
Tapi kebahagiaan Serena ternyata tidak berlangsung lama, matanya menangkap pergerakan tubuh Juan yang tiba tiba ambruk di kursi “Juaaan…” teriak Serena yang langsung berlari ka arahnya.
Joni menatap kosong pelukannya yang sudah tidak lagi ada tubuh Serena disana, ada perasaan kosong yang menjalar begitu saja tanpa permisi.”Sebenarnya apa arti perasaan ini?” gumamnya lirih sambil mengelus dadanya sendiri.
“Kau kenapa?” Serena bertanya dengan penuh rasa khawatir pada Juan.
“Tidak apa apa, cuma perlu istirahat sebentar. Aku mengeluarkan banyak tenaga untuk bertarung tadi malam, dan juga untuk mengobati Zahra” jelas Juan dengan suara yang begitu pelan.
“Iya. Istirahatlah. Apa kau juga perlu dirawat?” Serena mengangkat kepala Juan dan meletakkannya di pahanya.
“Tidak perlu. Rumah sakit akan gempar kalau sampai aku di rawat disini” Juan menyempatkan diri untuk tersenyum dengan mata tertutup.
“Kenapa?” Tangan Serena mengelus rambut Juan
“Apa kau lupa kalau tubuh ini sudah tidak punya detak jantung?” Serena melupakan kenyataan , tubuh Juan hanyalah pinjaman yang di pakai suami astralnya.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu?”
“Suruh sopirmu itu untuk mengantarku pulang ke club milikku, aku akan istirahat disana saja. Bolehkan?” Tanya Juan.
“Tentu saja boleh, istirahatlah yang banyak dan pulihkan dirimu dengan baik” Jawab Serena seraya memanggil Joni yang berdiri tidak jauh darinya.
Joni berjalan mendekat ke arah Serena, sejenak menatap Juan yang terlihat sangat nyaman berada di pangkuan Serena.
“Ada apa mbak?” Tanya Joni.
“Bang Jon…Serena minta tolong, antarkan Juan ke tempatnya untuk istirahat ya” perintah Serena pada Joni yang malah memberinya tatapan penuh tanya.
“Dia tidak mau di rawat di rumah sakit dan minta di antar ke club, tapi kalau Bang Jon ngga bisa, biar Serena aja yang nganterin Juan”
Joni tentu tidak akan menyetujui usulan terakhir dari Serena, dia tidak akan membiarkan Serena sendiri yang mengantarkan Juan ke tempatnya, itu akan mambuatnya semakin berpikiran aneh aneh. Kalau Serena yang mengantar Juan, otomatis mereka hanya akan berdua saja didalam mobil maupun di tempat Juan.
__ADS_1
“Biar saya saja mbak” Joni membantu Juan bangkit dan membawanya menuju mobil milik pria itu. Serena juga ikut membantu dan mengantar Juan, walau hanya sampai parkiran rumah sakit, karena dia harus menunggui Zahra yang sebentar lagi akan di pindah ke ruang rawat inap.
Sejenak Joni menatap setiap bagian mobil Juan yang akan dikendarainya, mobil itu mobil mahal dan canggih, berbeda dengan mobil milik Serena yang biasa di bawanya. Joni menatap setiap detail bagian mobil dari posisi duduknya, karena itu akan memudahkannya membawa mobil sport milik Juan yang belum pernah dia coba.
“Bisa ngga sih lo?” Juan mengeluarkan protesnya saat dirasa mobilnya tidak juga bergerak.
“Sebentar! bawel” Joni merasa diremehkan.
Saat Joni sudah mengerti cara pengoprasian mobil mewah milik Juan, dia mulai menjalankan mobil itu dengan perlahan dan keluar dari area rumah sakit, sampai Joni mulai terbiasa dan akhirnya melajukan mobil itu dengan kecepatan rata rata untuk segera sampai ke club milik Juan.
“Gue boleh nanya ngga?” Joni bertanya pada Juan yang diyakini tidak sedang tertidur walau laki laki itu menutup mata
“Tanya aja, ngga usah basa basi” Jawab Juan tanpa bergerak dan membuka mata
“Kenapa hanya Zahra yang mengalami ini? Emm maksudku….kenapa cuma Zahra yang memerlukan pengobatan dari lo, kenapa gue ngga? Padahal kan gue dan Zahra sama sama kena serangan tadi malam” Joni sudah menanggung rasa penasarannya sedari tadi.
“Lo punya pelindung sendiri, jadi ngga perlu bantuan dari gue”
“Gue punya pelindung, pelindung apa? Gue ngga punya apa apa kok” Joni mengerutkan keningnya.
“Ooh…Pantes”
“Pantes apa?”
“Pantes gue benci banget liat lo deket sama mbak Rena, ternyata lo adalah pengaruh buruk dan gue pengaruh yang baik. Dan gue rasa, kita ngga akan pernah akur, benerkan tebakan gue?”
“Hmm…” Juan hanya menjawab dengan gumaman kecil.
“Biar pun lo bukan manusia, tapi gue yakin kalau saat ini lo juga sedang terluka” Joni kembali bersuara.
“Darimana lo tahu gue bukan manusia? Apa Serena yang cerita ke lo?” Juan membuka matanya dan menatap Joni.
Joni menghela nafas sebelum menjawab “Walau mbak Rena ngga pernah bilang apa apa, gue tetep bisa merasakan itu tanpa bertanya. Gue ngga tahu ada hubungan apa antara lo sama mbak Rena, tapi gue yakin, pasti ada sesuatu yang membuat kalian saling terkait”
__ADS_1
Juan kembali menyenderkan kepalanya pada headrest dan menutup matanya “Jangan ikut campur terlalu banyak, gue bisa saja mencelakakan lo suatu hari nanti. Walaupun lo termasuk orang orang yang di sayangi oleh Serena”
“Jangan sakiti Serena, itu saja yang gue minta. Kalau sampai Serena celaka karena lo, gue dengan senang hati akan buat perhitungan , siapapun lo apapun lo, gue ngga akan tinggal diam” Joni memberikan perigatannya.
“Cih…emangnya lo punya apa? Gue jelas jauh lebih kuat dari lo” Juan membanggakan diri.
“Jangan sombong? Lo juga jangan lupa, di atas langit masih ada langit, meskipun lo lebih kuat dari gue, tapi gue masih punya yang lebih kuat dari lo. Bahkan sekarang lo juga sedang terluka karena ada yang lebih hebat dari lo kan?” ucap Joni.
Juan terdiam mendengar penuturan Joni, semua yang dikatakan oleh laki laki itu benar adanya. Dia memang sedang terluka dan itu menandakan ada yang melebihi kehebatannya, belum lagi kalau takdir Yang Maha Kuasa sudah berbicara, dia tidak akan pernah mampu melawan kehendak-Nya.
“Kalau begitu….mari sama sama melindungi Serena. Lo dengan cara lo, dan gue dengan cara gue” ucap Juan menyerah.
“Setuju” Joni menyanggupi. Anggap saja ini adalah perjanjian antara sesama laki laki, keduanya akan bekerja sama untuk melindungi seorang gadis yang sama sama mereka sayangi.
Mobil Juan sudah memasuki parkiran club terkenal di kota ini, beberapa pengawal berpakaian rapi dan berwajah tidak bersahabat menyambut kedatangan bos besar mereka, lalu membungkuk memberi hormat.
Saat Joni memberikan kunci mobil pada Juan, laki laki itu mencekal tangannya “Gue titip Serena, mungkin gue ngga bisa menemuinya beberapa hari. Carikan alasan terbaik biar Serena ngga khawatir sama gue”
“Lo ngga usah takut, gue malah akan buat dia melupakan lo” Joni menjawab dengan candaan, walau perkataan itu benar benar keluar dari dalam hatinya.
“Lo ngga akan mampu, ck…. pulang sana” Juan mengusir Joni pergi “Temani Serena, dan jangan meninggalkannya sendiri”
“Gue tahu, ngga perlu lo ajarin” Joni melangkah keluar dari club dan mencari taxi untuk kembali ke rumah sakit. Dia menolak tawaran Juan yang menyuruhnya untuk membawa kembali mobil sport miliknya.
Jelas mobil itu terasa sangat nyaman untuk dikendarai, tapi Joni tidak mau membuat dirinya menerima kemewahan terlalu banyak dari laki laki itu. Joni jelas tidak mau terhanyut dengan kemudahan kemudahan yang bisa dia dapatkan bila dekat dengan makhluk seperti Juan. Semua Itu akan membuatnya melupakan jati dirinya sendiri yang sudah tentu akan mengundang murka penciptanya. Joni sudah sangat bersyukur dengan apa yang di dapatnya dari kerja kerasnya sendiri.
.
.
.
***
__ADS_1
Untuk semua pembaca setiaku, jaga kesehatan ya