
Julukan yang diberikan Karin untuk adik kembarnya. Si kembar yang selalu membuat ulah. Dini dan Dina, kembar bungsu keluarga Budiwiyono, anak anak yang super aktif sejak kecil. Bukan kembar identik, tetapi seperti kembar pada umumnya, kalau yang satu sakit, maka yang satunya akan sakit juga meski mereka berjauhan.
Kalau Karin lebih suka aktif berorganisasi sejak masa SD, maka si kembar lebih aktif ikut acara apapun yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka dan kantor tempat Bapak bekerja. Seperti perlombaan perayaan HUT RI, panggung gembira maupun berbagai jenis perlombaan di kantor tempat Bapak bekerja. Dan karena mereka kembar, otomatis selalu jadi pusat perhatian banyak orang.
Dini lebih kalem dari Dina. Dina lebih tomboy dan aktif. Seringkali, saat Dina yang membuat ulah, Dini yang kena batunya. Pernah saat mereka kecil, Dina membuat seorang teman bermainnya menangis, lalu Dina pulang ke rumah dan langsung masuk ke kamarnya. Tidak lama kemudian, anak yang dibuat menangis datang bersama ibunya ke rumah. Melihat Dini sedang di teras, bermain boneka, lalu ibu temannya ini menasehati Dini supaya jangan jahil dan main bersama sama.
Dini pun hanya bisa diam dan mengangguk angguk saja. Tidak lama, ibu mereka keluar dari rumah, karena curiga melihat Dina yang pulang ke rumah langsung masuk ke dalam kamar. Bukan sekali ini Dina berulah dan Dini yang selalu kena getahnya. Ibupun menjelaskan kalau yang berulah itu Dina, sedangkan yang ada di teras itu Dini.
Ibu pun lantas memanggil Dina. "Dina, sini din, ada yang cari kamu nih" panggil ibu sambil menghampiri Dina di kamarnya. Tampak Dina sedang duduk di pinggir tempat tidurnya. Ibu pun lantas duduk disisi Dina sambil tersenyum. Tangannya mengelus rambut ikal sang anak. Tampak Dina menundukkan kepala sambil menangkupkan kedua tangan di pangkuannya. Dimainkan tepian kaus yang dipakainya.
"Dina ke depan ya, itu ada Salma dan Bu Darman di depan. Dina harus berani hadapi mereka. Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab" ujar ibu sambil turun, duduk di lantai. Menyamakan tinggi dengan sang puteri. Menatap mata anaknya dan berkata,"Apapun yang kita lakukan, kita harus bisa bertanggung jawab, Din, hadapi. Katakan alasan dari perbuatanmu. Jika salah, mintalah maaf" nasehat ibu kepada Dina.
"Meminta maaf bukan berarti kita rendah. Justru orang yang berani meminta maaf dan mengakui kesalahannya, adalah orang yang pemberani dan hebat" tutur ibu.
"Dina anak yang pemberani, ibu selalu bangga sama Dina. Tapi ibu akan lebih bangga lagi kalau Dina mampu menghadapi masalah yang Dina buat. Yuk, kita ke depan,"ujar ibu sambil berdiri dan meraih tangan bocah berumur 6 tahun itu.
Ibu dan Dina pun beriringan menuju teras rumah. Disana tampak Bu Darman sedang duduk di kursi teras. Di lantai teras tampak Dini bermain boneka dengan Salma. Bu Darman langsung bangun dari duduknya dan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Silahkan duduk bu, monggo lho," tegur ibu mempersilahkan Bu Darman duduk. "Nah ini Dina, bagaimana Din?" ujar ibu sambil menatap wajah puteri bungsunya.
"Dina minta maaf ya Salma. Soalnya tadi kamu mainnya curang. Tadi bola bekelnya kan udah kena lantai 2 kali. Harusnya gantian mainnya. Kamu malah terusin" ucap Dina menghampiri Salma yang tengah bermain boneka.
__ADS_1
Salma pun berdiri sambil berkata,"Iya, maaf ya harusnya aku gak terusin tadi" ujar Salma sambil tersenyum. "Baikan ya," Salma mengulurkan jari kelingkingnya. Sambil tersenyum, Dina menyambut uluran tangan Salma dan menautkan jari kelingking mereka.
"Nah gitu dong Na. Jangan aku terus yang kena getahnya,"ucap Dini sambil menatap ke kembarannya.
Seiring berjalannya waktu, banyak juga yang akhirnya dapat membedakan, tidak salah mengenali si kembar. Dini berwajah lebih bulat, sementara Dina agak lonjong. Dini lebih kalem dan pendiam. Dina selalu mendominasi dimanapun sedang bermain.
Tak hanya itu, karena kembar, banyak hal unik yang terjadi. Suatu saat, Dina yang saat itu sedang berjalan dekat rumah, tiba tiba terjatuh ke selokan air depan rumah. Dina pulang sambil menangis. Di rumah, ibu pun langsung mengobati dengan memberikan obat antiseptik setelah sebelumnya dibersihkan terlebih dahulu lukanya.
"Aduuuhhh... ibu perih bu, pelan pelan dong. Huaaa.. ibu perih ibu, hu..hu..hu, periih,bu" tangis Dina sambil mencengkeram erat lengan ibu. Menahan perih di lukanya.
"Makanya hati hati kalau jalan. Sudah mau maghrib, sudah mulai gelap" ujar ibu menasehati Dina. "Sudah, ganti dulu bajumu. Kita mau ke rumah Pakde Yus. Mbak Karin, Mas Rayhan, sama Dini sudah diantar Bapak kesana. Tinggal ibu dan kamu. Ayo ganti bajumu dulu" tutur ibu.
"Astaghfirullooh... ibu telpon pakdemu dulu. Jangan sampai Dini juga jatuh" ujar ibu sambil bergegas menuju meja telpon. Belum sampai menuju meja, telpon berdering.
Dua menit kemudian
"Astaghfirullooh, baru saja mau ditelpon, malah sudah terjadi. Ya Alloh.. bagaimana ini,"ujar ibu sedikit panik sambil meletakkan gagang telpon ke tempatnya.
"Dini jatuh juga ya bu?" tanya Dina sambil memakai dress pink muda bermotif bunga bunga yang sudah disiapkan ibu diatas tempat tidur si kembar.
Ibu bergegas menyusul masuk ke kamar si kembar. "Iya, Dini jatuh tersandung saat bermain tadi" ujar ibu sambil mengambil dua dress baru berwarna kuning cerah dari dalam lemari si kembar. "Ganti baju yang ini, Na. Baju Dini pasti sudah kotor. Biar ibu bawa baju ganti buat Dini" seru ibu sambil memberikan satu dress itu ke Dina.
__ADS_1
"Kalian ini, sesekali lah anteng, kalem. Ibu mau lihat kalian anteng juga," ujar ibu sambil melepaskan dress pink yang sempat dipakai Dina lalu memakaikan dress kuning ke tubuh anak bungsunya itu.
"Assalamu'alaykum... Bu, Dina, sudah siap? Yuuk, sudah mau maghrib nih. Sudah ramai lho di rumah pakde" terdengar suara langkah kaki bapak memasuki rumah.
"Sebentar pak... ini masih pakaikan baju Dina. Bapak mau ngopi dulu atau langsung berangkat?" sahut ibu sambil menguncir dua rambut ikal Dina. Dipulasnya bedak tipis tipis di wajah sang anak. "Nah, sudah cantik. Jangan pecicilan lagi ya. Kita sudah mau berangkat,"ujar ibu sambil melipat dress ganti untuk Dini.
"Lho kok Dina pakai baju kuning? Tadi Dini pakai yang pink, kalo bapak gak salah lihat," tanya bapak yang tiba tiba sudah berdiri di ambang pintu kamar putri kembarnya, memandang ibu dengan heran. Sepanjang ingatannya, kedua anak kembarnya selalu memakai baju yang sama.
Bapak memandang Dina yang sedang duduk manis di pinggir tempat tidurnya. Sedikit heran sang putri bisa duduk manis seperti itu. Biasanya Dina paling gak bisa duduk anteng. "Dina kenapa?" Dilihatnya Dina sedikit meringis menahan perih.
"Jatuh di selokan depan rumah, Pak. Sakit banget ini. Perih, Pak" ujar Dina manja.
"Gak bisa diam sih. Jadi gitu deh. Padahal baru ibu tinggal mandi sebentar. Untung saja cuma sedikit lecet tuh," sahut ibu sambil memasukkan baju ganti dan aksesoris pita kuning yang sama seperti yang dipakai Dina.
"Ha..ha..ha.. gak apa apa. Cuma lecet sedikit kan. Gak akan mengurangi cantiknya anak Bapak. Mana yang lecet?"ujar Bapak sambil berjongkok di depan putri bungsunya. Melihat lutut kanan Dina yang lecet. Lalu meniupnya pelan.
"Nah, sudah Bapak tiup. Pasti cepat sembuh." sambil tersenyum, Bapak menurunkan Dina dari tempat tidur dan menggandengnya keluar.
"Bapak ini. Luka jangan ditiup begitu. Dimulut banyak bakteri. Nanti lukanya malah bertambah parah." sungut ibu sambil melirik ke Bapak.
Bapak hanya tersenyum, mereka pun bergegas keluar rumah untuk selanjutnya menuju kediaman kakaknya ibu, pakde Yus yang sedang mengadakan hajatan khitanan putra bungsunya, Bayu.
__ADS_1
Senja perlahan menjelang. Samar samar terdengar suara Adzan Maghrib berkumandang...