KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 93


__ADS_3

Zahra membawa Sekar ke sebuah mall untuk berbelanja kebutuhan pernikahan Serena besok. Pernikahan mendadak yang harus dilaksanakan kurang dari tiga hari itu, membuat semua anggota keluarga harus bergerak cepat.


Karena terbatasnya waktu, maka pernikahan ini hanya akan diadakan secara sederhana. Dan untuk tempat pernikahan, tentu akan dilaksanakan di rumah ibunya Serena sendiri. Zahra mendapat tugas untuk membeli semua barang yang diperlukan oleh kakaknya. Mulai dari baju pengantin, perhiasan dan juga seragam keluarga. Sementara untuk menghias rumah dan persediaan makanan yang akan dihidangkan, itu menjadi tugas Bi Sari.


Zahra membawa Sekar ke sana kemari, tanpa melepaskan genggamannya. Gadis kecil itu hanya bisa menurut, apalagi tadi Zahra sudah menyogoknya dengan memberinya es krim. Ini adalah pertama kalinya dia mencoba makan dingin , tapi melihat wajahnya yang berseri, Zahra bisa menyimpulkan kalau gadis kecil itu menyukainya. Walau disuapan pertama Sekar sempat terdiam, karena terkejut dengan rasa manis yang sedang melumer di dalam mulutnya, tapi dia terus memakan bahkan menghabiskannya.


Berada ditempat yang belum pernah dia lihat sebelumnya, membuat Sekar sedikit takut tapi juga senang. Sekar sangat penasaran dengan tempatnya berdiri saat ini, namun dia tetap tidak melepaskan pandangannya dari sang tante yang sangat antusias dengan kegiatannya berbelanja. Sekar tidak mau hilang ditempat yang baru dia kenal.


Zahra menoleh ketika dia merasa pundaknya ditepuk oleh seseorang. Dan matanya membulat sempurna, karena mengenali siapa pelakunya.


“Kalau tidak salah, kau adalah adiknya Serena kan? Emm… Zahra! Benarkan?”


“Iya betul, Kak Farrel.”Zahra menjadi gugup, lalu balik bertanya untuk mengalihkan perhatian.”Tapi kenapa Kak Farrel ada di butik ini? Apa Kak Farrel mau menikah lagi?”


Zahra tahu bagaimana kisah kakaknya bersama pria yang ada dihadapannya itu. Dia berpikir kalau Farrel sudah berpisah dari istri pertamanya, dan menduga kalau pria itu sedang mempersiapkan pernikahan kedua.


“Oh… itu… anu… butik ini salah satu milik Kak Farrel. Hari ini ada salah satu temen Kak Farrel yang mau memesan gaun pengantin. Kau sendiri?”


Zahra tidak menjawab, matanya sibuk mencari-cari keberadaan Sekar. Dan saat dia menemukan kalau anak itu masih duduk ditempat yang dia perintahkan, Zahra langsung merasa lega. Dia memberi kode pada Sekar, agar ponakannya itu mendekat padanya.


“Perlu Kak Farrel bantu? Belanjaanmu cukup banyak. Apa kau akan menghadiri acara khusus?”


“Tidak perlu repot. Iya, di rumah akan ada acara khusus, mungkin lebih tepatnya disebut acara yang sangat spesial.” Zahra menjawab dengan wajah berseri.


Farrel melihat Sekar mendekat dan memeluk kaki Zahra. Tanpa bertanya, Farrel langsung menyimpulkan kalau anak kecil yang memeluk Zahra adalah anaknya.


“Lalu dimana suamimu? tanya Farrel, dan Zahra hanya tersenyum. “Sepertinya dari tadi Kak Farrel tidak melihatnya? Apa dia tidak ikut? Kenapa dia membiarkan istri dan anaknya membawa banyak barang seperti ini, atau kalian memang hanya datang berdua?”


Zahra lagi-lagi hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan padanya. Dia tidak ingin berusaha menjelaskan apapun pada Farrel, dan membiarkan pria itu berpikir semaunya.


Lalu Farrel mengernyitkan kening ketika menyadari kalau Zahra sedang memegang salah satu gaun yang sama berkali-kali.


“Kau mau beli gaun untuk siapa?”


“Emm… buat…” Zahra kebingungan untuk menjawab.


“PAPAAAA!” teriakan Sekar menyelamatkan Zahra dari pertanyaan Farrel kali ini. Joni yang baru masuk ke dalam butik, langsung menyambut tubuh Sekar yang menghambur ke dalam pelukannya.


“Apa belanjanya sudah selesai?” tanya Joni pada Zahra tanpa menoleh ke arah Farrel.


“Tinggal bayar yang ini saja, Bang Jon.”


Dengan menggandeng tangan Sekar, Joni berjalan menuju kasir dan membayar gaun yang Zahra ambil dari salah satu rak etalase. Sementara Farrel sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak tahu kalau ternyata Joni adalah suami Zahra, mereka bahkan sudah memiliki seorang anak. Lalu untuk siapa Zahra membeli gaun pengantin?


“Mungkin mereka ingin mengadakan resepsi,” pikir Farrel.


“Ayo kita pulang,” ucap Joni pada Sekar. Dia membawa sebagian besar belanjaan dan membiarkan sisanya di bawa oleh Zahra.


Joni bersikap tidak peduli akan kehadiran Farrel di sana. Sepertinya laki-laki itu masih tidak bisa merubah rasa tidak sukanya pada Farrel yang dulu telah menyakiti Serena. Menganggapnya tidak ada dan memilih segera pergi sambil tersenyum pada Sekar.


Zahra sekilas melemparkan senyum pada Farrel saat akan keluar dari butik. Dia ingin mengatakan salam perpisahan tapi tidak jadi, karena Joni memberinya tatapan tajam sambil menggelengkan kepala.


“Apa dia sedang cemburu padaku?” batin Farrel saat dia melihat tatapan marah Joni pada Zahra.


Mereka bertiga sudah keluar dari dalam mall. Dalam perjalanan menuju mobil di parkiran, Joni berhenti dan membalikkan badannya pada Zahra.


“Apa tadi Zahra bicara sesuatu tentang Mbak Rena pada laki-laki itu?” tanyanya penuh selidik.


“Ngga Bang Jon,” jawab Zahra takut.


“Syukurlah kalau tidak. Karena kalau iya, mungkin pernikahan Mbak Rena bisa batal. Dan Bang Jon tidak tahu lagi bagaimana cara menolong kakakmu kalau semuanya terlambat.”


Tangan Joni memijit pelipisnya. Dia begitu lelah memikirkan mempersiapkan acara pernikahan gadis yang disayanginya, besok.


“Zahra mengerti Bang Jon,” ucap Zahra mencoba menenangkan pria yang sedang terlihat rapuh dimatanya itu.


-


Malam sebelumnya


Suasana tegang berubah menjadi tambah tegang, setelah rumah itu kedatangan tamu tak diundang. Adit mengetuk pintu rumah ibunya Serena, bersama Yudi yang berada di belakangnya.


“Untuk apa kau datang kesini?” ketus ibunya Serena pada Yudi. Laki-laki itu jelas tahu kalau kehadirannya hanya akan menambah kebencian wanita yang sudah lama dia tinggalkan. Tapi demi kelancaran pernikahan sang putri sulung, Yudi memutuskan urat malunya.

__ADS_1


“Aku datang untuk ikut mengurus pernikahan Serena, anak kita.”


“Anak kita, kau masih ingat kalau Serena anak kita?” sinis ibunya Serena.


“Iya, tentu aku ingat.”


Berdasarkan dari cerita Joni, ibunya Serena tahu kalau dia bakal segera bertemu dengan Yudi. Mau tidak mau, dia harus bersiap untuk bertemu dengan laki-laki itu di hari pernikahan Serena. Yudi adalah ayah Serena, dan laki-laki itulah yang akan menjadi wali dari pihak wanita untuk menikahkan anak gadisnya.Tapi dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Yudi malam ini juga, dan itupun tanpa persiapan.


Semua hal yang diceritakan oleh Joni saja masih belum bisa dia terima, dan sekarang harus ditambah dengan kehadiran pria tak tahu malu yang sedang berkunjung ke rumahnya.


“Sebaiknya kita duduk dulu,” usul Bi Sari pada semua orang yang ada di sana.


Adit dan Joni duduk bersisian, sementara Yudi memilih kursi yang hanya muat untuk satu orang saja yang berdekatan dengan kursi ibunya Serena.


“Sejauh mana rencana kalian?” tanya Yudi membuka perbincangan.


“Rencana apa?!” jutek ibunya Serena.


“Apa kau belum menceritakannya Joni?”


“Sudah Pak Yudi, tapi ibu belum memberi jawaban.”


“Maya…” panggil Yudi pada ibunya Serena.


Setelah sekian lama, ibu Serena akhirnya mendengar ada orang yang menyebut namanya. Tapi kenapa harus laki-laki itu?


“Pilihlah satu satu dari dua pemuda yang ada di hadapanmu ini, aku akan menyetujuinya tanpa bertanya.” ucap Yudi mempersilahkan wanita yang mungkin masih berstatus sebagai istrinya itu. Karena memang tidak ada sidang perceraian antara keduanya.


Adit dan Joni bertukar pandang, mereka sama-sama keget dengan ucapan Yudi barusan. Adit terlihat sedang menahan senyum, sementara Joni sudah mengepalkan tinjunya di bawah meja. Karena dia tidak berani melakukan protes di hadapan ibunya Serena, jadi dia hanya bisa berdiam diri dan mencoba mendengarkan pembicaraan selanjutnya.


“Kenapa dua?” tanya Bi Sari bingung. Awalnya dia memang marah, saat mendengar Joni akan menikahi Serena. Dia tidak setuju karena menganggap Joni yang hanya seorang sopir tidak pantas bersanding dengan majikannya sendiri. Tapi jika dibandingkan dengan Adit, tentu Bi Sari lebih memilih Joni untuk menjadi menantu di rumah itu.


“Karena keduanya sama-sama mencintai Serena, dan dua-duanya memiliki kesempatan yang sama. Bukankah diantara kita, tidak ada yang tahu, pria mana yang diinginkan oleh Serena untuk menjadi suaminya? Jadi kita harus membuka peluang pada siapapun yang pernah dekat dengan Serena. Benarkan perkataanku?”ucap Yudi.


“Walaupun Ni Maryam menunjuk Joni yang harus menikahi Serena, tapi kita tidak tahu apakah Serena akan menerimanya atau tidak. Yang penting kita harus segera mempersiapkan pernikahan Serena secepatnya, sambil menunggu keputusan dari Maya.” tambahnya.


“Kenapa kau banyak sekali bicara Yudi! Kau jangan melewati batas kewenanganku untuk menentukan siapa yang pantas menjadi suami Serena. Sebaiknya sekarang kalian berdua pulang saja, aku yang akan menentukan siapa yang pantas untuk menjadi menantuku. Bersiaplah untuk hari ketiga, karena sebelum acara, aku akan menyebut nama pria yang akan menjadi teman hidup putri sulungku.”


Ibunya Serena langsung meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh. Dia sudah tak kuasa menahan tangis yang hampir saja pecah. Dia benar-benar tidak menyangka kalau Serena akan memilih jalan terlarang demi dirinya. Dan sekarang putrinya itu sedang menjalani hukumannya.


-


Wanita tua itu sudah berada di dalam kamar Serena. Dia mendudukkan diri tepat di samping kanan tubuh sang putri yang masih tak bergerak. Untuk sesaat dia menatap Sekar yang juga berada di atas ranjang, tepatnya di samping kiri tubuh mamanya.


“Apa kau yakin kalau mamamu akan bisa bangun lagi?’ tanyanya pada Sekar.


“Iya nek, mama akan bangun. Nenek jangan nangis lagi ya,”


Tangan mungil Sekar mengusap embun bening yang menetes di pipi ibunya Serena. Wajahnya ikut terlihat sedih karena sang nenek menangis.


Tubuh Sekar bergerak berpindah tempat , dia memilih untuk duduk di pangkuan sang nenek. Sama sekali tidak ada penolakan, ibunya Serena malah sengaja mengubah cara duduknya agar Sekar merasa nyaman dalam pelukannya.


“Sekar… jangan duduk disitu! Kaki nenekmu akan sakit,” tegur Joni.


“Ibu tidak apa-apa Jon. Senang melihat dia merasa nyaman tinggal bersama kita dirumah ini. Sepertinya kehadirannya memang ditakdirkan untuk membawa kebahagiaan ke rumah ini. Buktinya, sebentar lagi ibu akan segera melihat Serena menikah.” ucapnya sambil memaksakan senyum.


“Sekar… jaga mama ya, nenek mau istirahat dulu di kamar.”


“Iya nek,” ucap Sekar.


Begitu sampai di kamar pribadinya, ibunya Serena langsung melanjutkan tangisannya yang tadi sempat dia tahan. Dia tidak mau memperlihatkan kesedihan pada Sekar.


“Kenapa semua ini harus terjadi pada keluargaku, Sari? Kenapa Serena harus menerima hukuman seberat ini? Harusnya aku saja yang merasakan semua hal ini hiks hiks.”


Bi Sari sengaja mengikuti ibunya Serena sampai ke kamar, karena dia tahu kalau wanita itu pasti memerlukan teman disaat-saat seperti ini.“Sabar bu, semua sudah ada yang mengatur.”


-


“Apa semuanya sudah siap, Sari?”


“Sudah, Mbak Rena juga sedang didandani oleh neng Zahra diatas.”


Ibunya Serena mengangguk ringan, lalu dia memanggil Joni.

__ADS_1


“Apa para tamu sudah datang Jon?”


“Sepertinya belum semua bu. Untuk Pak Rt dan Pak Ustad, sudah ada di luar. Tinggal menunggu Pak Penghulu saja bu,” jawab Joni.


“Lalu… apa laki-laki itu sudah datang?”


Sejenak Joni bingung, tapi setelah Bi Sari memberinya tanda, dia tahu siapa orang yang dimaksud oleh ibunya Serena itu.


“Barusan Joni dapat pesan, kalau mereka di sana sudah siap dan katanya sebentar lagi akan datang.”


“Pastikan sekali lagi ya! Biar semuanya lancar.”


“Iya bu,” jawab kompak Bi Sari dan Joni.


Tidak lama kemudian, Pak Penghulu pun datang. Tepat di hari ketiga yang ditentukan oleh Ni Maryam, acara pernikahan siap diadakan. Walaupun sang pengantin wanita tidak dapat hadir di ruangan tempat akad, tapi dia sudah berdandan cantik dan menunggu di kamarnya.


“Apa semuanya sudah siap?” tanya pak penghulu.


“Siap Pak Penghulu,” jawab ibunya Serena.


“Kalau begitu… yang mana calon pengantin prianya?”


Tiba-tiba.


“TUNGGUU!!” masuklah seorang pria yang sebenarnya tidak diharapkan kedatangannya oleh Joni.


“Saya! Saya adalah calon pengantin prianya.”


“Pak penghulu, apakah acaranya bisa segera dilaksanakan?”


“Iya. Majulah pengantin pria!”


“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA SERENA ADNAN MALIK BINTI YUDI ADNAN MALIK DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT, TUNAI!”


“Bagaimana wali? Sah?”


“Saaaaah…”


“Alhamdulillah…”


Acara yang diakhiri dengan doa dan makan bersama telah terselenggara dengan lancar. Ada yang tersenyum bahagia, namun ada juga yang kecewa.


“Ada apa ini?!”


Serena tiba-tiba berdiri di ujung tangga dengan wajah tegang. Membuat semua orang yang ada di lantai bawah terkejut dan spontan memalingkan wajah untuk menatapnya.


“Mamaa!” Sekar berlari ke arah Serena dan langsung memeluknya.


“Mama?” Serena bingung dengan panggilan yang Sekar berikan padanya. Gadis kecil itu menggangguk. Serena kini tahu kalau Sekar ikut bersamanya pulang ke rumah dan kini telah menjadi bagian dari keluarganya. Dia punya banyak pertanyaan, tapi bertahan untuk tidak bertanya tentang hal itu untuk saat ini.


Serena mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Sekar, memegang lembut pundaknya dan bertanya.


“Sekar… kalau aku adalah mamamu, lalu papa yang mana?” tanyanya lembut.


Sekarmenjawab dengan membalikkan badan, lalu menunjuk salah seorang pria yang berdiri di bawah, yang juga sedang menatapnya.


“Papa yang itu!”


.


.


.


***


Yaaah… digantung lagi deh sama author.


Pada greget kan pasti? Keselkan?


Siap-siap kuping panas nih, buat denger bullyan para reader.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.

__ADS_1


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.


__ADS_2