
Menjadi anak kedua dan satu satunya lelaki, membuat Rayhan sedikit over protektif pada ketiga saudara perempuannya. Rayhan sejak kecil lebih dekat dengan ibu daripada bapak, membuat sifat dan kebiasaan ibu lebih banyak menurun ke Rayhan. Sikap serius dan disiplinnya sama persis dengan ibu.
Menjadi satu satunya anak laki laki di keluarga, tidak lantas membuat Rayhan manja dan bersikap seenaknya. Dia justru lebih kalem dan mengayomi. Siapapun menyangka kalau Rayhan lah anak sulung keluarga Budiwiyono. Selisih usia yang hanya 1,5 tahun dengan sang kakak membuat perbedaan itu tak terlalu kentara.
Sedari kecil, Rayhan sering kali justru menjadi penengah untuk saudara saudaranya. Kalau ada perselisihan antara Karin dan the twins, Rayhan selalu menengahi, seperti saat ini...
"Asyiiik... Bapak pulang dari kenduri. Mana pak, berkatannya..." seru Dina menyongsong bapak yang baru saja pulang dari kenduri 40 hari meninggalnya pak Karsono, tetangga mereka.
The Twins pun langsung membuka dan mengambil apa yang mereka inginkan.
"Niiiii.... ini berkatannya ada kue lumpur, risoles, lemper sama soes" ujar Dina membuka dus kue yang terpisah dari dus nasi dan teman temannya. Sedang Dini mengambil sebungkus rendang, ayam goreng, sambel goreng kentang dan tumis jagung muda campur ati ampela ayam. Menyisakan nasi dan bihun goreng saja.
"Yuuk makan Na.."ajak Dini tanpa menghiraukan yang lain. The twins pun bergegas ke dapur untuk mengambil piring dan nasi yang masih hangat dari wadah penghangat nasi.
"Dibagi bagi dong, dimakan bareng bareng kan lebih enak.." ujar bapak kepada si kembar dengan senyum di wajahnya.
"Mbak Karin makan pakai pecel lele yang tadi ibu bikin aja ya. Sayang kan kalau pecel lele nya gak dimakan. Mubazir nanti" sahut ibu sambil mengusap bahu Karin. Seperti biasa, ibu akan membiarkan the twins melakukan itu dan meminta Karin untuk mengalah. Itu yang selalu terjadi sejak kecil.
"Ada makanan, dibagi rata, jangan cuma dimakan berdua aja. Kerjaan rumah dibagi bagi, kok makanan gak dibagi bagi " sahut Rayhan sambil mengambil dua dari empat kue yang ada.
__ADS_1
Rayhan juga mengambil dua dari empat bungkus sayur dan lauk yang belum sempat dikeluarkan si kembar dari plastiknya.
Si kembar hanya bisa cemberut tanpa bisa protes atas perkataan Rayhan. Rayhan tipe orang yang selalu blak blakan jika bicara. Dia akan bicara yang sesuai dengan apa yang dia rasa dan pikirkan. Salah ya salah, benar ya benar. Begitu prinsip Rayhan.
Sedari kecil, Rayhan anak yang hemat dan mampu melihat peluang. Suatu ketika saat kecil, Rayhan yang pandai bermain kelereng, mengumpulkan kelereng kelereng yang dia dapatkan dari hasil kemenangannya. Dia lalu menjual kembali kelereng kelereng itu ke beberapa temannya. Pun ketika ada pelajaran ketrampilan di sekolah, dia seringkali membawa bahan lebih untuk dijual ke teman temannya.
Uang hasil penjualan, biasanya dikumpulkan untuk membeli barang barang yang dia inginkan, seperti pakaian olahraga, sepatu olahraga ataupun bola basket. Bapak dan ibu biasanya menambahkan sedikit kekurangan uangnya.
Rayhan tidak secerdas Karin dalam pelajaran, namun Rayhan anak yang tekun belajar. Rayhan lah satu satunya yang sedari kecil langsung belajar saat waktu belajar tiba. Ketekunan belajarnya itu yang membuatnya hampir menyamai prestasi belajar Karin. Karin lebih malas belajar meski dia cerdas.
Rayhan menyodorkan sepotong kue dan sebungkus sambel goreng kentang kepada Karin. "Ini mbak, yuuk makan.." ujar Rayhan pada Karin. Karin menerima sambil tersenyum. Bergegas Karin mengambil nasi dan piring di dapur, untuknya dan Rayhan.
Merekapun menyantap masakan itu bersama sama. Bapak dan ibu yang melihat itu pun tersenyum. Setidaknya ada Rayhan yang akan selalu jadi penengah untuk anak anak perempuan mereka. Rayhan akan menjadi anak laki laki yang menjaga keluarga ini kelak, harap Bapak dan ibu.
"Besok sebelum berangkat, setrika dan bungkus baju ini ya Rin.. ini baju pesanan ibu Rosmawati, guru kelas 5 di SD belakang rumah" pinta ibu kepada Karin.
Ya, rumah mereka terletak di belakang sebuah Sekolah Dasar. Saat kecil, Dini dan Dina seringkali pulang ke rumah, hanya untuk sekedar minum atau buang air kecil.
"Kamar mandi sekolah itu bau,bu. Rasanya mual tiap masuk kesitu" ujar Dina saat dulu ibu menegur kenapa sering sekali si kembar bolak balik pulang ke rumah.
__ADS_1
Selain alasan itu, si kembar juga sering sekali pulang ke rumah saat jam istirahat dengan membawa teman teman mereka. Itulah alasan yang membuat bapak dan ibu akhirnya mengambil keputusan untuk memindahkan sekolah anak anaknya ke Sekolah Dasar yang sedikit lebih jauh dari tempat tinggal mereka.
Hanya Rayhan lah yang tidak pernah terlalu sering bolak balik pulang ke rumah. Jika kebanyakan anak laki laki tunggal berlaku manja dan egois, tidak halnya dengan Rayhan. Rayhan yang kalem, satu satunya anak dari empat anak mereka yang hampir tidak pernah membuat ulah.
Sewaktu kecil, Rayhan yang kurang suka pelajaran berhitung, pernah berkata kepada ibu, "Bu, pekerjaan apa yang tidak perlu belajar matematika?"
Saat itu ibu hanya mengerutkan keningnya seraya berpikir, pekerjaan apa yang kira kira sesuai kualifikasi itu.
"Pekerjaan yang tidak perlu belajar matematika ya... apa ya Ray... Sepertinya semua pekerjaan perlu belajar matematika. Matematika itu pelajaran dasar yang harusnya dikuasai oleh setiap orang, Ray..." ujar ibu menjelaskan.
Rayhan hanya menganggukan kepalanya seraya berkata,"Pasti ada pekerjaan yang gak harus pinter matematika bu.."
Rayhan menunduk melihat PR matematika yang berhasil dia selesaikan dengan susah payah. PR dari pelajaran yang menjadi momok menakutkan bagi hampir setiap pelajar.
"Apa ya Ray... hmm mungkin tukang becak ya Ray. Tapi kan, tukang becak juga harus berhitung kalau memberikan kembalian ongkos becak penumpangnya.
"Kalau begitu, Rayhan mau jadi tukang becak saja bu. Gak harus pinter matematika. Mbak itu pinter matematika. Biar mbak saja yang jadi Insinyur... Boleh ya,bu..." ujar Rayhan memelas.
Ibu tidak sanggup berkata apapun. Ibu tidak mau tertawa meski dalam hatinya tertawa mendengar permintaan anak lelaki satu satunya itu. Tatapan dan perkataan Rayhan yang polos, membuat ibu mencari kata kata yang pas untuk menimpali perkataan sang putra.
__ADS_1
"Ray, pekerjaan apapun itu baik, tetapi dalam belajar, kita wajib berusaha dan berbuat sebaik mungkin. Rayhan rajin belajar. Setiap usaha, pasti ada hasilnya. Rayhan hanya perlu belajar dengan lebih tekun lagi. Ibu dan bapak selalu berdoa, semoga Rayhan, mbak, Dini dan Dina menjadi anak anak yang membanggakan. Anak anak yang baik budi pekertinya" ucap ibu sambil mengusap lembut kepala sang putra.
Tidak ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Kewajiban kita untuk berusaha sebaik mungkin....