Lara Karina

Lara Karina
SEMANGAT PAGI


__ADS_3

Suara Adzan Subuh belum lama terdengar. Bapak dan Rayhan bergegas menuju masjid untuk sholat subuh berjamaah.


"Bu... ibu... ibuuu, pita yang hijau kemana bu? cuma ada merah dan kuning disini. Semalam kan sudah aku siapin di meja ini lho bu," teriak Karin memecah keheningan pagi itu. Matanya mencari cari dan mengabsen kelengkapan atribut Opspek nya. Sepatu putih bergambar capung, topi dari kukusan bambu berbentuk kerucut, papan nama dada, pita merah putih untuk dasi, kemeja putih polos lengan panjang, celana panjang hitam, pita merah dan kuning . Tak lupa botol dot bayi berisi air jeruk, notes dan pulpen untuk mencatat serta bekal makan siangnya.


Semua ada kecuali pita hijaunya.


Tak lama kemudian suara langkah kaki ibu yang baru saja mengambil wudhu pun terdengar. Tetesan air wudhu masih membasahi. "Semalam masih ada disini bu, Karin ingat betul, sudah disiapin disini. Berjajar rapih. Kok bisa gak ada ya? kan aneh" tukas Karin sambil menunjuk ke atas meja makan.


"Ibu sholat dulu, nanti kita cari setelah sholat ya. Kamu juga lebih baik sholat dulu," ujar ibu sambil berjalan menuju musholla, ruang kecil yang dipakai untuk beribadah oleh seluruh keluarga.


"Iya bu," ujar Karin seraya bergegas mengambil wudhu. Saat Karin melewati kamar si kembar, tampak Dini baru saja bangun dan sedang membangunkan adik kembarnya yang memang agak susah untuk dibangunkan.


Tak lama berselang, Karin pun menunaikan kewajiban di pagi hari itu.


"Pita hijau nya masih belum ketemu, Rin?" tanya ibu, saat Karin sudah selesai beribadah. "Gunting saja dulu dari roll yang baru. Nanti kamu terlambat kalau harus mencari dulu. Ibu sudah siapkan sarapan di meja makan" seru ibu sambil mondar mandir antara dapur dan ruang makan untuk menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarganya.


"Ya bu, Karin ganti baju dulu," jawab Karin seraya membawa atribut opspek ke kamarnya. Karin masih bingung kemana pita hijaunya. Untunglah, ibu memiliki berwarna warni gulungan pita untuk keperluan jahitan bajunya. Karin bergegas menuju ruang jahit ibunya dan meraih gulungan pita hijau. Mengguntingnya sepanjang 75 cm. Panjang pita yang diwajibkan.


"Ibu, hari ini sarapannya masak apa?" tanya Dina yang menguap, terlihat masih mengantuk.

__ADS_1


Ibu menggeleng gelengkan kepalanya, menatap wajah putri bungsunya yang meskipun sudah kelas 3 SMP tetapi masih saja bersikap sembrono. Dielusnya rambut sang putri, lalu ibu beranjak menuju dapur.


"Sholatlah dulu, ambil wudhu. Ibu masak Nasi goreng keju sosis tambah sedikit bawang daun. Ada telur mata sapi dan tempe goreng tepung juga. Tuh, Dini sudah selesai sholat dan mandi juga" ujar ibu sambil membawa satu teko penuh teh manis hangat ke meja makan.


"Masih ada yang mau ke kamar mandi?" teriak Dina pada seisi rumah. Diambilnya handuk dari jemuran handuk di teras belakang, dekat dapur.


"Gak usah teriak teriak juga, Na. Semua udah mandi, kamu saja yang belum," tegur Karin pada si bungsu.


"Kan biasa begitu tiap hari juga mbak. Gak usah heran lagi." imbuh Dini sambil beranjak menuju kamarnya.


"Assalamu'alaykum,"


Bapak pun bergegas masuk ke kamar untuk mengganti baju koko dan sarung dengan pakaian kerja nya. Bapak, seseorang yang selalu berpenampilan rapih dan klimis. Kemeja bapak selalu disetrika licin, tanpa sedikitpun terlihat lecek. Celana bahan nya pun, terlihat disetrika dengan sangat rapih. Bapak tidak pernah sembrono dalam hal berpakaian.


Tak lama berselang, keluarga Budiwiyono telah berkumpul lengkap di meja makan. Saat saat makan bersama adalah saat penting buat keluarga mereka. Biasanya akan ada pembicaraan mengenai sekolah dan kegiatan kegiatan setiap anggota keluarga.


"Jam berapa mbak masuk kampus? hari ini hari pertama opspek kan? jangan sampai telat ya mbak, kesan pertama itu penting. Lagipula, lebih baik menunggu sebentar daripada telat" ujar ibu menasehati Karin. Ibu yang disiplin, selalu menekankan kepada anak anaknya untuk selalu tepat waktu. Lebih baik menunggu daripada ditunggu, begitu prinsip ibu.


"Jam 07.00 bu, karena akan ada pembukaan dulu nantinya. Ibu, biasanya kan opspek saja kan? kok di kampus aku setelah opspek nanti ada AMT ya bu," jawab Karin sambil mulai mengambil nasi goreng, telur ceplok mata sapi dan tempe tepung kesukaannya. Ditambahkannya sedikit acar mentimun dan wortel. Tak lupa sambal kecap yang ia tuangkan diatas tempe tepung.

__ADS_1


"AMT itu apa mbak? kok aku baru dengar ya?" tanya Rayhan, Mengangkat kedua alis tebalnya. Rayhan selalu ingin tau soal apapun. Biasanya dia bertanya ke Karin, karena Karin sangat suka membaca berbagai jenis buku. Kutu buku, julukan si Kembar untuk kakak sulungnya. Tak heran, dari kelas 5 Sekolah Dasar, Karin sudah memakai kacamata minus. Karena kesukaannya membaca sampai tertidur.


"AMT itu Achievement Motivation Training. Pelatihan Motivasi Berprestasi. Biasanya pelatihan ini diberikan untuk karyawan, setahu aku. Mungkin karena jurusanku ini Teknik Industri, jadi diberikan pelatihan ini. Mungkin, ya. Aku kan belum tau. Nanti kalau sudah tau, aku jelasin lagi ya." tutur Karin.


"Ibu juga gak tau Rin, AMT itu apa. Dan kenapa ada AMT setelah opspek nanti. Sepertinya itu program dari kampus," jawab ibu sambil menuangkan teh manis ke enam gelas yang ada diatas meja.


" Bu, tolong ambilkan kerupuknya, aku gak sampai,"pinta Dini kepada ibu. Dini, sangat suka kerupuk. Dia selalu makan dengan kerupuk. Makan gak akan lengkap tanpa kerupuk, begitu selalu katanya. Dituangnya sambal kecap banyak banyak diatas kerupuk dan telur ceplok mata sapi yang ada di piringnya.


Dina selalu jadi anggota keluarga yang paling anteng saat makan. Saat yang lain masih menikmati sarapannya, Dina selalu selesai lebih dahulu. Diraihnya segelas teh manis hangat yang telah disiapkan ibu tadi. "Alhamdulillah.. kenyang. Makasih bu, nasi goreng spesial buatan ibu, selalu paling enak. Tidak ada duanya deh. Always The Best bu,"tukas Dina seraya berdiri dari duduknya dan menghampiri ibu.


"Kalau sudah selesai, bawa piring kotornya ke dapur. Bersiap siap ke sekolah semuanya. Jangan lupa bekal makan siang kalian dibawa masing masing. Ibu sudah siapkan di dapur." ujar ibu kepada semua anaknya. Kalimat yang sama yang diucapkan ibu setiap pagi.


"Bergegas ya, sudah Jam 06.15, nanti kalian terlambat sampai di sekolah. Sepedanya jangan lupa dikunci nanti di parkiran sekolah ya," ujar ibu mengingatkan. Ya,masing masing mereka mengayuh sepeda ke sekolah.


"Karin berangkat bu, Assalamu'alaykum, " pamit Karin seraya mencium tangan kedua orangtuanya.


"Hati hati saat menyeberang Rin, pagi begini banyak kendaraan yang mengebut," ujar bapak mengingatkan. Setiap pagi, selalu hal yang sama terjadi. Ibu melepas anak anak dan bapak sampai di beranda depan.


Pagi yang cerah, pagi yang penuh semangat. Saat yang indah untuk memulai aktivitas..

__ADS_1


__ADS_2