
“SERENA! SERENA! SERENAAAA!”
Joni memanggil-manggil nama Serena dengan begitu keras. Dia panik karena Serena tiba-tiba tak sadarkan diri.
“Bawa dia masuk ke dalam!” perintah Ni Maryam pada Joni.
Ni Maryam menatap sedih pada rumahnya yang telah rusak di beberapa bagian. Pertarungan malam ini benar-benar melelahkan dan menguras tenaga dalamnya. Menimbulkan banyak kerugian yang sebenarnya tidak harus terjadi. Di sana sini terdapat banyak pecahan genting yang berserakan. Jika tidak berhati-hati saat berjalan, pasti akan melukai kaki siapapun yang menginjaknya.
Tidak ada lagi suara dentuman keras yang terdengar. Tidak ada lagi suasana kacau yang bisa menambah rasa panik. Dan tidak ada lagi ancaman dari musuh akibat keserakahan.
Sekarang, hanya ada binatang malam yang mulai berani bersuara. Kerusakan yang tertinggal di sekitar rumah, serta dua tubuh manusia yang perlu perhatian khusus selama pengobatan.
“Bawa juga wanita itu!” Ni Maryam kembali mengeluarkan perintahnya.
Adit dan Yudi langsung membopong tubuh Yuli masuk ke dalam rumah Ni Maryam. Meletakkannya tepat di samping Joni yang memangku kepala Serena. Sekar sudah lebih dulu masuk untuk membersihkan lantai bambu dari serpihan reruntuhan, yang kemudian akan menjadi tempat duduk para tamu.
Yudi bisa melihat betapa perhatiannya Joni pada Serena. Pemuda itu terus menggenggam tangan anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. Ini pertama kalinya, dia tidak merasa takut pada laki-laki yang berdekatan dengan putrinya. Perasaan takut kalau-kalau Serena hanya akan dibuat terluka.
“Bangunlah anakku…” batin Yudi.
Yudi ingin mendekat pada Joni untuk memeluk tubuh putrinya, tapi dia harus menahan diri karena merasa tidak pantas. Sakit pada hati Serena karena ulahnya sendiri di masa lalu, membuat nyali Yudi menciut.
“Aku akan mengobati ibumu. Tapi butuh waktu yang tidak sebentar. Jadi tinggalkan saja dia disini. Kau bisa menjemputnya lagi, saat dia sudah sembuh.” jelas Ni Maryam pada Adit.
“Apa tidak sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja?” tawar Adit.
“Apa kau pikir rumah sakit bisa mengobati luka dalam ibumu? Kalau kau meragukan pengobatanku, silahkan bawa saja pergi. Aku hanya ingin membantu. Tapi aku juga tidak akan memaksa.”
Adit merasa bulu kuduknya meremang ketika menatap sorot mata Ni Maryam. Sorot mata berwibawa dari seseorang yang rendah hati. Tapi karena saking kuatnya, akhirnya malah menimbulkan perasaan takut dan ngeri. Dia tahu betul kalau yang Yuli butuhkan memang bukanlah seorang dokter atau pun rumah sakit. Karena dia juga menyaksikan sendiri apa yang membuat mamanya berakhir seperti ini.
Setelah banyak berpikir dan meminta saran dari Yudi, Adit akhirnya menyetujui perkataan Ni Maryam. Tadinya dia ingin tetap berada di sana untuk menemani Yuli sampai sembuh, tapi perusahaaannya tidak bisa ditinggalkan terlalu lama. Dengan berat hati, Adit akan meninggalkan wanita yang telah melahirkannya itu.
---------------------------------------------
“Apa yang bisa kau janjikan untuk membuatnya bangun?”
“Apapun. Apapun akan aku lakukan untuk membuatnya terbangun lagi.”ucap Joni mantap.
“Lalu… apa kau bisa mengorbankan dirimu?”
“Tentu. Kalau hanya itu jalan bagi kesembuhan untuk Serena, aku dengan rela akan melakukannya.”
“Kalau begitu, maukah kau menikahinya?”
“Apa maksudnya Ni? Tadi kau meminta pengorbananku, kenapa sekarang kau malah menyuruhku untuk menikahinya? Kalau dengan menikahi Serena adalah jalan untuk mengobatinya, itu namanya bukan pengorbanan, tapi sebuah kesempatan yang sangat berharga untukku.”
Ni Maryam tersenyum mendengar ucapan Joni, tak terkecuali dengan Yudi.
“Jelas itu adalah pengorbanan,” berhenti sejenak lalu melirik Joni. “Kalau kau ternyata memiliki wanita yang kau cintai di luar sana, tapi ternyata kau malah harus gadis ini, bukankah itu sebuah pengobanan?”
__ADS_1
“Aku tidak punya!” tegas Joni.”Apa harus dengan menikahinya Ni? Aku takut dia akan membenciku saat terbangun nanti.”
“Segel yang ada di tubuhnya sudah hancur, dan itu berakibat buruk. Sebagian jiwanya tanpa sengaja ikut terbawa oleh Jin Braja. Salah satu jalan untuk bisa membawanya kembali adalah dengan menikahkannya lagi. Tapi harus pernikahan sesama manusia, bukan dengan bangsa jin lagi,” jelas Ni Maryam.
“Lalu kapan waktu terbaiknya Ni?” tanya Joni.
“Secepatnya. Tidak boleh lebih dari tiga hari.”
“Aku pasti akan menikahinya. Tapi apa dia bisa menerimanya? Menerima diriku?”
Meskipun Joni akan menikahi gadis yang dia sayangi, tapi masih ada batu keraguan yang menghalangi rasa bahagianya.
Pernikahan? Jelas Joni menginginkannya. Apalagi jika itu dengan Serena, tentu dia tak perlu banyak ditanya tentang kesanggupan.
“Menerima atau tidak, kita pikirkan itu nanti lagi. Sebaiknya sekarang kau segera persiapkan pernikahannya, dan aku akan dengan senang hati menjadi wali nikah untuk anakku.” Yudi bersuara. Berharap bisa menghilangkan kebimbangan Joni.
“Tapi tuan…”
“Jangan panggil tuan. Meskipun kau keponakan Bi Sari, tapi aku tetap bukanlah tuanmu lagi. Sekarang kau juga harus mulai merubah panggilanmu padaku!”
“Sebentar lagi subuh, cepatlah pergi dari sini!” Ni Maryam menginterupsi percakapan antara calon menantu dan mertuanya.
“Bagaimana dengan mayat yang ada di luar itu Ni?” kali ini Adit yang bersuara setelah berdiam diri terlalu lama.
“Biarkan saja mayatnya. Aku akan memindahkannya ke tempat lain. Meskipun ini tidak mungkin, tapi cepatlah pergi sebelum ada warga yang berada di sekitar sini melihat kalian.”
Sementara Yudi naik ke mobil Adit, sama seperti saat mereka berdua datang ke rumah Ni Maryam. Adit terus menatap tubuh Yuli dengan pandangan tidak rela.
“Tenanglah, ibumu akan sembuh” ucap Ni Maryam pada Adit. Membiarkan pemuda itu memberi salam terakhir sebelum pergi. Mencium punggung tangan, kening dan memeluknya sebentar.
“Saya nitip mama ya Ni?”
“Iya.”
Mobil Adit yang membawa Yudi sudah berjalan meninggalkan halaman rumah Ni Maryam. Meninggalkan jejak ban mobil di jalan yang belum kenal dengan aspal.
Sekar berdiri dengan gelisah. Jari tangannya saling terjalin dan gemetar. Nafasnya semakin tidak teratur saat melihat Joni sudah menutup pintu bagian Serena dan berjalan memutari mobil menuju kursi pengemudi.
“Tidak! Jangan pergi! Aku mau ikut!” teriaknya dalam hati.
Semua gerak gerik Sekar tak luput dari penglihatan Ni Maryam. Dia hanya mencoba tidak peduli. Tapi saat pandangannya tidak sengaja beradu dengan mata bening gadis kecil itu, hati Ni Maryam melemah. Sulit membiarkan Sekar pergi setelah mereka hidup bersama selama beberapa tahun. Bohong jika Ni Maryam mengatakan, kalau dia tidak menyayangi Sekar. Meskipun sikapnya selama ini tidak bisa dibilang baik.
“Kau ingin ikut dengan mereka?” tanya Ni Maryam pada Sekar.
Tubuh kecil Sekar berjingkat mendengar suara Ni Maryam. Perlahan tapi pasti, Sekar membalikkan badan agar menghadap Ni Maryam. Kepalanya mengangguk lemah. Jelas dia takut dengan tatapan nenek tua itu. Tapi karena keinganan yang begitu besar, Sekar memberanikan diri.
“Bolehkah?” tanyanya lirih.
Ni Maryam tidak menjawab, dan itu membuat harapan Sekar musnah. Tadi dia sempat berpikir kalau Ni Maryam akan berbaik hati untuk melepasnya pergi, tapi ternyata itu hanya tinggal harapan.
__ADS_1
Satu menit…
Dua menit…
Tiga menit…
Waktu terus berjalan, bahkan Joni sudah menyalakan mesin mobil dan bersiap menginjak pedal gas lebih dalam. Sampai sebuah suara menghentikannya.
“TUNGGU!”
Joni memalingkan wajah pada Ni Maryam yang menahannya.
“Bawa gadis kecil ini bersama kalian. Dia lumayan pintar, dan kehadirannya akan sangat membantu proses penyembuhan wanitamu.”
Perkataan Ni Maryam disambut senyum bahagia oleh Sekar. Dia tidak menyangka kalau nenek tua yang selama ini jarang bersikap baik, memberinya izin padanya untuk pergi.
Ketika tangan Ni Maryam mengusap ujung kepalanya, air mata Sekar mengalir.
“Terima kasih Ni hiks hiks,” ucap Sekar diantara sesenggukannya.
“Jaga dirimu dengan baik. Jadilah berguna dan jangan menyusahkan.”
Sekar mengangguk. Lalu memeluk Ni Maryam sebagai salam perpisahan.
Joni turun dari mobil. Membuka pintu penumpang tengah untuk Sekar. Dia tidak menolak kehadiran gadis kecil itu sama sekali. Karena sebelumnya dia juga sempat mendengar obrolan Serena yang juga menginginkan Sekar.
“Masuklah. aku yakin Serena akan senang bisa melihatmu jika dia sadar nanti,” ucap Joni sambil mempersilahkan Sekar naik ke dalam mobil.
Mayat tubuh Juan sudah tidak ada di tempat terakhir dia berada. Entah kemana Ni Maryam memindahkannya, toh tidak ada yang peduli.
.
.
.
***
Kira-kira gimana ya, cara Joni menjelaskan masalah ini sama ibunya Serena dan Bi Sari?
Apalagi dia pulang sambil membawa anak kecil bersamanya.
Juga akan seperti apa reaksi ibu Serena melihat anak gadisnya berada diambang kematian?
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.
__ADS_1