
"Kariin... gimana, lolos gak?"
Suara Indah, sahabat Karin berhasil mengalahkan suara berisik 400 an orang lainnya di sekitar Karin.
"Ndaaaahh... bisa gak sih gak teriak teriak gitu. Bisa pecah gendang telingaku. Sini...sini..." ucap Karin sambil menarik lengan Indah menjauh dari ratusan orang yang berdiri di depan papan pengumuman.
"Woooh... pelan pelan Riin..."
"Ya kamu sih... disitu kan banyak orang, jangan ngomong disitu lah... ke kantin belakang aja yuk..."
Karin dan Indah pun menuju kantin Kampus Biru, yang terletak di belakang gedung Rektor.
"Aku... lulus Ndah... Alhamdulillah... " ucap Karin seraya tersenyum memperlihatkan barisan gigi putihnya yang rapi.
"Alhamdullilah... Aku juga lulus Rin. Riana kemana ya.. Udah ngilang aja tuh anak. Dia juga lulus. Tadi aku liat namanya ada di papan pengumuman." ucap Indah sambil menyeruput es teh manis pesanannya.
__ADS_1
"Kariiin... Indah... bagus ya, kalian tau tau udah disini aja. Gak ajak ajak aku. Aku kan juga haus. Mana keringetan, panas panas begini desak desakan di depan papan pengumuman tadi. Huufftt..." ucap Riana, sambil mengambil es teh manis milik Karin yang belum sempat diminum sang empunya.
"Haus sih haus Ri.. jangan minuman aku juga yang kamu serobot. Ckckckck... Kebiasaan banget sih Ri...Ri..." tutur Karin sambil bergeser sedikit, memberi tempat Riana untuk duduk.
Hari itu, ketiga sahabat itu, Karina, Indah dan Riana, melihat pengumuman hasil ujian masuk perguruan tinggi di salah satu Sekolah Tinggi milik Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI. Sekolah Tinggi yang terkenal dengan julukan Kampus Biru.
Ya, ketiganya sebulan sebelumnya mencoba mengikuti ujian masuk di Sekolah Tinggi tersebut dan hari ini adalah Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru di Kampus Biru. Dan ketiganya lulus ujian tersebut.
"Ri... Ndah, kalian kira kira mau ambil disini atau gimana?" tanya Karin pelan.
"Aku kan gak terlalu suka pelajaran berhitung. Otakku gak se-encer kamu kalo hitung hitungan. Disini jurusan teknik, mana kuat kayaknya aku.." ujar Indah sambil menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.
"Kamu gimana Ri?" tanya Karin penuh harap kepada Riana.
"Aku juga menunggu pengumuman hasil ujian dari kampus jaket kuning, Rin.. hehehe..." jawab Riana sambil nyengir kuda.
__ADS_1
"Hmm... begitu ya..." ucap Karin perlahan sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Ya.. mau gimana lagi.. mungkin ini saatnya kita harus berpisah setelah beberapa tahun kita sekolah di tempat yang sama" ujar Karin sambil tersenyum lebar.
"Pisah kampus bukan berarti kita gak bisa berteman lagi kan?"
Riana dan Indah pun tersenyum lebar menanggapi perkataan Karin.
"Aku gak akan pernah lupa sama persahabatan kita. Semoga kita tetap berteman meski nanti kita memiliki pergaulan yang berbeda." ucap Karin penuh harap.
"Aamiin..." ucap Riana dan Indah serentak.
"Udah sore nih, pulang yuk.. ibuku pasti udah nungguin kabar ini." Karin berdiri sambil mengambil dompet, menarik selembar uang dari dalamnya.
Sore itu, ketiganya pulang dengan hati gembira dan sedih. Gembira karena sudah diterima di Kampus Biru. Sedih karena kemungkinan besar mereka akan menempuh pendidikan di tempat yang berbeda.
__ADS_1
Apapun itu, ketiganya berharap tempat pendidikan yang berbeda tak akan membuat mereka menjauh satu sama lain.