
Rey yang merasa gagal dalam percobaannya membuat keinginan percobaan baru yaitu membunuh monster dan melakukan Synthesis pada monster tersebut.
Dalam perjalanan dihutan, Rey tidak menemukan satu pun monster disana hanya ada beberapa hewan yang berkeliaran disana.
“Moo … aku tidak menemukan satu pun monster disini, Aru!” ujar Rey.
“Monster memang tidak berada di pemukiman dekat manusia karena mereka takut kepada para Hunter yang akan memburunya,” jawab Aru.
“Hunter? Apa maksudmu disini ada kelompok yang memburu monster demi sebuah hadiah dan harta karun?” tanya Rey.
“Iya. Kau tahu banyak tentang dunia ini,” ujar Aru.
“Hahaha … aku hanya menonton anime dan membaca novel ringan saja,” jawab Rey.
“Anime? Novel? Sekarang aku yang tidak mengerti,” sambung ujar Aru.
“Sekarang kita punya banyak waktu untuk berbagi cerita bukan, nanti aku akan menceritakannya kepadamu,” jawab Rey.
“Hm .. aku juga akan berbagi cerita kepadamu,” sambung Aru.
“Dan, Aru kenapa mereka dengan mudahnya membunuh bahkan monster yang tidak mengancam hidupnya?” tanya Rey.
“Ini yang disebut Hukum Alam. Jika, kau tidak membunuh mereka. Maka, mereka yang akan membunuhmu. Perbedaan hewan dan monster adalah jika hewan memakan tumbuhan dan sesama hewan namun, jika monster, ia lebih suka dengan daging manusia dibandingkan tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanannya. Jadi, manusia harus memperkuat diri dalam mempertahankan dirinya,” jawab Aru.
“Aku mengerti,” ucap Rey.
Tidak lama kemudian Rey melihat sebuah gua berbatu dengan pohon besar diatasnya serta danau kecil yang mengelilinginya.
“Rey, disana memungkinkan kau bertemu dengan monster lemah bahkan mungkin monster yang kuat. Jadi, berhati-hatilah, Rey!” ujar Aru.
“Aku mengerti, Aru. Ayo kita bertarung bersama!” seru Rey.
“Iya,” jawab Aru.
Rey membulatkan tekadnya untuk masuk kedalam gua tersebut. Dia melintasi danau dan masuk kedalam gua tersebut namun, setibanya didalam batu besar menutup pintu gua itu yang membuat Rey terkejut berbalik memukul batu besar tersebut.
“OIIII …. BUKA PINTUNYA!” Rey terus memukul batu tersebut namun, tidak membuahkan hasil.
Aru yang berada didalam Rey mencoba menenangkannya, “Rey, tenanglah! Kita mencari jalan yang lain,” ucap Aru.
“Iya … ya.” Rey menjawab dengan datarnya.
Rey mengambil obor bekas yang berada disana dan menyalakan api dengan cara yang sederhana yaitu dengan mengesekan dua batu. Setelah obor menyala, Rey mulai melangkahkan kakinya dengan pelan menelusuri gua.
Ditengah perjalanan Rey dihadang oleh beberapa monster yang berbadan jelly.
“Aru, inikah Slime?!”
“Benar, Rey.”
“Oke. Kita lakukan mengujian pertama.”
Rey meletak obornya dan memutarkan tongkatnya dengan lihainya. Rey memutarnya dengan satu tangan bergerak maju menyerang Slime. Slime itu juga yang merasa terancam dia menajamkan jellynya dan menyerang Rey. Gerakan yang lambat dari Slime itu membuat Rey mudah menghindar dan memukul satu persatu Slime tersebut.
Rey yang lihai mengunakan tongkatnya dengan mudah mengalahkan beberapa Slime yang menghadangnya.
“Eee … aku baru tahu, kau pandai mengunakan tongkat?!” ujar Aru.
__ADS_1
“Aku ada pelajaran memutar tongkat pada waktu aku sekolah dahulu,” jawab Rey.
“Ohh … begitu,” sambung Aru.
“Sekarang, percobaan dimulai!” seru Rey.
Rey membuat lingkaran dan memulai ritual Synthesis –nya. Rey kali ini memasukan 13 Slime yang dia telah kalahkan dan mendapatkan hasil yang cukup memuaskan.
[Nama: Bambu], [Kekuatan: +42], [Daya tahan: 68], [Kualitas: D], [Sihir: Pelahap tingkat 0], [Kemampuan: Kebal Sihir +1%], [Synthesis: 18].
“Wow … keren, aku mendapatkan Sihir dan Kemampuan,” ujar senang Rey.
“Selamat, Rey! Tapi, sihirmu masih tingkat nol jadi belum bisa mengunakannya,” jawab Aru.
“Tidak, masalah. Kita buru saja lagi. Haha …” ujar senang Rey.
Rey yang penasaran terus berburu Slime yang berada di gua tersebut dan beberapa saat kemudian dia mencapainya.
[Nama: Bambu],
[Kekuatan: +72],
[Daya tahan: 108],
[Kualitas: D+],
[Sihir: Pelahap tingkat 1],
[Kemampuan: Kebal Sihir +10%],
[Synthesis: 31].
“Mari kita coba!” ujar Aru.
“Ok,” jawab Rey.
Tidak lama kemudian ada monster tikus raksasa dengan mata merahnya menyerang Rey.
“Aru, Bagaimana cara mengunakan sihir disini?” tanya Rey.
“Aku juga kurang paham karena sihirmu berbeda. Coba saja hadapkan tongkatmu kepada tikus itu dan konsentrasi dengan bentuk dan efek dari sihir yang kau gunakan,” ucap penjelasan Aru.
“Baiklah,”
Rey mengikuti semua yang dikatakan oleh Aru dan merapalnya, “Pelahap tingkat 1.”
Tidak lama kemudian ujung tongkat mengeluarkan jelly dan semakin panjang dan lebar melahap tikus yang berada didepannya dan tikus itu menghilang.
“…Eh? Aku seperti monster saja.” Rey terkejut dengan sihirnya.
“Haha … memang seperti itulah kekuatan sihir,” ucap Aru.
Beberapa tikus masih ada dan menyerang Rey. Dia melanjutkan serangannya itu dengan tongkat dan setelah mengalahkannya, dia Synthesis tikus tersebut.
[Nama: Bambu],
[Kekuatan: +78],
__ADS_1
[Daya tahan: 118],
[Kualitas: D+],
[Sihir: Pelahap tingkat 1, Steam tingkat 1],
[Kemampuan: Kebal Sihir +10%, Kecepatan +5% ],
[Synthesis: 33].
“Hmm … keren, aku mendapatkan sihir lagi,” ujar Rey.
“Rey, kau sangat menyukai sihir,” ucap Aru.
“Tentu, karena seumur hidupku baru merasakan sihir,” jawab Rey.
Rey yang senang mendapatkan sihir baru. Dia pun mencobanya, Sihir Steam adalah sihir untuk meningkatkan kecepatan kita dalam berlari, berjalan, dan melompat. Dalam pemikiran Rey, sihir tersebut seperti alat pendorong kaki karena hanya bisa mengeluarkan sekali dan kita harus merapalnya kembali.
\*
Perjalanan Rey sudah semakin dalam ke gua batu tersebut hingga dia berada di tengah gua tersebut. Rey melihat genangan aliran sungai melingkari sebuah pohon disana.
“Aru, ada Air mengalir!” ujar Rey.
Rey meminum air tersebut dan memeriksa aliran tersebut namun, lubang pada aliran itu tidak bisa dimasuki olehnya.
“Ahh … sepertinya kita harus mencari lagi,” ujar keluh Rey.
“Disini pasti ada jalan lain, berjuanglah Rey!” sambung Aru.
“Iyaa …” ujar datar Rey.
“Rey, lihatlah ruangan disebelah sana. Ada cahaya yang menyala,” ucap Aru.
Rey pun melihat ruangan yang dikatakan oleh Aru, “Benar, apa ada seseorang disana?!” ujar Rey. Dia bergegas lari kearah cahaya tersebut.
Setibanya disana, Rey melihat sumber cahaya itu bersumber dari batu dan ada sebuah meja panjang berkainkan putih dan pedang besar yang tergantung juga terikat oleh rantai.
“Aru, kau tahu pedang apa itu?”
“Aku juga kurang mengetahuinya.”
“Aku penasaran dengan pedang itu,” ujar Rey.
“Berhati-hatilah mungkin, dia berbahaya.” Aru memperingatkannya.
“Aku mengerti,” jawab Rey.
Rey berjalan pelan mendekati pedang tersebut. Disaat sudah dekat gagang pedang itu membuka kedua matanya.
“Selamat datang anak muda. Sudah lama sekali tidak ada tamu disini.”
Rey terkejut saat mendengar pedang yang bisa bicara.
“Eee … kau bisa bicara,” ujar Rey.
“Rey, tenanglah dia bukanlah orang yang jahat. Aku bisa merasakan itu,” ucap Aru.
__ADS_1
“He … kau juga bukanlah tamu biasa. Ada energi besar didalam tubuhmu dan kamu tidak sendiri,” ucap pedang tersebut.
\*\*\*