
Kampus Biru menjulang tinggi. Tampak mahasiswa berjaket almamater biru lalu lalang didepan gerbang kampus. Banyak juga calon mahasiswi berpakaian dan mengenakan atribut yang sama seperti yang dikenakan Karin.
"Riin.. sstt... Riiin... Kariin, sini Riin" terdengar suara seorang laki laki yang sangat familiar di telinga Karin. Menengok ke kanan, kiri, akhirnya di arah jam 10 Karin melihat beberapa mahasiswa berpakaian bebas memanggilnya. Mereka melambaikan tangannya ke arah Karin.
Bergegas Karin menghampiri mereka. Suhaimi, Irwansyah, Ali Rahmat dan Hardimansyah. Mereka berempat sedang duduk dekat pedagang ketoprak. Di tangan mereka masing masing terdapat sepiring penuh ketoprak. Bergeser, mereka memberi tempat duduk untuk Karin.
"Rin, kamu sudah sarapan?"tanya Suhaimi, yang sehari hari kerap dipanggil Emi, sambil mengaduk ketoprak pesanannya.
"Udah tadi di rumah. Kok kalian sarapan disini? Kenapa gak sarapan di rumah? ibu masak nasi goreng banyak tadi. Aku pikir kalian masih pada tidur. Tumben kalian pagi pagi begini sudah bangun, kan kalian belum mulai kuliah sekarang?" tanya Karin sambil melihat mereka satu per satu.
Suhaimi atau Emi, Irwansyah atau yang sering dipanggil Iwan item karena memang kulitnya yang hitam manis, Hardimansyah, ketiganya berasal dari NAD. Sedangkan Ali Rahmat berasal dari kota Serang. Emi, Iwan dan Ali, ketiganya mahasiswa angkatan '94 di kampus biru. Sedangkan Hardi, angkatan '93. Ya, mereka adalah senior seniorku di kampus, yang kebetulan penghuni rumah kontrakan ibu. Setahun sudah mereka tinggal di rumah kontrakan milik keluargaku. Mereka sudah seperti kakak buatku dan adik adikku. Mereka juga yang ikut mencari dan membuat atribut opspekku.
Panitia Opspek untuk tahun ini adalah angkatan '92. Aku mengenal sebagian mahasiswa disini mulai dari angkatan '91. Seringkali apabila ada acara pentas seni, mereka selalu mengajakku. Karena itu, aku sudah terbiasa keluar masuk kampus ini. Mahasiswi ilegal, begitu mereka sering menjuluki aku.
Di kampus ini hanya ada satu jurusan, yakni Teknik Industri. Seperti kebanyakan jurusan Teknik lainnya, mahasiswanya didominasi kaum adam.
__ADS_1
"Rin, masuk dulu sana, nanti kamu telat," ujar Ali, yang selalu aku panggil aa'. "Nah itu Budi. Udah masuk sana bareng Budi" imbuh Iwan sambil menikmati ketopraknya.
"Rin, yuk masuk" ajak Budi yang menghampiriku. Budi adalah keponakan Ali. Dia biasa memanggil Ali, Mang Mat. Kadang aku suka ikut memanggilnya Mang Mat juga. "Yuk Bud, nanti terlambat dihukum deh, kita,"sahutku seraya menarik tangan Budi.
Bulu kudukku meremang, seperti ada yang memperhatikan. Aku tak menghiraukan dan terus berjalan menuju gerbang kampus sambil masih menggandeng Budi. Budi, anak daerah yang masih polos. Kadang ucapannya yang polos mengundang tawa saat berkumpul di rumah. Ya, Budi juga ikut tinggal di rumah kontrakan keluargaku.
Sejak Indah dan Riana memutuskan untuk memilih perguruan tinggi yang berbeda, aku saat itu merasa tak ada lagi teman di kampus itu, sampai akhirnya Budi datang. Budi sebelumnya tinggal selama sebulan di rumah saudaranya yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Karena ingin mandiri, Budi pindah tinggal bersama Ali dan teman temannya.
Riana kuliah di kampus yang berjuluk The Yellow Jacket, mengambil jurusan Kesehatan Masyarakat. Sedangkan Indah, kuliah di tempat lain, mengambil jurusan Psikologi Industri. Ya, akhirnya kami berpencar, menempuh pendidikan di tempat yang berbeda satu sama lain.
"Ayo cepat, jangan lambat jalannya," seorang panitia berteriak memakai pengeras suara. Rambutnya yang agak gondrong, khas anak mahasiswa laki laki.
Aku dan Budi berjalan menuju gerbang, saat tepat berada didepan mahasiswa itu, mahasiswa itu, Choky, menurunkan pengeras suaranya.
"Rin, ingat, pura pura gak kenal sama aku. Kamu juga Bud," bisik Choky kepada kami berdua. Aku menahan senyum dan berbisik,"Iya, senior cerewet." Dengan wajah datar tanpa ekspresi, seolah tak ada percakapan itu, Aku dan Budi pun masuk area kampus biru.
__ADS_1
Sekitar lima meter dari gerbang, ada Pos 1, dimana ada empat mahasiswa senior, panitia yang bertugas memeriksa kelengkapan atribut peserta opspek. keempatnya, aku belum kenal. Aku lebih banyak kenal mahasiswa angkatan '93 dan '94. Sedangkan angkatan '91 dan '92 hanya beberapa yang kukenal.
Setelah diperiksa dan dinyatakan lengkap atribut kami, aku dan Budi pun masuk ke Gedung Serbaguna yang letaknya di bagian depan kampus. Disana sudah berkumpul sekitar seratus lima puluh calon mahasiswa baru, peserta opspek.
Ya, dari sekitar 400 an orang yang mendaftar, hanya diterima sekitar 155 orang saja. Hanya ada 3 kelas untuk mahasiswa baru. Kampus ini milik instansi Pemerintah dan ada subsidi dari Pemerintah untuk biaya pendidikannya.
Bapak dan ibu bukan orang yang berkecukupan. Aku memutuskan kuliah di tempat ini, salah satunya karena biaya pendidikan yang relatif lebih terjangkau. Rayhan saat ini kelas 2 SMA, dua tahun lagi, Rayhan juga harus kuliah. Belum lagi si kembar nanti menyusul dua tahun berikutnya. Aku tidak mau menjadi seseorang yang egois, meminta tempat kuliah yang sedikit mahal. Yang penting bisa kuliah, begitu yang ada di benakku saat itu.
"Peserta Opspek, diharap masuk ke gedung serbaguna. Akan ada sedikit pengarahan,"suara lantang dari salah satu panitia opspek terdengar sangat nyaring memekakkan telinga. Aku melihat ke arah sumber suara. Salah satu senior yang berlakon galak, padahal aslinya lucu dan ramah sekali. Kak Joko, tapi dia gak pernah mau dipanggil kak. Joko aja katanya, suatu ketika saat mampir ke rumahku.
Rumah Kontrakan ibu memang seringkali ramai oleh mahasiswa kampus ini. Mungkin letaknya yang paling dekat dengan kampus, yang membuat teman teman Emi setiap harinya selalu saja berdatangan. Sampai sampai rumah Kami dijuluki Kampus C. Biasanya mereka istirahat sambil menunggu jam kuliah berikutnya. Maklumlah, jadwal kuliah hampir tidak ada yang berurutan. Mau menunggu di kampus, kadang capek, akhirnya mereka seringkali menumpang istirahat di rumah. Bahkan kadang sampai istirahat di ruang keluarga sambil menonton televisi.
Alhasil, rumah Kami tak pernah sepi. Saat ibu membutuhkan bantuan apapun, selalu ada yang bisa dimintai bantuan. Setahun kenal, membuat mereka hampir seluruhnya memanggil ibu dan bapak pada kedua orangtuaku. Hampir tidak ada yang memanggil om dan tante.
Emi, adalah anak kost kesayangan ibu. Dia yang paling rajin membantu ibu, bahkan membantu urusan dapur. Memetik sayuran, biasanya dilakukan berdua Hardi. Mereka berdua yang selalu sigap saat ibu perlu bantuan, saat anak anaknya tidak ada di rumah.
__ADS_1
Meski dari suku yang berbeda adat istiadat dan kebiasaan, kami tetap bisa akrab dan merasa seperti keluarga. Mereka kakak angkat terbaik yang pernah aku punya. Alhamdulillah...