau membuat Serena menjadi takut. Walaupun nanti istrinya itu mendengar berita tentang Bu Indri yang kehilangan uang, tapi setidaknya bukan dia yang menceritakan langsung.


“Ayo ke bawah, Mas. Kita sarapan dulu.”


“Iya, ayo!” saut Joni.


Serena menggandeng lengan Joni keluar kamar dan menuruni tangga. Dari jauh, sudah terdengar suara-suara heboh dari Zahra dan Bi Sari.


“Kok rame banget, ada apa?” tanya Serena sambil menduduki kursi yang ditarik Joni untuknya. Sedangkan Sekar masih duduk di lantai bersama mainan barunya.


“Mending ngga usah tahu. Nanti Mbak Rena takut,” jawab Zahra.


“Memang apa yang terjadi?” tanya Serena bingung.


“Pagi ini, tetangga kita ada kehilangan uang.”


“Siapa?” tanya Serena pada Maya.


“Bu Indri, yang hajatan hari ini.”


“Kehilangan uang gimana, Bu?” tanya Serena semakin penasaran. Apa yang menghantui pikirannya dari semalam ternyata terjadi.


“Ibu ngga tahu. Tapi ada yang bilang, kalau uangnya di ambil sama tuyul.”


Mendengar hal itu, Serena langsung memalingkan wajah dan menatap Joni. “Mas…”


Joni membelai punggung tangan Serena untuk menenangkan. Dia tahu kalau istrinya sedang ketakutan. Sedikit tersenyum dan memejamkan mata sebagai perintah, agar Serena tidak perlu cemas.


“Ada apa?” tanya Maya. Dia melihat gelagat aneh dari anak dan menantunya.


“Emm… sebenarnya kita udah tahu kalau hal ini akan terjadi bu,” jawab Joni.


“Apanya? Jelaskan semuanya biar ibu ngerti!” perintah Maya.


Joni menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Tentang Sekar yang memiliki teman kecil dan botak, dan juga pertemuan mereka dengan pak Andi, tadi di pasar.


“Jadi, kalian tahu dari Sekar?!” tanya Maya. Bi Sari dan Zahra sama-sama menatap Joni untuk menunggu jawaban.


“Iya, Bu.”


Sarapan bersama selesai. Joni tidak menceritakan rencana untuk nanti malam kepada semua orang , termasuk Serena. Dia hanya akan melakukannya bersama Braja. Tugasnya malam ini adalah melindungi seisi rumah yang mungkin sedang dalam incaran orang jahat.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.

__ADS_1


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.


__ADS_2