Lara Karina

Lara Karina
OPSPEK


__ADS_3

Upacara Penyambutan Mahasiswa Baru dan Pembukaan OPSPEK tahun '95 baru saja selesai dilaksanakan. Sekitar hampir 2 jam kami melakukan upacara pembukaan di halaman tengah kampus. Setelahnya, kami dikumpulkan kembali di Gedung Serbaguna untuk selanjutnya dibagi bagi per kelompok. Satu kelompok terdiri dari 10 orang. Usai pengelompokan, kami diberi waktu istirahat sekitar 10 menit.


"Riin.. Kariin.." Sayup sayup aku mendengar ada yang memanggil namaku. Akupun mencari cari, siapa yang memanggilku. Tampak dua orang yang tidak asing untukku. Teman SMA ku, namun beda kelas. Nuni dan Sari. Aku tersenyum lebar. Aahh... akhirnya ada juga teman yang kukenal selain Budi.


Akupun berjalan menghampiri mereka. satu tanganku memegang topi caping pak tani, atribut yang harus kami kenakan selama opspek berlangsung. Tas dari karung goni terselempang di tubuhku. dasi dari pita merah putih. Rambut panjang se punggung yang kurawat sejak dulu, terpaksa aku relakan dipangkas sampai sebatas bahu. Ibu bilang supaya gak repot untuk menguncir nya nanti setiap pagi. Rambut di kuncir 3, merah, kuning dan hijau dengan panjang pita masing masing 75 cm.


Pita pita dipasang di masing masing kuncir dengan aturan harus 3 kali dibuat bentuk pita pada satu kuncirnya. Jadilah rambut para peserta opspek perempuan meriah dengan pita pita itu.


"Hai Riin, ketemu juga kita disini. Kok kita gak ketemu saat pengumuman kemarin ya," ujar Nuni sambil tersenyum lebar. Sari di sebelahnya hanya tersenyum kecil. Nuni dan Sari, teman se-angkatanku di SMA namun beda kelas. Nuni di kelas Fisika 2, Sari kelas Fisika 1 sementara aku di kelas Fisika 3. Nuni anak yang ramah, sedikit kalem tapi kalau sudah akrab, dia juga heboh.


Sedang Sari, anak yang kalem dan pendiam. Saat berpapasan dengannya, aku paling hanya tersenyum saja. Jarang sekali aku lihat Sari tertawa lepas. Apalagi sampai terbahak bahak. Sari berperawakan langsing, tinggi dan putih. Sari berasal dari suku Sunda. Rambutnya hitam, lurus dan panjang sepunggung. Dia selalu sedap dipandang. Nuni berperawakan lebih gemuk. Rambutnya ikal sebatas bahu. Nuni dan Sari tinggal berdekatan, jauh dari lokasi kampus. Sekitar dua jam perjalanan jika memakai kendaraan umum.


"Hai Nun, Sar" sapaku seraya tersenyum dan menyalami keduanya.


"Iya, kenapa kemarin kita gak ketemu ya, aku kesini sama Indah dan Riana. Mereka juga lulus" ujarku lagi.


Kami berjalan beriringan keluar dari gedung, mencari bangku untuk duduk. Ada banyak bangku yang berjajar di taman dekat gedung serbaguna. Kami pun duduk, sekedar melepas lelah sejenak sebelum acara selanjutnya dimulai.

__ADS_1


"Riana hebat ya, tembus di kampus Negeri. Pinter dia. Udah cantik, pinter juga," ujar Nuni sesaat setelah kami duduk. Sari terlihat hanya tersenyum lalu membuka tutup botol minuman yang dibawa nya. Saat itu, matahari bersinar sangat terik. Bekal minumanku pun tanpa terasa hanya tersisa setengahnya.


"Kalian dapat kelompok apa?" tanya ku lagi sambil menutup rapat rapat tutup botolku. "Aku di kelompok Galunggung" sambungku lagi.


"Aku sama Nuni bareng di Papandayan, Rin" sahut Sari pelan. Suara Sari yang pelan dan halus, berbanding terbalik dengan Nuni yang sedikit cempreng. Nuni, mengangguk anggukkan kepalanya sambil memakan cemilan yang dibawanya di kotak bekal berwarna pink cerah.


"Berarti kita gak bareng ya," imbuhku lagi.


"Perhatian... Perhatian... Peserta Opspek segera kumpul lagi di Aula. Waktu istirahat sudah selesai!" terdengar suara seorang panitia dengan pengeras suara. Kamipun bergegas memasukkan wadah bekal dan minuman kedalam tas karung goni kami masing masing.


"Ayo, peserta opspek berkumpul. Dalam hitungan kesepuluh sudah harus berbaris rapi sesuai dengan kelompoknya masing masing. Satu.. dua.. tiga.."


Seketika para peserta opspek pun berlarian masuk ke aula. Kami mencari senior pembimbing kelompok kami masing masing. Aku mencari cari dimana kak Sri, senior pembimbing kelompokku. Kak Sri, senior angkatan '92, perempuan yang mungil. Sedikit sulit menemukannya. Akhirnya aku menemukan kak Sri yang saat itu naik ke sebuah kursi dan melambai lambaikan tangannya. Syukurlah, kak Sri punya inisiatif naik ke kursi, sehingga Kami dengan mudah bisa menemukannya.


"Tujuh... delapan... sembilan...!" hitung kak Joko dengan pengeras suara nya.


"Se... pu... luuuuuuhh..!" teriaknya lagi.

__ADS_1


Sebagian besar dari kami sudah berada di barisan kelompoknya masing masing. Ada beberapa yang masih belum dapat menemukan kelompoknya. Beberapa juga baru saja masuk ke aula.


"Yang terlambat masuk, silahkan berdiri di depan. Jangan masuk ke barisan kelompoknya." teriak kak Joko lagi. Sekitar 10 peserta Opspek yang terlambat dan harus berdiri di depan. Aku cuma bisa menggelengkan kepala saat kulihat ada Budi di barisan itu. "Dasar Budi lelet..." gumamku pelan.


Mereka yang terlambat masuk, akhirnya harus dihukum berlari mengelilingi lapangan 10 putaran dan push up 20 kali. Tampak peluh bercucuran setelah mereka selesai menjalani hukuman itu. Buat peserta laki laki, hukuman itu mungkin tak seberapa. Tapi untuk peserta perempuan... duuh... rasanya berat...


Tanpa Terasa, waktu beranjak senja. Tepat Pukul 17.00 WIB, acara OPSPEK hari pertama pun di akhiri. Masing masing peserta OPSPEK tampak lelah, meskipun agenda hari pertama ini relatif lebih ringan daripada agenda lima hari berikutnya.


Dalam buku kami, sudah ada catatan tugas yang harus kami penuhi untuk esok hari. Tugas tugas yang menurut kami sangat aneh, sehingga kami saling berpandangan satu sama lain, sewaktu tadi mencatat tugas itu. Tugas yang kalau dipikir, susah untuk dipenuhi.


Kami masih berkumpul per kelompok, setelah acara dibubarkan, untuk berdiskusi mengenai tugas untuk esok hari. Setelah menunaikan sholat maghrib, kami pun meninggalkan area kampus. Ada yang langsung pulang ke rumah masing masing, ada pula yang bersama sama mencari benda benda untuk tugas esok harinya.


Aku dan teman teman sekelompokku akhirnya pulang ke rumah kami masing masing setelah kami berdiskusi tentang benda benda yang harus kami bawa besok.


Alhamdulillah, hari ini sudah terlewati tanpa hambatan. Rasanya capek sekali. Capek tapi senang. Capek karena jadwal yang padat, senang karena banyak berkenalan dengan teman teman baru yang berasal dari luar kota jakarta. Bahkan banyak juga dari luar pulau jawa. Mengenal teman teman baru, jadi moodbooster tersendiri buatku.


Hari beranjak malam. Aku dan Budi pulang ke rumah. Tak jauh dari kampus, tampak Emi, Iwan dan Ali menunggu kami. Kami berlima pun pulang, peluh tadi siang yang membanjiri, sudah kering dan membuat lengket di tubuh. Rasanya tak sabar sampai di rumah dan mandi.. Selamat Malam dunia...

__ADS_1


__ADS_2