Lara Karina

Lara Karina
IBUKU SUPERWOMAN


__ADS_3

Malam menjelang....


Saat itu, di ruang keluarga Budiwiyono sedang berkumpul empat dari enam anggota keluarga inti. Bapak dan Rayhan yang menonton televisi, ibu yang sedang membersihkan benang benang sisa jahitan dibantu Karin.


"Twins pake nginap segala sih. Jadi bebas tugas deh..."keluh Karin.


Sambil melipat jahitan yang telah dibersihkan, ibu menimpali, "Lho, tadi senang banget adiknya gak di rumah, bisa pilih duluan ayam gorengnya. Sekarang malah mengeluh, adiknya nginep, piye toh Riiin..." ujar ibu meledek Karin.


"Ya kan kalau ada si kembar, aku sama Rayhan selalu dapet sisa pilihan mereka bu. Apalagi kalau gak ada Rayhan, habis deh makanan sama mereka." keluh Karin.


Rayhan, yang merasa disebut, merasa jumawa lalu menaik turunkan alisnya.


"Bersihin benang benang ini kan tugas mereka bu... aku kan tugasnya ngesum dan setrika baju yang mau diambil...hehehe..." ujar Karin.


Sejak beberapa tahun ini, usaha jasa jahit pakaian ibu berkembang pesat, hingga ibu mencari pegawai untuk membantunya. Anak anaknya pun boleh ikut bekerja, tentunya dengan imbalan yang mungkin tidak terlalu besar tapi cukup untuk menambah uang jajan mereka.


Seringkali sisa sisa bahan yang tidak lagi terpakai, dijahit sendiri oleh Karin dan adik adiknya untuk dibuat ikat rambut. Lalu dijual ke teman teman mereka. Kadang, sisa bahan itu mereka jual saat ada tugas sekolah yang mengharuskan membawa kain perca.

__ADS_1


Selain menjahit, ibu Karin juga menjual barang barang seperti daster, mukena, sprey, baju tidur anak. Juga menerima pesanan barang lainnya seperti telepon genggam, lemari pendingin, televisi dan barang elektronik lainnya untuk dikreditkan.


Ibu, perempuan yang ulet dan pekerja keras. Sambil menjahit, kadang ibu memberikan nasehat dan petuah buat anak anaknya.


Banyak sekali nasehat tentang kehidupan yang ibu berikan, terutama kepada Karin, sang putri sulung.


Sekali waktu, ibu pernah berkata, Jangan pernah perlihatkan kesedihanmu kepada banyak orang. Tetaplah terlihat riang dan tersenyum, apapun keadaanmu saat ini. Jangan mudah mengeluh pada sembarang orang. Karena kita tidak tau apapun yang sebenarnya ada di pikiran orang lain. Kita gak pernah tau, mereka betul betul simpati pada keadaan kita atau justru malah bergunjing di belakang kita. Berharaplah, bersandar hanya pada Sang Maha Pemberi Hidup. Karena cuma Alloh lah yang tidak akan pernah menghianatimu. Cuma Dia yang tidak akan meninggalkanmu, apapun keadaanmu.


Ibu, perempuan tertangguh yang pernah Karin kenal. Meski jarang tersenyum seperti Bapak, meski ibu super disiplin, ibu adalah orang yang memastikan anak anaknya tetap bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik dan kehidupan yang layak. Ibu yang pekerja keras, yang seringkali kekurangan waktu istirahat untuk dirinya sendiri karena begitu banyak hal yang harus beliau kerjakan. Ibu berprinsip kalau anak anaknya harus mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari yang ia peroleh dulu.


Ibu juga orang yang mendidik anak anaknya untuk selalu berpikir logis. Ibu berkata, kalau setiap kata kata yang kita keluarkan, seharusnya dipikirkan lebih dulu. Ditimbang masak masak, jangan sampai kata kata yang kita ucapkan itu menyakiti ataupun menyinggung hati orang lain. Tidak boleh berbicara pada saat kita sedang emosi, karena kemungkinan bisa menyakiti hati orang lain juga. Karena kata kata itu lebih tajam dari pedang yang paling tajam sekalipun.


Ibu juga pintar memasak dan membuat aneka kue. Ibu bukan hanya pintar memasak masakan khas daerahnya, Jawa Timur, tapi ibu juga pintar memasak masakan daerah lain, seperti Arsik Batak, Rendang Padang, Pepes Sunda dan masih banyak masakan lainnya. Setiap kali ada hajatan keluarga, ibu selalu diminta untuk masak. Dan selalu ada rawon, sambal buranan serta soto lamongan. Ya, ibu asli Lamongan. Sebuah kota kecil di Jawa Timur.


Selain memasak sayur dan lauk, ibu juga pintar membuat aneka kue, baik tradisional maupun modern. Setiap kali ibu membuat kue tradisional khas Lamongan seperti wingko babat ataupun apem bakar, ibu pasti membuat lebih banyak untuk dibagikan ke seluruh keluarga ibu yang tinggal berdekatan.


Ibu sosok yang serba bisa dan disiplin. Kedisiplinan yang diturunkan ibu dari ayahnya, kakek Karin. Setiap kali ibu menyimpan sesuatu, kalau ada yang hendak menggunakan, maka harus dikembalikan lagi ke tempatnya, jika sudah selesai digunakan.

__ADS_1


Ibu gak pernah fanatik soal makanan. Dia mau segala macam jenis makanan, sepanjang makanan itu halal. Berbeda dengan Bapak yang hanya suka makanan dari daerah asalnya, Kebumen. Sebuah kota kecil di Jawa Tengah.


Soal makanan, hanya Karin yang mengikuti sang ibu, tidak fanatik makanan daerah tertentu. Karena itu, seringkali, ibu menanyakan Karin jika ingin masak makanan tertentu. Karena cuma Karin partner makan ibu. Ketiga anaknya yang lain selalu pilih pilih menu makanan.


Rayhan lebih mementingkan makan dengan nasi yang pulen, soal sayur atau lauk, yang penting tidak pedas.


Rayhan tidak mau makan sayur atau menu baru yang dia belum pernah coba. Suatu ketika, saat mereka masih kecil, ibu pernah masak masakan yg belum pernah ibu masak sebelumnya. Rayhan cuma menatap makanan itu dan meminta telur mata sapi kala itu. Ibu bertanya kenapa dia gak mau makanan itu. Waktu itu ibu masak Arsik ikan mas. Rayhan cuma menjawab kalau dia belum pernah makan masakan seperti itu.


Ibu bilang kalau itu ikan mas. Rayhan menjawab kalau pepes dia mau makan. Kalau yang ini dia gak mau makan karena belum pernah. Ibupun membujuk Rayhan kala itu dengan mengatakan cuma bumbunya saja yang berbeda. Rayhan hanya menatap ibu dan berkata, "Kalau begitu, ibu dulu yang makan, jadi kalau keracunan, ibu dulu yang keracunan..."


Saat itu baik Ibu maupun Karin hanya bisa tertawa terpingkal pingkal.


Sejak saat itu, setiap ibu masak makanan menu baru, ibu selalu mencicipi di depan Rayhan. Setelah ibu mencicipi dan menunggu beberapa saat, baru Rayhan akan memakan masakan itu tanpa ragu.


Si Kembar Dini dan Dina juga punya makanan kegemaran masing masing. Meski kembar, selera mereka berbeda. Dini lebih suka tumis buncis, sementara Dina lebih suka tumis kacang panjang. Dini lebih suka ceker ayam, Dina lebih suka paha ayam. Dini lebih suka tahu sementara Dina lebih suka tempe. Dini lebih lembut dan kalem daripada Dina.


Meski kembar, mereka tetap memiliki perbedaan. Baik fisik maupun selera...

__ADS_1


__ADS_2