
Pertarungan antara Juan dan iblis mata merah terjadi di hadapan Serena, gadis itu hanya bisa diam tercengang memandangi kilatan-kilatan cahaya yang saling beradu. Joni sudah turun dari brangkarnya, memposisikan tubuhnya untuk menjadi tameng jika serangan itu terpental ke arah Serena.
“Apa yang harus kita lakukan Joni?” bisik Serena.
“Berdoalah… hanya itu yang bisa kau lakukan Rena,” saran Joni mencoba menenangkan Serena yang ketakutan.
“Bagaimana kalau Juan kalah?” tanya Serena.
“Itu berarti kita berdua ada dalam bahaya, tapi tenang saja, aku tidak akan tinggal diam. Jika terjadi sesuatu dengan Juan, aku akan melakukan segala cara untuk menghindarkanmu dari iblis itu.”
“Lalu kau sendiri?”
“Jangan pikirkan tentang aku, karena yang diincar oleh iblis itu adalah dirimu. Seandainya malam ini aku tidak selamat, aku ingin kau berjanji satu hal padaku,” pinta Joni.
“Apa?”
“Berjanjilah untuk berhenti melakukan ritual laknat yang biasa kau lakukan itu Rena. Lalu carilah laki-laki baik yang menyayangimu juga ibu. Makan dan istirahatlah dengan teratur, kalau bisa carilah pekerjaan yang lain, dan jalani kehidupanmu dengan cara yang baik.”
Joni memegang pundak Serena, memutar tubuhnya sampai membuat mereka duduk berhadapan. Menatap ke dalam mata Serena sambil mengatur nafasnya sendiri.
“Mbak Rena… tidak, maksudku…”
Joni mengoreksi panggilannya untuk Serena dengan menggeleng, mengatur nafasnya sekali lagi, berharap bisa mengusir kegugupan yang mendera.
“Rena… seandainya waktu kita untuk bersama tidak ada lagi, apa yang ingin kau lakukan bersamaku?” tanya Joni serius.
Serena tidak langsung menjawab. Dia malah terlihat bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh Joni. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri secara bergantian. Entah apa yang di cari Serena di sana, sampai membuatnya belum bersuara untuk beberapa saat.
“Rena…” ulang Joni.
“Hemm…” hanya suara itu yang terdengar dari Serena.
“Kau mendengar pertanyaanku kan?”
“Apa?”
Joni berdecak dan membuang nafas dengan kasar karena mendengar pertanyaan Serena. Sangat tidak enak rasanya, saat sebuah pertanyaan di jawab dengan pertanyaan juga. “Ck huft… sekali saja, bisakah kita bicara serius?”
“Di situasi yang seperti ini?” tanya Serena.
“Aku merasa sudah tidak ada waktu lagi, jadi jawablah pertanyaanku!”
“Bisa kau ulangi?”
Joni tahu kalau Sekarang Serena sedang memikirkan Juan yang sedang bertarung melawan iblis mata merah. Belum bisa di pastikan siapa yang menang dan siapa yang akan kalah. Sulit membuat Serena memfokuskan pikirannya untuk menjawab pertanyaan yang dinilai mudah oleh Joni.
“Akan ku ulangi sekali lagi, jadi dengarkan baik-baik. Seandainya waktu kita sudah tidak lama lagi, apa yang kau ingin lakukan bersamaku?”
“Tidak lama lagi? Bersamamu?”
__ADS_1
“Jawab Rena, jangan berputar-putar! Kita tidak punya banyak waktu lagi!” Joni sedikit meninggikan suaranya.
“Ehm… aku… aku ingin… aku ingin kau jujur padaku!” jawab Serena terbata. Tiba-tiba gadis itu terserang rasa gugup, yang membuatnya ikut bersuara keras tanpa dia sadari.
“Jujur? Tentang apa?”
“Perasaanmu padaku. Perasaan yang kau miliku untukku. Aku mau tahu, apa arti diriku untukmu?”
Setelah bisa menguasai diri, Serena mengeluarkan semua pertanyaan yang selama ini dia pendam dalam-dalam. Mungkin benar kata Joni, kalau waktu mereka sudah tidak lama lagi, jadi Serena juga tidak akan menyi-nyiakannya begitu saja. Dia harus bergerak cepat untuk mendapatkan jawaban dari pria yang ada di hadapannya.
Di hati terdalam, Serena sedang berdo’a. Dia begitu berharap kalau Joni memiliki perasaan yang sama dengannya. Perasaan tersiksa tanpa alasan, jantung berdebar saat saling berdekatan, juga rasa hampa atau khawatir yang akan muncul saat berjauhan. Itulah yang dirasakan oleh Serena selama ini pada joni.
Tapi seberapapun menyiksanya, Serena tidak mau melangkah lebih dulu. Dia merasa perlu menjaga ego, dia tidak mau ditertawakan karena memiliki perasaan spesial pada sopirnya sendiri. Dan sekarang kesempatan itu datang, meski dalam kesempitan yang nyata.
Joni memberinya kesempatan. Mungkin saja ini adalah yang terakhir, dan Joni memberinya waktu untuk melakukan keinginannya. Dan inilah yang diharapkan oleh Serena dari laki-laki itu. Serena ingin Joni jujur tentang perasaannya.
“Arti dirimu untukku?”
“Iya,” jawab singkat Serena.
Joni menarik tubuh Serena untuk masuk ke dalam pelukannya. Mendekap erat penuh kasih sayang.
“Maafkan aku Rena…” tangan Joni mengelus lembut rambut dan punggung Serena.
Deg
Pundak Serena sudah terasa lemas tak bertenaga. Bahkan tangannya yang tadi melingkari pinggang Joni, kini sudah lepas bebas dan tergantung tanpa pegangan. Sepertinya sudah tidak ada harapan untuk menjadi orang yang istimewa di dalam hati laki-laki itu.
Sepertinya Joni mengerti dengan perubahan sikap Serena. Kedua tangan Joni meraih dan menuntun tangan Serena untuk melingkar kembali di pinggangnya untuk membalas pelukan hangat yang dia berikan.
“Bukan itu maksudku Rena…”
“Apa?” Serena menjawab malas.
“Aku memang minta maaf, tapi bukan seperti yang ada di dalam pikiranmu,” Joni menjelaskan.
“Lalu untuk apa kau minta maaf? Apa kau berbuat salah?”
“Iya. Aku berbuat salah. Bahkan ini mungkin kesalahan yang sangat besar.”
“.......” tidak ada reaksi apa pun dari Serena.
“Aku minta maaf karena telah memiliki perasaan lebih padamu.”
Serena menggerakkan kepalanya, dia ingin mendongak dan menatap wajah pria. Yang sedang memeluknya. Tapi sayang, laki-laki itu tidak memberinya kesempatan karena terlalu malu. Joni malah semakin mengencangkan pelukannya, dan menjaga kepala Serena agar tetap berada di dadanya.
“Jangan melihatku, dengarkan saja.”
Joni mengatur nafasnya lagi. Keadaan kacau yang sedang berlangsung seolah sedang mengejarnya untuk segera mengakhiri pembicaraan yang tidak tepat waktu.
__ADS_1
“Aku tidak pernah menganggapmu sebagai majikan atau bosku sejak pertama kali kita bertemu. Aku juga tidak merasa bahagia setiap menerima gaji yang kau berikan setiap akhir bulan. Kau telah memberiku kehangatan sebuah keluarga sampai aku lupa derajatku. Dan aku mau minta maaf…”
Joni memberikan jeda pada pengakuannya. Suaranya mulai bergetar, dan dia perlu berhenti sejenak.
“Aku minta maaf karena memiliki perasaan lebih padamu. Aku tahu kau akan menilaiku sebagai manusia yang tidak tahu diri dan juga kurang ajar. Tapi ini adalah kenyataanya. Kau ingin aku jujur tentang perasaanku padamu. Kau ingin tahu apa arti dirimu untukku. Dan aku jawab dengan penuh keyakinan.”
Joni merenggangkan jarak, tapi tidak melepaskan pelukannya pada tubuh Serena. Membiarkan gadis itu mendongak dan menatap matanya sambil mendengar kata-kata yang akan dia ucapkan selanjutnya.
“Aku sangat menyayangimu Rena… aku ingin bisa menjadi satu-satunya pria yang ada di sampingmu. Aku ingin memilikimu untuk diriku. Meskipun tidak sempurna, tapi aku berjanji akan menjadikan hidupmu penuh dengan cinta dariku.”
Embun di ujung mata Serena meleleh, dan itu membuat hati Joni terasa sakit. Secara mendadak, pikirannya menjadi kacau balau. Menyangka kalau gadis itu membencinya setengah mati sampai tidak kuasa menahan tangis.
“Apa kau sangat membenciku?”
Kepala Serena menggeleng cepat.
“Lalu kenapa kau menangis?” tanya Joni frustasi.
“Karena aku bahagia,” jawa Serena dengan senyuman tipis.
“Kalau kau bahagia, kenapa menangis?”
Joni dibuat bingung dengan jawaban yang tidak masuk akal dari Serena. Dia sungguh tidak mengerti, kenapa ada tangisan saat seseorang merasa bahagia?
Belum sempat Serena menjawab, terjadilah sesuatu yang menganggu momen romantis antara keduanya.
JEDDERRR….
Serena dan Joni sama-sama terkejut dengan suara keras yang terdengar dari arah samping. Keduanya menoleh bersamaan ke sumber suara, dimana iblis mata merah baru saja menerima pukulan dari Juan dan terpental.
“Joni! Bawa Serena keluar dari kamar ini, sekarang!” perintah Juan lantang.
.
.
.
***
Si_Ro selalu menyempatkan waktu untuk membaca dan memberikan like balik untuk komen yang ada di setiap bab. Jika para reader melihat ada like di komennya, itu pasti salah satunya dariku. Untuk yang ngga ada likenya, boleh protes.
Tapi kalau yang cuma mampir untuk promo, Si_Ro ngga kasih like.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.
__ADS_1