
Aki sudah menunggu tamu yang diharapkan kedatangannya, menyambut dengan senyuman lebar yang malah terlihat mengerikan dimata Sarah dan Sherly.
“Gimana Ki? Apa Aki sudah bisa membantu kita berdua?” Tanpa basa basi Sarah bertanya
Aki menganggukkan kepalanya dengan perlahan, lalu balik bertanya “Berapa kau sanggup membayarku? Ini pekerjaan sulit, nyawaku jadi taruhannya”
“Soal uang, Aki ngga usah takut. Saya akan memberikan Aki uang yang banyak, kalau Aki berhasil menjalankan perintah saya” Sarah menjawab semangat
Aki tersenyum senang membayangkan jumlah upah yang akan diterimanya“Kalian bersantailah dulu, Aki akan memulainya nanti malam”
“Kenapa harus nanti malam ki, kenapa ngga sekarang aja?” Sarah tidak bisa menutupi ketidak sabarannya
“Ada peraturan tidak terlulis tentang itu nyonya. Kalau kau tidak bisa bersabar, maka kau akan selamanya menjadi orang yang hanya bisa menerima kekalahan”
Ucapan Aki sukses membungkam mulut Sarah seketika. Resiko kegagalan dan kekalahan yang kini menari di benaknya, membuat Sarah menggeleng gelengkan kepalanya sebagai bentuk dari penolakan.
“Lakukan sesuai peraturan Aki, saya akan diam”
“Bagus” Jawab Aki sambil berlalu
Sherly tidak mendengarkan pembicaraan Sarah dengan Aki, dia hanya duduk diam dengan terus memperhatikan layar handphonenya. Dia sudah tidak lagi tertarik untuk menghancurkan hidup Serena.
Pertemuan Sherly dan Joni hari itu telah merubah hati dan pandangan hidupnya, dia kembali merasakan semangat menatap masa depan. Mungkin benar ucapan Sarah, laki laki itu belum tentu mau dengannya, tapi setidaknya hati Sherly bahagia, walau hanya dengan melihat Joni dari jauh.
Sherly berjanji akan menata kembali hidupnya yang sudah terlanjur berantakan, walau dia sadar diri penuh dosa, setidaknya dia tidak mau menjadi orang jahat. Dan Sherly berniat untuk tidak lagi mencelakai Serena ataupun orang lain , dia akan mulai berubah.
“Lebih baik terlambat, dari pada tidak sama sekali” gumamnya
----------------------------------------------
Sementara itu di tempat lain, Serena menyelesaikan pemotretan hari ini dengan sempurna. Mendapat banyak pujian dari fotografer dan juga semua kru yang membantu pekerjaannya sampai selesai.
“Mbak Serena memang selalu bagus saat di foto ya?”
“Iya, dia begitu cantik dan elegan”
“Iya bener, udah gitu orangnya ngga sombong lagi”
Itulah beberapa pujian yang sempat didengar sendiri oleh Serena, dia tersenyum puas dan menundukkan kepalanya sopan, saat berpamitan pulang meninggalkan tempat pemotretan.
Semua orang yang mengenal Serena pasti akan memberikan tanggapan yang hampir sama, gadis itu memang tidak pernah bertingkah aneh aneh apalagi menyombongkan ketenaran yang dimiliki. Bekerja profesional, selalu mengikuti arahan dan peraturan yang di buat oleh fotografer yang melakukan kerja sama dengannya.
Selain melakukan fashion show, Serena juga sudah merambah dunia periklanan, terhitung sudah ada dua iklan tv yang memasang wajahnya.
Serena sengaja menyuruh Joni pulang lebih dulu, karena dia sudah membuat janji ketemuan dengan Juan.
“Dimana?” Serena mengirim pesan
“Parkiran”
Serena segera menuju parkiran yang berada tidak jauh dari tempat pemotretannya, bahkan dengan jarak yang dekat itu dia memastikan kalau Juan bisa melihat semua gerak geriknya dengan sangat jelas.
“Selama kau masih menjadi istriku, kau tidak boleh dekat dengan siapapun! Aku akan langsung membunuh semua laki laki yang berani menikahimu sayang!”
Baru saja Serena masuk ke dalam mobil, Juan langsung memuntahkan kemarahannya yang mungkin sudah ditahannya sedari pagi.
__ADS_1
“Siapa juga yang….” Serena mengerutkan dahinya heran “Darimana lo tahu sih?”
“Apapun yang terjadi padamu, aku tahu semuanya, dan dimanapun kau berada, aku selalu bisa menemukanmu. Rumahku ada di dalam anggota tubuhmu sayang, kita saling terhubung, jadi aku tahu segala yang terjadi padamu”
“Oh…kalau begitu, harusnya lo tahu dong kalau bukan gue yang pengen nikah tapi ibu yang sedang cari jodoh buat gue” jawab Serena yang juga kesal dengan tingkah suaminya
“Kalau begitu aku akan membunuh ibumu”
JEDDERRRRR
Bagai tersambar petir, tubuh Serena tiba tiba kaku, Jawaban dari Juan sukse membuatnya begitu syok. Dia tahu kalau yang namanya hukum karma itu pasti berlaku, hukuman yang akan diterima dari sebuah kejahatan sebagai sebuah pembalasan. Tapi dia tidak akan pernah menerima jika ibunyalah yang akan menjadi korban selanjutnya dari suami astralnya itu.
“Kalau kau berani menyentuh ibuku, maka aku akan membuangmu! Aku akan mengembalikanmu pada Ni Maryam!”
Juan yang tidak terima dengan ancaman itu, langsung mencengkik leher Serena sampai nafas istrinya tersengal sengal, wajahnya memerah karena mulai kekurangan oksigen. Tapi melihat itu Juan lalu melepaskannya dengan kasar.
“Kita punya perjanjian” geramnya
“Perjanjian itu tidak akan berlaku jika aku mati”
“Apa maksudmu!!” bentak Juan
“Kalau kau membunuh ibuku, maka aku juga akan membunuh diriku sendiri dan aku tidak perlu lagi menjadi budak nafsumu!”
“Apa kau sedang menyesal?!”
“IYA! AKU MENYESAL! SANGAT MENYESAL!” lantang Serena dengan tetesan air mata yang membanjiri wajahnya. Dia tidak menduga kalau akhir cerita hidupnya akan semenyedihkan ini.
Setelah ucapan penyesalan itu bisa di keluarkannya dengan tegas, Serena terdiam sambil terus menangis, hatinya benar benar tersakiti akibat ulahnya sendiri. Keinginan untuk mempertahankan pekerjaan sebagai model membawanya ke jalan yang salah, dendam pada sahabat yang sudah merebut kekasihnya menggulungnya ke lautan dosa.
Semua yang dilakukan Serena hanya untuk keluarganya, untuk orang orang yang dicintainya. Tapi kalau sudah begini, mampukah dia menyalahkan keluarganya yang menjadi penyebab dosa besarnya ini?
Tidak!
Ini bukan kesalahan ibu atau Zahra, ini murni kesalahan Serena sendiri, kesalahan yang diambil tanpa memandang jauh kedepan, tanpa memikirkan betapa sedih keluarganya kalau sampai tahu, merekalah yang menjadi penyebab Serena menyekutukan penciptnya.
“Maafin Rena bu hiks hiks..” lirihnya
Juan mengarahkan mobil yang dikemudikannya ke aparteman Serena, dia juga tidak berniat melanjutkan pertengkaran dengan istrinya yang masih sesegukan.
---------------------------------------------
Joni dan Zahra menatap heran dan tidak suka pada laki laki yang berada di belakang Serena, bahkan Zahra memilih berlindung di balik tubuh Joni. Keduanya masuk ke dalam aparteman dengan posisi Serena di depan, dan Juan mengekori.
“Mbak…ngapain laki laki itu ikut kesini? Dia yang nembak Bang Jon kan?” Tanya Zahra dengan suara pelan
“Iya. Tapi sekarang dia jadi temen gue.”
“Teman!” seru Joni dan Zahra bersamaan
“Kenapa harus berteman dengan orang seperti itu?” protes Joni dengan Zahra yang menunjuk Juan
“Emm kenapa yah…” Serena terlihat sedang berpikir “Lumayan, bisa dijadikan bodyguard” jawabnya
“Lumayan?” ulang Joni
“Bodyguard?” ucap Zahra tidka percaya
__ADS_1
Juan mengelilingi rang tamu, dapur dan juga memeriksa kamar mandi, dia mengedarkan pandangannnya kesana kemari seolah mencari sesuatu.
“Apa tadi ada tamu yang datang kesini?” Tanya Juan pada Joni dan Zahra
“Tidak ada” Joni mewakili Zahra untuk menjawab, gadis itu takut pada tampang Juan
“Tutup pintu dan semua jendela, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu yang tak diundang”
Serena, Joni dan juga Zahra saling pandang, tidak mengerti maksud Juan yang memasang wajah serius.
“Tamu siapa?” Serena bertanya
“AWAS!!”
DUMMMMM….
Juan memasang badan dan mendorong tubuh Serena, karena kejadian yang begitu tiba tiba, dia tidak sempat mengontrol gerakan tangan serta kekuatannya, sampai membuat Serena terpelanting ke lantai. Beruntung sekali kepala Serena tidak langsung beradu dengan kerasnya marmer, karena Joni dengan sigap melindungi gadis itu.
Serangan yang masuk menembus pintu apartemen manjadikan Serena sebagai targetnya, Juan masih memasang badannya dengan tegap, menunggu serangan selanjutnya yang akan mencelakai sang istri.
Sepertinya di tempat lain, Aki sudah mulai melakukan pekerjaanya.
Zahra hanya bisa terbengong menyaksikan pemandangan yang baru saja terjadi, ini kedua kalinya dia merinding takut, kejadian di luar nalar itu membuat Zahra melafalkan banyak doa doa yang dianggapnya mampu membantu keadaan.
DUUMMM……
Serangan kedua datang dengan cepat, bola api itu meluncur kembali ke arah Serena yang kini masih terduduk di lantai dengan Joni disampingnya. Walau belum bisa mengukur kemampuan lawan, tapi serangan itu masih mampu di tahan oleh Juan.
Saat perhatian Juan terfokus pada pintu di depannya dan menangkis serangan ketiga, ternyata ada serangan lain yang masuk dari jendela di belakang mereka berempat. Cahaya itu menerobos jendela kaca yang otomatis langsung pecah akibat kekuatan yang hebat.
PRANG….
Kaca jendela pecah dan berhamburan.
DUMM….
Kali ini Joni yang memasang badannya untuk menghalangi serangan yang kembali mengarah pada Serena. Pemuda itu tidak lagi memperdulikan dirinya dan tanpa perlu berpikir panjang langsung menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi gadis itu.
.
.
.
***
He hee
Pasti para reader protes nih
Si_Ro nulis ini pas tengah malem, sekitar jam 02
Baru tahu kalau syarat contestnya harus 40.000 kata
Ngebut deh jadinya
__ADS_1