
Ciu … Ciu
Rey mendengarkan suara burung dan berlahan membuka matanya dengan pandangan pertama yang dia lihat pohon tinggi yang menjulang keatas menutupi sinar matahari.
Dia menutup sinar matahari dengan tangan kanannya dan menghela nafasnya, “Ahhh … sepertinya aku memang hidup kembali,” ujar Rey.
Rey mengumpulkan tenaganya kembali dan berdiri dengan melihat disekitarnya.
“Aku sepertinya di hutan.”
Rey mengelus-ngelus dagunya, “ Lebih baik aku bergegas mencari kota atau desa,” ujar Rey.
Rey pun mulai berjalan menelusuri hutan.
Kruuuu …
Rey yang sedang berjalan mendengar suara air karena haus yang dia rasakan maka, dia menghampiri air tersebut.
“Ketemu!” seru Rey saat menemukan sungai kecil.
Rey melihat sungai yang begitu jernih hingga Dia mencuci muka dan meminumnya.
“Wuaahh … baru kali ini. Aku merasakan air yang sesegar ini,” ujar Rey.
Sesuai Rey yang mencuci mukanya tanpa sadar dia melihat dirinya tercermin di air dengan rambut dan mata merahnya.
“Aku memang menjadi Aru .” Rey memeriksa dan memegang wajahnya.
Setelah itu Rey memutuskan untuk membuat api unggun disana dan menangkap ikan disana. Pengalamannya di kehidupan dahulunya membuat terasa mudah melewati pegunungan. Api sudah dinyalakan juga langit sudah menjadi malam.
Rey memikirkan dan melamun saat melihat api. Dia melamun tentang kehidupan dirinya serta yang besar dipanti Asuhan. Namun, dia terkejut.
“Panti Asuhan? Aku kan dibesarkan kedua orang tuaku hingga umur 16 tahun dan mereka meninggal karena kecelakan. Apakah mungkin kenangan Aru menyatu denganku?” kata hati Rey.
Rey memilah dan mengingat tentang kenangan Aru.
Dalam ingatan yang bercampur, Rey mengingat Aru yang besar di sebuah Panti Asuhan sejak bayi. Pada salju yang lebat dia ditaruh oleh seseorang di depan pintu Panti Asuhan. Kepala Panti yang merasa tidak tega melihat bayi mungil itu memutuskan untuk merawatnya. Namun, Aru yang sudah besar mengalami sakit yang tidak bisa disembuhkan selama bertahun-tahun yang membuatnya fisiknya menjadi lemah.
Maka, dia memutuskan untuk belajar dan membaca buku sihir dan beberapa buku lainnya meski begitu kemampuan sihirnya pun tidak memenuhi standar untuk bisa masuk ke Academy Kerajaan.
Kisah hidup Aru yang membuat Rey mengambil nafas panjang.
“Aru, kenapa kau memiliki hidup yang memilukan?!” ujar Rey.
Setelah Dia mengupas kenangan Aru, Rey memikirkan kemampuan Aru yang mungkin dia bisa gunakan.
Rey melipatkan tangannya dan berpikir dengan menutup matanya.
“Hei, Rey!”
Rey membuka matanya dan melihat sekitar saat ada yang memanggil namanya. Namun, disekitarnya tidak ada siapapun.
“Siapa itu?” Rey terus melihat sekitar namun, tidak ada siapapun disana.
“Aku Aru,”
Rey menjadi sedikit lebih tenang saat Aru menjawab.
“Aru, Dimana kamu?”
“Aku berada didalam dirimu,” jawab Aru.
__ADS_1
“Bagaimana bisa aku berkomunikasi denganmu? Bukan kah sudah-.” Tanya Rey.
“Mati! Seharusnya seperti itu. Mungkin, ini karena sihir yang kau miliki.”
“Aru, kau pasti bercanda aku tidak memiliki sihir dan aku hidup di dunia tanpa adanya sihir?”
“Ahh … kau terlalu merendah. Baiklah, karena aku sudah bagian dari dirimu maka, aku beri tahu. Kemampuan sihirmu unik dan itu bernama Synthesis yang sering kau mainkan. Bukan!” jawab Aru.
“Ahhh … Aru, kamu bercanda. Itu kan hanya sebuah /game. Tidak mungkin, kemampuanku sama seperti /game.” Rey terus mengelak dan tidak percaya dengan perkataan Aru.
“Ahhh … kenapa tidak kau coba?” ujar Aru.
“Bagaimana caranya?” tanya Rey.
“Sama seperti game Synthesis yang kamu mainkan.”
“Aku akan mencobanya.”
Rey mengambil sebuah batu, “Lalu, aku harus bagaimana selanjutnya?” tanya Rey.
“Tutup matamu, alirkan energimu ke batu itu, dan rapalkan ‘Archive’ (kumpulan data), setelah itu buka matamu dan lihat hasilnya.” Aru memberikan pengarahan.
Rey menutup matanya dan merapal, “/Archive.”
Ada hawa panas yang dirasakan di tangan Rey. Tidak lama kemudian, Rey membuka matanya dan melihat tulisan diatas batu tersebut.
[Nama: Batu Biasa], [Kekuatan: +1], [Daya tahan: 1], [Kualitas: -F].
Rey terkejut dengan yang dia lihat, “Wow, aku tidak menyangka, aku memiliki sihir seperti anime, dan novel yang aku baca.”
Setelah beberapa detik tulisan diatas batu pun menghilang.
“Benarkan, coba sekarang kau Synthesis -kan,” ujar Aru.
“Taruh kedua benda bentuk satu bulatan benda yang sebagai induk lalu tarik garis ke lingkaran bawahnya sebagai bahan yang akan digabungkan ke induk lingkaran serta untuk merapalkan ‘All Synthesis’, begitu cobalah, Rey!”
Rey menganggukan kepalanya dan Dia membuat satu lingkaran di tanah pada satu batu lalu mengambar kembali lingakaran lain dibawahnya. Selanjutnya menarik garis penghubung antara induk lingkaran dan anak lingkaran. Seusai membuat lingkaran, diletakanlah batu-batu tersebut. Rey meluruskan tangannya dan menutup matanaya.
“All Synthesis.” Rey membuka matanya melihat proses sihirnya.
Kedua batu yang menjadi anak lingkaran menjadi air dan berjalan melalui garis penghubung menyatu kepada benda yang sebagai induknya. Rey mengambil batu itu dan melihat datanya.
[Nama: Batu Biasa], [Kekuatan: +2], [Daya tahan: 2], [Kualitas: F], [Synthesis: 1]
“Luar biasa. Kemampuan game Synthesis menjadi nyata.”
“Rey, kau ingat dengan perkataanmu sendiri bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah hasil Synthesis. Langit dan Bumi, Cahaya dan Kegelapan, Matahari dan Bulan, dan seluruh yang berada di dunia.”
“Iya, tentu itu adalah prinsipku,” ujar Rey.
“Sekarang, Synthesis itu ada ditanganmu dan aku disini siap melayanimu, Rey.”
“Bukan melayani, bagaimana jika kita menjadi teman dan sahabat, Aru.”
“Baik. Kita sekarang adalah Teman. Kau memang orang yang menarik,” jawab Aru.
“Hehe …” Rey tertawa bangga.
Keesokan harinya Rey melanjutkan perjalanannya…
Dalam perjalanannya, Rey melihat tanaman bambu yang cukup banyak. Dia berpikir untuk membuat senjata tongkat. Dia mematahkan dengan kakinya serta mencabut rumputnya. Tongkat seukuran 1,5 meter pun jadi dibuat dengan cara yang sederhana.
__ADS_1
“Rey, kenapa kau berpikir untuk membuat senjata dari bambu?” tanya Aru didalam pemikiran Rey.
“Kau tahu sejarah Negara tempat aku tinggal?!” ujar Rey.
“Hm … tentu, ada apa dengan itu?” ujar Aru. Dia mengetahui karena dirinya yang sudah menyatu dengan Rey.
“Para Pahlawan di Negaraku Indonesia melawan para penjajah dengan senjata bambu,” jawab Rey.
“Ehhh … menarik,” ujar Aru.
Beberapa saat kemudian beberapa tongkat bambu telah dibuatnya. Rey memilih bambu yang terbaik sebagai induknya. Setelah itu Rey membuat lingkaran dan sekitar 20 bambu bahan yang digunakan sebagai anak lingkaran.
“Sekarang kita lihat dahulu data dari bambu awal,” ujar Rey.
Rey menutup matanya dan merapalkannya, “Archive.”
Setelah Rey merapalkan mantra dia membuka matanya dan melihat data dari bambu tersebut.
[Nama: Bambu], [Kekuatan: +2], [Daya tahan: 3], [Kualitas: F]
“Oke, data sudah terlihat.”
Rey meletakan kembali ke lingkaran induk dan dia merapalkan sihirnya, “All Synthesis.”
Bambu yang berada di lingkaran anak menjadi cair dan berjalan menyatu dengan bambu yang dipilih oleh Rey. Tidak lama kemudian Rey membuka matanya dan 20 bambu sudah menyatu kepada satu bambu.
“Aku berhasil!” seru Rey.
“Jangan senang dulu! Kita lihat kemampuannya,” sambung Aru.
“Ahh … benar juga,” ujar Rey yang mengarukan kepalanya.
Setelah itu dengan mengunakan sihir Archive. Rey melihat meningkatan data di bambu.
[Nama: Bambu], [Kekuatan: +12], [Daya tahan: 13], [Kualitas: F], [Synthesis: 1].
“Naik hanya 10,” ujar Rey yang menghela nafasnya.
“Mungkin, kau harus mencari benda yang lebih kuat lagi,” jawab Aru.
“Benar juga kenapa kita tidak uji coba?!” ujar Rey.
Rey melanjutkan perjalanannya mencari bahan-bahan yang kuat seperti kayu, batu dan besi-besi berkarat. Dia satukan dengan Synthesis hingga Rey melihat hasil akhirnya.
[Nama: Bambu], [Kekuatan: +32], [Daya tahan: 28], [Kualitas: E+], [Synthesis: 17].
Rey terduduk dan menghela nafas panjang, “Aru, ternyata kita gagal,” ujar Rey.
“Jangan menyerah, Rey! Apa kau pernah mencoba kepada monster?” ucap Aru.
“Monster? Apa didunia ada monster?” tanya Rey.
“Ada …” jawab Aru.
“Eeee … seriusan,” sambung Rey yang mengeluh.
Ilustrasi Aru (Sumber: Mbak Google)
__ADS_1
\*