
"Assalamu'alaykum... ibu.. ibu.. ibuuuu... Karin udah pulang nih.. buuu"
"Wa'alaykumussalaam.. Ya Alloh Rin, jangan teriak teriak begitu nak.. Anak gadis kenapa teriak begitu. Kayak tinggal di hutan aja Rin" seru ibu Karin sambil mengelus dadanya.
"Memangnya ibu pernah tinggal di hutan? Asyik dong, ketemu sama Tarzan. Cakep kan bu Tarzan itu. Kenapa ibu gak nikah sama Tarzan aja. Kan aku bisa secantik bule bule itu bu... kenapa Tarzan mesti sama Jane coba bu..." sahut Karin sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tarzan yang itu adanya di hutan luar negeri sana, Rin. Gak ada di hutan sini. Hutan disini adanya Tarzan lokal, tuh si Mandra" ucap sang ibu menimpali kata kata Karin.
Karin bergegas menuju kamarnya sambil bersenandung. Tas selempang kecil yang selalu menemani kemana pun diletakkannya diatas tempat tidur.
Tampak sang ibu mengikuti langkah Karin di belakangnya.
"Rin... gimana hasilnya? lulus kan? pasti lulus. Ibu yakin. Iya kan Rin? Lulus kan?" tanya ibu Karin.
"Gimana ya bu..." sahut Karin memasang wajah lesu. Dihembuskan nafasnya sedikit kasar. Ditatapnya lantai kamar yang mengkilat, yang selalu disapu nya pagi, siang, sore dan malam. Mengalahkan aturan dosis obat.
"Rin.. lulus apa enggak? kok kamu sedih? masa sih gak lulus? Rin.." ucap sang ibu sambil mengelus pundak anaknya.
"Kalau memang gak lulus, kita bisa coba di tempat lain, jangan patah semangat nak.. mungkin saja rezeki pendidikan kamu bukan disitu, Rin..."
"Tapi kan aku maunya disitu bu. Aku gak suka kalau masuk jurusan Sekretaris. Harus belajar make up, pake rok mini. Bukan aku banget ibu..." ujar Karin setengah merajuk.
"Mbak Karin gak diterima di Sekolah itu bu?" ucap Rayhan, adik lelaki Karin satu satunya yang tiba tiba saja sudah berada di pintu kamar kakaknya sambil membawa bola basket kesayangannya.
"Siapa yang bilang aku gak diterima?" sahut Karin sambil mendelikkan matanya ke arah Rayhan. "Udah aahh, aku mo ganti baju dulu." Karin mendorong lembut tubuh adiknya.
"Ibu juga.. aku mau ganti baju dulu" ujar Karin sambil tersenyum lebar. Sang ibu spontan keluar dari kamar berukuran 3 x 4 m2 itu.
__ADS_1
Cekleeekk...
Karin pun menutup pintu kamarnya sambil menyeringai lebar.
Belum 5 detik, terdengar suara ketukan yang diketuk sepenuh hati, jiwa dan raga.
"Riin.. Karina Nefertiti. Kamu yaa.. Riin, kamu lolos kan? benar kan feeling ibu..
tok..tok..tok...
"Kariin... Ya Alloh.... anak ini, jahil banget sih..."
"Heran... itu anak, udah mau jadi mahasiswi, jahilnya gak berkurang juga. Persis bapaknya. Aku mana pernah jahil begitu" sang ibu bermonolog sambil sedikit menengadahkan kepalanya.
Cekleek...
"Iya bu, aku diterima" ucap Karin dengan wajah datar tanpa ekspresi. Handuk merah muda tersampir dipundaknya. Melenggang santai ke kamar mandi. Tak lama suara percikan air pun terdengar seperti hujan yang sangat deras.
Ibunya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang anak sulung.
"Bu... kalau mbak Karin gak diterima disitu, gak usah dikuliahin aja bu. Kawinin aja bu.." ujar Rayhan setengah berteriak dekat kamar mandi.
"Rayhaaaannn.... awas ya, kalo kamu ada PR matematika sama bahasa inggris nanti, mbak gak mau bantuin. Apa apaan main kawinin. Emang aku sapi apaaa.." teriak Karin, suaranya menggelegar sampai terdengar kemana mana.
Ibu hanya geleng geleng kepala melihat kelakuan kedua anaknya. Meski begitu, anak anaknya saling menyayangi satu sama lain. Saling menjaga dan melindungi.
Untuk sesaat rumah mereka terlihat lebih tenang. Karin menikmati mandi sore nya, Rayhan asyik bermain bola basket di halaman dan ibu berkutat dengan pesanan jahitan dari pelanggan yang kian hari kian banyak.
__ADS_1
Ya, keluarga Karin adalah keluarga sederhana. Bapak bekerja sebagai karyawan di salah satu BUMD. Ibu menerima pesanan jahitan dari tetangga sekitar mereka. Akhir akhir ini, ada beberapa pelanggan baru yang bahkan datang dari tempat yang agak jauh, mempercayakan bahannya untuk dijahit ibu. Karin sulung dari empat bersaudara. Rayhan, anak lelaki satu satunya di keluarga itu. Setelah Rayhan, ada si kembar Dina dan Dini. Si Kembar yang selalu kompak. The twins yang seringkali membuat rumah heboh. Selalu ada saja ulah mereka. Dari keempat anaknya, justru Rayhan yang paling kalem. Tiga yang lainnya, meski perempuan, selalu membuat suasana rumah mereka menjadi ramai.
Hari ini si kembar sedang menginap di rumah sepupu mereka. Suasana rumah, meskipun tidak bisa dibilang sunyi tetapi tidak seramai biasanya.
"Assalamu'alaykum..." terdengar suara Bapak yang baru saja tiba di rumah.
Bapak, pria paruh baya itu, seorang yang sangat mencintai keluarganya. Bapak lebih santai dan lebih banyak senyum dan tawa daripada ibu. Bapaknya, sosok yang sangat sabar, menurut Karin.
Sebelum shubuh, Bapak sudah bangun dan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, meringankan tugas istrinya sedari anak anak mereka kecil.
Bapaklah yang sejak anak anak mereka kecil, yang memandikan anak anak. Yang bahkan menyisir rambut anak anaknya. Bapak dan ibu berbagi tugas di rumah. Ibu yang mencuci, bapak yang setrika pakaian. Ibu memasak di pagi hari, menyiapkan sarapan, bapak yang memandikan dan merapihkan anak anaknya.
Untuk Karin dan adik adiknya, tak ada orang lain yang sabarnya melebihi bapak. Bapak humoris dan selalu tersenyum. Jarang sekali mereka melihat Bapak marah. Bapak selalu membawa buah tangan setiap kali pulang kerja. Itu yang membuat setiap sore, mereka selalu tidak sabar menunggu bapak pulang kerja. Seperti sore ini...
"Wa'alaykumussalaam... Bapak bawa apa?" tanya Karin seraya menghampiri bapak yang baru saja duduk di kursi teras untuk melepaskan sepatunya.
Bapak tersenyum sambil memberikan buah tangannya ke Karin. Karin yang antusias langsung membuka plastik putih dan mengeluarkan dus kecil dari dalamnya. Ada 4 dus kecil berwarna merah putih bergambar ayam goreng renyah.
"Riin... mbok ya kamu itu ambilin bapak minum dulu, bukannya malah langsung minta oleh oleh duluan.." tegur ibu ke Karin seraya memberikan segelas air ke bapak.
Karin mengerucutkan bibirnya. "Iya... maaf, besok besok aja ya pak.. kan sekarang sudah diambilin ibu.. memangnya bapak mau minum dua gelas sekaligus? Kalau mau, Karin ambilkan sekarang juga" ujar Karin sambil mempersembahkan senyum termanisnya di hadapan bapak.
"Emang mbak kebiasaan nih..." sahut Rayhan yang dibalas lirikan tajam mata kakaknya.
"Kan mumpung gak ada si kembar yang rusuh. Kalo ada mereka kan biasanya Aku sama kamu jarang kebagian makanan, Ray..." jawab Karin.
Tak lama berselang, terdengar suara Adzan maghrib. Merekapun serentak masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Hari menjelang malam, namun kehangatan di dalam rumah keluarga Budiwiyono tetap terasa...