
Sarah tersenyum bahagia di depan cermin besar yang ada di hadapannya. Hari ini adalah jadwal sidang lanjutan untuk perceraiannya dengan Farrel, jadi dia sengaja berdandan cantik dengan maksud membuat Farrel terpesona dan akhirnya mau untuk membatalkan perceraian.
Gaun sederhana dan juga sopan, telah membungkus tubuh indahnya dengan sempurna. Meskipun terlihat biasa, tapi gaun itu tetap memiliki bandrol yang mahal, karena Sarah membelinya di butik ternama dari desaigner terkenal. Ini bukanlah gayanya. Tapi untuk mendapatkan kembali perhatian Farrel, maka dia mau repot melakukan itu semua.
“Aku akan membawamu kembali ke pelukanku, Farrel. Aku tidak percaya kalau kau akan menolak pesonaku hari ini,” ucapnya pada cermin.
Pengacara sudah menunggu kehadiran Sarah bersama sang asisten, karena mereka akan berangkat bersama ke pengadilan. Sarah sengaja mengatur hal seperti itu, karena nanti dia akan meminta Farrel untuk mengantarnya pulang dengan alasan tidak membawa mobil. Dan jika semua berjalan sesuai rencana, maka Sarah akan menggoda Farrel saat sudah tiba di rumah.
“Ayo jalan!” perintahnya pada asisten.
“Ya Nyonya.”
Ingin rasanya Sarah melancarkan protes, saat tubuhnya merasakan ketidaknyamanan dari mobil yang sedang dia tumpangi saat ini. Mobil mahal dengan tingkat kenyamanan dan keamanan tinggi miliknya, sangat tidak bisa dibandingkan dengan mobil yang dia naiki saat ini. Hatinya menjadi sedikit menyesal karena telah memutuskan untuk menumpang pada sang asisten.
“Maaf atas ketidaknyamanannya, Nyonya.”
“Diam dan menyetirlah yang benar,” perintah Sarah sambil menghembuskan nafas panjang dan mata tertutup. Kali ini dia terpaksa harus bersabar, karena kalau tidak, maka moodnya hari ini akan hancur dan itu bisa membahayakan rencananya nanti.
--------------------------------------------
“Tetaplah di rumah, aku akan segera kembali.”
“Apa aku boleh ikut?” tanya Sherly. Dia membantu memasang dasi di leher Farrel untuk menyempurnakan penampilannya. Tangan pria itu terus memeluk pinggang ramping Sherly disertai tatapan menggoda.
“Tidak!” Farrel menolak tegas. “Bukan aku tidak suka kau pergi denganku, tapi aku hanya tidak mau kalau nanti Sarah malah memanfaatkan kehadiranmu untuk memerasku di depan pengadilan.”
“Kau takut padanya?” tanya Sherly.
“Cih! Aku tidak pernah takut padanya, karena yang aku takutkan justru dirimu.”
Farrel mendaratkan kecupan ringan di kening Sherly. Bisa dilihat, kalau saat ini dia begitu malas beranjak pergi meninggalkan Sherly di dalam apartemen, sendiri. Dia tidak suka karena harus berpisah dari sang kekasih, meski hanya untuk beberapa jam saja.
“Kenapa aku?”
Wajah Sherly yang sedang kebingungan sangatlah menarik di mata Farrel. Jadi sebelum menjawab, dia mencuri ciuman di bibir calon istrinya itu.
“Wanita gila itu bisa mencelakaimu, dan aku tidak mau itu terjadi. Akan sangat menyenangkan kalau kau bisa berubah bentuk menjadi kecil, agar aku bisa menyembunyikan dan membawamu kemana saja.”
“Kenapa bicaramu selalu saja berlebihan, Tuan Farrel? Apa aku begitu menyusahkan, sampai-sampai kau harus bersikap seperti ini?”
“Nyonya Farrel yang cantik, aku tidak suka mendengar pertanyaanmu yang ini. Sudah berkali-kali aku katakan, kalau kehadiranmu tidak pernah menyusahkanku.”
“Baiklah. Sekarang pergilah sebelum terlambat,” perintah Sherly. Dia membekali Farrel dengan ciuman di pipi.
“Bisakah aku tidak pergi? Aku malas sekali bertemu dengan wanita itu.”
Farrel kembali memeluk Sherly dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang kekasih. Kalau sudah begini, maka tidak ada yang bisa dilakukan oleh Sherly selain membiarkan Farrel mendekapnya sampai puas.
“Kalau kau tidak pergi, maka prosesnya akan semakin lama.”
“Ck! Kau mengusirku?”
“Kau boleh memelukku lagi setelah kau menyelesaikan urusanmu hari ini. Aku akan menunggumu pulang dan memasak makanan yang enak untukmu. Bagaimana?” Sherly memberi penawaran menarik untuk membangkitkan semangat Farrel.
“Apa aku juga boleh menciummu?”
“Haih… Tuan Farrel, apakah sebelumnya kau pernah meminta izin untuk menciumku?” Sherly mengerucutkan bibirnya, kesal.
“Kau benar. Sebelumnya memang aku tidak pernah meminta izin, dan sekarang pun aku tidak akan meminta izin.”
__ADS_1
Farrel segera menempelkan bibirnya pada bibir Sherly. Untuk bisa menemui wanita yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya, dia perlu energi yang banyak. Bahkan super banyak. Jadi dia mengisi energinya dengan cara terbaik yang biasa dia gunakan, yaitu bibir milik kekasihnya, Sherly.
“Aku pergi dulu,” pamit Farrel.
Sherly hanya menjawab dengan senyuman dan lambaian tangan. Tapi saat dia melihat gelagat Farrel yang akan berbalik badan, Sherly segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Dia tidak mau Farrel sampai melihatnya berdiri di ambang pintu, karena pasti akan membuat laki-laki itu mengurungkan kepergiannya.
“Cepat pergi, atau aku tidak akan mengizinkanmu untuk menciumku!” teriak Sherly dari balik pintu yang masih bisa didengar oleh Farrel.
“Baiklah istriku…” seru Farrel dari luar.
“Aku bukan istrimu!” tolak Sherly.
“Baiklah sayang, calon suamimu ini akan pergi sebentar. Tunggu di rumah dan bersiaplah,” ucap Farrel.
“Bersiap untuk apa?” tanya Sherly dari balik pintu.
Tidak ada jawaban.
“Bersiap untuk apa?” tanya Sherly lagi.
Tetap tidak ada jawaban.
Didorong oleh rasa penasaran, akhirnya Sherly membuka pintu untuk memastikan kalau Farrel telah pergi. Tapi betapa terkejutnya dia, saat Farrel masih berdiri di sana dengan satu kaki yang menjulur diambang pintu sebagai pengganjal, agar pintu tidak bisa ditutup.
“Bersiap untuk ini,” ucap Farrel mencuri ciuman. “Kita akan melanjutkannya nanti.”
Kali ini Farrel benar-benar melepaskan Sherly. Dia segera berjalan cepat menuju parkiran dan membawa mobilnya ke tempat yang akan menentukan status serta kebebasannya.
--------------------------------------------
Joni melajukan mobil yang dikendarainya dengan kecepatan rata-rata. Sebelumnya dia telah menyerahkan tanggung jawab untuk menjaga kafe pada Ian, karena hari ini dia akan mengantar bocah pencuri ke tempat asalnya bersama dengan istri dan anaknya.
Flashback
Joni menyerahkan botol transparan pada Sekar. Botol berisi bocah pencuri yang sudah menunggu untuk dilepaskan, dari semalam. Joni membiarkan anaknya untuk mengambil keputusan akan nasib dari makhluk kecil itu selanjutnya.
Sekar belum bersuara sama sekali. Dia masih marah pada bocah pencuri uang yang juga ingin mencuri Serena darinya. Sekar tidak akan membiarkan siapapun mengambil wanita yang begitu dia sayangi.
“Aku janji tidak akan mencuri lagi. Aku juga tidak akan kembali ke rumah orang itu, jadi… izinkan aku tetap disini. Aku ingin kita tetap berteman.”
Sekar berpikir sejenak. Kalau dia membiarkan bocah itu tinggal bersama dengan keluarganya, maka besar kemungkinan kalau Serena juga bisa terpengaruh.
“Aku mau berteman denganmu, tapi aku tidak mau kamu ada disini. Aku tidak perlu perlindungan darimu. Pulanglah ke tempat asalmu, kapan-kapan aku akan mengunjungimu.”
“Apa kau takut, kalau aku akan merebut ibumu?”
“Aku tidak takut padamu!”
Sekar memberi tatapan tajam.
“Lalu kenapa kau mengusirku?”
“Aku tidak mau kalau kehadiranmu disini, malah akan mendatangkan kesusahan bagi keluargaku. Ada banyak orang yang memiliki kelebihan untuk bisa melihat makhluk sepertimu, dan aku tidak mau mereka berpikir kalau keluargaku memeliharamu demi kekayaan. Jadi pulanglah…”
Keputusan terbaik telah Sekar ambil. Demi kedua orang tuanya, demi seluruh anggota keluarganya. Dia tidak mau mengambil resiko berbahaya, hanya karena pertemanannya dengan bocah pencuri.
“Bolehkah aku meminta sesuatu?”
“Apa?” tanya Sekar malas.
__ADS_1
“Kalau aku bersedia untuk pulang, maukah kau yang mengantarkanku kesana?”
“Baiklah. Aku akan mengantarkanmu,” jawab Sekar.
Tidak ada lagi percakapan dan tawar menawar. Joni dan Braja telah menyetujui semua yang sudah Sekar putuskan, tanpa protes sedikit pun.
Flashback off
Sekar membuka tutup botol transparan dengan perlahan. Dia tidak bisa mengantar bocah pencuri sampai ke pohon besar yang ada di dalam hutan. Sekar meminta pertolongan Braja untuk mengembalikan bocah pencuri ke tempat asalnya yang juga banyak terdapat makhluk serupa.
“Kalau bocah itu pulang, lalu apa yang akan terjadi pada Pak Andi, Mas?” tanya Serena. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan kembali ke rumah, setelah selesai mengantar teman kecil sang putri.
Joni saling melempar senyuman dengan Sekar. “Sebentar lagi dia kan mendapat bonus dari perbuatannya,” jawab Joni.
“Apa dia tahu kalau kita sudah menangkap dan mengembalikan temanmu itu, Sekar?”
“Dia tidak perlu tahu,” Joni mewakili Sekar untuk menjawab.
“Benar juga.”
-------------------------------------------
Istri Pak Andi memberanikan diri untuk membuka pintu kamar yang sangat dilarang oleh suaminya. Dia tidak menemukan keberadaan Pak Andi dimanapun sejak subuh tadi. Hatinya tiba-tiba menjadi khawatir.
Dengan tangan gemetar, istri Pak Andi mendorong daun pintu kamar yang dia ketahui sebagai tempat menyimpan hasil kerja makhluk kecil yang mereka pelihara.
“Ya ampun! Bapak kenapa?” teriak istri Pak Andi.
“Dasar perempuan tidak berguna! Sudah berjam-jam aku berteriak, tapi kau tidak dengar. Cepat bantu aku mengangkat brangkas sialan ini!”
Dengan bersusah payah, istri Pak Andi berusaha menolong suaminya. Brangkas yang besar dan berat itu sangat sulit untuk dipindahkan. Pak Andi tak henti-hentinya meringis kesakitan. Dia mulai merasakan mati rasa di bagian lutut sampai ke telapak kaki.
Saat ini Pak Andi sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit menggunakan mobil ambulance. Tetangga yang dimintai tolong untuk membantu mengangkat brangkas pun mulai bergunjing. Mereka merasa curiga dengan keberadaan brangkas besar yang hanya berisi daun kering dan juga arang hitam.
-
“Untuk semetara waktu, Pak Andi tidak akan bisa berjalan. Maaf, tapi kami sudah berusaha sebisa mungkin.”
Penjelasan dari dokter membuat istri Pak Andi meneteskan air mata. Dia senang karena pada akhirnya dia bisa terbebas dari makhluk yang menyiksa hidupnya selama ini. Tapi dia juga bersedih melihat keadaan suaminya yang kini harus hidup mengandalkan kursi roda.
.
.
.
***
Info perubahan jadwal up.
Selama ramadhan, Si_Ro akan up 2 hari sekali.
Mohon dimengerti, karena Si_Ro juga pengen punya tabungan akherat.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.
__ADS_1